Takdir Cinta Twins

Takdir Cinta Twins
Malam Perpisahan


__ADS_3

Vano menghirup udara sebanyak mungkin dengan mata terpejam, lalu membuka matanya kembali dan menatap Bella penuh kesedihan.


Di raihnya tangan Bella, lalu digenggamnya erat "Ma'afkan aku Bella, Bila aku harus mengatakan kejujuran nya padamu."


"DEG!


Hati Bella mulai tak tenang, seketika darahnya berdesir dari atas sampai bawah.


Bola mata bening itu menatap dalam iris abu-abu Vano "Apa yang ingin kau katakan? bila tujuan mu ingin menyakiti hati ku lebih baik jangan pernah kau katakan." butiran bening sudah membasahi pipi mulus Bella "Maaf, aku belum siap untuk mendengarkan nya." ucap Bella pelan dengan wajah tertunduk.


Vano sudah menduga kalau Bella sebenarnya sudah tahu keinginannya untuk berpisah. Tetapi Bella selalu bisa menutupi lukanya dengan senyuman di bibir tipisnya. Bella bersikukuh ingin terus berada di samping Vano meskipun hal terburuk sekalipun, Vano tidak akan mencintai dirinya.


Perasaan bersalah terpatri dalam hati Vano. sungguh ia tidak tega melihat Bella menderita dengan sikapnya yang seolah-olah mencintai dirinya. Vano membuang nafas panjang dan di genggaman nya tangan Bella.


"Andaikan saja aku tidak memiliki perasaan pada adik angkatku, andaikan saja cinta ini masih ada untuk mu Bell, Namun aku telah salah memberikan mu harapan. Karena aku hanya menyayangi mu sebagai seorang sahabat." tentu saja Vano mengucapkannya dalam hati, melihat ketegaran hati Bella dan senyuman di bibirnya, mata Vano sudah berembun, Iya berusaha untuk tidak menetes air mata didepan Bella.


Suara pintu sleding di geser. Dua orang pelayan datang membawakan pesanan dua pasang kekasih itu. lalu menghidangkan nya di atas meja.


"Van, ayo dimakan dulu. perutku sudah keroncongan cacing-cacing di perutku minta di isi." Bella mengambil piring lalu menuangkan nasi dan kerang saus tiram di atasnya.


Vano mengangguk, mengikuti Bella yang sudah mengambil hidangan di atas meja. Ayam bakar mentega sudah masuk kedalam tenggorokan Vano. Rasa hambar terasa di lidah Vano. Untuk mengunyah ayam bakar mentega saja sudah sangat sulit, terasa alot di gigi. padahal mereka sering menghabiskan waktu bersama di restoran kesehatan itu.


"Van! Apa rasanya tidak enak, kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?! gurau bela sambil terkekeh pelan.


"Entahlah aku tidak bisa menikmati hidangan lesehan ini, aku tidak enak badan." Vano mengusap wajahnya berkali-kali.


"cepat habiskan! Apa kau masih ingin berlama-lama di sini?! tanya Bella menelisik wajah Vano yang sejak tadi tidak enak di lihat.


"Aku sedang tidak berselera makan, maaf ya... Vano memasang wajah bersalah "Entahlah, kenapa tenggorokanku sangat sakit dan perih! tukas Vano mengambil gelas berisi air putih dan di teguk nya hingga tandas.


"Aku sudah selesai makan, kalau kau sudah tak berselera Ayo kita pulang. masih banyak pekerjaan yang harus aku urus di kantor."


Vano mengangguk dan sudah lupa dengan niatnya untuk berbicara pada Bella. Ia juga tidak ingin Bella sakit hati dengan perkataan nya nanti. Bagaimana pun Bella wanita yang baik dan setia menurut Vano, Namun sayang ia tidak bisa mencintai sepenuhnya.


Mereka berdua beranjak dari ruangan itu dan membayar tagihan di kasir. Vano mengeluarkan kartu Black untuk pembayaran. Para pelayan membungkuk hormat saat Vano dan Bella meninggalkan restoran itu.


Mobil sudah berhenti di depan perkantoran Mahesa Group. "Aku ke kantor dulu, jaga dirimu baik-baik Bell, ingat, jangan ngebut! Vano mengacak rambut Bella dan keluar dari mobil Bella. Tidak ada lagi kecupan hangat yang sering Vano berikan. Bella menghela nafas panjang seraya melihat punggung Vano yang semakin menjauh.


"Apakah kau tidak merasakan cintaku, Van! seburuk itukah aku bagimu hingga kau tidak melihat cintaku lagi, dan tatapan hangat yang sering kau berikan padaku semua itu hilang begitu saja." Bella melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota yang tampak renggang.


***


Vana menatap lautan lepas di depannya, ia masih bergelut dengan perasaan nya. Mata hari mulai terbenam, senja di langit berwarna kemerahan. Sunset mulai menampakkan warnanya, jingga dan emas kekuningan tampak indah di atas langit berpadu dengan warna senja.


"Apa yang harus aku lakukan? apakah aku telah melukai perasaan kak Nathan. Aku ilfil setelah melihat adegan ranjang nya bersama suster Lena. sungguh sangat menjijikkan! pekik nya seraya melipat tangan didada.

__ADS_1


"Alea...."


Vana menoleh dan tentu saja ia sudah tahu siapa seseorang memanggil namanya. Vana memutar kursi roda nya tanpa menatap pria di depannya. "Ada apa?!"


Sebelum kau pergi dan meninggalkan tempat ini, izinkan aku mengajakmu dinner walaupun sudah tidak ada lagi diriku di hatimu! Nathan tersenyum misterius "Anggap saja ini adalah dinner pisahan kita untuk selamanya."


Vana mengangguk tanpa menoleh pada pria tampan yang berbalut kemeja kotak-kotak berwarna nafi.


"Ini pakailah, gaun untuk dinner nanti malam." Nathan menaruh Paper bag di pangkuan Vana "Ku harap kau menyukainya dan berdandan lah yang cantik." Nathan tersenyum sumringah.


"Harus memakai gaun ini? tanya Vana


"Iya tentu saja! aku ingin merayakan perpisahan kita yang spesial. Setelah itu kita kan jalani hidup masing-masing tanpa terikat satu sama lainnya. Maafkan aku yang masih mencintaimu, aku akan membawa cinta mu sampai akhirnya aku menemukan wanita yang bisa mencintai ku!" tegas Nathan menyunggingkan senyuman lebar, tidak ada lagi amarah atau rasa kecewa.


DEG! seketika hati Vana berdenyut nyeri, entah apa yang ia rasakan saat ini.


Mengikhlaskan kepergian orang yang di cintai adalah suatu kebahagiaan bagi Nathan. karena sejatinya cinta itu adalah menyatukan dua karakter yang berbeda, yang saling mengisi dan memahami hingga terciptalah cinta yang tulus dan murni.


"Baiklah aku akan memakai gaun ini jam berapa dinarnya?"


"Jam 07.00 aku akan menjemputmu bersiaplah!"


Vans mengangguk lalu mendorong kursi rodanya masuk kedalam ruangan. Setelah sampai kamar, Vana mengunci handle pintu lalu berdiri dan membuka Paper bag. Sebuah gaun terbuat dari sutra berwarna putih dengan leher berbentuk V. Sederhana tetapi sangat elegan.


Vana berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya dengan shower yang menyala. Kurang dari setengah jam Vana sudah keluar dari kamar mandi berbalut kimono. ia mulai merias wajahnya di depan cermin. setelah di rasa cukup ia memakai gaun indah pemberian Nathan.


Suara ketukan pintu mengagetkan Vana. iya mulai duduk kembali di kursi rodanya dan membuka handle pintu. Saat pintu dibuka sebuah senyuman sumringah tersungging di bibir Nathan.


"Selamat malam Lea..," Nathan menatap tak berkedip wajah cantik Vana yang terlihat bercahaya malam itu. Bahkan gaun yang di berikan Nathan sangat pas di tubuh sintalnya.


Sebuah bucket bunga mawar berada di tangan Nathan. Laki-laki bermata biru itu memakai taxesudo berwarna putih yang terbuat dari bahan sutra, sama persis dengan gaun yang Vana pakai.


Nathan memberikan buket bunga itu pada Vana lalu mendorong kursi roda ke arah luar Villa.


"kau akan membawaku ke mana?! tanyanya yang terlihat bingung karena tidak ada sedan yang terparkir di depan Villa.


"Aku akan menunjukkan sebuah kejutan untukmu! tiba-tiba Nathan mengangkat tubuh Vana ala bridal style dan berjalan kearah bangunan kecil yang berada di villa. rumah itu memang terpisah dari villa yang di atasnya ada sebuah balkon. Bila berada diatas balkon akan terlihat lautan lepas dan deburan ombak yang menghantam batu karang.


Nathan berjalan menaiki anak tangga dengan perasaan bahagia. Walaupun ia tahu nantinya mereka berdua akan berpisah. Malam itu Nathan sengaja membuat Pesta perpisahan yang hanya di hadiri mereka berdua dan menjadikan kenangan di atas balkon tempat yang paling tinggi.


Saat dalam gendongan Nathan, Vana tidak berani menatapnya, ia menundukkan kepalanya kebawah "sungguh malam Ini Kau sangat cantik Alea." Vana mengangkat pupil matanya sebentar, lalu mengarahkan pandangannya ke arah lain. Hingga mereka sampai di atas balkon. Vana di kejutkan oleh suasana diatas balkon, ternyata tempat itu Nathan sulap menjadi sebuah restoran dengan alunan music romantis. Ada satu meja bundar dan dua kursi berwarna putih, diatas meja ada bunga tulip dan juga penuh hidangan diatas meja. Dekorasi yang sangat indah dan kelap-kelip lampu LED terlihat memenuhi tempat itu. Nathan mendudukkan tubuh Vana di salah satu kursi.


Suara deburan ombak di malam itu terdengar syahdu seakan ikut menyaksikan dua orang manusia yang sedang menikmati malam perpisahan. Nathan tersenyum penuh kebahagiaan dan duduk di depan Vana.


Sebenarnya Vana terpesona dengan ketampanan Nathan malam itu, bagaimana tidak, tubuh kekar nan atletis itu terlihat sangat macho dengan texsedo pas di tubuhnya. Nathan menuangkan wine dengan alkohol rendah kedalam gelas tinggi dan menaruhnya di depan Vana dan satu untuk dirinya.

__ADS_1


"Ayo kita mulai acaranya." Nathan mengangkat gelas berisi wine "Mari kita bersulang." namun Vana hanya diam tanpa mau mengangkat gelas tinggi itu. Nathan tersenyum manis "Aku tau apa yang ada dalam pikiran mu. Dan ini tidak memabukkan, alkohol nya sangat rendah. Aku tidak akan membuat mu mabok dan memanfaatkan keadaan mu yang lumpuh."


Vana membuang nafas pelan dan diangkat nya gelas wine itu "Mari kita bersulang, untuk perpisahan kita!"


"TING! suara gelas saling beradu, Nathan menyesapi wine di tangannya. Vana yang tadinya tampak ragu, akhirnya meminum wine itu sedikit demi sedikit.


Nathan berdiri dan merogoh sesuatu dari saku celananya. "Alea, di malam terakhir kita ini, izinkan aku memberikan ini sebagai kenangan-kenangan."


Vana hanya mengangguk pelan tanda setuju. Nathan berjalan kearah Vana dan membuka kotak berudu berwarna marun. Sebuah kalung emas putih dengan bantulan yang berbentuk hati merah terbuat dari batu permata. Sangat eksotis dan bernilai seni tinggi. Nathan mengalungkan kalung itu ke-leher jenjang Vana. Ada debaran jantung yang tak biasa saat Nathan meyentuh kulitnya, bulu kuduknya meremang dan detakannya semakin cepat.


"Beautiful..." bisik Nathan di telinga Vana, seakan bisikan nya mengandung magnet yang bisa menghipnotis siapa saja. Pria tampan bermata biru dengan aroma parfum menguar bebas. Sungguh hati Vana tergelitik saat perlakuan Nathan yang begitu manis malam itu. Kalung putih dengan gandulan hati permata berwarna merah terang terlihat sangat anggun di leher Vana yang putih bersih.


"Aku ingin mengajak mu berdansa, tetapi..." Nathan tidak meneruskan kata-katanya, seperti ada kalimat yang tidak ingin ia ucapkan, sekali lagi Nathan tersenyum misterius.


"Mari kita nikmati hidangan malam ini." saat tangan Vana mulai ingin mengambil sesuatu, tiba-tiba Nathan menahannya.


"Biar aku saja yang melakukannya. Malam ini kau adalah Ratu ku, izinkan aku melayani mu tuan putri." Nathan meraih tangan Vana dan mencium punggung tangannya. Vana terperangah, tentu saja perlakuan Nathan malam itu terasa berbeda dan akan meninggalkan jejak kenangan yang tak akan terlupakan. Vana terhanyut saat Nathan mencium jemarinya, ada desiran perasan sedih yang menyeruak dalam dadanya. ini adalah malam perpisahan dirinya dengan Nathan, dan entahlah apakah mereka akan bertemu lagi atau tidak nantinya.


Mata Vana berkaca-kaca saat Nathan menaruh beef steak daging sapi dengan aroma yang menggugah selera, lalu memotong nya menjadi bagian kecil dan menggeser piring kedepan Vana.


"Nikmatilah malam ini, karena malam ini adalah malam perpisahan kita. lusa kita akan berangkat ke Jakarta." Nathan tersenyum tipis, ada sesak di dadanya saat perpisahan itu akan terjadi, dan Nathan sudah berjanji dalam hatinya akan melupakan Zevana Alea Mahesa untuk selamanya dan mengubur dalam-dalam cintanya.


"Tes! satu butir airmata jatuh di pipi mulus Vana. ia sudah tidak bisa menahan kesedihannya, tiba-tiba ia terisak.


"Hey! kenapa menangis? apa ada yang salah dengan diriku, hmm..." Nathan berlutut dan menatap wanita cantik dan elegan malam itu. Ia mengusap lembut airmata Vana yang mulai berjatuhan. Ingin rasanya Vana berlari menjauh, Namun ia masih merahasiakan kakinya yang sudah bisa berjalan. Sebenarnya Vana ingin memberikan Nathan pelajaran yang tidak bisa ia lupakan, karena telah menculiknya dan menjauhkan dirinya dari keluarga nya, Namun perlakuan manis dan romantis Nathan malam itu membuat Vana melupakan dendam nya.


"Apa Ingin aku suapin?! tanya Nathan lembut seraya mengusap butiran bening airmata Vana yang berjatuhan. Vana hanya menggeleng lemah dengan wajah tertunduk. ia tidak berani menatap mata biru pria tampan di depannya.


"Kalau begitu ayo kita nikmati hidangan yang sudah aku siapkan untuk mu, anggapan ini hadiah terindah untuk mu." Vana semakin menangis, tubuhnya ikut terguncang karena tangis sesenggukan. Nathan duduk kembali di tempat nya dan mulai mengiris daging beef steak di atas piring. Satu potongan daging sudah masuk kedalam mulutnya.


"Kenapa kau tidak mau menikmati makanan di depan mu, bukankah ini sangat nikmat." ucap Nathan sambil mengiris daging sapi di depannya. "Baiklah bila kau tidak mau menikmati makanan ini." Nathan menghentikan aktivitasnya dan menarik nafas dalam, lalu dihembuskan perlahan. Melihat Vana bergeming, Nathan beranjak dari duduknya dan berjalan kepinggir balkon.


Nathan berdiri kokoh dan menatap deburan ombak di depannya. Malam itu angin bertiup sepoi-sepoi seakan ikut merasakan dua orang manusia yang sedang dilema.


"ALEA!!!!!


Tiba-tiba Nathan berteriak lantang, membuat Vana mendongak kan kepalanya dan menatap Nathan yang sudah berdiri di tepi balkon, bila ia terjatuh sudah pasti tubuhnya hancur dan remuk terkena batu karang yang terjal dan tajam.


Vana tergagap dan terkejut dengan pemandangan di depannya. "Nathan, apa yang ingin kau lakukan? ucapnya pelan. suaranya tercekat seakan tidak bisa berteriak.


"ALEA! AKU SANGAT MENCINTA MU, BILA KITA TIDAK BISA BERSAMA, AKU AKAN PERGI DARI KEHIDUPAN MU UNTUK SELAMANYA!! AKU AKAN MELOMPAT DARI BALKON INI." Nathan menoleh kearah Vana lalu tersenyum samar "SELAMAT TINGGAL ALEA!


Seketika tubuh Nathan terjun bebas dari balkon.


"NATHAN!!!! teriak Vana dan berlari kearah Nathan menjatuhkan diri. Vana sangat syok dan hampir pingsan melihat kenekatan pria bermata biru itu.

__ADS_1


💜💜💜💜


__ADS_2