Takdir Masalalu Yang Belum Usai

Takdir Masalalu Yang Belum Usai
bab 8


__ADS_3

Cakrawala sudah terbit, membuat sang Hawa yang tengah tertidur pulas itu mengerjapkan matanya. Jisoo membuka perlahan kedua matanya dan langsung disuguhi sebuah pemandangan yang begitu indah tiada tara. Momen matahari terbit memang tidak pernah ia temui sebelumnya. Ia sangat lega.


Namun yang tidak ia sadari adalah sekarang kepalanya sedang berada diatas paha seorang Adam yang dengan khusyuk menyaksikan keindahan matahari terbit.


Jisoo mencoba bangkit dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia merasa canggung.


"Mengapa kau tidak membangunkanku?"


"Aku melihatmu begitu damai. Aku tidak sejahat itu hingga tega membangunkanmu." Balas Yunhyeong, pandangannya masih lurus ke depan.


"Bukankah kita harus mencari teritip?" Tanya Jisoo.


"Kau ingin mati tergulung ombak?" Kata Yunhyeong, Jisoo tidak paham.


"Maksudmu?"


"Air laut sedang pasang. Mencari teritip adalah hal yang dilakukan saat malam hari."


"Lalu, mengap ayahmu menyuruhku mencari teritip di pagi hari?"


"Msksudnya adalah membelinya di pasar, bodoh. Ayo pergi sebelum mereka benar-benar menutup toko. Aku tidak mau pergi ke laut malam-malam. Lebih baim aku membaca buku di kamar." Kata Yunhyeong dan meninggalkan Jisoo duluan.


"Ya! Tunggu aku." Teriak Jisoo sambil berlari mengejar Yunhyeong yang jaraknya sudah agak jauh darinya.


_________


Suasana di pasar sangat ramai. Tidak ada seorangpun yang diam. Kegiatan tawar-menawar dilakukan dan sebagian binatang seperti domba dan kuda sedang makan rumput di sisi luar pasar.


Jisoo dan Yunhyeong berkeliling mencari penjual teritip untuk membeli beberapa kantong.


"Katakan padaku jika kau tidak nyaman berada disini. Aku akan mengantarmu pulang." Kata Yunhyeong pada Jisoo sembari melihat-lihat beberapa barang sambil terus berjalan.


"Tidak apa. Aku sudah terbiasa dengan suasana pasar bahkan yang lebih ramai dari ini."


"Sungguh? Bukankah kau seorang Putri Mahkota yang tentu saja tidak boleh sembarangan keluar istana?"


"Itulah gunanya Jiwon. Dia selalu membantuku dalam penyamaran."


"Huh? Aku jadi meragukan statusmu yang merupakan seorang Putri." Sahut Yunhyeong mengerutkan dahinya.


"Aku bukan putri pada umumnya." Balas Jisoo yang kemudian menemukan seorang penjual ikan. "Disana. Ayo!" Jisoo menarik tangan Yunhyeong.


Ada banyak binatang laut yang dijual dan teritip juga yang masih sangat banyak dan segar.


"Apa yang kalian butuhkan, anak muda?" Tanya penjual.

__ADS_1


"Tolong bungkuskan teritip dua kantong." Pinta Yunhyeong sopan.


"Baik. Tunggu sebentar." Katanya. Pedagang paruh baya itu memasukkan teritip-teritip tersebut ke dalam dua buah kantong kain dan memberikannya pada Yunhyeong.


"Ini, anak muda."


"Terima kasih." Balas Yunhyeong, ia menyerahkan beberapa keping uang logam pada penjual tersebut.


Mereka tidak melakukan apa-apa lagi dan memilih untuk kembali ke panti. Tetapi di perjalanan pulang, Jisoo melihat ada seorang anak laki-laki menangis seorang diri. Usianya sekitar tiga tahun. Karena tak tega, dihampirilah anak laki-laki itu.


"Hai, kenapa kau menangis?" Tanya Jisoo lembut.


"Eomma meninggalkanku disini.. Katanya.. Eomma tidak menginginkanku lagi dan aku hanya merusak rencana pernikahannya..." Jawab anak itu sesenggukan.


"Siapa namamu?"


"Junkyu." Jawabnya.


"Dimana rumahmu?"


"Aku tidak tahu. Tempat ini jauh dari rumahku."


Yunhyeong menyentuh pundak Jisoo, mengisyaratkan agar ia bisa mengambil alih posisinya.


"Kau sudah makan?" Tanya Yunhyeong, Junkyu menggeleng.


"Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu. Aku sungguh akan membantumu agar kau tidak sendirian lagi." Kata Yunhyeong tulus. Jisoo tertegun. Setelah cukup lama, akhirnya Junkyu mengangguk.


Untung saja jarak pasar dan panti tidak terlalu jauh sehingga Junkyu bisa segera makan. Anak itu tidak melepaskan gandengan dari tangan Yunhyeong dan Jisoo sehingga mereka sekarang terlihat seperti sebuah keluarga.


Banyak orang yang menyapa Yunhyeong. Sudah jelas jawabannya adalah karena Yunhyeong adalah anak dari seorang dermawan di desa ini. Keluarga Song sudah dianggap sebagai anugerah bagi masyarakat desa Gyosan. Sebuah desa dengan pemandangan laut dan gunung yang serasi. Siapapun akan betah berlama-lama disana. Ditambah lagi masyarakat yang ramah dan tulus. Ah, suatu hal terindah yang pernah didapatkan Jisoo.


________


Seperti yang sudah diduga Yunhyeong, kehadiran Junkyu pasti menimbulkan efek kejut bagi seluruh penghuni panti. Junkyu juga terkejut dan bersembunyi dibalik tubuh tegap Yunhyeong tanpa melepas genggaman tangannya pada Jisoo.


"Tidak apa-apa Junkyu-ya, mereka orang baik." Jisoo menenangkan Junkyu namun Junkyu masih tidak mau melepas ngenggaman tangannya pada tangan Jisoo dan Yunhyeong.


"Hyung? Noona? Apa kau bisa menjelaskan sesuatu?" Tanya Junghwan.


"Nanti saja. Sekarang ambilkan makan dan minum untuknya. Kemudian bawalah ke kamarku." Perintah Yunhyeong. Ia memutuskan untuk membawa Junkyu ke kamarnya karena ia tahu Junkyu ketakutan. Ia perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.


"Sebentar, aku akan menata tempatnya dulu." Yunhyeong mengambil sebuah meja lipat dari samping lemarinya dan menatanya disana. Junkyu berdiri disana, menyaksikan Yunhyeong menata tempat untuknya dan masih memegang tangan Jisoo.


Iya. Jisoo.

__ADS_1


Perempuan itu ikut masuk ke dalam kamar Yunghyeong, pria yang akhir-akhir ini membuat jantungnya berdetak dengan begitu kencang.


"Sudah selesai. Kemarilah." Ajak Yunhyeong pada Junkyu yang masih berdiri.


Kamar Yunhyeong sedikit lebih luas dari kamar Jisoo. Ada sebuah lemari dengan banyak buku berjajar disana. Suasananya juga hangat dan nyaman. Kamar ini terlalu rapi pula untuk ukuran kamar pria. Berbanding terbalik dengan kamar Jiwon yang entah tidak bisa lagi dijelaskan dengan kata-kata.


Tak lama, Junghwan datang dengan membawa sup tauge dengan kimchi, nasi putih, sebuah apel dan juga segelas air. Junghwan sangat mengerti kondisi ini dan memilih pergi dari sana secepat mungkin agar tidak membuat anak kecil itu takut.


"Sekarang, makanlah. Habiskan sampai kau kenyang." Kata Yunhyeong. Namun anehnya anak itu tak bergeming. Jisoo dan Yunhyeong saling menatal karena tidak mengerti apa mau Junkyu.


"Mengapa tidak dimakan? Apa kau tidak suka dengan menunya?" Tanya Jisoo, Junkyu menggeleng.


"Aku tidak biasa makan sendiri. Biasanya Appa menyuapiku." Katanya, yang mendapat respon sebuah senyuman dari Jisoo.


"Kalau begitu aku akan menyuapimu." Ujarnya.


Jisoo menyuapinya dengan sabar dan Junkyu juga akhirnya makan dengan lahap. Pemandangan itu disaksikan oleh seorang pria yang sekarang juga ikut tersenyum melihat interaksi mereka. Ia lega karena Jisoo bukan tipe seorang Putri Raja yang manja dan hanya tahu tentang gengsi semata.


"Wah, sudah habis. Pintarnya.." Puji jisoo sembari mengusap kepala Junkyu. Sekarang Junkyu sedang memakan apel yang tadi diberikan.


"Tadi katamu Appa sering menyuapimu. Lalu, kemana dia?" Tanya Yunhyeong.


"Appa meninggal kemarin dan Eomma memilih untuk menikah lagi dan membuangku." Jelasnya.


Yunhyeong paham dengan situasi yang dijelaskan anak usia tiga tahun itu. Ia hanya bisa tersenyum miris. Bagaimana bisa anak sekecil ini menanggung beban yang berat? Yang Yunhyeong pahami pula adalah ibu Junkyu bukan orang baik-baik.


Jisoo merasakan sebuah hujaman yang begitu keras dihatinya. Ia tidak menyangka bahwa diluar sana ada seorang anak yang kurang beruntung seperti Junkyu, dan mungkin ada sebagian orang yang bernasib sama seperti Junkyu. Ditinggalkan dan tidak diinginkan oleh orang tuanya. Seharusnya ia bersyukur karena meskipun ibunya sudah meninggal, ayahnya masih begitu menyayanginya.


Junkyu meletakkan apel yang sudah setengah habis itu di meja, kemudian menatap Jisoo dan Yunhyeong secara bergantian.


"Ada apa Junkyu-ya? Kau ingin sesuatu?" Tanya Jisoo. Junkyu menggeleng.


"Apa kau ingin bermain?" Kini giliran Yunhyeong yang bertanya. Junkyu menggeleng lagi.


"Lalu kau mau apa? Katakan saja tidak perlu malu. Anggap saja kita adalah keluarga barumu."


"Emmm.. Apakah aku bisa memanggil kalian Eomma dan Appa?" Ujar anak kecil itu yang sontak mengejutkan Yunhyeong dan Jisoo.


"Mengapa begitu? Apakah kami terlihat sudah cukup tua?" Jisoo dan Yunhyeong memberinya kode untuk tidak bertanya yang macam-macam.


"Kata Appa, siapapun orang yang baik denganku harus dihormati seperti menghormati orang tua sendiri. Kalian baik padaku, jadi aku mau menghormatimu seperti Appa dan Eomma. Apa bisa?" Tanyanya dengan wajah penuh harap.


Yunhyeong menghembuskan napas panjang sedangkan Jisoo masih terpaku disana. Wajah Junkyu berubah muram ketika tidak ada satupun yang menjawab. Namun seketika Yunhyeong memberi pernyataan yang agak tidak bisa diterima oleh otak Jisoo.


"Tentu. Kau bisa memanggilku dan dia dengan sebutan yang kau inginkan." Kata Yunhyeong.

__ADS_1


________


__ADS_2