
Sefanya sudah siuman. Ia melihat keseluruh ruangan
"Loh kok Aku di rumah sakit" gumamnya Ia melihat Dinda tidur di sofa milik rumah saki itu.
"Din !" panggila Sefanya
Dinda tidak mendengar nya membuat Ia harus bangun dari ranjang rumah sakit mendekat ke Dinda. Di goyang nya bahu teman nya itu.
"Din, Dinda bangun" panggil Sefanya
"Eh Gan udah siuman kamu? kenapa turun dari ranjang mu" tanya Dinda
"Aku udah baikan kok Din, yuk balik kekantor nanti kita di pecat lagi" ucap Sefanya
"Kamu tenang aja, ini sudah di bereskan oleh Pak Lucas kok" jelas Dinda
"Pak Lucas? si songong itu?" kaget Sefanya
"Hus kamu ini, kalau bukan Dia yang gendong kamu mungkin kamu-----"
"Tunggu Dia gendong aku?" tanya Sefanya penuh heran
"Mungkin saja Dia merasa bersalah makanya dia baik ke Aku" lanjut Sefanya
"Udah balik yuk, nanti keburu berubah pikiran si Kaku itu" ucap Sefanya
Mereka berdua keluar dari rumah sakit naik ojek kekantor. Setiba nya disana semua mata tertuju pada Sefanya.
"Din kok mereka lihatin aku kek gitu banget si?" bisik Sefanya pada Dinda
"Ya itu tadi yang ku jelaskan dirumah sakit, mungkin mereka marah kalau kamu di gendong sama Pak Bos" Dinda jawab dengan berbisik pula
Sefanya pura-pura tersenyum pada mereka semua lalu berlari menuju pantry.
Dritttt....
dritttt....
dritttt....
Suara ponsel Sefanya.
📱"Halo" ucap Sefanya
📱" Bunda !!!" Sura mungil itu terdengar jelas di telinganya
📱" Bunda dimana? kok lama pulang nya tadi Dewan di jemput nenek disekolah. pas pulang dikirain Bunda dirumah ternyata gak ada" Oce nya membuat Bundanya gemas sekali
📱"Bunda kerja sayang buat beli jajanya Dewan Hem" ucap Bunda Sefanya
📱"Cepat pulang Bunda ku sayang, jangan capek ya Dewan sayang Bunda"
📱"Bunda juga sayang banget sama Dewan"
Setelah ngobrol banyak dengarin celotehan anaknya kini semangat Sefanya kembali membara.
waktunya istrahat makan siang.
"Fan makan bakso yuk" ajak Dinda
"Dimana?" tanya Sefanya
"Didepan, baksonya enak tau" ucap Dinda
"Ok berangkat"
__ADS_1
Mereka istrahat makan siang dan memilih menyantap bakso di depan jalan berseberangan dengan kantor mereka. tempat nya juga cukup bersih dan ramai banyak karyawan kantor mereka yang makan juga disana.
"Wih banyak juga yang makan disini ya?" tanya Sefanya
"Hoo, enak soalnya" jawab Dinda
"Mang Bakso ha dua porsi" pinta Dinda
"Aku seperti biasa" lanjutnya
"Fan kamu mau apa?" tanya Dinda
"Emang ada apa aja pilihannya?"
"Bakso kasar, halus,tahu sama kotak isi keju"
"Yang isi keju bulat halus ada gak?" tanya Sefanya
"Ada dong" jawab Dinda
Pesanan nya datang juga, Dinda mencampur perbumbuannya begitu pun dengan Sefanya.
setelah selesai makan siang mereka kembali ke kantor. kerjaan mereka juga tidak terlalu sibuk hari ini jadi masih biasa santai dan berbincang.
"Fan." panggil Dinda
"Aku boleh nanya gak sama kamu? tapi janji jangan marah ya."
"Tergantung sih dengan bobot pertanyaan" ucap Sefanya
"Ish kamu ya"
"Hahaha bercanda kok, mau nanya apa emang?" tanya Sefanya
"Kamu pernah ngalamin kejadian yang berat ya dimasa lalu?" tanya Dinda dengan sedikit pelan
"Ya ela bukanya jawab malah balik nanya ni bocah" gerutu Dinda
"Hehe iya," jawab Sefanya singkat
"Berat banget pasti Fan, sampai-sampai kami belum bisa lupain masalah itu ya ka" Dinda
Sefanya menganguk, Dia tidak lagi menajwab pertanyaan Dinda.
"Duh maaf ya jadi buat kamu sedih lagi. udah gak usa di pikirkan lagi sekarang kita fokus kemasan depan kita aja sekarang ok" Dinda mencoba untuk menghibur Sefanya
Hari sudah mulai sore matahari sebentar lagi terbenam. Sefanya dan yang lainya merapikan perlengkapan mereka. Dinda dan Sefanya Menganti pakaian mereka lalu pulang.
diparkiran kantor.
"Fan bareng yuk" ajak Dinda
"Aku tadi naik motor Din, tuh motor aku" Ia memarkirkan motornya dekat dengan sebuah mobil mewah Dinda melihat itu menjadi kaget
"Hah Gan cepat ambil motor kamu. jangan parkir disana" suruh Dinda
"Kenpa---"
"Buruan nanti aja tanyanya"
Sefanya mengikuti perintah Dinda. Ia segera mengambil motornya lalu parkir di dekat Dinda.
"Kenapa si Din emangnya?" tanya Sefanya
"Itu parkiran khusus untuk orang penting dikantor, orang yang boleh parkir hanya Pak Bos dan keluarga juga kerabatnya saja" ucap Dinda sembari memakai helm di kepalanya
__ADS_1
"Ya ampun hampir saja Aku membahayakan diriku" ucap Sefanya
"Udah buru kita pulang" ajak Dinda
arah rumah Dinda dan Sefanya berbeda. Sefanya melihat ada tokoh donat mini Ia pun singga disana dan membeli beberapa untuk Ibunya dan juga Dewan.
"Eh bukanya itu si Ob di kantor lu?" ucap Edward sambil menunjuk kearah Sefanya
"Hem"jawab Lucas seperti biasa singkat padat dan jelas.
"Kenapa lu liatin terus suka? kalau suka kejar sama jalan kaki tapi" ketus Lucas
"Gak, jangan sekarang" gumam Edward
"Ed buruan jalan gue mau sampai diapartemen secepatnya" perinta Lucas pada Edwar yang adalah Asisten peribadi dan juga sahabat masa kecilnya itu.
......................
...Rumah Sefanya...
Suara klakson motor Sefanya membuat sang buah hati berlari dan mengintip di jendela.
"Bundaaaaa"
"Anak nya Bunda" Sefanya mengendong Dewan sampai kedalam rumah
"Nenek Bunda sudah pulang" ucap Dewandra
"Iya sayang. Fan kamu sudah makan belom nak?" tanya sang Ibu
"Belum Bu, Fanya gak makan de Bu masih kenyang ditraktir teman makan tadi sore dikantor" ucap Sefanya
Dewandra melirik bingkisan ditangan Sefanya
"Bunda itu apaan?" tanya Dewandra
"Ini Donat untuk Dewan dan juga Nenek. Ibu belikan Donat coklat keju untuk Dewan dan nenek coklat kacang"
"Mau makan," rengek Dewandra
"Tunggu Bunda pindahin di Piring dulu ya habis itu Dewan makan"
"Baik Bunda" ucak Dewandra
Ia mengeluarkan donatnya lalu memberikan pada Anaknya itu.
"Bu titip Dewan ya Aku mandi dulu" kata Sefanya
Ia masuk kedalam kamarnya lalu menguncinya dan masuk kekamar mandi.
dadanya menjadi sesak seketika dan air matanya jatu lagi dan lagi membasahi pipi nya itu.
"Sampai kapan Tuhan saya harus menelan kepahitan ini? saya tidak bisa menahan lebih lama lagi rasanya sesak dan sakit harus menahan semuanya dihadapan orang. kenapa begitu tidak adil denganku apa salahku? bahkan saya tidak tau lelaki yang telah menodaiku jadi bagaimana saya bisa menjawab setiap pertanyaan yang akan Dewandra tanya kan padaku nantinya? bagaimana? hah?" Ia menangis sesenggukan sampai Ia tertidur, seseorang mengelus rambut nya. kini Ia berada di sebuah taman dan duduk di kursi kayu. tangan itu membelai nya dengan lembut.
"Kamu harus kuat, ingat semua cobaan dan juga masalah yang ada didalam kehidupan kita tentu sudah seizin Allah, Dia tahu kamu anak kuat kamu anak hebat makanya Dia memberikan suatu cobaan ini padamu Dia tau kamu bisa lewati ini semua dan liha sekarang kamu sekali lagi bisa melewati ini semua anakku"
"Ayah!!!" Lirih Sefanya
Ia melihat Atau tersenyum lalu memeluknya erat.
"Maafka. semua masa lalu dan hiduplah untuk masa depan mu Nak, ingat kamu punya Ibu Ayah disini dan juga kebanggan Ayah penerus Ayah Dewandra. ingat kamu harus semangat untuk mereka, mereka membutuhkan kamu Nak" ucap sang Ayah
"Ayah !!!" Sefanya memeluk dirinya dengan erat dan tersadar. perlahan Ia berdiri menatap kecermin dan berbicara.
"Kamu berhak bahagia, lepaskan belengu masa lalu dan sambut hari esok kebahagiaan ada bersamamu karena cinta Ibu dan kekuatanmu Dewandra membutuhkan semangatmu Sefanya. kamu harus bangkit jangan terpuruk buktikan pada mereka yang meremehkan kamu bisa tanpa seorang lelaki" Ia menyemangati dirinya sendiri lalu menghapus air matanya dan tersenyum lebar pada dirinya.
__ADS_1
......................