TAKDIR (LucaSSefanya)

TAKDIR (LucaSSefanya)
Ep 15


__ADS_3

Mereka akhirnya tiba di kost, bisa di bilang ini kontrak karena kelihatan sedikit luas. Sefanya Dewandra dan juga Ibu Caroline masuk kedalam kontrakan Dinda.


"Inilah tempat tinggal Dinda, heheh semoga nyaman ya Tante" ucap Dinda


"Makasih ya Din, kamu baik banget sama Aku dan keluargaku"


"Santai aja lagi, anggap aja kita keluarga soalnya aku gak punya siapa-siapa disini" ucap Dinda


Sefanya memeluk Dinda dan diikuti oleh si kecil yang Imut Dewandra.


"Dewan boleh ikut pelukan?" tanya nya gemes


"Sini anak manis" Dinda mengendong Dewandra dan mereka bertiga pelukan.


Ibu Caroline sibuk memasak makanan dan di bantu oleh Dinda dan Sefanya sementara Dewan sedang menyelesaikan tugas dari sekolah nya.


"Fan, si Dewan tu gemes banget ya, pintar lagi benar-benar imut bisa ya anak secakep itu"


"Emang kamu pikir Aku jelek apa?" ucap Sefanya


"Bukan gitu, tapi Dia tu gak mirip kamu loh Fan" lagi kata Dinda


"Hahah kamu ini, jelas-jelas mirip Aku juga" lagi kata Sefanya


"Sifat sama sikap nya si lebih tepatnya hahahah"


"Kamu ada-ada aja"


Mereka duduk melantai untuk makan malam. Dinda melihat keadaannya membuat dia meneteskan air mata.


"Din !" panggil Sefanya


"Heheheh, Aku terharu sekarang aku udah punya keluarga" liri nya


"Kamu boleh panggil Tante Ibu juga gak apa, anggap saja Tante ini Ibu kamu juga sama seperti Sefanya " ucap Ibu Caroline


"Boleh Tan, eh maksudnya boleh Ibu?" tanya Dinda dengan semangat


"Iya boleh, sekarang kita keluarga" ucap Sefanya


"Berarti Dewan akan punya dia Ibu dong heheheh" ucap Dewan dengan polosnya


"Mama Fanya dan Mama Din" lanjutnya


Dinda mengobrol dan bermain bersama Ibu Caroline dan Dewandra sementara itu Sefanya duduk sendirian di luar duduk menyendiri.


"Bagaimana ini, waktunya hanya sampai besok dari mana Aku dapat uang sebanyak itu" gumamnya


Saat Ia akan berdiri sebuah kertas nama terjatu. Ia memungut nya lalu melihat nama di kertas itu


"Lucas Alexander Davidson" gumamnya


......................


"Maaf Pak saya lancang mengajak Bapak bertemu"


"Lanjut ke intinya saja" ketus Lucas membuat nyali Sefanya menciut


"Tawaran Bapak apa masih berlaku?" tanya Sefanya


"Kenapa tiba-tiba bertanya "


"Tinggal jawab saja susah"


"Saya membutuhkan bantuan Bapak dan Bapak juga butuh bantuan saya jadi kita bisa kerja sama" ucap Sefanya


"Jadi kamu setuju?" tanya Lucas


"Tapi bisa kan bayarannya diawal? saya janji akan menuruti apa yang Bapak minta" ucap Sefanya

__ADS_1


"Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini? apa terjadi sesuatu?" tanya Lucas


Sefanya akhirnya menjelaskan semua kejadian yang menimpah dirinya dak keluarganya.


"Baik, tapi peraturan nya saya yang buat" ucap Lucas


"Besok akan saya berikan pada kamu sekalian dengan uangnya" ucap Lucas


Sefanya menjadi sedikit tenang, masalahnya sekarang sudah ada solusi nya tapi masalah baru akan Ia dapatkan dari keputusan nya ini.


"Kamu tidak memesan makanan?" tanya Lucas


"Tidak Pak, saya sudah makan dari rumah" jawab Sefanya


"Kamu temani saya makan, jadi pesan makanan sekarang " pinta Lucas


"Tapi-----"


"Saya tidak suka penolakan " tegas Lucas


"Tapi kan belum berlaku peraturan nya Pak"


"Saya yang beri peraturan mau sekarang atau besok berlaku nya terserah saya"


"Kok----"


"Oh ya sudah kita batal saja----"


"Baik-baik " ucap Sefanya dengan ketua


Mereka menikmati makan malam itu dengan sunyi tidak ada suara disana. Sefanya sedikit gerogi karena suasana ini.


"(Ini kenapa jadi canggung gini)" bati nya


"Saya harus tau tentang kamu" suara bas itu memeca keheningan antara mereka Sefanya menatap Lucas.


"Kami hanya bertiga, Bapak sudah tidak ada saya anak tunggal" lanjut nya


"Bertiga? Kamu, Ibumu sama?"


"Sama...."


"Sama?"


"Dinda, untuk sementara kami tinggal disana sampai dapat rumah kontrakan" jelas Sefanya


"Teman kamu yang kerja bareng kamu itu?" tanya Lucas


Sefanya menganguk. Setelah selesai makan malam Sefanya pamit pulang pada Lucas.


"Terima kasih untuk makan malamnya, lain kali biar Aku yang traktir" ucap Sefanya


"Emang kamu bisa belikan makanan untuk saya" ucap Lucas sambil berjalan keluar restoran bersama Sefanya


"Ya saya tau makanan kamu pasti mahal, kamu pasti gak Suka makanan sederhana tapi kalau saya buatin makanan semua orang pasti akan makan dengan lahap, tidak akan menolak" jelas Sefanya


"Oh ya? bagus kalau begitu setelah besok kamu bisa masakan setiap hari untuk saya"


"Setiap hari?" tanya Sefanya


"Iya, kenapa?" Lucas balik nanya


"Eh, gak apa kok" Sefanya senyum terpaksa mendengar itu


"Saya pamit pulang" Sefanya buru-buru untuk pulang


"Saya antarin" tawar Lucas


"Gak usa, dekat kok dari sini saya bisa jalan kaki" tolak nya

__ADS_1


"Hari sudah larut, kamu mau di jahatin orang dijalan? lagi pula kamu sudah menjadi tanggung jawab Saya sekarang " tegas nya membuat Sefanya tidak berani untuk menolak lagi


"(Menjadi penanggung jawab, ini kan hanya sandiwara bukan benaran)" bayi Sefanya


Lucas mengantar Sefanya pulang ke kostan Dinda, memang jaraknya tidak terlalu jauh makanya tidak memakan waktu banyak untuk sampai ke kost.


"Saya turun sini aja Pak" ucap Sefanya


"Ini masih jauh kedalam?" tanya Lucas


"Gak, dikit lagi sampai. jalan nya juga hanya untuk kendaraan roda dua mobil gak bisa masuk" jelas Sefanya


"Hem" ucap Lucas


Sefanya turun dari mobil, Lucas memanggil Sefanya.


"Amplop nya gak sekalian di ambil?" tanya Lucas


"Amplop? tapi saya----"


"itu uang yang kamu inginkan"


"Oh baiklah, terima kasih" Sefanya menunduk


"ingat besok pagi harus kekantor pagi-pagi ada yang harus kita bahas berdua" ucap Lucas lalu pergi meninggalkan Sefanya tanpa mendengar jawaban Sefanya.


"Huh dasar kaku, belum juga saya jawab main pergi aja. kalau saya tidak mau kamu mau apa? tapi gak mungkin juga tidak mau orang utang ku 200 juta" gumam Sefanya sambil jalan kaki masuk kedalam lorong kost Dinda.


Ibu Caroline, Dinda dan juga Dewandra berdiri di depan kostan dan menatap dirinya. Ia bingung melihat mereka menatap dirinya lalu Ia melihat kebelakang kali aja ada orang di belakangnya namun tidak ada.


"Dari mana kamu malam-malam begini?" tanya Ibu Caroline


"Em itu Bu, da dar,,dari-------"


"Kamu bisa ngomong dengan benar kan? dari mana kamu malam begini?" bentak Ibu Caroline pada Sefanya


Dinda yang melihat Ibu Caroline begitu marah mencoba menenangkan dirnya.


"Ibu tenang dulu, mungkin Fanya nyari angin diluar" Dinda


"Apa kamu sudah tidak mendengarkan Ibu hah? bagaimana jika terjadi sesuatu lagi pada kamu? apa kamu mau Ibu mati karena perbuatan mu ini Sefanya?" Ibu Caroline menangis


"Bu, Fanya gak bermaksud untuk bikin Ibu nangis, ada sesuatu yang penting makanya Sefanya pergi tadi" Sefanya mendekati Ibu Caroline dan mencoba menjelaskan semuanya


"Apa harus malam hari begini? kenapa kamu tidak bisa belajar dari kej-----"


"Ibu kecewa sama kamu" lanjuta nya


Ibu Caroline meninggalkan dirinya diluar Dinda menyusul Ibu Caroline kedalam. Sefanya paham betul rasa khawatir dari Ibu nya itu. Bukan tanpa alasan Ibu Caroline sangat marah padanya itu karena Ia tidak ingin kejadian pahit masa lalu kembali terulang pada anak semata wayangnya itu.


Sefanya duduk di kursi kayu depan teras mengusap dadanya agar tidak menangis, sesak rasanya mencoba menahan tangisan.


"Bunda Nangis aja, gak boleh nahan nanti Bunda sakit" suara polos itu terdengar di telinga Sefanya


"Kemari sayang, sini peluk Bunda" Sefanya mengendong putranya berada dalam pangkuannya lalu memeluknya dengan erat sesekali Ia mencium dan mengusap rambutnya.


"Bunda sayang Dewan dan juga Nenek" kiri Sefanya


"Dewan juga sayang Bunda, Nenek juga sayang sama Bunda. Dari tadi Nenek kawatir saat Bunda pergi gak pamit makanya Nenek marah ke Bunda" jelas boca kecil itu


Dewandra turun dari pangkuan Bunda nya lalu menghapus air mata di pipi bunda nya.


"Jangan nangis cantik nya Aku" ucap nya lembut


"Siapa yang mengajari anak Bunda ini untuk merayu hah" Sefanya menggelitik Dewandra


"Ayok kita masuk, Bunda mau minta maaf juga ke Nenek" ucap Sefanya


......................

__ADS_1


__ADS_2