Tak Pantas Untuk Cintamu

Tak Pantas Untuk Cintamu
Bab 2 Dia Adalah Bintang Di Langit


__ADS_3

Kaila Melton tersenyum ringan setelah mendengar itu, dia sudah mencintai pria itu sejak kecil, tapi pria itu bagaikan bintang di langit.


"Kamu akan pindah setelah cerai? Mau kubantu cari tempat tinggal?" tanya temannya.


Kaila menghela nafas, berbalik dengan malas, bersandar ke jendela sepenuhnya, dan berkata dengan lemah. "Aku mungkin akan pindah ke tempat ibuku."


"Kaila ...."


"Aku tutup dulu!"


Kaila melihat orang yang turun tangga dari sudut matanya, pria itu hanya mengenakan piyama berwarna perak, dia tidak berani melihat dengan teliti dan buru-buru menutup telepon.


Pria itu tidak diragukan lagi sangat tampan, baik dari segi identitas latar belakang maupun penampilan dan bentuk tubuh.


Dia sudah terpesona oleh bentuk tubuh pria itu sejak kecil, namun pria itu justru terpesona dengan wanita lain.


Kaila beberapa tahun lebih muda darinya, alasan bisa menikah dengannya itu berkat hubungan baik antara kakek dari kedua belah pihak, dan juga berkat penyakit wanita yang dicintai pria itu.


Karena tidak mungkin bagi keluarga Dawson untuk menerima seorang wanita mandul sebagai menantu perempuan, jadi dia menjadi calon istri yang terpilih oleh keluarga Dawson, sedangkan pria itu mencapai kesepakatan secara diam-diam dengannya demi Amelia.


Identitasnya sebagai istri sah hanya sebatas nama saja, pria itu membantunya dengan menyelesaikan masalah keluarga Melton, serta merawat ibunya.


Dengan begitu, ketiga pihak mendapatkan apa yang mereka inginkan.


"Surat pernyataan cerai menyatakan bahwa properti ini akan jadi milikmu."


Pria itu sudah sangat murah hati karena memberinya apartemen berpemandangan laut senilai puluhan miliar di pusat kota ini.


Kaila Melton tersenyum, "Mungkin Kak Amelia tidak akan senang dengan ini."


Reaksi Erick sangat dingin saat mendengar nama Amelia disebut, tapi pada akhirnya hanya berbalik dan berjalan menuju dapur.


Kaila melirik arlojinya, jam sudah menunjuk pukul sepuluh!


Ketika Erick keluar dengan anggur merah sambil berkata, "Aku seharusnya..."


"Minum segelas."


"..."


"Tidak bisa?"


"..."


Kaila berjalan mendekat dan mengambil segelas anggur itu dengan kaku.


Bagaimana pria itu bisa berpikir dia yang seorang gadis dewasa berusia dua puluhan tidak bisa minum-minum?


Dia menyesap perlahan, anggur kelas atas terasa lebih halus, dan dia berdiri di samping pria itu dengan alis yang diturunkan.


Erick menatapnya. "Kau...dua puluh ..."


"Dua puluh tiga!"


Dia masih sangat muda saat menikah.


Erick mengangguk dan memandangnya dari atas ke bawah, Kaila mengenakan celana panjang hitam dan kemeja panjang, tapi kali ini kemejanya diubah menjadi gaya yang berbeda, yang terlihat sangat anggun.


Tentu saja Erick tahu bahwa Kaila sangat cantik, tapi justru karena terlalu cantik sehingga membuat sakit mata.


Setelah mereka berdua selesai minum, Kaila baru berkata lagi, "Sudah cukup larut, aku tidak akan mengganggu waktu istirahatmu."


"Para bawahan kakek masih ada di luar, kau tidak akan bisa pergi ke mana pun malam ini."

__ADS_1


"..."


Kaila menatapnya dengan tidak percaya, sedangkan Erick hanya tersenyum: "Sama seperti dulu."


Kaila menarik napas dalam ketika melihat pria itu naik ke lantai atas.


Maksud dari sama seperti dulu?


Dia tidur di tempat tidur dan pria itu tidur di sofa?


Secara logis walaupun para bawahan kakek sedang mengawasi di bawah, tapi pada kenyataannya rumah ini sangat besar, jadi sofa besar ini sudah cukup luas untuknya.


"Jangan-jangan kau pikir aku akan tidur di ranjang yang sudah kau tiduri?"


Erick sepertinya menyadari kekhawatiran Kaila, berdiri di tangga sambil menatap dan mengingatkannya.


Kaila bergeming.


Berpikir mungkin ini adalah terakhir kalinya mereka tinggal bersama, dia tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak pergi bersama pria itu!


Setelah keduanya berbaring, suasananya benar-benar seperti malam pertama pernikahan waktu itu.


Baru pada saat tengah malam, di ruang yang gelap, berdiri sebuah sosok di samping tempat tidur yang menatap Kaila.


——


Dia sudah diberitahu oleh Erick sebelumnya, jadi dia sangat tenang saat bertemu Amelia di Kota Medan pada siang keesokan harinya.


Melihatnya, Amelia tersenyum dan meraih tangannya, "Sudah berapa tahun kita tidak bertemu ya? Kamu sudah menjadi gadis besar!"


Kaila tersenyum. "Ya!"


Kaila tumbuh besar bersama mereka, tapi tumbuh bersama yang tidak begitu baik, karena selalu dianggap sebagai anak kecil setiap saat.


Begitu memasuki kamar, Amelia langsung bertanya sebelum Kaila sempat duduk: "Kaila sangat cantik, pasti ada banyak pria tampan yang mengejarmu di luar negeri."


Jawab Kaila sambil tersenyum.


Tak lama kemudian, suasana ruangan menjadi senyap.


Kaila yang menyadari ketidakberesan dari ekspresi Amelia dan Erick langsung melanjutkan sambil tersenyum, "Dia kakak kelas yang satu tahun lebih tua dariku."


"Oh kakak kelas ya, apa dia memperlakukanmu dengan baik?"


Amelia jelas lega dan terus bertanya padanya.


Mereka bertiga sudah duduk saat ini.


Mata Erick tertuju pada wajah Kaila, Kaila melihat peralatan makan khusus di atas meja, dan takut salah bicara. "Iya, semua gadis di sekolah menyukainya, tapi dia bilang aku istimewa dan hanya menyukaiku!"


"Syukurlah! Kalau begitu dia pasti sangat mencintaimu juga, kamu harus mempertahankannya dengan baik."


"Um!"


Kaila setuju, dan tanpa sadar mengangkat matanya untuk melihat orang yang berlawanan secara diagonal.


Pria itu sudah memesan makanan, tapi yang dia pesan hanyalah yang bisa dimakan Amelia.


"Erick, apa yang bisa kumakan itu rasanya agak tawar, tidak masalah kalau kau mau menemaniku, tapi kenapa harus membuat Kaila ikut juga," kata Amelia sambil memberi isyarat untuk memberikan menu kepada Kaila.


Kaila tersenyum. "Kurasa sudah cukup, aku biasanya vegetarian juga."


Amelia dan Erick yang mendengar bahwa Kaila mengaku sebagai vegetarian, tanpa sadar menatapnya dengan heran.

__ADS_1


Karena Kaila itu dulunya penyuka daging.


"Aku sudah beralih ke vegetarian."


Apa yang dikatakan Kaila memang benar.


Sejak hari pertama pergi ke luar negeri, dia sudah mengubah pola makannya menjadi vegetarian.


Tampaknya menjadi vegetarian membuatnya merasa lebih nyaman.


"Kondisi tante sedang kurang sehat, kepulanganmu kali ini akan menetap di sini sedikit lebih lama, kan? Apa pacarmu tidak khawatir?"


Saat makan, Amelia makan lebih sedikit, dan tidak lupa untuk terus bertanya dengan khawatir.


"Sekarang transportasinya cukup praktis, kalau rindu tinggal langsung jenguk saja," jawab Kaila.


"Benar juga, tapi dia tahu kamu sudah menikah?" Pertanyaan Amelia tidak terputus.


Mendengar ini, Kaila melirik Erick tanpa sadar, sementata Erick juga menatapnya dengan mata gelap.


"Aku ingin memberitahunya setelah cerai."


Kaila menurunkan matanya dan jawab sambil mengambil lauk untuk dirinya sendiri.


"Kupikir itu tidak buruk juga, kamu tidak perlu khawatir tentang itu, palingan aku akan pergi untuk menjelaskannya dengan Erick, lagipula ..."


Amelia tiba-tiba berhenti.


Kaila menatapnya dengan rasa ingin tahu.


Amelia tiba-tiba tersenyum. "Saat kalian berdua melakukannya untuk pertama kali, dia pasti akan tahu kamu itu gadis baik dengan tubuh yang masih bersih!"


"..."


Kaila tidak tahu mengapa topiknya tiba-tiba berwarna, tapi dia masih terlalu muda untuk topik seperti itu.


Erick memberi lauk pada Amelia. "Makan dulu sedikit."


Melihat pria itu yang begitu perhatian, Amelia berkata kepadanya. "Aku merasa bersalah membiarkanmu melayaniku sepanjang hari, aku pernah berpikir, jika aku sudah tiada, alangkah baiknya gadis baik seperti Kaila bisa mengantikanku untuk merawatmu?"


"Amelia!"


Erick meletakkan sumpit dan menghentikan pembicaraan.


"Aku tahu, aku tahu kamu tidak mau, aku juga tahu ini akan merugikan Kaila, ini semua salahku karena tidak berguna!"


Amelia tiba-tiba meneteskan air mata dan mulai menangis.


Kaila berhenti berbicara, menundukkan kepala dan mengaduk nasi yang ada di mangkuk.


Makan bersama kali ini sebenarnya bermaksud untuk menghilangkan kekhawatiran Amelia tentang dia. Tapi Kaila menyadari maksud dari Erick, Erick masih menghibur Amelia dengan sabar saat ini, untungnya, waktu makan yang lebih dari satu jam berlalu dengan mudah.


Amelia sekarang dalam stadium akhir kanker, jadi Erick harus membawanya pergi setelah makan malam, Amelia masih khawatir pada Kaila, "Kaila, bagaimana kalau biarkan Erick mengantarmu pulang?"


"Tidak apa-apa, aku harus ke tempat lain lagi, aku tidak mau jadi nyamuk di antara kamu dan Tuan Muda Dawson!"


Kata Kaila sambil mengayunkan tangan.


"Karena kamu panggilnya Kak Amelia, jadi jangan panggil aku Tuan Muda Dawson, panggil saja kakak ipar!"


"..."


Kaila tertegun untuk waktu yang lama dan menatap Erick tanpa sadar.

__ADS_1


Erick sedikit mengernyit dan menatapnya dalam diam.


Kaila tidak punya pilihan selain memanggil dengan canggung dan tidak ingin mengecewakannya. "Ka-Kakak ipar!"


__ADS_2