Takdir Cinta Twins

Takdir Cinta Twins
Kehilangan Arah.


__ADS_3

Nathan menatap nanar sang Mama yang terbaring lemah, ia mengusap wajahnya berkali-kali dan sesak ia rasakan di dadanya.


"Demi keselamatan Mama, haruskah aku pergi dari kehidupan Alea? gumamnya pelan, tak terasa butiran kristal mulai berjatuhan.


"Mah! Nathan duduk di tepi ranjang sambil menggenggam tangan Diana, lalu di ciumnya berkali-kali "Ma'afkan Nathan, nggak ada maksud untuk menyakiti Mama. Nath sangat menyayangi Mama." tetesan airmata Nathan terus berjatuhan di jemari tangan Diana. "Bertahanlah mah! aku tidak ingin kehilangan Mama." ucapnya dengan bibir bergetar menahan perih.


Selamat siang Tuan Nathan." suara seseorang yang berjalan kearah kamar membuyarkan lamunan Nathan, ia menoleh dan berdiri dari ranjang.


"Dokter Erick, tolong periksa kondisi Mama."


"Hey...! ada apalagi dengan Tante Diana? tanya pria berpakaian putih-putih dengan tas hitam di tangannya, ia berjalan kearah Nathan yang berdiri di sisi ranjang.


"Mama nekat bunuh diri, aku berusaha merebut pisau dalam genggaman nya, dan terlambat. Mama sudah lebih dulu melukai tangan nya hingga seperti ini."


Dokter Erick menggeleng lemah, lalu menarik nafas panjang. ia duduk di tepi ranjang dan mengeluarkan alat medis dari dalam tas.


"Nyonya kehilangan banyak darah, harus secepatnya di bawa kerumah sakit. Bila tidak nyawanya tidak akan tertolong."


"Ap-apa?? Nathan membulatkan matanya.


"Cepatlah tunggu apalagi?! seru dokter Erick seraya mengangkat tubuh Diana. Nathan terkejut buru-buru berlari kearah teras.


"Hery!!! cepat buka pintu mobil, Mama harus segera di bawa kerumah sakit! teriak Nathan pada bodyguard nya. Dengan cepat pria berkepala plontos itu membuka pintu mobil dan menyambut tubuh Diana untuk di masukkan kedalam mobil.


"Biar saya saja yang bawa mobilnya. kau yang jaga Tante Diana." perintah Dr Erick mengambil alih kemudi.


"Kalian berdua menyusul pakai mobil ku, dan hubungi David! seru Nathan dari dalam mobil.


"Baik Bos!


Mobil Dr Erick melaju dengan cepat meninggalkan villa.


***

__ADS_1


"Nona Alea tunggu!!!


David terus mengejar kemana arah Vana berlari, dalam kondisi tertekan Vana tidak menghiraukan David yang terus mengejar dirinya tanpa arah tujuan.


"Wanita keras kepala! seru David seraya menarik tangan Vana.


"Untuk apa kau mengejar ku!" balas Vana sambil menghempaskan tangan nya.


"kalau bukan karena perintah dari Nathan, Aku juga tidak mau mengejar mu!


"kalau begitu abaikan perintah Tuan mu!"


"Tidak semudah itu Nona! aku sudah mengabdi lama pada Nathan, selain dia sahabat ku Nathan sudah bagian dalam hidupku!"


"kalau begitu apa mau mu!


"ikutlah bersama ku, ada tempat dimana kau bisa bertemu dengan Nathan!


"Untuk apa ikut bersama mu, bukankah Mama kak Nathan membenci ku? dia selalu mengatakan kalau aku ini anak dari seorang pembunuh!"


"Tidak perlu! semuanya sudah jelas bukan? kalau wanita itu sangat membenciku dan Kak Nathan dilema, aku tidak ingin kak Nathan menjadi anak durhaka karena lebih memilih aku dari pada ibu kandungnya!" hiks... Vana menutup wajahnya.


"Nona bisa selesaikan semua masalah ini baik-baik dengan Nathan. Semua pasti ada jalan keluarnya, Nathan sangat mencintai Nona. Hanya saja kesalahpahaman kedua kelurga hingga kalian harus menanggung akibatnya."


Lelehan air mata Vana terus berjatuhan, gadis cantik itu mengusap kasar kristal bening di wajahnya. Dadanya begitu sesak bila mengingat kata-kata Diana yang selalu bilang anak pembunuh. Saat ini ia begitu rapuh dan tak tahu arah tujuan. Vana kabur dari kejaran sang Daddy, bahkan menentangnya terang-terangan dan lebih memilih cintanya, Namun kenyataan yang ia hadapi malah sebaliknya, berharap hidup bahagia dengan Nathan, pria yang sudah berkorban nyawa untuknya. Namun, hadir sosok Diana sebagai penghalang hubungan mereka berdua.


Vana menangis sesenggukan dengan dada turun naik "Kenapa ini tidak adil bagiku dan kak Nathan, setelah Daddy menentang hubungan ku dengan Pria yang aku cintai, kini ibu kandung kak Nathan tidak merestui hubungan kami! Dimana salah kami...!" Vana berseru sambil memukul-mukul dadanya yang berdenyut pedih.


"Aku lelah dengan semua ini, semua orang menentang hubungan kami!


David terdiam dan hanya mendengarkan semua keluh kesah kekasih sahabatnya.


"Haruskah salah satu diantara kami mati dulu baru mereka menyesal dan merestui hubungan kami?! tapi semua itu sudah terlambat bukan? sampai kapan kami harus di kejar-kejar seperti penjahat? hiks.. hiks..

__ADS_1


"Nona sabarlah, Semua pasti ada jalan keluarnya."


"Drett.. Drett...


Suara getaran ponsel David membuatnya terhenti, ia merogoh ponsel yang berada dalam saku celananya, lalu di gesernya tombol hijau "Iya Hallo Her!


"Tuan David, segera kerumah sakit. Nyonya Diana mencoba bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya."


"Apa?! Nyonya Diana bunuh diri?! lalu bagaimana kondisi nya? tanya David yang begitu terlihat khawatir


"Nyonya kehilangan banyak darah dan di larikan kerumah sakit "Persada" bersama Dr Erick dan Bos Nathan."


"Baiklah saya akan segera kesana!" setelah berbicara David memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana.


"Mama Nathan bunuh diri?! tanya Vana dengan bibir gemetar "Jadi semua ini salahku? aku yang sudah membuat kak Nathan menderita!" hiks.. Vana mundur beberapa langkah kebelakang.


"Nona jangan pernah menyalahkan diri sendiri, lebih baik berdoa saja agar Nyonya Diana tidak mengalami hal serius."


Vana menggeleng cepat "Aku yang bersalah, sudah memisahkan ibu dan anak. Aku yang seharusnya melepaskan Kak Nathan! hiks.. hiks... tubuh Vana terguncang hebat, ia berlari meninggalkan David.


"Nona.. Awas....!!!!"


"BRAKK!!! Ciiiiiiiitttttttt......


"Ya Tuhan, Nona Alea!!!! teriak David dan berlari kearah Vana.


😢😢😢


@Maaf Bunda telat update lagi, tapi nggak usah khawatir.. Bunda akan terus nulis sampai Novel Twins ini TAMAT.


@Jangan lupa terus dukung karya Bunda dengan cara: LIKE, VOTE/GIFT, RATE BINTANG 5 DAN komentar kalian 😍


@Bersambung...

__ADS_1


@InsyaAllah nanti malam Up lagi ya 🥰


__ADS_2