Takdir Cinta Twins

Takdir Cinta Twins
Bunuh Diri


__ADS_3

Melihat kondisi Safira yang tidak baik-baik saja membuat Vano iba "Kakak yang suapin ya? ucapnya lembut, jari Vano mengangkat dagu Savira hingga mereka saling bersitatap. "jangan seperti ini Dek, Kakak sakit melihatnya. sungguh kak Vano tidak ingin melihat kondisi mu seperti sekarang. Mana Savira yang ceria dan lincah, mana Savira yang manja, Savira yang membuat seisi rumah kagum atas prestasi sekolahnya. Gadis manja yang cerdas dan lembut." puji Vano.


Savira menundukkan wajahnya dan tak berani menatap netra coklat Vano, kedua tangannya memilin-milin ujung kemeja tidur yang ia pakai.


"Dek, Katakan pada kakak. Apa yang membuatmu sedih dan tidak mau makan?' tanya vano penuh hati-hati.


"Dimana kak Dev, sudah 4 hari tidak mengunjungiku?" tanyanya terlihat gelisah.


Vano membuang nafas kasar lalu ditatapnya wajah gadis di sampingnya "Sebenarnya Kak Dev__ " Vano menghentikan ucapannya, sebab ia bingung jawaban apa yang harus ia berikan pada Savira, agar ia tidak terlihat murung lagi.


Savira mengangkat wajahnya yang tertunduk "Sebenarnya apa kak?! dimana kak Dev? tanya Savira curiga "Bukankah selama ini, dimana ada Kak Vano pasti ada Kak Dev. kakak tidak pernah terpisahkan di manapun dan kapanpun kalian berada! tukas Savira tegas dengan airmata yang mengucur bebas.


Vano tercengang dengan ucapan Safira yang begitu tahu isi hatinya. Ia dan Dave memang tidak pernah terpisahkan, kemanapun dua sahabat itu saling melengkapi.


Di tatapnya lekat wajah gadis cantik itu yang terlihat kuyu, gairah hidupnya seakan telah mati, tidak terlihat ceria dan bersemangat. "Apa kau begitu kehilangan Dave? bagaimana bila kak Dev tidak pernah kembali."


"Maksud kak Vano apa? apa kakak juga tidak merasa kehilangan bila kak Dave pergi? kenapa kak Vano bertanya seperti itu? seperti mengerti situasi yang terjadi, Savira benar-benar curiga dengan persahabatan mereka "Berarti dugaan ku benar! kak Dave sudah pergi kan? ia sudah tidak ada disini lagi kan? teriak Savira yang mulai tersulut emosi.


"Dek, dengarkan kakak bicara dulu."


Savira benar-benar frustasi, harus kehilangan sosok orang yang ia sayangi. Ia mulai kehilangan kendalinya dan menarik infus di pergelangan tangannya. Tangisannya semakin dalam, Sebab selama ini yang begitu banyak perhatian padanya adalah Dave. Ia selalu memberikan Savira semangat hidup dan motivasi untuk hilang dari traumatis.


Karena emosi yang sudah tak terkendali dan merasa orang-orang yang di sayanginya pergi meninggalkan dirinya satu persatu, membuat Savira frustasi kembali, ia melempar dan membanting apa saja yang berada di dekatnya. Vano berusaha untuk mengendalikan kondisi dan emosi Savira yang sudah meledak-ledak. Sejujurnya Vano pun kaget dengan kondisi Savira yang baru ia lihat pertama kali, gadis lembut itu tidak pernah marah sebesar ini sebelumnya. Namun dengan kejadian pelecehan di danau itu, dan hampir kesucian nya terenggut, membuat Savira prustasi. Ia masih belum bisa melupakan kejadian di danau. Pikirannya masih polos dan norma-norma agama serta tatak rama selalu Delena ajari.


"Savira! jangan lakukan semua itu, Dek!"


Tanpa Vano sadari, Savira mengambil pisau buah yang terjatuh di lantai, dan mengarahkan ke dirinya. Rambut panjang hitam legam sudah acak-acakan, Vano seperti tidak mengenal sosok adik angkatnya.


"Jangan nekad Dek! pekik Vano "Apa yang ingin kau lakukan, lepaskan pisau itu!" perintah Vano.


"Untuk apa aku hidup! untuk apa....!!!! teriak Savira dengan airmata terus berjatuhan.


Vano menghembuskan nafas kasar, ini sungguh di luar kendalinya, tidak menyangka Savira akan senekad itu.


"Dek, tenang dulu ya? kak Vano akan menghubungi kak Dev. Tolong lepaskan dulu pisau itu, jangan berbuat nekad. Sebentar lagi mommy akan datang kesini." Vano terus bernegosiasi dengan Savira, agar gadis itu percaya dan tidak berbuat bodoh untuk menyakiti dirinya sendiri.


"Dek, segitu Cinta nya kau pada Dev! apakah perasaan mu sudah tidak ada lagi untuk ku?! lirih Vano dalam hati.


Pintu kamar terbuka, datang dokter Agung dan Dokter Irwan, serta beberapa petugas medis ada disana. Mereka melihat kekacauan di dalam kamar, yang tentu saja suara ribut-ribut itu terdengar sampai ruangan Pasien.

__ADS_1


"Nona Savira..."


"Untuk apa kalian di sini, pergiiii!!!! teriak Savira dengan nafas tersengal, saat dirinya jadi tontonan.


"Pergilah kalian semua aku bisa mengatasinya." Vano menatap netra kedua dokter tersebut seperti memberikan isyarat. Mereka mengerti dan menutup pintu kembali.


"Dek, lepaskan pisau itu, kita bicarakan baik-baik, Oke." bujuk Vano seraya berjalan mendekat.


"Tidak! untuk apa kau membujuk ku, aku tahu kau tidak pernah tulus. Kau berbeda dari kak Dev, yang tulus menyayangi ku! Mata Savira melotot kearah Vano "Bila kak Dev pergi aku juga akan pergi!!" pekiknya dengan emosi meletup-letup.


Tiba-tiba Savira berlari kearah pintu dan membuka pintu dengan kasar, lalu berlari tanpa tentu arah.


"Savira, tunggu!


Vano berlari mengejar Savira yang mulai tak terkendali. Beberapa petugas yang melihat Vano mengejar Savira, ikut berlari. Savira seperti memiliki kekuatan penuh, ia membawa pisau sambil menodongkan kearah orang yang berusaha mengejarnya. Savira membuka pintu darurat dan menaiki anak tangga itu tanpa lelah.


"Savira berhenti! nanti kau jatuh! teriak Vano yang khawatir dengan kondisi adik angkatnya yang semakin tidak terkendali.


"Brengsek Kau Dave! apa yang membuat Savira jadi seperti ini! dengus Vano kesal, di sela langkahnya menaiki anak tangga menuju keatas balkon.


"Tuan, jangan sampai Nona nekad, yang ia tuju bangunan paling atas." tukas seorang sekuriti yang ikut di belakang Vano. Vano hanya mengangguk tanpa bicara, karena ia masih diliputi perasaan cemas dan khawatir.


Savira membuka pintu yang terbuat dari besi baja, kebetulan pintu tidak tergembok, dengan mudah ia bisa keluar. Kini ia berada di bangunan paling atas, tempat yang sangat luas seperti lapangan bola. Ia melihat di sekelilingnya, banyak bangunan tinggi yang menjulang. Savira berlari dan berhenti di sebuah pagar pembatas, lalu ia menatap kebawah, terlihat kendaraan roda empat dan roda dua sangat kecil dan imut.


"Savira! please jangan pernah berbuat nekad, itu perbuatan dosa Dek."


Savira mendengar suara Vano, ia menoleh dan membelikan badannya. "untuk apa kakak mengejar ku? Lebih baik aku mati! tidak ada lagi orang yang peduli dan menyayangi aku!


"kata siapa dek, kami semua menyayangimu? kak Vano belum bisa menjelaskan semuanya padamu, karena kondisi mu yang masih belum sehat benar." ucap Vano datar


"Bohong! aku tahu kak Vano berada di rumah sakit, tetapi jarang menemui ku, hanya dua kali kakak menjenguk ku! apakah sesulit itu memberikan aku sedikit perhatian! Savira menjedah ucapannya dan menangis terisak "Tetapi kak Dev, selalu memberikan aku perhatian dan kasih sayang dengan tulus, ia selalu ada untuk ku!"


"Ma'afkan Kak Vano, Dek! Kakak sedang banyak masalah dan harus menolong Zidan yang di culik saat itu. Kakak tidak datang menengok mu bukan berarti tidak sayang."


"Sudah cukup Kak! biarkan aku pergi, biarkan aku menyusul ibu dan Ayah ku! pekik Savira dan masih memegang pisau di tangannya.


"Dek! ingat mommy dan Daddy yang selalu menyayangi mu, Kak Vano dan kak Vana juga Zidan. Kami semua sangat menyayangi mu."


"Tolong lah Dek, jangan berbuat nekad." Vano berusaha berjalan mendekat.

__ADS_1


Savira gelengkan kepala sambil berpegangan pada pagar pembatas yang terbuat dari besi. "Untuk apa kakak melarang ku! aku sudah tak suci lagi, bahkan tubuh ku sudah mereka sentuh, aku wanita kotor!! teriak Savira dengan air mata yang mengucur bebas.


"Tidak Dek, itu tidak benar. Kakak sendiri yang akan bertanggung jawab untuk menikahkan mu bila kau ragu pada kesucian mu!" seru Vano tanpa basa-basi.


DEG!


Hati Savira bergetar hebat dengan ungkapan perasaan Vano yang tiba-tiba. Ia sudah tidak percaya lagi dengan kata-kata Vano yang pernah ia cintai. Savira mengaggap perkataan Vano hanyalah gurauan untuk menenangkan dirinya. laki-laki tampan yang berdiri di depan Savira, adalah Pria yang pernah ia cintai dan berharap laki-laki itu menyambut cintanya bukan sebagai adik angkat, tetapi sebagai seorang kekasih yang saling mencintai. Namun sayang, cinta Savira bertepuk sebelah tangan, Pria bertubuh atletis itu lebih memilih teman masa sekolahnya dulu.


Savira tertawa, ia menertawakan nasib dirinya sendiri. sungguh sangat miris, dikasihani oleh seorang Vano kakak angkatnya sendiri, yang pernah memberikan ciuman pertamanya, lalu di campakkan begitu saja.


"GLUDUK!


"TAR! TAR! TAR!


suara petir menggelegar bersama kilatan cahaya putih di langit.


"Dek! ayo kita pergi dari sini, sebentar lagi akan turun hujan, suara petir sudah terdengar. tidak baik kita berada disini." bujuk Vano


"Pergiiiiiiii!!!!!


"Biarkan aku disini, apa peduli mu! teriak Savira sambil terus menangis.


"Tuan! Dokter Agung mendekat "Tidak ada cara lain, harus membuat startegi. keadaan nya sedang tidak stabil dan akan membahayakan diri Nona."


"Seberapa besar Savira mengalami stres?


"Kejiwaannya sudah terganggu. Dokter Nella sudah menangani kejiwaan Nona Savira. ia mengalami trauma berat dan depresi akut. ingatannya belum bisa hilang tentang kejadian itu, ia merasakan hilangnya kepercayaan diri dan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Merasa di jauhi dan tidak diinginkan kehadirannya." dokter Agung menjelaskan hasil penanganan Savira selama tiga minggu rawat inap di rumah sakit.


Vano mengusap kasar wajahnya berulang-ulang. Rasa sesak dan kesal terus menghantuinya. Andai saja waktu itu dia tidak Pergi mencari Vana yang pergi tiba-tiba, sudah pasti Savira tidak akan mengalami trauma seberat ini.


"Aaarrggghhh!!!!!


Vano berteriak frustasi.


Tanpa Vano dan yang lainnya sadari, Savira sudah menaiki pagar pembatas dan siap terjun bebas ke bawah. Mata Vano terbelalak sempurna dan berteriak lantang.


"SAVIRA.....!!!!!!!


[Kalian mau komen apa saja silakan, Bunda gak akan marah kok, justru bersyukur udah bisa ngaduk-ngaduk perasaan kalian 😂, kalau Bunda komentar disini berarti itu membalas komentar kalian, karena nggak bisa balas satu persatu komen kalian. Maaf ya sayang... kalau ceritanya masih tegangan tinggi 🥰]

__ADS_1


💜💜💜💜


@BERSSMBUNG______"


__ADS_2