Takdir Masalalu Yang Belum Usai

Takdir Masalalu Yang Belum Usai
bab 1


__ADS_3

Tidak ada yang lebih indah baginya selain danau Georukhan, danau yang menyimpan ribuan memori bersama ibunya. Dia seorang putri kerajaan namun kesepian. Benar-benar kesepian. Kemanapun ia melangkah, pengawal akan mengikutinya. Menyebalkan bukan? Untung saja pengawal pribadinya adalah sepupunya jadi ia tidak akan khawatir jika dia akan melapor pada ayahya.


“Soo-ya! Kau sudah berada disini sejak lima jam yang lalu. Kapan kau mau pulang? Aku lelah.” Kata pengawal putri mahkota itu.


“matahari bahkan belum terbenam.”


“ya Tuhan! Matahari baru akan terbenam tiga jam lagi, Yang Mulia Putri Mahkota!”


“Sabar sebentar, Jiwon-a! Aku masih ingin menyapa ibuku.”


“jika tahu aku begini aku tidak akan meminjamkanmu pakaian!” kata Jiwon menyesal. Ya. Putri mahkota itu sedang dalam penyamaran. Ia tidak mungkin akan keluar dari komplek istana dengan masih mengenakan pakaian kerajaan. Bisa-bisa ia dikurung di kamar oleh ayahnya selama sebulan penuh.


Jisoo menoleh kearah Jiwon yang sudah tampak sangat lelah. Ia tersenyum pada sepupunya itu. “sepertinya aku mulai kasihan padamu. Ayo kita kembali.”


“Jangan kasihan padaku! Jika kau masih ingin disini teruskan saja. Aku akan menunggu.”


“aku juga sudah lelah. Ayo pergi!” kata Jisoo sebelum menunggangi kudanya. “mari bertanding! Jika kau yang lebih dulu sampai ke Istana, aku akan memberi jatah makan malamku untukmu.”


“jika tidak?”


“Kau akan menemaniku berkeliling pasar. Be-sok!”


“Lebih baik aku makan Sup Tauge saja seharian penuh.” Kata Bobby meninggalkan Jisoo.


“hei Jiwon-a, hei!”


_________


Hutan yang mereka susuri bukan hutan yang penuh dengan binatang buas tapi juga bukan hutan yang aman. Sering ada pembegalan disana. Tapi keterampilan bela diri Jisoo tidak bisa diragukan lagi. Awalnya ia disiapkan untuk penerus ayahnya. Namun ketika ibunya meninggal lima tahun lalu, ayahnya mengurungkan niat itu alih-alih demi keselamatan demi keselamatan anak perempuan satu-satunya. Keahlian Jisoo dalam memanah dan bertarung bukanlah main-main. Ia bahkan pernah menjadi pemenang kontes pedang dan memanah di kerajaannya. Namun beberapa hari belakangan ini, Ayahnya seperti akan memberi tanda bahwa Jisoo akan diangkat kembali sebagai putri mahkota.


“kapan kau akan menikah?” tanya Jisoo tiba-tiba.


“sedang melantur?” Jisoo kaget dengan pertanyaan Jiwon.


“Haish aku sedang tidak bercanda! Usiamu sudah 27 tahun. Mau kapan lagi?”


“kau sendiri?” Jisoo balik bertanya.


“kau tahu aku, kan?”


“tapi setidaknya temukan yang memang mengerti dirimu. Aku juga sudah tidak tahan melihatmu selalu ada disampingku tapi kau sendiri tidak bahagia.”


“itulah hidup seorang pengawal keluarga kerajaan.” Kata Jiwon sambil tersenyum. “apalagi tidak ada satupun orang yang tahu akan kondisiku sebenarnya. Hanya kau satu-satunya bahkan ibu dan ayahku tidak tahu hal itu.”


“akan kucarikan seseorang untukmu.”


“tidak perlu repot-repot Soo-ya. Aku bahagia dengan hidupku sekarang. Jika sudah waktunya, aku akan mencari sendiri.”


“huuftt..” Jisoo menghembuskan napas panjang. “Kau tidak perlu mencari pasangan berdarah bangsawan. Mungkin saat ini ayahku sudah berencana untuk menjodohkanku dengan pangeran yang entah darimana.”


“pilihan ayahmu pasti yang terbaik. Tidak mungkin seorang ayah memberi seorang anak hadiah yang murah.”


“terbaik untuknya belum tentu yang terbaik untukku. Hanya masalah selera saja.” Jisoo mengelak.


“berbicara denganmu sama halnya berbicara dengan batu. Keras sekali.”

__ADS_1


“aku hanya ingin mencari kebebasan. Jika boleh lahir kembali, aku ingin menjadi orang biasa saja.” Kali ini Jisoo berbicara dengan nada serius.


“pernyataanmu yang terakhir, aku setuju.” Balas Jiwon sebelum tawa mereka pecah.


__________


Mereka masih terus menyusuri hutan hingga sampai di pintu belakang istana. Jisoo mengembalikan kudanya ke kandang, melihat situasi, dan kemudian berlari menuju kamarnya. Ia segera mengganti pakaiannya sebelum dayang-dayang masuk memberinya makan. Pakaian itu selalu ia simpan di tumpukan selimut sehingga tidak akan ada yang tahu dan baru akan mengembalikannya pada Jiwon seminggu kemudian.


Tok.. tok.. tok.., suara ketukan pintu itu lirih namun cukup kuat untuk membuat gema.


“Yang Mulia Tuan Putri Mahkota Kim Jisoo, makan malam sudah siap.” Kata seorang dayang yang memang bertugas untuk mengantar makanan untuk Jisoo.


“Letakkan saja disana. Aku akan mengambilnya setelah ini.” Balas Jisoo yang masih sibuk memasang hanboknya.


“Baik, Tuan Putri. Saya permisi.”


Setelah dayang itu pergi, Jisoo sudah selesai memasang Hanboknya dan mengambil makanan yang sudah disiapkan tadi. Menu hari ini sup tauge (lagi) dan ayam panggang. Setidaknya ada menu yang berbeda dari kemarin. Jisoo hendak memasukkan suapan pertama ke mulutnya namun Jiwon mendobrak pintu kamar Jisoo dengan tiba-tiba.


“Kamchagiya! Ya! Apa kau mau mati?! Mengetuk lebih dulu apa susahnya!” kata Jisoo kesal.


“Yang Mulia Raja.. Abeoji-mu.. sungguh-sungguh akan menjodohkanmu!” kata Jiwon yang langsung membuat dunia Jisoo runtuh seketika. “Mereka dari Gyonggi-do! Sedang dalam perjalanan menuju kemari. Sebaiknya kau siap-siap.”


“Astaga! Apa Abeoji sudah hilang akal? Mengapa semendadak ini?? Tidak bisakah dia membicarakannya dulu denganku?” Jisoo benar-benar marah.


“Tidak ada gunanya kau marah. Para dayang akan segera kemari untuk meriasmu. Aku juga harus mengganti pakaianku.”


“Tahu begini aku tidak menurutimu untuk pulang.”


“Ya! Mana aku tahu, bodoh! Cepat habiskan makananmu dulu.”


“Sedang tidak bernafsu!”


“Aku bahkan tidak peduli!”


“Aku berharap kau juga bisa memilih yang sesuai dengan apa yang kau mau. Jika memang dia tidak cocok denganmu, tolak dengan tegas. Aku pergi. Mereka akan sampai satu jam lagi.” Kata Jiwon yang akan menutup rapat pintu kamar Jisoo dari luar.


“Entah baru pulang dari China, entah dia penguasa tujuh lautan atau apapun itu aku tidak peduli! Mau menikahiku? Dia pikir mudah? Dia pikir aku gila kekuasaan? Hei! Jangan pernah berharap walau sedetik saja!” monolog Jisoo. Ia kesal pada keadaannya. Ia tidak pernah meminta untuk dilahirkan dari keluarga kerajaan karena ia tahu semuanya akan rumit. Ia begitu mirip dengan ibunya.


“Eommoni.. aku harus bagaimana?” kini ia menangis. Jisoo sangat berharap ibunya datang ke kamarnya dan memeluknya.


“Tuan Putri, kami kemari untuk meriasmu.” Kata seseorang dibalik pintu kamar Jisoo.


Segera, ia langsung menyeka air matanya dan menjawab, “baiklah tunggu sebentar.”


Sebelum benar-benar membuka pintu, ia bercermin, memastikan bahwa topeng yang ia pasang benar. Iya. Topeng bahagianya.


Di depan kerajaan, sudah tiba rombongan dari Kerajaan Gyonggi. Seperti pada umumnya, mereka membawa seserahan berupa hasil panen dan perhiasan--yang tentu saja tidak akan pernah digunakan oleh Jisoo. Raja Kim Dong Wook sudah berada di sana, menyambut kedatangan raja yang hendak melamar putri Kerajaan Gwangju untuk putranya, Putra Mahkota Lee Jun Myeon.


“Selamat datang di Gwangju, Lee Ji Sung!” sambut Raja Dong Wook.


Terima kasih atas sambutan meriah. Kami sangat terhormat.” Balas Raja Jisung.


“ini buka apa-apa, Yang Mulia Jisung.”


“Perkenalkan ini putra sulungku, Lee Junmyeon dan putra bungsuku Lee Wonho.” Mereka memberi hormat pada Raja Dongwook, demi formalitas.

__ADS_1


“kemudian ini adalah istriku, Jeon Haerim.”


“Kau tampak sangat anggun, Yang Mulia Ratu Haerim. Mungkin jika istriku masih hidup, ia akan sangat senang bertemu denganmu.”


“Suatu kehormatan bagi kami, Yang Mulia Dongwook mau menerima kami disini.” Kata Ratu Jeon Haerim.


“Kami juga merasa terhormat karena mau melamar putri semata wayangku. Silakan masuk, kami sudah menyiapkan hidangan terbaik kami.”


Jisoo yang masih berada di kamarnya sebenarnya sudah selesai bersolek. Hanya saja ia terlalu berat untuk melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya—meskipun Jiwon sudah membujuk Jisoo sedari tadi.


“Oh ayolah Jisoo! Setidaknya temui mereka sebentar saja. Kau ingin ayahmu menggorok leherku?” kata Jiwon.


“abeoji tidak akan sekejam itu padamu, Jiwon-a.”


“Haish! Jinjja. Harus bagaimana lagi aku membujukmu??”


“tidak perlu membuang tenagamu. Aku tidak akan mau menemui mereka.”


“kalau begini, aku lebih baik pergi sejauh mungkin agar tidak bertemu abeoji, eommoni, dan Yang Mulia!”


Setelah mendengar semua itu tiba-tiba saja Jisoo berteriak kegirangan dan memeluk sepupunya sebentar. “hei! Idemu brilian sekali Jiwon-a, aku menyayangimu.” Jisoo menyeringai.


“Ya! Ide macam apa yang aku berikan?? Aku tidak memberimu ide apapun.”


“Katakan pada Abeojiku jika aku akan menemui mereka besok pagi.” Kata Jisoo sambil sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.


“Mwo?”


“Kenapa?”


“Kau pasti sudah gila! Tidak mau! Abeoji dan Eommoni ku pasti juga sedang berada disana. Aku tidak mau mencari masalah.” Jiwon tetap kukuh pada pendiriannya.


“Oh ayolah.. untuk sekali ini saja. Ya, ya… Kumohon..” Kata Jisoo memohon.


“Haish! Untung saja kau sepupuku. Baiklah. Aku akan bilang pada Yang Mulia. Tapi, apa yang sedang kau lakukan?”


“mengemasi barang-barangku.” Jawab Jisoo santai sambil memasukkan sebagian baju dan barangnya ke dalam tas.


“untuk apa? Jangan bilang kau—“


“katamu lebih baik pergi daripada harus bertemu Abeoji, benar kan?”


“tapi aku tidak pernah menyarankanmu untuk pergi.”


“selagi kau bilang, aku akan menyelinap ke belakang untuk mengambil kuda.”


“Kau benar-benar sudah tidak waras!” Jiwon tidak habis pikir apa sebenarnya yang ada di dalam otak Jisoo saat ini.


“aku akan semakin tidak waras jika berlama-lama di tempat ini. Dan terima kasih atas semuanya. Aku tidak tahu bagaimana aku harus membalas semua jasamu, Kim Jiwon ssi!” kata Jisoo sambil menepuk bahu Jiwon.


Jiwon tampak tak memiliki daya apapun. Jisoo memang keras kepala jika itu berhubungan dengan harga dirinya. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali menuruti perkataan sepupunya itu.


Jisoo sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian milik Jiwon yang ia pinjam. Hanya pakaiannya saja, rambutnya masih tergelung rapi dan ia menutupinya dengan topi. Saat ia hendak menunggang kudanya, sebuah tangan menahan tangannya.


“Aku ikut denganmu.”

__ADS_1


“Apa? Tidak Jiwon. Tetaplah disini! Kau akan dihukum berat jika ketahuan membantuku kabur.”


“aku jauh lebih takut jika terjadi sesuatu padamu.” Kata Jiwon serius. Ia mengeluarkan kudanya dari kandang dan menungganginya. Pakaiannya sama persis dengan yang digunakan Jisoo. “Kajja! Aku akan membukakan jalan.”


__ADS_2