Takdir Cinta Twins

Takdir Cinta Twins
Kejutan untuk Reno


__ADS_3

Delena merasa rapuh, tubuhnya luruh ke kursi, airmatanya tak terbendung lagi dan berlomba-lomba berjatuhan. Delena menangis sesenggukan dengan guncangan pundak nya yang bergerak turun-naik. Dadanya begitu sesak, ada perasaan sakit dalam hatinya. Mungkin ia salah telah membuat suaminya tidak nyaman, Namun rasa kecewa pada sang suami telah mengalahkan segalanya, apalagi menyangkut soal anak-anaknya, yang pasti ia akan pasang badan. Delena seorang ibu yang baik, perhatian, penyayang dan bijaksana pada anak-anaknya.


"Mas, apakah kau selingkuh?! ucapnya lirih.


"Tidak! aku tidak boleh berpikir terlalu jauh, Mas Reno bukan suami yang mudah tergoda." Delena menghela nafas panjang "Semoga kau bisa di percaya Mas!


Delena menatap ponsel yang sejak tadi berkedip-kedip, ia meraih ponselnya dan membuka pesan masuk berwarna hijau.


["Jam berapa mommy menemui Savira?]


Rupanya pesan dari Vano. Delena mengetik layar datar dan membalas pesan singkat Vano. ["Kemungkinan sore, siang ini mommy temani Zidane belajar, jam 10 guru privat Zidane akan datang."]


["Oke Mom!]


Setelah berbalas pesan Delena beranjak dari duduknya dan melangkah masuk kedalam kamar Zidane yang tadi sempat melihat pertengkaran nya dengan Reno di ruangan makan.


***


Seperti janji Reno, tepat 15 menit lewat sedikit, ia sudah sampai di depan bangunan yang menjulang tinggi, berada di tengah ibu kota. Apartemen elit milik Reno yang berdiri kokoh diantara bangunan mewah lainnya. investasi milik Reno tidak lah main-main, berada di dalam maupun luar negeri, tujuh keturunan pun tidak akan habis harta kekayaan keluarga Mahesa.


Kaki panjang Reno melangkah masuk kedalam lift. Ia menempatkan Sabrina berada di apartemen paling atas. Apartemen khusus miliknya yang sangat luas dari yang lainnya, biasanya Reno gunakan bersama Delena bila bosan berada di mansion. Setiap akhir pekan sepasang suami istri itu akan menginap dua hari di apartemen yang sekelas dengan hotel berbintang lima. Nyaman dan berkelas itulah definisi apartemen milik Reno.


"TING!


Lift terbuka lebar, ia melangkah ke nomor 33B dan berdiri didepan pintu, satu tangannya menekan tombol. Tidak menuggu lama, pintu terbuka lebar dan berdiri wanita cantik berdarah Jepang dengan senyuman sumringah.


"Masuklah Tuan Reno." ujar Sabrina terkekeh kecil. Reno melangkah masuk dan mencium aroma daging panggang BBQ. Sabrina menarik tangan Reno untuk berjalan kearah meja makan yang berada dekat Bar mini minimalis. Aroma wangi daging panggang menguar di Indra penciuman Reno. Di atas meja juga sudah tersedia makanan Japanese Korean Chinese food buatan tangan Sabrina.


Reno terkejut, secepat itu Sabrina membuat menu favorit kesukaannya "kau yang membuat semua ini? tanya Reno tak percaya.


Sabrina mengangguk seraya menarik satu kursi yang terbuat dari stenlis untuk Reno. "Duduklah, kita makan pagi ini bersama."


"Ini sudah pukul delapan, hampir menjelang siang. tetapi... sejak kapan kau masak ini semua? bukankah tadi kau menelponku 20 menit sebelumnya?"


Sabrina tersenyum lembut seraya menaruh satu piring lebar di depan Reno dan menaruh daging panggang, udang, sushi yang terdiri dari nasi yang dibentuk bersama lauk (neta) berupa makanan laut, daging, sayuran mentah atau sudah dimasak. Nasi susyi mempunyai rasa masam yang lembut karena dibumbui campuran cuka beras, garam, dan gula.


"Sudah cukup! ini sudah banyak." Reno menahan tangan Sabrina agar tidak menambahkan berbagai makanan seafood di piring nya.


"Aku ingin kau menikmati makanan buatan ku, sebelum aku kembali ke Jepang."


Kedua alis Reno mengeryit "Kau mau pulang ke Jepang? tanya Reno yang sedikit terkejut dengan ucapan wanita yang duduk di sebelahnya. Sabrina mengangguk seraya memasukkan sushi kedalam mulutnya.


"Bukankah kau ingin tinggal beberapa bulan disini? kau belum satu bulan di Jakarta sudah ingin pulang." tukas Reno, seperti terdengar tak rela bila wanita cantik yang terlihat masih bugar itu harus pulang.


"Banyak urusan di Jepang, Paman ku akan menyerahkan kuil dan perguruan Naga hitam padaku sebagai penerus generasi ke-9."


"Apa kau sanggup mengurus perguruan Naga hitam? bukankah kau pernah bilang akan menyerahkan pada Paman mu sebagai generasi ke-8?"

__ADS_1


"Entahlah, sepertinya Paman Lee mendapat mandat dari ayahku untuk memberikan nya padaku." Sabrina membuang nafas kasar dan meneruskan makan nya hampir habis.


Reno hanya mengangguk sebagai respon "Sabrina!"


"Hmm..."


"Apa kau masih selamanya ingin melajang?" tanya Reno spontan


Deg! seperti ada bongkahan batu yang menghantarkan dada Sabrina. Ucapan Reno bagai menyulut kan api di hatinya. Melihat Sabrina terdiam dengan ekspresi tegang, membuat Reno tak enak hati.


"Ehh, maksud ku, kau akan sempurna bila ada pendamping dan bisa meneruskan perguruan Ayah mu yang juga guru ku." Reno menggaruk alisnya yang tidak gatal karena salah tingkah, ia merasa bersalah dengan perkataannya sendri, yang bisa saja membuat Sabrina sakit hati atau terhina karena penolakan nya.


"Sabrin, ma'af.. jangan salah sangka dengan ucapan ku. aku tidak bermaksud__"


"Tidak apa-apa Ren! potong Sabrina, lalu wanita itu tersenyum.


"Gimana? enak tidak masakan buatan ku? Sabrina sengaja mengalihkan ucapnya agar Reno tidak merasa bersalah


"Kau memang luar biasa Sabrin, wanita mandiri, cantik, memiliki ilmu bela diri dan jago masak. kau difinisi wanita sempurna." puji Reno tanpa sadar, seraya memasukkan daging asap kedalam mulutnya yang membuatnya berdecak nikmat.


"Aku belum pernah makan sepuas dan senikmat ini." puji Reno kembali, membuat wajah Sabrina sumringah dan senyum-senyum sendiri.


"Aku akan menjadi wanita sempurna, bila kau berada di samping ku Ren, menemani aku dan mengurus perguruan Naga Hitam. Tetapi itu tidak lah mungkin, istrimu menempati di posisi pertama di hatimu." gumamnya dalam hati.


"Hey, kenapa melamun? apa yang sedang kau pikirkan? Sabrina menggeleng cepat "Aku memikirkan pulang."


"Hah! Reno menghela nafas panjang "Kapan kau akan pulang? akhirnya Reno menyerah untuk menahan Sabrina pulang.


"Baiklah, aku siapkan jet pribadi ku."


"Tidak usah, aku sudah membeli tiket melalui online."


"Ck! Reno berdecak "Kau tahu bukan? aku paling tidak suka penolakan."


"Dan aku berulang kali di tolak!" sindir Sabrina tersenyum lembut.


Reno langsung terdiam dan mencerna kata-kata Sabrina, ia tahu wanita itu sedang menyudutkan nya. "Aku tidak akan menolak bila saja tidak memiliki istri." gumamnya pelan nyaris tak terdengar, namun Sabrina masih bisa mendengar gumaman Reno.


"Kau tidak usah khawatir, kelak aku akan memutuskan jadi seorang biksuni.


[Seorang biksuni, bhikkhuni (Pāli) atau bhikαΉ£uαΉ‡Δ« (Sanskrit) adalah sebutan bagi seorang perempuan yang ditahbiskan menjadi anggota monastik dalam agama Buddha. Bila yang pria disebut biksu atau bhikkhu]


Mata Reno terbelalak dan menatap tak percaya "Kau jangan bicara seperti itu! apa kau pikir, didunia ini tidak ada laki-laki yang menyukai mu? sebenarnya sudah ada sejak dulu, tetapi kau tidak pernah mau membuka hati untuk pria-pria lajang yang sudah menunggu mu." kesal Reno pada wanita yang sudah menjadi sahabatnya.


"Aku memiliki prinsip dalam hidup ku, menikah atau tidak bagiku sama saja! tukas Sabrina mendorong kursi yang ia duduki lalu membawa piring kotor kedapur.


"Sabrina, bukan maksud ku seperti itu? Reno ikut berdiri dan mengekor wanita itu di belakang nya.

__ADS_1


"Kau marah? tanya Reno saat berada di sisi Sabrina yang sedang mencuci piring.


"Marah? Sabrina terkekeh, menutupi kekesalannya pada Pria yang sudah mencuri hatinya. "Tidak ada gunanya aku marah pada mu Ren! kita ini kan sahabat, harus saling mengerti dan memahami. Sudahlah kita jangan bahas lagi tentang pasangan hidup. Aku ingin fokus pada perguruan Ayah ku."


Reno bernafas lega dan tersenyum lebar "Baiklah, aku harus kekantor untuk menemui Steve, hari ini ia sudah bisa masuk kerja."


Reno berjalan kearah pintu.


"Titip salam untuk Steve!" seru Sabrina, saat Reno hampir membuka handle Pintu.


Reno mengangguk "Tentu saja, akan aku sampaikan." Reno tersenyum, lalu berjalan keluar melewati pintu dan menutup pintu itu kembali.


***


Ceklek!


"Tuan, Nona Savira mengamuk, sudah dua hari ini ia tidak mau makan." ujar seorang suster yang berdiri di ambang pintu.


Kening Vano mengeryit "Sejak kapan ia mulai mogok makan?"


"Setelah asisten Dave tidak pernah mengunjunginya lagi, ia terus menangis dan menanyakan kapan kedatangan asisten Dave."


Vano menarik nafas dalam-dalam dan di hembuskan perlahan "Ya sudah aku yang akan memberikan Savira makan."


Suster itu mengangguk dan meninggalkan ruangan milik Dokter Vana. Semenjak sang Adik menghilang, vano sering mengunjungi rumah sakit "Pelita' dan beristirahat di ruangan kerjanya.


"Lepaskan! aku tidak mau makan."


"Nona, jangan seperti ini, nanti Nona akan tambah sakit." rayu dua orang Suster yang sudah berada ruangan rawat inap gadis cantik dan manja itu.


"Pokoknya aku tidak mau makan atau minum obat. sekarang, kalian keluar dari sini! hardik Vana.


Ceklek!


"Dek!


Masuk pria tampan berpostur tinggi tegap, lalu menghampiri Safira yang berada di tepi panjang dengan wajah memerah menahan amarah yang hampir meledak-ledak.


Vano menatap dua orang suster bergantian untuk memberi kode agar ia keluar dari ruangan rawat inap Safira. Kedua wanita itu mengerti dan mengangguk samar. Setelah dua suster itu keluar dari ruangan. Vano mendaratkan bokongnya di samping Safira.


"Dek, kenapa tidak mau makan, kalau sakit bagaimana, hmm..." ucap Vano lembut seraya merapikan anak rambut Savira yang berjatuhan. Gadis itu tertunduk dalam, ada butiran bening yang sudah lolos dari matanya.


Melihat kondisi Safira yang tidak baik-baik saja membuat Vano iba "Kakak yang suapin ya? ucapnya lembut, jari Vano mengangkat dagu Savira hingga mereka saling bersitatap. "jangan seperti ini Dek, Kakak sakit melihatnya. sungguh kak Vano tidak ingin melihat kondisi mu seperti sekarang. Mana Savira yang ceria dan lincah, mana Savira yang manja, Savira yang membuat seisi rumah kagum atas prestasi sekolahnya. Gadis manja yang cerdas dan lembut." puji Vano.


Savira menundukkan wajahnya dan tak berani menatap netra coklat Vano, kedua tangannya memilin-milin ujung kemeja tidur yang ia pakai.


[Teruntuk para readers ku, pro dan kontra sudah biasa dalam pernovelan. Bukannya bunda mau mengekspor kisah Delena dan Reno kembali, tetapi kisah dua orang kembar ini tak lepas dari cerita Reno-Delena yang berperan sebagai kedua orang tuanya. Novel kisah TWINS ini kan baru di rilis, meneruskannya kisah "SANG MACAN ASIA" jadi tidak mungkin peran Reno dan Delena harus hilang begitu saja. Jadi tolong, biarkan bunda berkarya dan meneruskan kelanjutan TWINS ini sampai tuntas, dan kisah percintaan si kembar akan segera di mulai, okay... Terima kasih banyak pada kalian yang selalu dukung karya BUNDA dan selalu mendoakan kesehatan Bunda, doa yang sama untuk kalian semua para readers ku.. I love you full 😘😘😘]

__ADS_1


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


@BERSAMBUNG....."


__ADS_2