
Kaila bahkan tidak berani bernapas!
"Kaila!"
Pria itu tiba-tiba memanggilnya dengan tidak sabar, dan membungkuk perlahan.
Jantung Kaila berdetak bagaikan guntur, melihat pria itu semakin dekat, dan merasakan napas pria itu yang agak dingin, Kaila menoleh lagi.
Setengah sudut bibir pria itu menyapu melewati sudut bibirnya dan akhirnya menghela napas kecewa.
"istirahatlah."
Pria itu belum pergi dan masih menekan tubuhnya.
Kaila ingin beristirahat, tapi merasa dadanya sendiri hampir remuk hancur karena ditindih pria itu, rasa ambigu yang tumbuh dari keheningan ini membuatnya gelisah.
Mereka berdua sudah mau cerai, jadi untuk apa ini?
Apa pria itu merasa kasihan padanya?
Erick juga merasakan kelembutan yang berbeda, dan mau tidak mau melihat ke bawah.
"Tuan Muda Dawson!"
"Mm?"
"..."
Kaila pikir dengan panggilan itu dapat membuat pria itu tahu batas, tapi tidak menyangka reaksi pria itu hanya begitu saja.
"Aku selalu mengira kamu belum tumbuh dewasa!"
Pria itu bilang begitu!
Wajah Kaila langsung memanas.
"Selamat malam!"
Pria itu tiba-tiba berbicara dengan suara rendah.
"Selamat malam!" Kaila jawab dengan dengan rasa bersalah.
Mata gelap pria itu menatapnya untuk waktu yang lama.
Kaila berbaring miring setelah pria itu pergi, merasakan jantungnya yang terus berdebar kencang.
Kemudian, ponsel Erick berdering lagi, dia mengangkat telepon dengan sangat sabar dan berjalan keluar.
Kaila tahu panggilan itu itu pasti dari Amelia.
Otomatis Amelia tidak berani mengatakannya secara langsung bahwa dia tidak ingin Erick menemani Kaila, karena Amelia takut Erick dan Kaila menghabiskan waktu bersama.
Kaila berpikir Erick mungkin menganggapnya sebagai anggota keluarga, jadi selalu berada di sisinya selama beberapa hari ini.
Tapi dia harus pengertian, jadi berencana untuk meninggalkan rumah ini secara diam-diam saat tengah malam.
Ada satu lampu yang menyala di lantai bawah, itu membuat dia terkejut karena mengira ini adalah pergantian shift pembantu.
"Sudah bangun ya, ayo sini makan sesuatu."
"Kenapa kamu masih di sini?"
Kaila mengikuti, dan saat melihat dua piring lauk beserta satu sup di atas meja, dia sempat meragukan matanya sendiri.
Bos perusahaan Dawson yang bermartabat bisa memasak?
"Ini rumahku, dan aku sudah tinggal di sini selama tiga tahun semenjak kamu pergi."
__ADS_1
"..."
Kaila tidak berani percaya, saat duduk, dia teringat dengan rencana untuk pergi dari sini, tapi saat memikirkan itu, dirinya sudah mengambil sendok.
Dia tidak makan banyak dalam beberapa hari ini dan entah sudah berapa kali perutnya merasa lapar.
Supnya cukup biasa, tapi setelah minum, rasa dingin beberapa hari ini banyak mereda.
Erick meletakkan sumpit di depannya, saat melihatnya meminum sup, dia berkata, "Aku menambahkan jamur favoritmu di dalam, dapat rasanya?"
"..."
Kaila menyesap sup dan menatap pria itu sebelum mengangguk untuk waktu yang lama.
Rasanya dapat sekarang.
"Dulu selalu tidak punya kesempatan untuk memasak untukmu, terkejut ya?"
"Iya."
Kaila mengakui dengan suara rendah, lalu lanjut meminum sup dengan kepala tertunduk.
Dia memutuskan untuk pergi dari sini setelah makan, karena orang ini mengerikan.
Ponsel Erick berdering lagi di atas meja saat hendak makan.
Kaila jelas tahu itu dari Amelia, pria itu mengambil ponsel dan melihat sekilas, lalu menatap Kaila sambil menjawab telepon. "Halo?"
"Malam ini tidak bisa datang juga? Aku selalu mimpi buruk! Tidak bisa tidur nyenyak!"
"Kamu tidak minum obat yang diberikan dokter? Aku tidak bisa pergi ke sana."
"Kamu sedang menemani Kaila?"
"Mm."
"Aku tahu aku seharusnya tidak begitu egois, tapi Erick, aku sangat takut, aku takut tidak akan pernah bangun lagi setelah tertidur, aku bahkan belum memakai gaun pengantin dan belum berjalan masuk ke gereja bersamamu."
Amelia mulai menangis lagi.
Erick menghela nafas, "Itu tidak akan lama, bukannya gaun pengantin sebentar lagi siap? Kamu istirahat dulu, aku akan ke sana pagi nanti."
Kaila tidak tahu mengapa, dia sudah membulatkan tekad untuk melupakan pria itu, tapi ketika mendengar apa yang pria itu katakan kepada Amelia, hatinya serasa dikoyak oleh seseorang, darah terus mengalir perlahan dari luka tersebut, panas dan menakutkan!
"Aku sudah selesai, terima kasih makan malamnya, aku akan pulang ke tempat ibuku sekarang, fokus saja pada urusanmu sendiri, aku janji tidak akan melakukan hal bodoh."
Kaila tahu bahwa pria itu pasti berpikir dia akan putus asa tanpa ibunya.
Semua orang khawatir sesuatu akan terjadi pada Kaila!
Tetapi Kaila hanya sakit hati, memangnya apa yang bisa terjadi?
Tetapi jika Kaila tidak pergi, sesuatu mungkin akan terjadi!
"Kaila, kamu harus tidur di sini malam ini!"
"Kenapa?"
"Karena, para bawahan Kakek ada di lantai bawah!"
"..."
Kaila tahu pria itu takut pada kakeknya, karena kakeknya bukan lelaki tua biasa yang menakutkan, ada sesuatu yang dipegangnya!
Tetapi surat pernyataan cerai saja sudah ditandatangani, dan dia merasa sangat tidak pantas untuk tinggal bersama pria itu lagi.
"Dulu mungkin aku akan patuh, tapi sekarang surat cerai sudah ku tandatangani, jika Kakek bertanya tentang ini, aku akan menjelaskan kepadanya secara langsung, lelaki tua itu tidak akan melakukan apapun padamu."
__ADS_1
Kaila menjelaskan.
"Yakin? Kamu lupa dia pernah mematahkan dua tulang rusukku saat aku masih kecil?"
"..."
Kaila menarik napas dalam.
"Menetaplah di sini, aku akan mengantarmu pulang besok."
"Bukannya kamu harus menjenguk Kak Amelia besok?"
Erick hendak makan, tapi begitu mendengar tentang Kak Amelia, dia tiba-tiba meletakkan sumpit dengan kesal, "Tolong jangan sebut tentang Amelia."
Kaila bergeming. "..."
Jadi dia bahkan tidak diperbolehkan untuk menyebut tentang wanita itu?
Kaila tidak berbicara dan bersikeras untuk pergi, tapi begitu sampai di ruang tamu, dia menemukan bahwa kopernya hilang, dia tanpa sadar menoleh ke arah orang yang sedang mengikutinya, "Di mana koperku?"
"Ini pertama kalinya aku memasak untuk orang lain, tapi kamu mau pergi begitu saja tanpa menghabiskan makanannya?"
Erick melangkah maju dan mengangkat tubuh Kaila dari lantai.
Kaila sangat ringan sehingga pria itu bisa dengan mudah menggendongnya di pundak.
Kaila kesakitan karena bahu pria itu, tapi tidak berani mengangkat kaki karena takut sandalnya akan menodai pakaian pria itu.
Erick menempatkan Kaila di kursi sebelahnya.
Kaila menatapnya dengan marah. "Kamu tidak boleh membully ku seperti ini! Jelas kamu yang ingin cerai, jadi jangan nganggu aku lagi!"
"Masih belum cerai! Makan dulu!"
Pria itu menyerahkan semangkuk nasi dan sumpitnya sendiri kepada Kaila.
Kaila menatap alat makan itu dengan kaget, lalu menatap pria itu. "Aku boleh pakai?"
Pria itu mengangkat tangan dan memberi isyarat pada Kaila untuk cepat.
Kaila dengan marah mengambil dan merapikan sumpit pria itu, lalu memakan nasi di mangkuk pria itu.
Dia sengaja mengambil mangkuk sup pria itu dan minum secara langsung lewat mulut.
Erick mengerutkan kening.
Kaila yang sangat kesal ternyata terlihat seperti ini.
Seperti landak kecil yang marah!
Kaila tidak menyangka bos perusahaan Dawson yang terobsesi dengan kebersihan akan membiarkan dia makan di mangkuknya.
"Penyakitmu sudah sembuh?"
Kaila hanya memikirkan satu alasan ini.
"Penyakitku hanya kambuh dengan orang luar!"
Erick yang menunggu pertanyaan ini akhirnya bisa menjawab.
Kaila tidak tahu mengapa wajahnya memanas, dia tidak ingin salah paham hanya karena pria itu tidak menganggapnya sebagai orang luar.
Tetapi mengapa?
Mata pria itu tertuju pada bibirnya.
Tatapan itu seperti...
__ADS_1