Takdir Cinta Twins

Takdir Cinta Twins
Kebingungan David


__ADS_3

"Vid! dimana Alea? apa dia baik-baik saja? Apa kau sudah membawa Alea ke apartemen?


David terdiam dengan ekspresi gusar.


"Vid! dimana Alea?! tanya Nathan lagi, begitu penasaran.


"Alea...


"Ada apa dengan Alea?! kenapa kau ragu mengatakannya."


"Lebih baik kita bicarakan semuanya di luar, di sini tidak enak, ada tante Diana sedang sakit."


Nathan mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan ruangan Diana bersama David.


"Kita ke kantin dulu, aku juga butuh kopi." kata David di sela langkahnya, Nathan hanya pasrah mengikuti langkah sahabatnya.


"Mbak dua cappucino." ucap David setelah memasuki area kantin.


"Baik Mas!


"Sekarang katakan dimana Alea? jangan berbelit-belit."


"Huft! David membuang nafas kasar seraya menghempaskan bokongnya di atas kursi.


"Kenapa kau tidak fokus saja dengan Mama mu, dia sangat membutuhkan mu saat ini."


"Nggak perlu mengajariku, aku lebih tahu mana yang terbaik untuk Mama ku."


"Kalau begitu, lepaskan Alea dan fokus saja pada Tante Diana."


Reflek Nathan menarik kerah baju David "Apa maksud mu Hah! kau jangan menggurui ku, apalagi ikut campur urusan ku dengan Alea."


"Sabar dulu Bro! nggak enak dilihat orang." David menarik kedua tangan sahabatnya. "Kita bicara baik-baik, Oke?!"

__ADS_1


Nathan duduk kembali seraya membuang nafas kasar "Berulang kali aku bertanya dimana Alea!"


"Alea tidak mau ikut bersama ku, ia pergi naik taksi saat melintas didepan."


"Kenapa kau biarkan Alea pergi begitu saja, Hah! Aku percayakan kau untuk menjaganya bukan membiarkan dia pergi!"


"Sorry bro!"


"Dasar bodoh! Nathan menggeprak meja, hingga dua cangkir kopi airnya berjatuhan. lalu ia beranjak dari duduknya dan saat ingin melangkah pergi, David menahannya. "Mau kemana Natd!


"Tentu saja mencari Alea! kau memang tidak bisa di percaya!" tukasnya seraya melangkah pergi.


"Mau dimana kau mencarinya? Alea sudah berada di tempat yang nyaman." seru David berdiri di belakang Nathan.


Nathan berhenti "Aku tidak akan pernah tenang sebelum melihat sendiri keadaannya. Alea sudah menjadi tanggung jawab ku dan dia akan terlantar di Bali."


David berjalan dan berdiri di samping Nathan "Alea tidak akan pernah terlantar, apa kau lupa, kalau Alea memiliki Paman seorang Dokter, bahkan ia pemilik rumah sakit terbesar di Bali!"


Nathan terdiam, lalu menatap tajam kearah sahabatnya "Kau tahu bukan? Alea justru menghindar dari kejaran Ayahnya sendiri dan menolong ku. jadi aku sangat bertanggung jawab pada hidup kekasih ku. Kalaupun Alea datang kerumah sakit Pamannya, aku akan mencarinya kesana!" Setelah berkata, Nathan berjalan lebih cepat meninggalkan David.


Nathan melangkah cepat untuk menemui Dokter yang menangani Vana.


"Suster, dimana Dokter Arya? David bertanya saat sudah berdiri tepat didepan ruangan Dr Arya.


"Dokter Arya baru saja pulang. Hari ini jadwal nya hanya sampai jam empat sore."


"kalau begitu antarkan saya ke ruangan pasien bernama Nona Alea."


"Baik Tuan, mari ikut saya."


David mengikuti langkah Suster itu menuju ruangan Vana. Hingga langkahnya terhenti di salah satu ruangan khusus yang terlihat nyaman.


"Krekk!!

__ADS_1


"Silakan masuk Tuan."


"Terima kasih sus, saya mau lihat kondisi adik saya."


"Nona sedang tidur, saya permisi dulu."


David mengangguk dan berjalan mendekat. Di tatapnya wajah Vana penuh iba. "Ma'afkan aku Alea, telah membuat mu seperti ini. seharusnya aku tidak kecolongan saat mobil si tua itu menabrak mu."


"Apa yang harus aku katakan pada Nathan bila tahu kondisi mu seperti ini."


"Apakah aku harus memberitahu keluarga Reno Mahesa?! David terus mempertimbangkan semuanya. "Tidak, tidak... keluarga nya tidak boleh tahu, itu sama saja mengantarkan nyawa ku sendiri."


"Mommy...."


"Alea..." kau sudah siuman?! David sedikit takut melihat Vana yang sudah terbagun.


"Aduh kepala ku pusing." Vana terduduk seraya memegangi kepalanya yang sudah di perban.


"Alea.. apa kau baik-baik saja?


Vana mengangkat wajahnya dan menoleh kearah David.


"Kak Vano, kau ada disini?!


"Hah?! Vano? kenapa dia memanggil ku Vano?" gumam nya pelan seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Vana turun dari ranjang dan reflek memeluk David. "Kak Vano, aku kangen kak. Sudah lama kita tidak bertemu."


🙄🙄🙄


@Bersambung


@Untuk para readers qu... Makasih yang masih mau mengikuti karya Bunda. kalau ada yang bilang bosan dan bertele-tele nggak usah di baca, karena bunda menulis buat happy ajah dan menghilangkan jenuh 🤗

__ADS_1


@Oke... happy reading 😍


__ADS_2