
"Sepertinya hujan sudah reda, aku akan pergi sebentar untuk mencari jalan keluar, kasihan Lea kalau ikut bersama ku." dengan perlahan Nathan mengangkat kepala Vana dan menaruhnya diatas dedaunan. Dikecupnya kening sang kekasih "Aku tinggal dulu sebentar, sebelum kau terbangun aku akan kembali."
Nathan berdiri dan melangkah pergi keluar dari dalam goa.
Cuaca sore itu tampak dingin, sisa-sisa air hujan masih terasa. Hari semakin gelap, Nathan terus melangkah menyusuri hutan rimba yang penuh pepohonan liar. Suasana semakin mencekam bersama hadirnya suara-suara binatang yang berada di dalam hutan. Namun tidak menyurutkan langkah Nathan untuk terus berjalan, sesekali ia mematahkan dedaunan ranting untuk petunjuk jalan yang sudah ia lalui, agar ia tidak tersesat saat kembali ke goa.
Tekad Nathan untuk keluar dari hutan dan ingin menemui rumah penduduk yang berada di sekitar tidak menyurutkan langkah nya dan terus berjalan meninggalkan goa hingga beberapa ratus meter.
Sementara Vana yang sedang terlelap di kejutkan oleh suara binatang yang tertangkap oleh pendengarannya , seketika ia terbangun dan langsung terduduk. Mata Vana mengedarkan pandangannya ke seluruh dalam goa. Perapian yang Nathan buat masih menyala, ada ranting kering yang teronggok di samping Vana, buru-buru ia mendekatkan perapian yang hampir habis dan menumpuk ranting-ranting kayu itu hingga api membesar.
Tiba-tiba terlihat bayangan berkelebat dan masuk kedalam goa, Vana terkejut dan sedikit mundur kebelakang. Bayangan hitam itu semakin kedalam semakin membesar menampilkan gigi-giginya yang runcing dan taring nya yang tajam.
Suara desisan menggema di dalam goa, matanya tajam dan merah seakan ingin memakan mangsa didepannya. Aroma bau bangkai langsung menyengat di indra penciuman Vana. Bekas sisa darah dan makam keluar dari mulut binatang melata itu. Vana terus memundurkan langkahnya dan bergidik ngeri
__ADS_1
"kemana kak Nathan, kenapa dia tidak ada di tempat ini? bukan tadi bersama ku?
"Ya Tuhan binatang apa itu? Vana terus menajamkan pandangan nya dan terbelalak saat melihat binatang buas itu tersorot sinar api dari dahan ranting pohon yang masih menyala. Binatang melata itu berjalan semakin mendekat. "Ular raksasa! pekiknya terkejut "Aku harus melakukan sesuatu untuk menjaga diri dan secepatnya keluar dari goa ini!" gumam Vana.
Vana mengambil batang ranting yang berada di depannya dan mengarahkan ke api yang sedang menyala, lalu mengibas-ngibaskan batang ranting yang sudah menyala itu kearah ular besar, lidah ular itu terus menjulur kearah Vana bersama suara desissan nya yang semakin keras terdengar.
Ssssssssstttttttttttttttttt...!!!!!
"Kak Nathan! kau berada dimana?! teriak Vana di dalam goa, dia berharap kekasihnya cepat datang dan menolong dirinya. Sungguh menghadapi ular besar yang berbisa itu tak semudah menghadapi manusia yang memiliki ilmu bela diri, Vana masih sanggup melawan dan menghabisinya. Tetapi dengan ular besar itu, yang bisa meluluh lantakan tulang belulangnya membuat Vana ciut.
"Husss.. husss.. husss... pergi!!!! usir Vana, tangannya masih terus menjulur kedepan dan mengibaskan ranting itu ke kanan dan ke kiri.
Bintang besar melata itu semakin keras mendesis dengan cairan kental yang keluar dari mulutnya menunjukkan taring-taring giginya yang tajam. Mulut ular itu tercium aroma busuk yang sangat menyengat, Vana hampir saja muntah-muntah kalau ia tidak menutup hidungnya.
__ADS_1
Vana semakin terdesak dan kewalahan yang tiba-tiba binatang itu menyerang kearah Vana, dengan cepat ia menghindar dan melompat, ia lempar ranting pohon yang masih menyala itu agar Ular menjauh,
"Aku harus secepatnya keluar dari goa ini, sebelum aku mati konyol! Vana mulai mundur perlahan dengan menahan nafas, ia mulai paham kalau ular itu bisa peka dengan mencium aroma tubuh manusia, dengan menahan nafas membuat ular itu terkecoh.
Ular memiliki indera penciuman yang sangat baik, bahkan jauh lebih baik dari hewan lainnya. Tidak seperti manusia yang menggunakan hidung untuk mencium bau, ular biasanya menggunakan lidahnya yang bercabang untuk mencium bau lingkungan di sekitarnya, merasakan keberadaan mangsa, dan mengenali kemungkinan adanya bahaya dari predator
Vana terus bergerak mundur kebelakang dengan perlahan, hutan diluar tampak gelap gulita. Beruntung diatas langit bulan tampak terang benderang dan mampu menyoroti hutan belantara, meskipun tak seluruhnya karena tertutup rimbunan pepohonan.
Vana sudah hampir keluar dari goa dan akan berlari secepat mungkin sebelum ular itu memangsa dirinya. Dalam keadaan siap Vana mulai berlari secepat mungkin tanpa menoleh ke belakang, ia merasakan jejak ular besar itu terus mengejar dirinya. Berbagai dahan dan ranting pohon menggores tangan dan tubuhnya, namun tidak Vana hiraukan, ia tetap berlari tanpa arah tujuan, sesekali ia tersandung dan terjatuh karena tanah becek bekas air hujan, tetapi tidak membuat Vana menyerah. Vana bangkit kembali dan berlari dengan nafas tersengal
"KAK NATHAN, TOLONG AKU!!!!!!!
💜💜💜💜
__ADS_1
@Terima kasih banyak BUNDA ucapkan pada kalian para readers qu🥰 yang sudah memberikan komentar positif dan saling ma'af-memaafkan di bulan yang penuh Berkah, Rahmat dan kebaikan ini. Kita saling mendoakan dalam kebaikan, meskipun tangan tak sampai menjabat dan wajah tak sempat bersua, terapi hati kita saling menyatu, memaknai indahnya kebersamaan di dunia Maya ini. Semoga kebaikan dan kebahagiaan selalu menyertai para readers ku pecinta karya Bunda 🙏🥰
Bunda minta Maaf belum sempat nulis setiap hari, karena masih momen lebaran dan sibuk halal bihalal dengan keluarga besar 🥰