
"Alea!!
TOK! TOK! TOK!
"Buka pintunya, apa kau baik-baik saja?! seru Nathan mulai khawatir, apalagi melihat kekacauan di dalam Villa nya, sungguh yang Nathan takutkan Vana dalam bahaya dengan kondisi kaki lumpuh.
"ALEA! BUKA PINTUNYA!!! teriakan Nathan semakin terdengar keras.
"Ceklek-ceklek!
Mendengar suara pintu di buka membuat nafas Nathan lega, dengan tak sabar ia membuka handle pintu dan terlihat Vana duduk diatas kursi dengan wajah bantal nya.
"Hoaammm..." Vana menguap berkali-kali.
"Alea kau tidak apa-apa?! Nathan meyentuh kursi roda Vana.
"Ada apa sih! ganggu tidur ku saja!" ucap Vana pura-pura polos dan tidak terjadi apa-apa.
Nathan yang melihat Vana dalam keadaan baik-baik saja terlihat bingung, ia berlutut di depan kursi Vana dan menggenggam kedua tangannya "Apa kau tidak mendengar ada keributan di ruangan makan."
Vana menautkan kedua alisnya dan pura-pura menatap bingung pada pria di depannya."Maksud kak Nathan, keributan apa? sungguh aku nggak mengerti maksud kakak!" jawab Vana dan spontan ia menarik tangannya dari genggaman Nathan, saat teringat foto-foto panas Nathan saat satu ranjang dengan suster Lena.
"Tolong! jangan pernah sentuh tangan ku!
Nathan menatap nanar wanita yang masih ia cintai "Maaf! ucapnya pelan seraya berdiri.
"Ternyata kau tidak tahu, kalau tadi ada kejadian di ruangan makan? suster Lena dan suster Anna mendapatkan kekerasan dan pukulan secara brutal dari orang.
"Ap-apa? Vana pura-pura terkejut, matanya membulat sempurna dan ia membekap mulutnya pura-pura tak percaya. "Maaf, mungkinkah aku tertidur terlalu nyenyak, jadi tidak tahu ada pertengkaran atau penganiayaan suster Lena dan temannya." ucap Vana memasang wajah sedih.
"Biarkan saja kau merasa bersalah dan bersedih atas kejadian ini! lagian siapa suruh kau pergi demi orang lain! gumam Vana tentu saja dalam hati.
__ADS_1
"Huft! Nathan membuang nafas kasar dan mengusap wajahnya berkali-kali "Aku bersyukur kau tidak apa-apa, yang terpenting kau selamat dan dalam keadaan baik-baik saja."
"Tentunya aku baik-baik saja, tidak mungkin aku menyakiti diriku sendiri! tukas Vana dalam hati.
"Aku akan hubungi polisi untuk menangani kasus ini, sepertinya sudah di rencanakan seseorang dan kejadian saat aku tidak ada di villa!"
"Apa menurut kak Nath ada orang dalam yang melakukan ini?
"Entahlah, sepertinya ada yang ingin merampok dan suster Lena menjadi korban.'
Nathan berjalan kearah ruangan tamu dan mulai mencari kontak polisi, Vana mengikuti langkah Nathan untuk mencari tahu. "Wah gawat kalau sampai Nathan menghubungi polisi, bisa-bisa aku jadi tersangka utama nya, padahal disini yang bersalah dua wanita ular itu, bisa-bisa tujuan ku untuk berpura-pura ketahuan." Vana mulai berpikir keras dan harus ada ide agar Nathan tidak menghubungi polisi.
"Kak tunggu! jangan dulu telpon polisi!
Nathan menautkan kedua alisnya "Kenapa? bukankah ini tindakan kriminal, aku tidak mau mendapatkan tuduhan pembunuhan."
'Kak, dengarkan aku dulu." Vana mendorong kursi nya semakin dekat "Apakah ada perampokan disini? Coba kakak lihat barang-barang kakak, apa ada yang hilang? tidak kan?" berarti ini tidak ada tindakan kriminal dan pencurian apapun." Vana menoleh kearah suster Lena yang masih tergeletak di lantai. "Lihatlah dua wanita itu, sepertinya mereka habis berkelahi merebutkan sesuatu atau bisa jadi mereka merebutkan pria yang sama."
"Apa mungkin? bukankah suster Anna sudah berkeluarga, apalagi suster Lena sangat dekat dengan Suster Anna." Nathan menggeleng kuat "Sepertinya aku tidak yakin."
"Aku paham maksud mu! perselingkuhan itu memang banyak terjadi, tapi kita juga tidak boleh menghakimi mereka. Biarlah mereka menanggung dosa atas perbuatannya sendiri, kita tak berhak ikut campur."
"Duar! perkataan Nathan seakan membenarkan prasangka Vana. Tiba-tiba hati Vana berdenyut pedih, ada perasaan sakit mendalam dihatinya. Walau bibir berkata tidak mencintainya lagi, tetapi hati tidak bisa di bohongin. Cemburu itu hadir kembali, apalagi saat ia melihat foto-foto mesra Nathan di atas ranjang membuatnya sakit, dadanya begitu sesak "Tes! tanpa wanita itu sadari airmatanya sudah mengalir di pipinya, buru-buru Vana mengusap nya, ia tidak ingin terlihat lemah di depan Nathan, Vana juga tidak ingin Nathan tahu perasaannya.
Nathan menelisik kembali dua suster yang bertugas mengurus kebutuhan Vana saat ini. "Kau memang benar, tidak ada barang-barang yang hilang. Sepertinya dugaan mu benar, mereka berdua berkelahi."
Vana tersenyum samar, ia bisa meyakinkan Nathan untuk tidak melaporkan polisi, sebab tindakannya akan mendapatkan pasal penyiksaan.
"Kalau begitu, kau bawa saja kedua Suster ini kerumah sakit daripada harus lapor polisi."
"Baiklah, aku akan meminta Alvin mendatangkan petugas medis dan mengurus kedua Suster ini." Nathan mengambil ponsel dan menghubungi sahabatnya itu. Dalam panggilan ketiga telpon diangkat. Nathan mulai menceritakan kejadian suster Lena dan suster Anna yang mengalami pertengkaran hingga tragis.
__ADS_1
"Baik lah, aku akan menyuruh petugas medis datang ke villa mu. Terus bagaimana dengan Alea? apa dia baik-baik saja?
"Alea tidak apa-apa, bahkan saat kejadian ia sedang tertidur dan tidak mendengar keributan itu."
"Hmm..." Kelvin nampak berpikir dan seperti ada kejanggalan, Namun ia tepis prasangka itu. "Syukurlah kalau Alea dalam keadaan baik. Secepatnya aku kesana bersama petugas medis."
Sambungan telpon terputus. Nathan mengambil air putih hangat dari dispenser dan memberikannya pada Vana "Minumlah, aku tidak ingin kau hidrasi."
Vana menerima gelas berisi air putih dan meneguknya sedikit demi sedikit.
"Apa kau mau tidur kembali? aku tidak ingin kau sakit. Maaf, aku telat datang, andaikan saja aku tidak pergi semua ini tak akan terjadi." ucap Nathan menyesal.
"kau sungguh baik Nathan, perhatian padaku. Andai kan saja yang berbicara lembut itu bukan kau aku pasti percaya, Namun kau mengucapkan kata-kata ini membuat ku muak!" batin Vana berkata lirih.
"Aku sudah tidak mengantuk, saat kak Nadt mengetuk pintu kamar ku!" Vana mendorong kursi rodanya menjauh dan sudah berada di ruangan tamu.
Vana melihat Nathan memindahkan kedua suster itu di karpet dan menyelimuti nya. Vana melihat gerak-gerik Nathan pada dua wanita yang berpotensi sebagai suster, Namun tidak ada yang istimewa. "Apakah Nathan sengaja berpura-pura di depan ku agar tidak terlihat perselingkuhan nya." Vana membatin "Tapi apa urusanku, dia mau selingkuh atau tidak, bukan urusan ku! umpatnya dalam hati.
Terdengar suara mesin mobil di depan halaman Villa, Nathan gegas berlari keluar dan menyambut Alvin bersama petugas medis yang berada di klinik milik Alvin.
Alvin memeriksa kondisi kedua suster itu. "Gila sangat sadis! cara yang di gunakan orang ini benar-benar di luar nalar! seru Alvin gelengkan kepala. "Sudah pasti ada orang ketiga yang melakukannya."
"Apa maksud mu? bukankah mereka berdua bertengkar dan adu fisik? tanya Nathan mengeryitkan keningnya.
Alvin menarik nafas panjang dan di hembuskan kasar "Dimana Nathan yang dulu, Nathan yang ku kenal jenius dan cerdas. biasanya kau sangat peka menghadapi musuh di depan mu." Nathan terdiam, ia masih berperang dalam hatinya, antar percaya pada partner kerja nya atau tidak.
Pertanyaan Kelvin membangun kan kesadaran nya. Tiba-tiba tatapan Nathan mengarah pada Vana yang sedang duduk di kursi rodanya sambil membaca sebuah buku di tangannya. "Apakah ini perbuatan Alea? Nathan menelan salivanya " Bila memang ini perbuatan Alea, berarti ia sudah tak lumpuh lagi. Tetapi mana mungkin? Alea sedang lumpuh, mana bisa ia melakukan perbutan keji ini dalam keadaan sakit dan kedua kakinya tidak bisa berfungsi." Nathan membatin, ia masih ragu dengan perkataan Alvin merasa dirinya bodoh dan tidak peka dengan kejadian di depan mata.
"Hey! kenapa kau bengong!" Alvin menepuk pundaknya "Ayo secepatnya kita urus mereka berdua, bagaimana bila nyawa mereka tidak tertolong, ini akan menjadi pertanyaan besar dari Keluarga nya dan bisa saja kau sebagai tersangka utamanya."
"Baiklah, cepat urus mereka berdua, mereka harus selamat biar kita bisa mengorek informasi dari mereka." ujar Nathan
__ADS_1
Deg!
Vana yang tujuannya mau ke kamar mendengarkan percakapan Nathan dan Alvin. Vana merutuki dirinya sendiri, Bodohnya Ia melupakan sesuatu, bagaimana bila suster Anna dan suster Lena bangun dari pingsannya, sudah pasti ia akan membongkar semuanya dan dirinya akan ketahuan kalau dialah yang sudah menganiaya kedua suster tersebut.