
Fajar menyingsing ayam berkokok pertanda hari sudah pagi. Rumah sederhana yang sudah menyibukkan diri dari subuh
"Pagi Ibu" ucap Sefanya
"Pagi Nak" jawab Caroline sembari memasak nasi goreng untuk sarapan pagi mereka.
Sefanya mengambil karet di gangang pintu lalu menguncir rambutnya.
"Dewan udah bangun belum Bu?" tanya Sefanya
"Belum keknya coba kamu lihat"
Sefanya pergi ke kamar anaknya. meskipun rumah mereka sederhana tapi kamar didalam nya ada tiga jadi Dewandra tidur sendiri sedari kecil Sefanya mengajar nya untuk tidur sendiri.
Ceklek....
Sefanya masuk kedalam dan mendapati anak laki-lakinya itu masih tertidur pulas, Ia duduk di samping ranjang nya lalu membelai rambutnya.
"Maafin Bunda sayang, Bunda belum bisa ngasih apa-apa ke Dewan tapi bunda janji akan bekerja kerja agar bisa beliin apa yang Dewan mau ok sayang" gumamnya
Ia menghapus benda bening yang hampir jatuh dan mengenai wajah anak nya itu.
"Hemmm" suara kecil itu membuatnya tersadar
"Bunda! Bunda!" panggil nya
"Iya sayang, sudah bangun ya" ucap Sefanya
"Iya Bunda, tapi masih ngantuk Bunda" ucap boca lima tahun itu
"Eh gak boleh males ayok bangun kan mau sekolah"
"Masih ngantuk Bunda" ucap nya
"Tumben banget Dewan males hari ini kenapa?" ucap Sefanya sembari membuka gorden kamar anaknya.
"Bunda sama Nenek tunggu dewan di meja makan ya. ini Bunda siapin baju Dewan" ucak Sefanya
Ia keluar dari kamar putranya, matanya tertuju pada sebuah hambar disamping meja belajar Putranya itu.
"Ini------" Sefanya memegang gambar itu dan melihat tiga orang disana
"(Papa, Dewan Bunda)" gumam Sefanya membuat dadanya sesak.
"Bunda, itu gambar teman Dewan kemarin yang minta Dewan untuk warnain gambarnya" ucap Dewandra bohong agar Bunda nya tidak sedih.
"Oh gitu to sayang"
"(Bunda tau kamu bohong sayang, agar Bunda tidak kepikiran kan kamu bohong keBunda)" Batin Sefanya
Ia lalu keluar dari kamar Putranya lalu megelap air matanya.
"Sudah bangun Dia?" tanya Ibu nya
"Iya Bu, oh iya Bu Sefanya mau mandi dulu ya" ucap Sefanya
"Iya, ibu tunggu di meja makan ya" jawab Caroline
......................
Jam sudah menunjukan Pukul 07:00
Dewandra selesai dengan persiapannya begitupun dengan Sefanya.
"Ini makan yang banyak ya sayang" ucap Sefanya
"Bunda juga harus makan yang banyak, kan Bunda kerja keras buat Dewan dan juga Nenek" ucap Dewandra
Dewandra melahap makanannya.
"Bunda Dewan hari ini boleh berangkat sekolah sendiri?" ucap Dewandra membuat Sefanya dan Caroline kaget
"Gak, kamu ini masih kecil gak boleh jalan sendiri bahaya" ucak Caroline
"Bunda gak akan izinin kamu kesekolah sendiri, nanti Bunda antar" ucap Sefanya
"Bunda Nenek, kan ada tukang ojek langganan Nenek, Aku bisa pergi sama Dia kan." ucap Dewandra mencoba meyakinkan Nenek dan Ibunya
"Gak Bunda------" Sefanya tidak melanjutkan bicaranya karena ponsel nya berbunyi
📱"Halo" jawab Sefanya
📱"Kamu lebih cepat kekantor pagi ini saya mau ngomong sesuatu dengan kamu"
__ADS_1
📱"Siapa ini? enak aja nyuru-nyuru ini masih pagi "
📱"Berani kamu bicara begitu? mau saya pecat?" ancam nya
📱"Iya iya saya akan kesana sekarang "
Sefanya mematikan ponselnya.
"Tuh kan Bunda mau cepat ke kantor kan, Nenek juga harus kepasar lebih awal jadi Dewan sekolahnya sendiri hari ini" ucap nya
"Tapi janji sama Bunda jangan mau kalah orang lain aja pergi-pergi lagi ok" ucak Sefanya
"siap Bunda sayang"
Sefanya mengantar Dewandra kedepan lorong dan menitipkan Anaknya itu pada tukang ojek langganan Ibunya.
"Mang, titip Dewan ya. Anterin sampai depan sekolah nya" ucap Sefanya
"Siap Ndok, bapak akan antarkan nak Dewan sampai depan sekolahnya" ucak Mamang ojek
Sefanya buru-buru mengendari motornya agar bisa tiba di kantor lebih awal.
......................
"Mang setop sini aja ya" ucap Dewandra
"Eh gak boleh, nanti Bunda kamu marah"
"Jangan kasih tau Bunda dong Pak, soalnya Aku mau beli sesuatu" ucap Dewandra
"Kamu ndak bohong to Nak?" tanya nya meyakinkan
"Iya Mang"
"Baiklah, tapi ingat cepat masuk sekolah ya "
"Beres Mamang, udah dekat juga itu"
Mamang tukang ojek pun pergi, Dewandra berjalan di trotoar jalan dengan lemas.
"Bunda maafkan Dewan, pasti Bunda akan kecewa dengan Dewan tapi Dewan juga gak bisa mendengar ejekan teman Dewan jika mereka tau Dewan gak punya Papah"Dewandra bermonolog
Dewandra duduk di kursi samping trotoar. Seorang dalam mobil melihat kearah Anak itu yang memegang gambar ditanganya. Hatinya tersentuh lalu menyuruh Asisten nya berhenti.
Ia turun dari mobil dan menghampiri Anak kecil itu lalu duduk disampingnya.
"Lagi ngapain?" tanya nya pada Anak itu
"Paman lihat saya lagi ngapain?" Ia berbalik nanya membuat Pria disampingnya sedikit terkekeh.
"Paman tau lagi duduk, maksud Paman kenapa pagi-pagi berkeliaran bukanya sekolah" ucap nya
"Malas kesekolah" jawbnya Singkat
"Kenapa? nanti Ibu kamu marah Lo kalau tau kamu bolos sekolah" kata nya
"Jangan beritau Bunda ya Paman " ucap nya pada Pria di samping nya
"Kalau begitu ayok masuk kesekolah" ajaknya
Anak itu mencoba menahan air matanya hingga hidung nya pun memerah.
"Eh kamu nangis?" tanya Pria itu
"Eng,,,Engak kok" Ia mencoba menahan tangisnya
karena sudah tidak bisa menahan tangisnya Ia pun menangis sambil menceritakan alasanya Dia kenapa tidak mau kesekolah.
"Dewan tidak mau sekolah bukan karena Dewan bandel, tapi Dewan gak bisa dengar teman-teman Dewan ngomong kalau Dewan gak punya Papah" ucap nya lirih
"Ya udah sama Paman ya kesekolah nya mau ngak?" ajak Pria itu
"Mau Paman" Dewandra menghapus air matanya lalu tersenyum.
Ia mengendong Dewandra masuk kedalam mobil.
"Siapa tu Bos?" tanya Edward
"Anak gue" jawab Lucas spontan
"What! ---"
"Jalan aja dulu ke sekolah depan. Tunas Bangsa" ucap Lucas pada Edward
__ADS_1
"Ok siap"
......................
Edward dan Lucas berjalan di lorong sekolah. Lucas mengandeng Dewandra layaknya seorang Bapak dan Anak. Edward diam-diam mengambil gambar mereka berdua.
sampailah mereka berdua di ruangan. Anak-anak itu berkumpul didalam tenda sebelum membaca puisi mereka untuk ayah mereka. tibalah giliran Dewandra, Ia tidak bisa berbicara tentang Ayah. Ia tidak tau bagaimana rasanya kasih sayang seorang Ayah. Ia terdiam cukup lama hingga suara itu membuat Dia kaget.
"Bagiku
Engkau penawar sesal di arena luas
Memberi dengan cinta
Hidup untuk kami
Berjuang untuk keluarga
Selalu terpatri dalam hati
Perjuanganmu yang penuh arti
Bangga diri ini dititipkan padamu ayah
Senyummu di hadapan kami
Merubah segala payah
Terimakasih ayah
Akan ku jaga kebanggaanmu padaku
Hingga tiba saat anakmu tumbuh dewasa
Engkau berbesar hati melepasnya
Menjadi bagian dari diri yang lain."
Perkataan Lucas membuat semua orang tercengang. Ia berjongkok dan menghapus Air mata anak itu lalu mengambil gambar yang di pegang oleh Anak itu.
"Gambarnya sangat bagus sayang" ucap nya
Dewandra memeluk Lucas dan menangis seseguhan seakan dia merasakan bahwa Dia adalah Ayah saat ini.
"Wah ternyata puisi kamu sangat bagus Dewandra, Ibu guru bangga dengan mu" ucapan Ibu gurunya
Akhirnya Dewandra menang lomba puisi tentang Ayah hari ini membuat dia terus tersenyum.
......................
Lucas dan Edward berjalan keluar ruangan sekarang jam sudah menunjukan jam 09:00
Ia perlu cepat kekantor sebelum sang Ayah yang lebih dulu kesana.
"Paman!" panggila Dewandra
"Iya, ada apa?" jawab nya
"Terimakasih banyak Paman, ini untuk paman" ucap Dewandra lalu memberikan gambar itu pada Lucas dan di ambil oleh nya.
Sementara itu di Kantor....
Seorang Pria paru baya dan wanita cantik berjalan kedalam kantor Anaknya itu. Semua orang memberikan hormat padanya begitupun dengan Sefanya dan Dinda.
"Selamat Pagi Tuan Alexander" ucap Wina
Ia melihat disamping pria tua itu wanita cantik.
"Siapa Dia Din?" tanya Sefanya berbisik
"Itu Bos besar, Bapaknya Pak Lucas" jawab Dinda bisik-bisik
"Em mana Lucas?" tanya nya
"Pak Lucas belum datang Pak, mungkin Beliau masih dijalan" jawab Wina
"Siapa gadis yang bernama Sefanya?" tanya Pria paruh baya itu
Mata Dinda dan Sefanya membelalak.
"Sa,,,say,,saya Pak" ucap Sefanya terbata-bata
Ia melirik Sefanya dari ujung kaki sampai kepala.
__ADS_1
......................