Takdir Cinta Twins

Takdir Cinta Twins
Ada apa dengan Davina?


__ADS_3

"Kak Vano, kau ada disini?!


"Hah?! Vano? kenapa dia memanggil ku Vano?" gumam nya pelan seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Vana turun dari ranjang dan reflek memeluk David. "Kak Vano, aku kangen kak. Sudah lama kita tidak bertemu."


"Ak-aku__ bu-kan Va...


"Ceklek!


"Ma'af Tuan, sudah saatnya Nona di berikan obat." dua orang Suster masuk dan menaruh beberapa butir obat serta hidangan.


"Dek, minum obatnya ya. Tapi makan dulu. kakak mau keluar sebentar." tukas David melepas pelukan Vana.


"Aku mau makan asalkan Kak Vano yang suapin."


"Ta-pi__"


"Silakan Tuan bantu suapin adiknya, Nona Alea membutuhkan dukungan keluarga terdekatnya."


Akhirnya David mengangguk "Baiklah!


Suster itu memberikan piring yang sudah berisi sayuran dan daging pada David. "Ini makan sore nya, dan ini buahnya. Setelah itu berikan obat ini."


"Oke, sus!


"Duduk disini Dek, kakak suapin."


Vana menurut dan menerima suapan dari David.


***


"Kring.. kring.. kring...


"Huhf! siapa sih yang telpon malam-malam begini! tukas pria itu kesal, seraya melepas pelukan sang istri dan meraih gawainya yang berada diatas nakas.


"Siapa sayang?


"Robert! Reno duduk bersandar pada kepala ranjang "Ada apa Robert malam-malam begini telpon?'


"Mungkin saja penting mas!


Reno menggeser tombol hijau dan menerima panggilan telpon dari sahabatnya sambil menggunakan speaker. "Ada apa Bert!


"Ren! tolong sampaikan pada Delena. Davina masuk rumah sakit!" tukas pria di ujung telpon dengan suara tercekat.


"Kak Davin sakit apa?" sela Delena yang ikut mendengarkan di samping Reno.


"Overdosis obat!


"Ap-apa! Overdosis obat?! pekik Delena tak percaya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa istri mu overdosis, kau sendiri seorang Dokter!


"Ceritanya panjang."


"Coba jelaskan dulu apa yang menyebabkan Davina over dosis! seru Reno tak kalah terkejut.


Hellan nafas panjang terdengar lirih dari ujung telepon. "Sudah tiga hari Davina didalam kamar tanpa makan dan minum, berulang kali aku memintanya untuk membukanya pintu, Namun ia tetap tidak mau membuka pintu.Terpaksa aku dobrak Pintu kamar dan melihat Davina sudah tergeletak di lantai bersama butiran obat yang berjatuhan.


"Ya Allah kak Davin! teriak Delena sambil membekap mulutnya.


"Lalu sekarang bagaimana keadaannya?!


"Aku tidak bisa menjelaskan di telpon. sekarang datanglah ke Bali!


"Baiklah, aku dan Delena akan berangkat sekarang!"


"Oke, aku tunggu kedatangan kalian!"


Sambungan telpon terputus, Reno memeluk tubuh sang istri yang terlihat syok "Sabar ya sayang."


"Ada apa dengan Kak Davin? kenapa ia sampai overdosis? apakah kak Davin punya masalah sampai bertengkar dengan Mas Robert?"


"Bila ingin tahu kejelasannya, lebih baik kita berangkat sekarang!"


"Iya Mas, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kembaran ku. Almarhum mama selalu bilang, jaga hubungan antara adik dan kakak, karena kami berdua satu rahim dan satu ari-ari. Akupun merasakan apa yang sedang kak Davin rasakan."


"Ya sudah, Mas mau hubungi anak buah kita, agar persiapkan pesawat nya."


"Iya Mas, aku siap-siap dulu ya."


***


Jam sudah menunjukkan pukul empat subuh, Delena dan Reno sudah mendarat di bandara Gusti Ngurah Rai. Mobil sedan hitam yang di tumpangi oleh orang nomor satu di Asia itu meninggalkan bandara menuju Rumah sakit. Hanya menempuh perjalanan setengah jam, mobil sedan itu masuk kedalam rumah sakit elite.


"Malam Tuan." seorang bodyguard membukakan pintu mobil untuk Reno dan Delena. "Silakan ikut bersama saya, Dokter Robert sudah menunggu."


Delena dan Reno melangkahkan kaki panjang nya menyusuri lorong mengikuti dua orang di depannya dan pengawalan dari Bodyguard nya.


"Ceklek!


"Dokter, Tuan dan Nyonya sudah datang." tukas pria berseragam putih-putih.


Robert yang sedang duduk di kursi kerjanya langsung berdiri dan menyambut kedatangan mereka berdua.


"Reno.. Delena.." Robert berjalan mendekat dan merangkul sahabatnya. "Terimakasih sudah mau datang kesini."


"Jangan berterima kasih, kita ini satu keluarga dan harus saling mendukung."


"Apa kabar Dek!" Robert bersalaman dengan Delena.


"Baik kak Robert.

__ADS_1


"Mari silakan duduk."


"Ruangan apa Kak Davin di rawat."


"Ada di ruangan khusus, Dek"


"Kenapa Davina bisa overdosis." Reno menarik salah satu batang rokok dan menyalakan pematik api "Sorry aku merokok."


"Mas, lihat tempat ini rumah sakit."


"Tidak apa-apa Dek, ini rumah sakit Reno juga." tukas Robert membenarkan status Reno sebagai pemilik rumah sakit yang di kelola Robert.


"Antarkan aku ketempat kak Davin!"


"Akan aku antarkan, tapi kalian istirahat aja dulu di faviliun."


"Nggak usah, aku hanya ingin lihat kondisi kak Davin."


"Baiklah, Ayo! Robert beranjak dari duduknya di ikuti Delena dan Reno.


"Dimana Chika? apa dia tidak ada disini?


"Tadi Chika ada disini menemani Davina, aku nggak tega melihat kondisi Chika yang masih syok melihat ibunya overdosis. Sore tadi aku menyuruhnya pulang."


"Kasihan keponakan ku Chika!"


"Ohiya bagaimana keadaan Vano, Vana dan Zidane? tanya Robert di sela langkahnya menyusuri lorong rumah sakit.


"Zidane baik-baik saja, Sejak kejadian penculikan waktu itu kami mengadakan home schooling untuk Zidane. Vano jarang pulang ke mansion dan lebih banyak mengurus perusahaan di luar negeri. Sejak berpisah dari Savira, prilakunya berubah. Vano lebih tertutup dan jadi pendiam."


"Bagaimana dengan Vana? tanya Robert yang pura-pura tidak tahu.


"Anak itu sudah meninggalkan kami, sepertinya Vana lebih memilih hidup bebas dan sudah tidak membutuhkan kami lagi sebagai orang tua! cetus Reno, terdengar ada kekecewaan yang mendalam dari ucapnya.


"Mas! jangan bicara begitu. Zee tetap anak kita dan selamanya tidak bisa digantikan oleh apapun!"


"Kau selalu saja membela Zee, demi laki-laki brengsek itu Zee lebih memilih ikut bersamanya dari pada kita kedua orang tuanya!" seru Reno tak terima


"Zee sedang salah jalan, suatu saat nanti ia akan kembali pulang."


"Sebelah sana tempat perawatan Davina." potong Robert berusaha melerai keduanya.


["Tidak!!! aku mau mati saja, Lepaskan!!!!]


"Itu suara kak Davin! seru Delena yang terkejut dan berlari kearah sumber suara.


"BRAKK!


"Kak Davin!!


"Ya Tuhan... kenapa Kak Davin di rantai seperti itu?!!! pekik Delena membekap mulutnya tak percaya.

__ADS_1


💜💜💜


@Bersambung...


__ADS_2