Takdir Cinta Twins

Takdir Cinta Twins
Perdebatan di Mansion


__ADS_3

Pagi itu mentari pagi mulai menampakkan cahayanya di muka bumi. Banyak aktivitas pagi ini bagi penduduk bumi, mereka sibuk dengan tugas dan perannya masing-masing. Di sebuah mansion yang jauh dari perumahan penduduk, posisi rumah bak istana itu terlihat menjulang tinggi dari kejauhan. Bagi mereka yang sudah tahu siapa pemiliknya hanya menatap takjub dengan keluarga besar Reno yang terkenal harmonis dan dermawan itu. Mereka tampak iri dengan keluarga Reno dan Delena yang memiliki kekayaan, kejayaan dan kekuasaan di dunia bisnis. Namun mereka tidak pernah tahu apa yang telah terjadi di mansion itu, sebab Reno dan Delena selalu menutup diri tentang kehidupan keluarganya dari media sosial dan elektronik.


Pagi itu di ruangan meja makan yang hanya di hadiri sepasang suami istri dan satu anak bungsu. Mereka hanya terdiam sambil menikmati hidangan makanan di depan mereka masing-masing. Pagi itu tidak seperti biasanya sarapan pagi dengan kehangatan dan kemesraan yang biasa Delena dan Reno perlihatkan. kini, semua kehangatan, keharmonisan, sendau dan gurau lenyap begitu saja setelah banyaknya problema dalam kelurga mereka.


Hening.....


Yang terdengar hanya suara dentingan garpu dan sendok yang saling beradu. Zidane menatap bergantian kedua orang tuanya yang sedang diam. Matanya terus memutar ke kanan dan kekiri, ya posisi mereka berdua bersebrangan. Reno duduk di sebelah kiri, sedang Delena sebelah kanan, seperti ada jarak yang sengaja mereka ciptakan.


Semenjak hilangkan Vana, perubahan dalam diri Delena berubah dratis, ia menjadi wanita pendiam dan dingin, Namun bila berdebat dengan Reno tidak membuatnya mau mengalah. Ia benci kebohongan, Delena dari dulu tidak suka di bohongi apalagi sampai di khianati, itulah yang membuatnya keras kepala, ia lebih suka kejujuran walau itu menyakitkan. Memiliki prinsip dalam hidupnya dan tidak akan goyah dengan sikap dan keputusan yang akan dia ambil. Kini ia sadar berada di posisi yang serba salah, kehilangan anak gadisnya telah membuatnya frustasi dan menjadi sering emosi. Belum lagi kenyataan yang baru saja ia dengar dari Vano, tentang nasib Savira yang mengalami traumatis pasca pelecehan di rumah danau. Hatinya bagai teriris sembilu, perasaan hancur bertubi-tubi setelah mengetahui apa yang telah terjadi pada nasib anak-anaknya.


Mengetahui hilangnya Zidan saja, membuat Delena depresi, untungnya Zidane berhasil di selamatkan setelah Delena baru pulang dari Jerman. Sejak saat itu Delena memutuskan untuk tidur bersama Zidane dan tidak satu ranjang lagi dengan Reno. Reno memahami kondisi istrinya yang sedang tidak baik-baik saja, dan tidak melarang keinginan Delena untuk pisah ranjang darinya.


Rasa takut kehilangan anak bungsunya membuat Delena posesif, bahkan ia tidak mengizinkan Zidane sekolah di luar dan menjalankan bimbingan konseling atau bimbingan yang disebut dengan istilah "home visit" di mansion nya.


Seringkali Delena mengamuk tiba-tiba bila emosi nya tak terkontrol. Kalau sudah begini, Reno lah yang menjadi sasaran amarah sang istri, sebab Reno telah membohonginya dan penyebab anak-anaknya menderita.


"Mom!


"Dad!


Tiba-tiba suara Zidane memecah keheningan diantara mereka. Delena yang sejak tadi tertunduk sambil mengaduk-aduk makanannya, mengangkat wajahnya, begitu pula dengan Reno, menatap wajah sang anak yang terlihat murung.

__ADS_1


"Kenapa Daddy dan Mommy tidak mau bicara? ucapnya dengan wajah sendu sambil menusuk-nusuk beff panggang di depannya.


Delena menghela nafas kasar, terdengar samar hembusan nafas panjang Reno. Kini mereka berdua saling bersitatap, seperti ada jurang pemisah dari tatapan mereka. Delena menatap penuh intimidasi, sementara Reno menatap penuh tanya.


"Siapa yang memulai semua ini! tiba-tiba Delena membuka suara yang terdengar cetus.


"Jangan pernah memulai lagi, berulang kali aku mengaku bersalah dan meminta maaf padamu." tukas Reno dingin, seraya mengambil gelas berisi air putih didepannya, lalu meminumnya hingga tandas.


"Bukan aku tidak mau memaafkan, tetapi cara dan sikap arogan mu tidak pernah berubah, Mas! kau tidak menghargai ku lagi sebagai seorang istri! Bahkan selama 27 tahun kita berumah tangga, aku selalu mengikuti semua kemauan mu tanpa pernah aku bantah sekali pun! pekik Delena sambil membuang nafas kasar seraya melipat kedua tangan didada.


"Brakk!


"Kau lihat sendiri bagaimana Zidane?! dia terluka melihat pertengkaran kita! teriak Reno tak kalah sengit.


"Jadi kau menyalahkan aku?! tunjuk Delena pada dirinya sendiri.


"Drett!


"Drett!


Saat Reno ingin membalas, getaran ponselnya terdengar, ia melihat nama si penelpon, lalu tanpa sungkan pada istrinya, ia menggeser tombol hijau.

__ADS_1


"Iya Sabrin!


"Hey, kemana saja dirimu, sudah tiga hari tidak mengunjungi ku."


Reno menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskannya perlahan "Aku sedang ada urusan. oke, aku kesana sekarang!


"Really? mata Sabrina berbinar cerah "Baiklah aku akan membuat pasta untuk mu. jangan sampai aku menunggu lama, bisa-bisa aku pulang ke Jepang." goda Sabrina terkekeh kecil.


"Lima belas menit lagi aku sampai sana, tunggu aku."


Sambung telpon terputus bersama Reno melangkah pergi tanpa berpamitan pada sang istri. Delena menatap punggung lebar Reno hingga hilang di balik pintu.


Delena merasa rapuh, tubuhnya luruh ke kursi, airmatanya tak terbendung lagi dan berlomba-lomba berjatuhan. Delena menangis sesenggukan dengan guncangan pundak nya yang bergerak turun-naik. Dadanya begitu sesak, ada perasaan sakit dalam hatinya. Mungkin ia salah telah membuat suaminya tidak nyaman, Namun rasa kecewa pada sang suami telah mengalahkan segalanya, apalagi menyangkut soal anak-anaknya ia pasti akan pasang badan. Delena seorang ibu yang baik, perhatian, penyayang dan bijaksana pada anak-anaknya.


"Mas, apakah kau selingkuh?! ucapnya lirih.


(Maaf kalau cerita ini banyak konfliknya, nama juga novel kalau gak ada konflik dalam ceritanya, gak seru dan gregetan donk.)


💜💜💜💜


@BERSAMBUNG________"

__ADS_1


__ADS_2