
Setelah melihat mobil mereka pergi, Kaila berbalik dan berjalan pergi.
Memanggil suami sendiri dengan sebutan kakak ipar, hahaha!
Menyerah saja! Pria itu tidak akan pernah jatuh cinta padamu!
Dia berusaha untuk mengingatkan dirinya sendiri. "Kaila, begitu memilih menyerah, maka jangan pernah balik lagi!"
Walau sangat mencintainya sekalipun.
——
Pada saat yang sama, Erick mengembalikan Amelia ke rumah sakit dan berbalik untuk pergi ke rumah teh.
Itu merupakan tempat yang sering dia dan teman-teman masa kecilnya berkumpul, bahkan ada set teh khusus untuk mereka.
Setelah duduk, tiga tuan muda lainnya memandangnya sejenak, setelah melihatnya menyalakan sebatang rokok, mereka bertanya, "Kau beneran membawa adik perempuan kecil kita untuk bertemu Amelia?"
Erick menghembuskan asap rokok. "Ya."
"Dasar, kau beneran kejam sekali dengan adik perempuan kecil kita demi Amelia!"
Pria tampan dengan kemeja bunga mengomentari.
Emosi yang terlihat di mata Erick terhalang oleh asap rokok, sehingga menghalangi yang lain untuk menebak apa yang sedang dipikirkannya.
"Kau sudah beritahu Kaila tentang perceraian? Apa reaksinya? Menangis tidak?"
Seseorang bertanya dengan penasaran.
"Apa kau pikir dia masih anak berusia tiga tahun seperti dulu?"
Menangis?
Erick teringat dengan kejadian tadi malam, wanita itu bukan hanya tidak menangis, tapi juga menandatangani surat pernyataan cerai dengan sangat tenang.
“Betul juga, dia sudah tumbuh menjadi gadis dewasa, kau harus membawanya untuk bertemu dengan kami, sudah lebih dari tiga tahun, kan? Kalau tidak bisa menjadi suami istri, setidaknya masih bisa menjadi adik!"
Orang yang mengatakan ini adalah seorang Tuan Muda bernama William yang selalu menyukai dan melindungi Kaila sejak kecil.
"Suami istri, kakak beradik, kenapa ini terdengar mengandung incest?"
Pria tampan lainnya menjilat bibir sendiri setelah berbicara, matanya berbinar dengan api bersenang-senang.
Erick menghela napas. "Dia baru saja pulang dari luar negeri, jangan main-main dengannya."
Begitu ketiganya mendengar itu, mereka terdiam beberapa saat, kemudian kembali ke topik lagi, "Apa dia setuju?"
"Dia sudah tanda tangan suratnya," kata Erick dengan ringan.
Ketiganya merasa sulit percaya. "Dia tanda tangan begitu saja? Tidak minta bagi harta secara merata setelah cerai?"
"Um!"
Erick tiba-tiba teringat dengan gadis licik dan keras kepala dulu.
"Sejak kapan gadis kecil ini menjadi sepengertian itu? Tetapi itu bukan masalah, yang penting adalah kai beneran ingin menikah dengan Amelia?" tanya William lagi.
"Mungkin."
Erick merasa kesal untuk beberapa saat dan mulai merokok lagi.
__ADS_1
Malam harinya, begitu pulang ke rumah tua, saat ini Kaila sedang menemani Nyonya Besar dan ibunya untuk menonton drama percintaan, Nyonya Besar dan ibunya terus mengeluh tentang pelakor yang selalu menghancurkan keluarga orang lain, sedangkan Kaila hanya bisa tersenyum canggung.
Wanita itu mengaku sudah berumur dua puluh tiga?
Kenapa masih sebodoh itu?
Itu sama sekali tidak terlihat seperti gadis dewasa!
Saat Erick berjalan menuju sofa, adegan tubuh Kaila yang basah pada malam sebelumnya tiba-tiba muncul di benaknya, sehingga mata hitamnya tiba-tiba tertuju pada dada Kaila.
"Tuan Muda kita sudah pulang!"
Saat ini, seorang bibi yang keluar untuk mengantarkan buah langsung menyapa saat melihat Erick.
"Mm!"
Erick berjalan mendekat dan duduk di samping, dengan sedikit cahaya di mata yang tertuju pada Kaila.
Kaila dengan langka mengenakan gaun bunga yang membuat penampilannya terlihat polos, memperlihatkan kedua kaki kecilnya yang indah dan duduk di antara ibu dan neneknya.
Kaila selalu disayangi oleh kedua orang ini, bahkan dia dan adiknya tidak mendapat perlakukan seperti itu.
"Oh, tumben Tuan Muda kita punya waktu luang untuk pulang?"
"Bu, apa kita sedang berhalusinasi? Kaila, coba bantu lihat, apa itu beneran suamimu?"
Ketika ibu Erick dan Nyonya besar sedang membicarakan itu, Kaila hanya bisa tersenyum canggung dan berkata dengan sopan. "Bu, nenek, itu memang dia."
Dia tidak bisa memanggil Erick suami, dan Erick juga tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Erick menarik dasi lagi, berpikir tentang apa yang terjadi dengan suasana di rumah ini?
Nenek bertanya lagi.
"Ah? Itu Cucumu, Nek."
Kaila sedikit tersipu.
"Cucuku? Siapa cucuku?"
Nenek terus menatap Erick dan bertanya pada Kaila.
Telinga Kaila juga memerah, dia tahu apa maksud dari Nyonya besar, jadi untuk mencegah pertanyaan lebih lanjut, dia hanya bisa merendahkan suara dan berkata dengan samar, "Su-Suamiku."
Begitu Nyonya besar mendengar ini, meski tidak terlalu puas, tapi tidak mempersulit lagi. "Itu benar! Ini suamimu!"
"Nenek!"
"Ada apa? Memangnya aku salah bicara? Kalian sudah menikah selama tiga tahun, tapi perut Kaila masih datar, kenapa bisa begini?"
Nyonya Besar itu terus bertanya.
Erick bahkan lebih kesal, menghela nafas dan berhenti berbicara.
Kaila juga merasa canggung, menundukkan kepala dan tidak mengatakan apa-apa.
"Dasar, jangan pikir aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, biar kuberitahu sekali lagi, selama aku masih hidup, jangan pikir wanita itu bisa bergabung dengan keluarga ini!"
Ibu Erick tidak senang saat melihat Erick hanya diam saja, jadi memperingatkan secara langsung.
Erick sangat marah, dia tahu pasti akan muncul masalah seperti ini begitu pulang.
__ADS_1
Ketika melihat gadis itu yang begitu disayangi oleh nenek dan ibunya, dia menjadi semakin tertekan.
Panggilan kakak ipar yang manis sudah menempel di telinganya sepanjang sore!
Panggilan telepon Amelia yang tiba-tiba masuk mengganggu pikirannya, tapi dia hanya memegang dan melihat layar ponsel tanpa mengangkat telepon.
Ibunya duduk di dekatnya, setelah melirik sekilas, dia tidak bisa menahan diri dan mendesaknya, "Aku selalu ingin bertanya padamu, Erick, kalau wanita itu mati dan ingin menyeretmu, apa kamu akan ikut dengannya?"
Ketika Erick mendengar ini, dia tiba-tiba mengangkat mata untuk menatap ibunya, "Apa yang kamu katakan?"
"Pergilah, keluarga ini tidak membutuhkan putra yang tidak berbakti!"
Ibunya tiba-tiba sedih sampai meneteskan air mata.
Erick takut jika tinggal lebih lama di sini, pasti akan terjadi pertengkaran, jadi dia bangkit dan pergi.
Tetapi Nyonya besar itu tidak tahan, dan diam-diam meraih tangan Kaila. "Pergi dan susul dia."
Kaila merasa enggan, tapi mengingat tentang perceraian, dia buru-buru menyusul Erick.
"Bu, sepertinya anak ini tidak bisa diselamatkan lagi!"
"Wanita itu tidak akan hidup lama, Kaila itu gadis yang sangat baik, dia pasti akan sadar suatu saat."
Ibu dan nenek Erick melihat keluar kaca lagi.
Angin hangat bertiup perlahan di luar, Erick menoleh dan melihat Kaila setelah menyelesaikan panggilan telepon.
Sudut rok dan rambut Kaila terangkat sedikit karena angin, yang membuat perasaan Erick sangat kacau!
"Nenek yang menyuruhmu ke sini?"
Erick membuka pintu mobil dan bertanya padanya sebelum masuk.
Kaila meletakkan tangan di belakang punggung lagi dan mengangguk: "Iya! Tapi aku memang ingin ke sini!"
Mendengar itu, Erick menatapnya.
"Aku ingin bertanya, kapan kita akan cerai?"
Kaila berusaha beberapa kali dan akhirnya berhasil bertanya.
Kaila pikir dirinya yang tahu akan semua ini akan sangat tenang.
Tapi begitu selesai berbicara, hatinya justru terasa menyakitkan.
Erick menatapnya dengan mata yang dalam: "Segera."
"Oh."
Kaila menggumam kata 'segera' dengan kepala tertunduk.
"Ada yang lain?"
Erick bertanya lagi.
Kaila menatapnya, begitu merasa mata Erick menunjukkan rasa jijik, dia langsung menggelengkan kepala, tapi sebelum Erick masuk ke dalam mobil, Kaila tidak bisa menahan diri dan bertanya, "Segera itu kapan?"
"Kamu sepertinya lebih terburu-buru daripada aku? Ada apa? Beneran didesak oleh pacarmu?"
Erick berjalan ke hadapannya!
__ADS_1