Tak Pantas Untuk Cintamu

Tak Pantas Untuk Cintamu
Bab 16 Mendorongnya Ke Dalam Lift


__ADS_3

Kaila tidak bisa menahan tawa saat mendengar itu, meletakkan sandwich, menyatukan kedua tangan, dan bertanya dengan serius. "Lalu menurutmu apa yang cocok untukku? Menjadi bunga kecil pajangan di dalam rumah kaca? Tapi aku sekarang tidak punya orang tua atau kerabat lagi, siapa yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-hariku?"


"Aku!"


Kata Erick sambil mencoba yang terbaik untuk mengunyah makanan dalam mulut.


"Kita semua tahu kalau ini tidak pantas, apa Kak Amelia tidak pernah kode-kode kalau dia itu tidak suka kamu bergaul denganku?"


Kaila selalu merasa Amelia seharusnya tidak semurah hati itu.


Erick memandangnya. "Kubilang urusan kita tidak ada hubungannya dengan Amelia."


"Mana mungkin tidak berhubungan? Kalian mungkin akan jadi suami-istri dua hari ke depan, kamu itu akan punya istri baru, tapi masih mau nafkahi mantan istri? Kamu pikir istri barumu akan senang?"


"Boleh tidak sebut dia untuk saat ini?"


Erick tidak senang lagi.


"Oke! Coba pikirkan baik-baik, kalau aku bersamamu tapi masih menggoda pria lain, apa kamu akan senang? Aku tak mau hidup di bawah kendalimu."


Setelah Kaila selesai berbicara, dia tersenyum pada pria itu, kemudian melanjutkan sambil mengambil sandwich dan makan lagi.


Dia masih bisa makan sandwich yang pria itu buat sekarang, mungkin dia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk minum air yang dituangkan pria itu kedepannya, jadi dia sangat menghargai sandwich ini.


Erick melihat Kaila yang bersikap rasional, tanpa sadar merasa sangat kesal.


Gadis ini, di usia yang semuda sudah berpikir serasional ini.


Erick kesal dan menggigit sandwichnya lagi, tapi rasa sandwichnya seketika menjadi tawar.


Bel pintu berdering tak lama setelah itu, dan keduanya tanpa sadar melihat ke arah sumber suara.


Kaila langsung menundukkan kepala karena merasakan firasat tertentu.


Itu pasti Amelia.


Erick bangkit dan pergi untuk membuka pintu.


"Tuan Muda Dawson, kalau itu Kak Amelia, apa aku harus bersembunyi?"


"Dia di rumah sakit."


Erick mengeluarkan suara samar, kemudian pergi membuka pintu.


Detak Jantung Kaila semakin cepat.


Kenapa dirinya merasa tidak boleh berada di sini meskipun masih menyandang status sebagai istri pria itu?


Apa ini yang disebut tidak pantas?


Kaila menggigit sandwich lagi, dan tiba-tiba pandangannya menjadi kabur dan tidak bisa melihat apapun dengan jelas.


Apa yang tidak disangka Erick adalah orang yang seharusnya di rumah sakit benar-benar datang ke sini.


"Kenapa datang ke sini?"


"Aku merindukanmu!"


Amelia mengaku dengan lembut, lalu melihat ke dalam. "Kenapa tak mengajakku masuk? Jangan-jangan menyembunyikan wanita lain?"

__ADS_1


"Hanya Kaila."


Erick mengeluarkan suara ringan, tapi saat melihat Amelia berjalan masuk, dia tanpa sadar merasa sangat kesal.


Di sini, tidak pernah ada orang lain yang ke sini sebelumnya.


"Kenapa Kaila ke sini sepagi ini? Bukannya dia tinggal di tempat tante?"


Amelia bertanya dengan marah, melihat tidak ada seorangpun di ruang tamu, dia melihat sekeliling dan berjalan ke arah lain.


Kaila hanya ingin menghabiskan sandwichnya, ketika Amelia masuk, dia langsung memasukkan potongan kecil terakhir ke dalam mulut, tersenyum pada Amelia, lalu dengan sopan berbalik sambil menutup mulut dan mengunyah, setelah menelan makanannya baru menoleh kembali.


Baru pada saat itulah Erick perlahan masuk, begitu hendak berbicara, dia tiba-tiba merasa sakit hati saat melihat Kaila yang tersenyum dengan mata yang hampir menangis.


"Aku sudah janji cerai hari ini dengan Tuan Muda Dawson." kata Kaila sambil tersenyum.


"Cerainya hari ini?"


Setelah mendengar itu, Amelia bertanya lagi dengan penuh semangat, lalu menatap Erick.


Tapi tidak ada kegembiraan di wajah Erick, melainkan ketidakpedulian dan dingin.


Tapi Amelia tidak bisa sedingin itu dan berkata sambil tersenyum. "Minum dulu susunya."


Kaila melirik susu di atas meja dan melambaikan tangan. "Tidak perlu, dokumennya ketinggalan di rumah, aku pulang ambil dulu, kalian lanjut saja."


Kaila mengangguk dan pergi.


"Tidak mau duduk sebentar lagi? Kaila, jangan salah paham, walaupun sudah cerai, selama kamu masih memanggilku Kak Amelia, maka Erick adalah kakak iparmu dan kita masih satu keluarga, jadi kamu juga boleh sering-sering main ke sini."


"Aku harus kerja setelah menyelesaikan perceraian, kalian lanjut saja."


"Baiklah kalau begitu, datang mainlah ke sini lain hari."


Amelia berdiri di belakang dan melihat Kaila pergi sambil berkata perlahan.


Kaila hanya ingin pergi dengan cepat.


Erick melirik Amelia tanpa sadar, apa maksud wanita ini?


Sudah menganggap dirinya tuan rumah di sini?


"Tunggu di sini, jangan bergerak."


Setelah Erick mengatakan itu atau lebih tepatnya memerintah itu dia berbalik dan mengejar Kaila.


Amelia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dan lihat.


Pria itu menyuruhnya untuk tidak bergerak?


Berdiri diam di sini?


Dia belum pernah datang ke sini sebelumnya, walau sudah berapa tahun mereka saling kenal?


Kaila berdiri sambil menunggu di dekat lift, karena lift masih belum terbuka sampai sekarang, dia merasa sedikit cemas dan hatinya penuh dengan ketidaksabaran.


Tiba-tiba suara pintu di belakang terbuka, itu membuat detak jantung Kaila semakin cepat.


Pria itu keluar dan berjalan ke arah Kaila.

__ADS_1


Kaila menghindar sedikit ke samping, semakin dekat pria itu melangkah, hati Kaila terasa semakin panas.


Kaila sedikit menolak pria itu semakin mendekat!


Tapi pria itu tetap menghampirinya, Kaila tidak bisa mengatakan apa-apa, jadi hanya bisa mendekat ke sisi lift dan sudut dinding.


"Aku tidak tahu dia akan datang!"


Erick tiba-tiba mengucapkan kalimat seperti itu.


Kaila mengangkat mata yang sudah kabur lagi karena air mata, apa maksud dari kalimat pria itu?


Apa pria itu tidak tahu Amelia mengekori Kaila?


Atau ingin bilang kalau Amelia belum pernah ke sini?


Kaila berpikir bahwa dirinya sangat lucu, dari mata pria itu yang gelap, dia tidak bisa mengerti apa-apa, jadi hanya menundukkan kepala lagi. "Sampai jumpa di pengadilan negeri!"


"Rumah ini sebenarnya untukmu, itu sudah tertulis dalam surat cerainya."


Erick tiba-tiba meraih pergelangan tangan Kaila.


Kaila tidak berani mendongak, bulu matanya yang panjang sudah basah karena air mata, melihat tangan pria itu yang memegang pergelangan tangannya, dia merasa sedikit sesak, dan hanya bisa menundukkan kepala sambil setuju dengan cemberut, "Iya."


"Kaila, lihat aku!"


Erick tidak bisa melihat wajah Kaila, tapi selalu merasa Kaila sedang mengalami masa sulit sekarang.


Tapi Kaila sedang sedih sekarang, jadi bagaimana mungkin bisa menatap pria itu ?


Kaila takut begitu mengangkat mata, air mata akan jatuh.


Untungnya, lift terbuka tepat waktu, dan Kaila menghela nafas lega sambil menyingkirkan tangan pria itu dengan kuat. "Aku harus pergi sekarang!"


"Kaila!"


Pria itu meraih pergelangan tangan Kaila dan tidak ingin melepaskannya sama sekali.


"Kak Amelia masih menunggumu, pergilah!"


Kaila tidak punya pilihan selain mendorong tangan pria itu dengan kuat, tangan pria itu yang bersih dan lembut, hati Kaila bahkan serasa mati rasa saat menyentuh tangan pria itu.


Tapi mau bagaimana lagi?


Kaila tidak akan mengharapkan sesuatu yang bukan miliknya.


Tetapi mengapa tangan pria itu begitu sulit untuk disingkirkan?


Dulu Kaila sangat tergila-gila dengan tangan pria itu sampai kebawa mimpi.


Dulunya dia paling suka tangan pria itu menyentuhnya.


"Erick, lepaskan aku!"


Suara Kaila tanpa sadar menjadi serak dan meminta permintaan tersebut.


Mendengar suara ini, Erick menjadi semakin bingung, dan mendorongnya langsung ke dalam lift.


Kaila merasa bingung dengan apa yang terjadi dan melihat orang yang melangkah masuk, saat masih dalam keadaan bingung, wajahnya tiba-tiba dipegang oleh telapak tangan pria itu yang hangat.

__ADS_1


__ADS_2