
Tuan Besar dan Nyonya Besar, serta kedua orang tua Erick, pengurus rumah tangga dan bibi pembantu, semuanya berdiri di sana.
Erick berjalan di antara semua orang dan tiba-tiba berhenti di tempat kosong dengan membelakangi semua orang.
Semua orang merasakan keanehannya jadi menatap dan menunggunya untuk mengatakan sesuatu.
Tapi dia pada akhirnya hanya berjalan keluar.
Tuan Besar dan Erwin mengikuti Erick.
Sedangkan Nyonya Besar dan Jolin masih di luar pintu, kemudian Nyonya Besar membuka mulut, "Kaila sayang."
"Sayang!"
Jolin juga memanggil Kaila seperti itu.
Kaila tahu mereka sangat menyukai dia dan ingin dia menjadi bagian dari keluarga ini, tapi pada saat ini panggilan itu justru membuatnya merasa malu dan tanpa sadar menundukkan kepala, "Maaf, nek, bu."
"Kenapa minta maaf? Anak itu yang tidak menghargaimu, dia pantas melajang seumur hidup!" kata Jolin tanpa basa-basi.
"Itu benar, nenek akan mencarikanmu yang lebih baik di masa depan, pria di dunia ini bukannya mati semua juga."
Apa yang dikatakan Nyonya Besar membuat Kaila tiba-tiba tidak tahu harus berbuat apa.
Sebenarnya pria itu tidaklah buruk, hanya bukan miliknya saja.
Begitu Erick memasuki ruangan, Tuan Besar dan Erwin ikut masuk.
Tuan Besar bertanya lebih dulu. "Besok kalian akan cerai?"
"Dia yang mau cerai."
Erick mengklarifikasi.
"Dari yang kudengar memang Kaila yang mau cerai, tapi kenapa begitu mendesak?"
Erwin bertanya pada putranya.
Ketika Erick mendengar itu, dia terdiam lagi dan mengalihkan pandangannya.
Di perabot yang menempel di kepala tempat tidur, berkat hadiah dari ibunya, terletak sebuah foto dirinya bersama Kaila yang difoto pada hari pernikahan, mereka berdua secara paksa didekatkan bersama, yang terasa tampak tidak pada tempatnya.
"Sepertinya gadis ini beneran akan melepaskanmu!"
Lanjut Erwin yang tidak terburu-buru untuk mendengar jawaban dari putranya.
Erick kesal, "Kamu datang hanya untuk mengatakan ini?"
Membuatnya merasa tidak nyaman dan kesal?
"Tidak, aku dan kakekmu hanya tidak mengerti, apa Amelia sebaik itu?" tanya Erwin lagi.
"Amelia itu terlihat seperti orang yang tidak mudah dihadapi, dia yang memaksamu untuk bercerai dengan kematiannya ya?"
Tuan Besar juga bertanya.
Erick bergeming.
"Intinya kau beneran mau menceraikan Kaila dan pergi bersama wanita itu?"
"Waktu Amelia tidak banyak lagi!" kata Erick.
Erwin dan Tuan Besar mengerutkan kening dan saling memandang, lalu menghela nafas tanpa daya.
Tetapi ketika Erwin keluar, dia tidak buru-buru menutup pintu, melainkan menoleh dan berkata, "Ibu dan nenekmu sudah sibuk mengatur kencan buta untuk Kaila, kau yang akan jadi mantan suami tidak peduli tentang ini?"
__ADS_1
"..."
Erick melihat ke arah pintu dan merasa lebih kesal.
Kencan buta?
Kaila masih belum bercerai, kan?
Dan terlebih lagi itu adalah nenek dan ibu kandungnya yang melakukan ini?
Hujan di luar masih belum berhenti, setelah makan malam, Kaila sedang mengobrol dengan Tuan Besar dan Nyonya Besar, tapi tidak bisa menahan diri dan melirik ke arah pria itu.
Erick biasanya tidak tinggal di sini, Kaila berencana untuk membiarkan Erick sekalian mengantarnya pergi nanti.
Nyonya Besar yang tahu dengan apa yang direncanakan Kaila buru-buru berkata dengan lembut, "Kaila sayang, malam ini menetap saja dulu! Hujan masih terlalu deras, kamu tidur di kamar tidur utama saja, biar suamimu yang tidak kompeten tidur di kamar tamu."
"Bukannya ini tidak pantas?"
Begitu selesai mengatakan itu, Kaila bisa merasakan tatapan sangat dingin yang sedang menatapnya.
"Apa yang tidak pantas? Kalian berdua akan cerai sebentar lagi, mana mungkin tidur bersama lagi, kan?" kata Jolin.
"Kamu belum cerai!"
Erick tiba-tiba membuka mulut.
Kemudian keluarga berjumlah lima orang itu memandangnya secara serempak, dengan tatapan 'dasar tak tahu malu'.
Kaila tanpa sadar menatap pria itu setelah mendengar ini.
Mengapa selalu terasa seperti pria itu tidak ingin cerai?
Tetapi pria itu yang menyampaikan surat cerai!
Itu pasti hanya halusinasi, atau pria itu memiliki rahasia yang tidak boleh diketahui? Karena pria itu tentu tidak bermaksud untuk sengaja menunda-nunda.
Dia tidak punya penyakit kebersihan, tapi tetap tidak ingin mandi menggunakan barang-barang pria itu, karena pria itu punya penyakit seperti itu.
Dia tidak akan melakukan sampai sejauh Amelia yang seluruh tubuhnya penuh dengan bau obat desinfektan sepanjang hari, agar pria itu bisa merasakan kebersihannya.
Dia agak ingin keluar dari sini, tapi di luar masih hujan lebat.
Apa bertukar kamar dengan pria itu saja ya?
Meskipun bibi pembantu bilang kamar tamu sudah dibersihkan dan diganti dengan tempat tidur yang bersih, tapi apa pria itu bisa beradaptasi?
Dia diam-diam membuka pintu dan melihat ke lokasi kamar tamu.
Saat ini pintu kamar tamu terbuka tiba-tiba.
Kaila melihat dengan gugup ke arah itu.
Pria itu keluar dengan piyama putih, dan mata gelapnya langsung melihat balik ke arah Kaila.
detak jantung Kaila semakin cepat seakan ingin meledak.
Erick berjalan ke arah Kaila, Kaila menurunkan mata tanpa sadar dan menyadari bahwa celana piyama masih tidak menutupi kaki pria itu yang panjang.
Pergelangan kaki pria itu yang indah membuat Kaila serasa ingin menyentuhnya.
Tentu saja, pria itu bagaikan pangeran bermartabat, yang tidak semua orang boleh sentuh.
Kaila tiba-tiba teringat dengan Amelia, Amelia pasti pernah menyentuh pria itu, kan?
Tiba-tiba, detak jantungnya tidak secepat barusan lagi, dia mundur dan melihat pria itu yang berjalan ke sisinya, alisnya turun dan melihat pinggang serta perut pria itu.
__ADS_1
Sebenarnya, dia sudah pernah melihat tubuh pria itu waktu masih kecil, tapi pada waktu itu pria itu masih tidak memiliki tubuh yang kuat seperti sekarang.
Ini adalah hasil latihan bertahun-tahun, otot perut eight pack dan garis v line perut bawah...
Sial!
Mana pakaian yang dikenakan pria itu, apa yang telah dibayangkan?
Adegan pria itu yang telajang di kamar mandi muncul kembali di benaknya, yang membuat telinganya memerah.
Erick yang melihat telinga Kaila memerah, segera mengangkat tangan dan mencubit dagunya sambil menatapnya dengan dominan, "Apa yang kamu pikirkan?"
"..."
Mata hitam besar Kaila ingin bersembunyi, tapi tidak bisa mengelak karena cubitan dagu dari pria itu.
"Kupikir, mau tukar kamar?"
Kaila bertanya dengan lembut.
Setelah mengatakan itu, Kaila merasa masih bisa berpikir secara rasional, jadi diam-diam menghela nafas lega.
"Tukar kamar?"
Erick bertanya dengan datar, tapi tidak ingin serasa seperti pertanyaan yang retoris.
Saat berikutnya, Kaila merasakan hawa dingin di bagian belakang leher dan rasa sakit yang langsung menyerang di area tersebut.
Pintu kamar tidur terdorong buka dari luar, kemudian Kaila didorong masuk lagi dengan leher tercekik.
Kaila ketakutan, berdiri di dalam sambil melihat pria itu menutup pintu dan berjalan ke arahnya, yang membuatnya mundur dengan panik.
"Tukar apaan? Bukannya aku belum pernah tinggal juga!"
Erick tiba-tiba muncul di depannya, bertingkah seolah membencinya tapi mengatakan kata-kata seperti itu.
Kaila bahkan merasakan sedikit rasa intimidasi dalam kata-kata pria itu dan ....
Tepi telinganya memerah lagi, dan dia mundur selangkah karena kaki yang melemah.
Ketika hendak mundur lagi, pinggangnya yang ramping tiba-tiba dipeluk.
Kaila menahan napas dan menatap pria yang memeluknya.
Ekspresi agung di wajah pria itu bagaikan pangeran yang terprovokasi dan ingin menyiksa benda kecilnya yang memprovokasinya.
"Kamu takut padaku?"
Erick bertanya tiba-tiba.
Takut?
Tentu saja takut!
Tak lama lagi mereka akan cerai!
Tetapi pria itu masih menggodanya seperti itu!
Kaila ingin menurunkan mata lagi, tetapi dagunya langsung dicubit lagi dan diingatkan oleh pria itu untuk menatap balik.
"Masih seperti dulu?"
Kaila hanya bisa menanyakan itu pada pria itu, suaranya sangking lemahnya serasa ingin menggigit lidah sendiri.
Erick tiba-tiba mencibir. "Tidak!"
__ADS_1
Kaila menatap pria itu dengan penuh terkejut.
Tidak?