
Song Yunhyeong dan Kim Jisoo adalah model, penyanyi dan aktor papan atas. Mereka merupakan publik figur yang dielu-elukan masyarakat seluruh dunia. Keduanya selalu mendapat popularitas yang tinggi dan mendapat banyak cinta serta dukungan dari para penggemar.
Pada suatu hari, sebuah konser serta perayaan brand fashion ternama diadakan. Banyak artis, aktor, penyanyi, dan publik figur terkenal lainnya ikut memeriahkan. Kim Jisoo dan Song Yunhyeong menjadi bintang tamu utama acara tersebut. Malangnya, mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Kebetulan Kim Jisoo dan Song Yunhyeong berada di mobil yang sama, bersama kedua manajer mereka masing-masing. Dan sialnya lagi, mereka berdua yang terluka paling parah hingga dinyatakan koma.
Walaupun mereka berdua tidak saling mengenal–hanya sebatas 'tahu' saja, mereka berada di label industri entertain yang sama. Baru kali ini mereka akan bekerja sama di acara besar, tapi insiden mengejutkan terjadi.
Diduga sedang dibawah pengaruh alkohol, sopir mobil yang membawa Song Yunhyeong dan Kim Jisoo serta masing-masing manajer mereka menabrak palang pembatas jalan dan nahasnya lagi mobil yang mereka tumpangi masuk ke dalam parit. Sopir dan manajer luka parah dan segera dilarikan ke rumah sakit. Begitupun Song Yunhyeong dan Kim Jisoo.
Acara konser dan festival brand fashion tetap berjalan walaupun dua orang bintang tamu utama terpaksa tidak hadir karena musibah yang bisa dibilang 'parah'. Banyak penonton, rekan artis lain, dan pengisi acara lainnya yang kecewa. Tidak sedikit model dan aktor yang menjadikan Song Yunhyeong dan Kim Jisoo sebagai role model mereka.
_________
Sudah lima hari Song Yunhyeong dan Kim Jisoo dirawat di rumah sakit dan masih terbaring lemah di ranjang. Ya, mereka berdua koma sejak kecelakaan lima hari lalu dan belum membuka mata atau menggerakkan tubuhnya sama sekali. Rekan dan sahabat satu label menjenguk mereka.
"Sampai kapan mereka berdua akan seperti ini?" Pertanyaan itu terlontar pilu dari mulut seorang Jennie.
"Sudah hampir seminggu tapi tak ada satupun dari mereka yang mencoba untuk sadar."
"Andai saja kita tidak meninggalkan mereka waktu itu." Kata Lisa penuh penyesalan.
"Sekarang semuanya hanya sebatas 'andai'. Kita tidak bisa memutar waktu untuk mengubahnya. Bobby pasrah. Ia menghembuskan nafas panjang–meratapi nasib sial dua orang temannya itu.
"Lihatlah mereka, berdampingan tapi tidak saling sapa. Kita juga dianggap seperti tidak ada. Yunhyeong yang biasanya sangat ramah, jujur saja aku agak rindu dengan kejahilannya."
"Percuma saja kalian mencurahkan apapun pada mereka, tidak akan digubris. Hmm, sangat lucu ketika kita semua cemas disini tapi mereka tetap kukuh memejamkan mata." Kata Chan yang biasanya jarang berbicara.
"Kenapa tiba-tiba aku jadi punya pikiran jika dikehidupan sebelumnya mereka saling mengenal? Maksudku nasib mereka sama! Bahkan Yunhyeong dan Jisoo sama-sama center serta artis idola di negeri ini! Mereka berdua adalah role mode banyak penggemar.."
"Aku bahkan sangat sulit membayangkan jika mereka berdua saling mengenal. Saling sapa saja tidak, apalagi kenal. Haish! Padahal aku melihat mereka berdua sangat cocok." Balas Chan.
Tidak banyak yang bisa dilakukan teman-teman dua korban kemalangan ini. Mereka hanya bisa menunggu, menunggu dan terus menunggu. Entah sampai kapan. "Orang tua mereka kemana?" Tanya Rose dengan kantung mata yang menghitam karena menangis semalaman.
"Aku menyuruh mereka untuk makan di kafetaria rumah sakit. Kasihan, aku yakin mereka jauh lebih menderita dari kita. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya orang tua melihat anaknya dalam keadaan koma." Kata Bobby.
Seseorang masuk dengan membawa beberapa bungkus makanan. Hanya ada satu jenis, tapi tetap saja bisa membantu mengganjal perut mereka yang belum diisi sejak pagi.
“kue coklat untuk masing-masing dari kalian. Tolong habiskan!” kata Mino. “ah satu lagi. Jangan pernah tanya aku masuk lewat mana, yang pasti dengan tidak menerobos kerumunan penggemar dan wartawan di luar sana.”
“terima kasih, hyung!” balas Bobby.
“sama-sama. Apa ada perkembangan?” tanyanya. Hanya gelengan yang ia terima.
__ADS_1
“ya Tuhan.. cepatlah sadar Yunhyeong dan Jisoo! Kalian harus tahu bagaimana teman-temanmu disini terlihat sangat menyedihkan. Cepatlah bangun dan bercanda dengan mereka seperti biasanya.” Kata Mino pada dua orang yang terbaring lemah itu.
“kalian juga jangan terlalu memaksakan diri untuk terus berada disini. Pulanglah! Setidaknya untuk setengah hari saja. Kalian juga akan sakit kalau terus begini. Aku pergi dulu. Ada jadwal penting. Ingat, habiskan. Kalau tidak, kalian yang akan aku habisi. Aku pergi.” Kata Mino sebelum berjalan meninggalkan ruangan.
“hati-hati hyung!” kata Bobby.
Mino adalah artis senior mereka, walaupun selisih usianya tidak jauh, namun ia telah berada di industri hiburan dan model lebih dulu. Mino sangat memperhatikan dan menyayangi juniornya.
“Oppa, bagaimana dengan manager Yunhyeong Oppa?” tanya Jennie.
“patah tulang di tangan kiri. Baru selesai operasi pukul sepuluh tadi.” Kata Bobby.
Mereka makan dengan hening. Tidak ada percakapan diantara mereka selama makan. Setelahnya, Lisa melihat kearah jendela kaca di ruang tunggu luar kamar rawat rumah sakit. Banyak wartawan dan orang-orang berkerumun di bawah.
“astaga! Setelah konser dan bersenang-senang semuanya menjadi seperti ini. Aku bahkan sangat tidak ingin keluar rumah sakit karena wartawan yang selalu ada di lobby 24 jam non stop.” Protes Lisa.
Langit kini mendung. Entah apakah mereka juga dirundung duka. Lima orang itu masih terus menunggu ketidakpastian dari dua orang yang entah kemana nyawanya pergi sehingga berani meninggalkan tubuhnya yang masih bernafas. Mereka bahkan belum sempat melihat wajah kedua orang tuanya masing-masing semenjak itu.
Beep.. beep.. beep…
Suara yang mendominasi ruangan itu kini berubah menjadi mengkhawatirkan secara tiba-tiba. Terlihat garis lurus di dua monitor itu. Sekarang bukan waktunya! Jennie langsung menekan tombol merah disisi ranjang Jisoo untuk memanggil dokter. Lisa pun melakukan hal yang sama. Ia berlari menuju ranjang Yunhyeong.
Tim medis yang baru saja datang langsung memeriksa dua orang itu. Ruangan yang hanya terpisah oleh partisi kaca itu terlihat sangat ramai dan sibuk.
Tambahkan ke 200 joule!” “Clear” “Ambu!” begitulah kira-kira.
Dua korban kemalangan itu menerima CPR dan beberapa kali kejut jantung sampai akhirnya semuanya kembali normal–setidaknya untuk sementara waktu.
“bagaimana dokter?” tanya mereka bersamaan. Kedua dokter tersebut saling tatap, sebelum akhirnya salah satu dari mereka berkata, “kondisi mereka sama persis satu sama lain. Aku tidak yakin mereka akan sadar dalam waktu dekat.”
“dalam kasus mereka berdua, aku pernah menangani hal yang sama dan baru sadar setahun kemudian.” Kata dokter yang lainnya lagi.
“APA?! Satu tahun??” kata mereka serempak.
“apa tidak ada cara lainnya, Dok? Ku mohon lakukan apapun untuk membuat mereka sadar..” Jennie benar-benar memohon.
“mohon maaf kami tidak dapat berbuat banyak dalam kondisi seperti ini. Yang mampu menyadarkan mereka adalah diri mereka sendiri. Otak mereka harus berjuang sendiri untuk memerintahkan tubuhnya untuk bergerak.”
“jika ada sesuatu, segera hubungi kami. Sebisa mungkin kami akan membantu mereka tetap disini.”
Dua dokter itu melenggang ke tempat lain. Betapa frustasi mereka berlima—mungkin bisa dibilang dalam kondisi hampir gila. Jika bisa, mereka bersumpah akan menghajar dua orang itu karena berhasil membuat semua orang merasa khawatir dan iba.
__ADS_1
“Bobby Oppa!” panggil seorang perempuan yang sangat mereka kenal, Eunjin, adik Yunhyeong. “apa mereka baik-baik saja?” tanyanya begitu khawatir.
“jantung mereka berdua sempat berhenti. Beruntung dokter bisa mengembalikan detaknya. Aku bersumpah jika Yunhyeong sudah sadar nanti, aku akan benar-benar memarahinya!”
“astaga Oppa!” Eunjin menjadi semakin gelisah. “apa ayah dan ibuku tahu?”
“tidak. Mereka sedang makan di kafetaria.”
“kumohon siapapun jangan beritahu mereka tentang kondisi barusan. Aku tidak mau ibu pingsan lagi dan ayah gampang sekali sakit jika sudah stress.”
“kami tidak akan mengatakannya kepada siapapun. Kami berjanji.” Balas Bobby.
“ada ratusan penggemar di depan rumah sakit. Sebaiknya kalian temui mereka dulu dan katakan bahwa Yunhyeong Oppa dan Jisoo Eonni baik-baik saja. Jangan buat media berspekulasi yang tidak-tidak. Aku juga melihat media semakin banyak di depan.” Kata Eunjin yang juga mulai frustasi dengan kondisi kakaknya.
“kami tidak bisa. Agensi menyuruh kami untuk diam sampai kondisi membaik.” Timpal Chan.
“Sampai kapan?? Kita semua tidak tahu kapan mereka akan sadar. Semuanya penuh ketidakpastian. Jangan buat mereka semakin menunggu..” Eunjin sudah benar-benar kehilangan kesabaran karena keadaan. “Mereka harus tahu bagaimana kondisi Yuhyeong Oppa dan Jisoo Eonni. Bukan hanya kalian yang khawatir, mereka juga. Setidaknya hibur mereka sedikit saja.”
“baiklah aku yang akan maju.” Kata Jennie.
“Eonni..” kata Rose lirih.
“tidak apa-apa. Eunjin benar. Kita tidak bisa hanya duduk diam disini tanpa melakukan apapun. Setidaknya agar media tidak memberikan berita yang salah.”
“aku ikut dengan Nuna.” Kata Chan.
“tidak perlu. Aku akan mengatasi ini sendiri. Percayakan padaku. Kalian tetaplah disini memantau keadaan.”
“kau yakin?” tanya Chan.
“iya, Chan. Kau tetap disini saja.” Balas Jennie sebelum bergegas menuju lobby rumah sakit.
Persis seperti yang ada dibenak Jennie. Puluhan wartawan sudah bersiap dengan kamera dan alat perekamnya. Ratusan penggemar yang menunggu dengan tangisan yang tidak luntur sedikitpun. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia harus menghadapi wartawan sendirian. Bukan untuk pemotretan Red Carpet tapi memberikan klarifikasi mengenai berita yang simpang siur di masyarakat. Memang sejak kecelakaan, belum ada satupun yang memberikan perkembangan mengenai kondisi Yunhyeong dan Jisoo.
“Bagaimana kondisi terkini Yunhyeong dan Jisoo?” “Apakah mereka baik-baik saja?” “Bagaimana tanggapan mengenai kecelakaan tersebut?” para wartawan itu menyerbu Jennie dengan rentetan pertanyaan. Jennie tidak langsung menjawab. Ia diam sejenak, menarik napas dalam-dalam dan barulah ia bersuara.
“sebelumnya saya mewakili Kim Jisoo dan Song Yunhyeong mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan media, Ikonic dan Blink, dan seluruh masyarakat yang telah mendoakan kesembuhan mereka berdua. Atas berita simpang siur yang beredar, saya mengucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya.” Kata Jennie, membungkuk untuk memberikan hormat pada semua orang. “perlu kalian ketahui bahwa Yunhyeong dan Jisoo masih hidup dan kini mendapatkan perawatan intensif. Dokter dan perawat juga sudah berusaha sebaik mungkin untuk memberikan perawatan yang terbaik.”
“Mengapa mereka berdua masih belum mau memberikan pernyataan langsung?” “apakah mereka mengalami cedera serius?” “Bagaimana dengan kondisi psikis mereka?” para wartawan kembali bertanya. Para penggemar masih terdiam, fokus pada Jennie.
“sampai saat ini masih belum memungkinkan untuk mereka berdua memberikan pernyataan langsung karena.. karena..” Pernyataan Jennie terpotong. Ia merasa tak sanggup memberitau kondisi sesungguhnya dari kedua orang rekannya itu. Dengan ketegaran hati dan air mata yang sudah jatuh di pipinya, Jennie melanjutkan, “Mereka berdua saat ini dalam kondisi koma.”
__ADS_1