Tak Pantas Untuk Cintamu

Tak Pantas Untuk Cintamu
Bab 15 Penyakit Kebersihan Kambuh


__ADS_3

Erick menatapnya dengan mata yang berangsur-angsur menjadi terasing.


Setelah membujuknya tidur, Erick pergi ke klub.


Gabriel dan William sudah minum-minum di sini sepanjang hari, ketika melihat kedatangan Erick, mereka langsung mengusir semua wanita di sekitar dan menemano Erick dengan penuh perhatian.


Erick tampak sedikit lelah, dan keduanya menatap Erick sejenak tanpa bertanya apa-apa.


"Kaila sudah dapat dokumennya!"


Erick tiba-tiba berbicara.


William dan Gabriel masih memikirkan taruhan mereka, karena taruhan kali ini agak tinggi, jadi keduanya mendengarkan dengan teliti, mengangguk diam-diam, dan menunggu jawaban dari Erick.


"Tak lama lagi kami mungkin akan cerai!"


Erick melanjutkan.


Hati Gabriel tiba-tiba terasa seperti disilet, jadi buru-buru berkata, "Lebih baik pikirkan baik-baik, kamu serius tidak punya perasaan sama sekali dengan Kaila kecil kita? Merasa tega cerai begitu saja? Walaupun bukan kualitas terbaik tapi setidaknya Kaila itu wanita muda yang cukup cantik, kamu serius akan membiarkan pria lain mengambil keuntungannya?"


William bertaruh mereka berdua akan cerai, jadi membalas, "Temperamen Kaila itu ditekan oleh masalah keluarga, serius Erick bisa tahan dengan sifat Kaila yang sebenarnya? Sifat Kaila kecil kita yang sekarang itu bukanlah yang asli, jangan buat Erick terjebak, lebih baik cerai saja secepat mungkin dan menikahi orang yang selalu ingin Erick nikahi, bukannya Amelia juga tidak bisa ditunda lebih lama lagi, kan?"


Gabriel bergeming.


Erick tidak berbicara lagi dan hanya mengambil gelas anggur di samping, cairan oren kekuningan dalam gelas membuatnya menatap dengan dingin, kemudian meletakkannya lagi. "Gelasnya tidak bersih!"


"Apa?"


Gabriel pikir dirinya salah dengar.


"Bro, gelasmu itu sudah didisinfektan dengan suhu tinggi!"


Melihat Erick sudah mengeluarkan tisu dan mengelap jari dengan kuat secara berulang kali, William mau tidak mau mengingatkannya.


"Seluruh ruangan terasa kotor!"


Setelah Erick selesai berbicara, dia tiba-tiba berdiri dan pergi begitu saja.


William dan Gabriel tercengang, dan tanpa sadar melihat gelas Erick, gelas tersebut sangat bersih, hanya ada bekas jari Erick di atasnya.


Erick mengemudi kembali ke jalan kompleks, tapi mobilnya justru berubah arah ke kompleks yang berlawanan.


Kaila tertidur, saat ponselnya berdering, dia hanya bergerak sedikit dan kembali tidur lagi.


Erick memarkir mobil di lantai bawah dan melihat ke atas, apa gadis itu sudah tidur?


Bagaimana gadis itu bisa tidur senyenyak itu?


Erick melirik arloji dengan ketidakpuasan, kemudian wajahnya menjadi suram lagi.


Kaila berencana pergi keluar untuk membeli sarapan setelah bangun pagi, pao vegetarian di lantai bawah cukup enak.


Tetapi ketika turun, dia melihat sebuah mobil yang dikenalnya sedang terparkir tidak jauh.


Mobil yang lain terparkir dengan rapi, tapi mobil ini justru terparkir di belakang.


Kaila berjalan mendekat dan mengetuk jendela dengan ringan.


Orang di dalam bangun dan segera membuka jendela begitu melihat Kaila, "Pagi!"


Kaila menatap pria itu untuk waktu yang lama, kemudian tidak bisa menahan diri dan menoleh ke belakang sebelum menjawab dengan tenang, "Pagi! Sejak kapan kamu datang? Kenapa tidur di sini?"


"Tadi malam!"

__ADS_1


Dengan suara samar dari Erick, atap mobil perlahan terbuka.


Jantung Kaila berdetak kencang, tapi juga sangat kesal.


Erick ini datang ke sini tadi malam?


Kaila ingat sudah memeriksa lantai bawah sebelum tidur dan tidak melihat adanya sosok pria itu, yang berarti pria itu datang ke sini saat tengah malam, itu membuat Kaila tidak bisa menahan kerutan kening.


Erick yang melihat ekspresi Kaila langsung mengubah maksud kata-katanya, "Maksudku habis minum-minum dengan William dan Gabriel tadi malam dan karena tidurku tidak nyenyak, jadi istirahat sebentar di mobil."


"Oh begitu ya."


Kaila berpikir bahwa ini cukup masuk akal.


Karena tidak ada alasan bagi pria itu untuk tidur di lantai bawah sepanjang malam.


Kaila menegakkan punggung dan menatap pria itu sambil memeluk lengannya sendiri, "Kalau begitu kamu datang ke sini..."


"Sudah dapat dokumennya?"


Tanya Erick.


Kaila mengangguk. "Ya!"


"Kalau begitu ayo cerai!" kata Erick.


Hati Kaila goyah, tapi berpikir lebih baik mengakhiri hubungan secepat mungkin, daripada menunda dan menunggu ketidakpastian, tapi setelah tidak sengaja melirik jam di pergelangan tangan pria itu, ternyata sekarang baru pukul enam pagi.


"Di jam ini, sepertinya belum jam kerja, kan?"


Kaila berpikir dalam hati, apakah pria itu ke sini sepagi ini hanya untuk cerai dengannya secepat mungkin?


Tidak salah juga!


Mungkin pria itu juga takut menunggu ketidakpastian atau takut dia berubah pikiran?


Kaila yang berpikir begitu tiba-tiba mencibir.


"Betul juga! Kamu mau ke mana sepagi ini?"


Erick menatap Kaila yang memakai baju olahraga ungu biasa.


Kaila sadar dan melihat keluar. "Beli sarapan!"


"Tidak pandai buat sendiri?" tanya Erick.


Kaila bergeming.


Kaila tidak suka buat!


"Yuk, aku yang buatkan!"


Erick tiba-tiba membuka pintu mobil dan berjalan keluar.


Kaila bingung apa yang pria itu lakukan, kemudian sepasang suami istri keluar dari gedung dan berkata kepada mereka, "Halo, ini mobil kalian ya? Boleh dipindahkan?"


Langkah Erick berhenti, berbalik untuk melihat celah, kemudian menatap Kaila dengan wajah dingin.


Kaila yang ditatap seperti itu langsung merinding, "Cepat pindahkan mobilnya."


"Ikut denganku."


Erick pergi ke sisi Kaila dan mendorong Kaila ke kursi sebelah pengemudi.

__ADS_1


Kaila bergeming.


Dia keluar untuk membeli sarapan, tapi justru berakhir tiba di rumah dengan pemandangan laut milik Erick.


Erick sedang menggoreng telur dan memanggang roti.


Sedangkan Kaila duduk sambil menunggu dan melihat punggung pria itu yang tinggi nan besar, pikiran dan matanya terus tertuju di sana.


Sejak kecil, Kaila sudah merasa pria ini memiliki tubuh terbaik di dunia ini.


Karena dia belum pernah melihat orang lain dengan proporsi tubuh yang lebih baik dari pria itu.


Dia menurunkan mata dan memperingatkan dirinya sendiri. "Kaila, berpikirlah secara rasional, kalian sebentar lagi akan cerai!"


"Roti sandwich keberatan? Punyamu tak akan kumasukin daging."


Karena Kaila pernah bilang beralih ke vegetarian.


Kaila mengangguk, lalu Erick mulai membuat roti sandwich.


Sayuran dan tomat, serta telur dan kuning telur yang setengah matang.


Kaila melihat sandwich yang indah di piringnya, dan tanpa sadar menatap pria itu.


Berapa banyak lagi keahlian yang pria ini bisa?


Erick menuangkan susu ke dalam gelas, kemudian meletakkannya di depan Kaila. "Lihat aku bisa kenyang ya? Makan dulu."


"Terima kasih!"


Kaila tidak segan-segan lagi dan mulai makan sandwich setelah minum susu.


Kaila mengakui bahwa pria itu bukan hanya punya tubuh yang bagus, tapi juga penampilan yang bagus, latar belakang keluarga yang kaya, berbakat, dan pandai masak!


Bukankah ini hampir sempurna?


Sebagai seorang gadis, Kaila sangat malu karena tidak sehebat pria itu dalam segala hal.


Setelah berpikir pria itu sebentar lagi akan jadi milik wanita lain, dia tiba-tiba kehilangan nafsu makan.


Dia sepertinya tidak ditakdirkan untuk pria itu.


Lebih dari tiga tahun yang lalu, pihak berkaitan tiba-tiba datang ke rumahnya, dia masih bisa mengingat kejadian itu dengan sangat jelas, saat itu ayahnya sangat tenang.


Akan tetapi….


Tidak lama kemudian, ayahnya melompat dari bangunan tinggi.


Rumah itu kemudian disita, walau tidak disita sekalipun, dia tetap tidak akan tinggal di sana lagi.


Bukan karena takut, tapi karena perasaan sedih dan lainnya.


Erick memakan beberapa suap sandwich dan bertanya, "Bagaimana menurutmu tentang apa yang kubilang waktu itu?"


Kaila menatap pria itu lagi tanpa sadar. "Kamu yang ingin memberiku tunjangan?"


"Buka perusahaan media."


Erick tidak peduli dengan sarkas dari Kaila dan langsung ke topik.


"Aku tak suka jadi bos, aku sangat suka dengan pekerjaanku yang sekarang."


"Kamu tidak cocok tampil terbuka," kata Erick.

__ADS_1


__ADS_2