
"Apa yang kamu takutkan? Aku tidak tertarik dengan payudara rata!"
Erick memandangnya dari atas ke bawah dan mempermalukannya dengan dingin.
"..."
Jantung Kaila berdetak kencang, karena Erick yang bilang tidak tertarik malah menyentuhnya.
Kaila memegang pergelangan tangan pria itu dengan kuat, pergelangan tangannya terasa sangat keras, tapi mungkin tidak sekeras hatinya.
Tepat ketika Kaila secara keliru mengira pria itu hanya mencoba mempermalukannya dengan cara ini, Erick tiba-tiba mendorongnya.
Kaila jatuh ke tempat tidur, dan terpental balik sedikit karena jatuhnya cukup kuat.
Dia merasa pusing, dan akhirnya sadar dirinya benar-benar salah paham, karena pria itu hanya ingin mendorongnya.
Sejak kapan dia menyinggung pria itu?
Kenapa pria itu harus membullynya seperti ini?
Yang lebih penting lagi, pria itu malah tidur seranjang dengannya malam ini, Kaila ditekan oleh pria itu ketika ingin bangun, "Tidur di ranjang, atau kuikat agar tidur di sini, pilih sendiri!"
Kaila terdiam dan menatap mata pria itu yang gelap saat tangannya diletakkan di atas kepala pria itu.
Tidak ada gunanya memberontak dan melawan pria itu.
Kaila kemudian berbaring dengan patuh, dengan selimut di tengah-tengah yang tidak dipakai oleh siapapun.
Kemudian saat setengah tertidur, pinggangnya terasa tenggelam, sebuah tekanan yang entah dari mana tiba-tiba muncul, tapi tubuhnya terasa hangat dan itu membuat dia tertidur lagi.
——
Ketika bangun keesokan harinya, jam sudah menunjuk pukul tujuh, dan sosok Erick tidak terlihat lagi di tempat tidur.
Kaila tiba-tiba teringat akan satu hal, perceraian.
Dia bangun dari tempat tidur dengan cepat, dan berlari keluar sebelum sempat pakai sepatu.
Begitu pintu terbuka, pria itu berdiri di depan pintu dengan wajah pucat. "Kenapa sepanik itu? Pakai dulu sepatumu."
Kaila merasa lega begitu melihat Erick, kemudian melihat ke bawah kakinya yang telanjang dan berbalik untuk mencari sepatu.
Erick setengah duduk di tengah lemari di dekat dinding sambil menatapnya dengan segelas air. "Aku demam." Kata-kata itu keluar dengan dingin, seolah meminta penghiburan.
Kaila awalnya mengira dirinya salah dengar dan menatap pria itu di samping tempat tidur.
"Tiga puluh sembilan derajat."
Erick terus berbicara dengan nada yang sangat tak berdaya.
Kaila menggerakkan bulu matanya yang panjang dan berkata, "Kalau begitu minum obat."
"Aku tidak suka."
Erick menurunkan mata secara tiba-tiba, bertingkah seperti menolak mati-matian dengan keras kepala.
Bibi pembantu datang sambil membawa dua kapsul obat dan menunjukkannya kepada Kaila, lalu meletakkannya di lemari dan keluar dengan tenang.
Erick semakin mengernyit saat melihat kedua kapsul pil itu.
Tetapi untuk seorang pria dewasa, terhadap dua pil itu, apa yang perlu diragukan?
"Lebih baik cepat makan obatnya, kita harus ke pengadilan negeri nanti."
__ADS_1
"Nyawaku lebih penting dari pengadilan negeri," kata Erick sambil memegang gelas air.
Kaila berjalan mendekat, mengambil dua pil itu dan menatap pria itu sebelum membukanya. "Aku belum cuci tangan, sini tanganmu."
Mata gelap Erick menatap Kaila lagi, kemudian diam-diam mengulurkan tangan.
Telapak tangan pria itu besar dan panjang, Kaila sedikit menjauh saat menuangkan kapsul pil saat dibuka.
saat pilnya jatuh, pria itu tiba-tiba menarik kembali tangannya, Kaila yang melihat itu langsung panik dan meraih pergelangan tangannya, "Kalau seorang Tuan Muda Dawson yang mampu mengendalikan nasib seluruh kota bahkan tidak berani makan obat, kira-kira apa yang akan orang-orang pikirkan?"
"Mana mungkin orang lain bisa tahu?"
Pria itu melirik tangan kecil Kaila yang bersih dan merasakan suhu yang hangat, kemudian menatap Kaila lagi.
Kaila mengangkat mata, kemudian menghela nafas tak berdaya. "Akan kusebar! Menjual gosip Tuan Muda Dawson pasti sangat menguntungkan."
Erick menatap lama Kaila tanpa berbicara.
Kaila meletakkan kedua pil itu di tangan Erick dan menatap Erick. "Jangan takut, aku tidak akan menjual itu, cepat makanlah."
Baru saat itulah Erick melirik dua pil di telapak tangan, dan telapak tangan itu pun perlahan turun...
Kaila langsung terkejut, secara refleks memegang tangan Erick lagi dan menatap Erick dengan kaget, "Jangan seperti ini!"
"Apa?"
"Seperti anak kecil!"
" ...."
Erick mengerutkan kening lagi.
"Hanya anak-anak yang perlu dibujuk saat makan obat, kamu itu ...."
Tiba-tiba teringat dengan kondisi fisik Amelia, Kaila merasa sudah kelewat khawatir! Sial!
"Aku tidak minta dibujuk!" kata Erick sambil melihat tangan yang ada di bawah punggung tangannya sendiri.
Pria itu selalu membuat suara kering seperti itu, tapi itu justru selalu membuat hati Kaila bergejolak, dan matanya terasa hangat.
"Kalau begitu cepat makan dan kita pergi cerai setelah sarapan."
"Mana mungkin aku bisa keluar dengan kondisi seperti itu? Di luar juga sangat berangin hari ini, itu bisa memperburuk kondisi tubuhku."
"..."
Kaila tidak tahu mengapa bisa berakhir disiksa pria itu, singkatnya, pada saat ini Kaila benar-benar ingin memarahi pria itu.
Tetapi pada akhirnya, karena ponsel yang berdering dia sadar kembali.
Itu adalah panggilan dari Nicky.
"Angin hari ini cukup kuat, mau kujemput?" tanya Nicky di telepon.
Kaila tersenyum setelah mendengar itu. "Tidak, aku akan pergi sendiri nanti"
Setelah selesai berbicara, Kaila langsung menutup telepon, kemudian menatap pria yang bersandar di lemari.
Pria itu menatapnya dengan acuh tak acuh, seolah-olah sebuah pisau akan menikamnya dari mata pria itu!
"Kamu berencana kencan dengan pria itu?"
Erick menanyakan kalimat ini dengan hati yang terasa kacau.
__ADS_1
"Mungkin! Dia tidak buruk juga."
Jika itu ditanya oleh orang lain, Kaila pasti akan langsung jawab mustahil.
Nicky itu lebih seperti kakak laki-laki, dan dia akan menjelaskannya kepada Nicky hari ini.
Tetapi Kaila tidak ingin pria itu tahu tentang hal semacam ini.
Erick meletakkan gelas air dan obat-obatan di tangan, dan berjalan ke arah Kaola secara perlahan.
Kaki Kaila kembali hilang tenaga, tapi kali ini masih berdiri kokoh.
Erick berjalan ke arah Kaila, dari segi mana Nicky itu lebih baik dariku?"
Hati Kaila bergejolak, kemudian tersenyum kembali pada pria itu, "Membawakanku payung saat hujan, memberiku teh susu setelah selesai rekaman, mengantarku pulang setelah pulang kerja larut malam, dan yang lebih penting ..."
"Apa itu?"
"Dia tersenyum padaku!"
Apa yang dikatakan Kaila memang benar, Nicky memang selalu tersenyum padanya.
Namun, semakin Erick terus mendengarkan, semakin dia merasa pria bernama Nicky itu harus dimusnahkan.
Ada apa dengan Nicky ini yang tersenyum pada wanita milik orang lain?
"Jadi alasan kamu buru-buru cerai karena ingin bersamanya?"
"Tidak boleh ya?"
Kaila bertanya pada pria itu.
Erick tiba-tiba terdiam dan hanya menatap Kaila dengan dingin.
Kaila melihat obat di atas meja, dan tiba-tiba teringat tentang kejadian beberapa tahun yang lalu, waktu itu Erick juga sedang sakit, dan Amelia yang membujuknya makan obat.
"Atau cuman Kak Amelia yang bisa membujukmu makan obat!"
Setelah Kaila selesai berbicara, dia tersenyum sopan dan berjalan melewati pria itu.
Erick melihat tangannya sendiri yang baru saja dipegang oleh Kaila, benaknya penuh dengan adegan kemarin, adegan waktu dia membuka pintu mobil dan melihat Nicky memegang tangan Kaila.
Hatinya bagaikan semut di wajan panas.
Erick bahkan tidak turun ke lantai bawah untuk makan.
Kaila merasa sangat kecewa pada pria itu.
Hari yang tidak bisa bercerai lagi?
Mobil keluarga Dawson mengantar Kaila ke stasiun TV.
Mobil hitam terparkir di sana lagi.
"Nona Kaila, lima menit!"
Sopir buru-buru keluar dan memberitahu Kaila dengan hormat.
Kaila melihat ke dalam mobil lagi.
Di dalam mobil tersebut terdapat seorang pria berusia lima puluhan, tentu saja, pria paruh baya itu terawat dengan baik, terlihat sangat berpengalaman.
Kaila masuk ke dalam mobil, mereka berdua duduk berhadapan, dan pria itu menatap Kaila sambil tersenyum ringan.
__ADS_1