
"Setelah ini kau mau apa?" Tanya Yunhyeong pada Jisoo.
"Entahlah. Mungkin akan berlatih panahan."
"Aku juga. Nanti kita berlatih bersama saja."
"Bolehkah Junkyu ikut dengan Eomma dan Appa?" Tanya bocah yang sedang dipakaikan pakaian oleh Yunhyeong.
"Tentu boleh, sayang. Nanti Appa akan ajarkan cara memanah yang benar." Jawab Yunhyeong sambil menoel hidung mungil Junkyu dengan jari telunjuknya. "Kajja!"
________
Orang-orang yang sedang bermain itu kini berfokus pada kedekatan Jisoo, Yunhyeong dan Junkyu. Mungkin jika tidak tahu, orang akan menganggap mereka adalah sebuah keluarga bahagia. Percaya atau tidak, wajah Junkyu seperti penggabungan wajah Yunhyeong dan Jisoo.
"Lihatlah mereka. Sangat serasi. Apalagi Junkyu memanggil Yunyeong Hyung dan Jisoo Nuna dengan sebutan Appa dan Eomma." Kata Donghyuk.
“Jisoo tidak pernah dekat dengan anak kecil dan itu mengapa aku kaget ketika anak itu memanggilnya Eomma. Dia saja masih tidak bisa mengurus dirinya sendiri bagaimana bisa dia mengurus makhluk kecil itu." Protes Jiwon keheranan.
"Sungguh?! Tapi dia terlihat seperti sudah sangat berpengalaman mengurus seorang anak. Kupikir dia punya keponakan atau semacamnya."
"Apanya? Dia tidak punya keponakan yang tinggal di Istana. Hanya ada aku sebagai sepupunya."
"Bisakah kalian berhenti berbicara tentang orang lain? Tidak lihatkah aku sedang sibuk memindahkan buah-buahan sialan ini?" Junhoe menyindir.
"Haish! Ya! Jika kau butuh bantuan, bicaralah. Kebiasaan." Donghyuk membalas.
"Setidaknya kau haris sadar diri."
"Ya! Berhenti bertengkar. Umur berapa kalian ini? Dua belas?" Jiwon melerai. "Mari kubantu, Junhoe-ssi." Jiwon langsung mengangkat sekeranjang penuh buah apel.
_______
"Berdirilah yang tegap. Kemudian tarik busur panah perlahan dan fokus pada sasarannya. Dan.... Lepas!" Kata Yunhyeong yang sedang melatih Junkyu memanah. Panah yang dilesatkan itu melenceng dan membuat Junkyu tampak menyesal.
"Aku tidak mau bermain lagi. Aku tidak bisa memanah."
"Tak apa Junkyu-ya. Perlahan kau pasti bisa. Kau hanya perlu lebih sering berlatih."
"Tapi aku terlihat payah."
"Tidak ada yang terlihat payah jika kau sudah berusaha keras. Kita lanjutkan besok saja ya. Sekarang mari makan siang." Jisoo menenangkan.
"Ayo! Semua orang pasti sudah menunggu kita." Kata Yunhyeong.
Suasana yang tidak biasa kembali didapatkan sejak kedatangan Jisoo dan Jiwon. Seorang bocah laki-laki duduk di samping Yunhyeong. Dia hanya menunduk karena gugup.
__ADS_1
Sementara di dapur, Tae Hee dan Jisoo sedang menyiapkan makanan.
"Bagaimana anak itu? Apa dia betah?" Tanya Tae Hee sembari menuangkan air ke dalam teko.
"Masih perlu sedikit menyesuaikan diri." Balas Jisoo tang menyusun buah ke dalam keranjang.
"Aku belum sempat menyapanya. Aku yakin dia anak yang baik."
"Sangat baik. Dia akan menjadi anak yang berguna nantinya."
"Tentu. Sekarang orang tuanya adalah kau dan Yunhyeong. Aku sangat yakin kebaikan hatinya akan sama seperti orang tuanya saat ini."
_________
"Bagaimana? Apa kau suka?" Tanya Tae Hee pada Junkyu yang sedang disuapi oleh Jisoo. Tidak ada jawaban verbal. Hanya sebuah anggukan kecil sambil terus mengunyah makanan di dalam mulutnya. "Halmoni lega kau menyukainya."
"Junkyu-ya, setelah ini mari ikut paman ke kandang ayam. Kita beri makan mereka. Mau?" Tanya Donghyuk. Junkyu mengangguk senang.
Dia sudah mulai bisa beradaptasi dan tidak takut lagi dengan orang-orang di panti. Yunhyeong dan Jisoo lega melihatnya.
_______
Junkyu sudah bersama Donghyuk. Beberapa orang lainnya pergi ke kamar masing-masing untuk hanya sekedar bersantai. Jisoo dan Yunhyeong di ruang baca. Junhoe dan Jiwon sedang menimba air. Junhoe yang pendiam bekerja sama dengan Jiwon yang banyak bicara. Mereka tidak dekat, hanya saja ini memang tugas mereka.
"Apakah sudah cukup?" Tanya Jiwon terengah-engah.
Mau tidak mau Jiwon harus menurutinya karena dia harus mendapatkan perhatian dari Junhoe. Bukan karena apa-apa. Jiwon hanya ingin sekali berteman dengan Junhoe yang begitu misterius.
"Nah. Sudah." Kata Jiwon ketika berhasil mengisi penuh bak mandi. "Sekarang apa yang harus dikerjakan?"
"Kembali ke kamar masing-masing dan berhenti berbicara." Kata Junhoe pada Jiwon.
Junhoe meletakkan embernya dan berlalu menuju kamarnya, sedangkan Jiwon masih terpaku disana. Jiwon tidak menyangka Junhoe akan berkata seperti itu.
"Ya! Apa salahnya banyak bicara? Aku hanya ingin berteman dengannya." Monolog Jiwon.
Di tempat lain, seorang anak kecil sedang asik memberi makan ayam di kandang dan membantu mengambil beberapa telur dengan salah satu pamannya. Ia tampak menikmati dan senang. Tidak seperti saat pertama dia datang kemari.
"Oke. Keranjangnya sudah penuh dengan telur. Setelah ini kau mau apa? Mau bermain?"
"Ya sudah. Pergilah ke ruang baca. Appa dan Eomma mu ada disana."
Anak kecil itu berlari ke ruangan yang terletak di sebelah ruang makan. Tempat pertama kali Jisoo dan Jiwon bertemu Kyuhyung. Benar saja. Ia mendapati kedua orang tua angkatnya itu sedang fokus dengan buku masing-masing. Jisoo yang sadar akan kehadiran Junkyu, menghentikan kegiatannya kemudian menyuruh Junkyu untuk duduk di sebelahnya.
"Itu apa?" Tanya Junkyu polos.
__ADS_1
"Ini? Buku fiksi."
"Mengapa Eomma melihatnya? Apa ada yang bagus disana?"
"Eomma tidak sekedar melihatnya saja, nak. Tetapi Eomma membaca."
"Bagaimana cara membaca? Junkyu tidak pernah membaca." Katanya polos. Jisoo yang gemas, mencubit pelan hidung Junkyu.
"Junkyu ingin tahu cara membaca?" Junkyu mengangguk. Masih dengan tatapan polosnya.
"Baiklah, Eomma akan mengajarkannya padamu." Jisoo mengambil sebuah kulit kayu tipis dan juga kuas serta tinta. Ia menuliskan sesuatu disana agar Junkyu bisa menirunya.
"Sekarang coba kau goreskan tinta ini dan ikuti bentuk yang Eomma buat tadi." Lanjutnya.
Junkyu mengambil kuas itu dan menggoreskannya disana perlahan-lahan sembari sesekali memperhatikan contohnya. Yunhyeong tersenyum melihat tingkah lucu Junkyu yang sedang konsentrasi. Ia berganti menatap Jisoo yang terlihat sangat bangga pada Junkyu. Kedua orang itu benar-benar terlihat serasi sebagai ibu dan anak.
송준규
Itulah aksara yang dituliskan Jisoo. Ia ingin agar Junkyu bisa menulis dan membaca namanya terlebih dahulu. Ia baru akan mengajari Junkyu membaca ketika usianya menginjak enam tahun nanti.
"Sudah, Eomma."
"Sekarang coba lihat susunan hurufnya. Siot ditambah o dan diakhiri dengan ieung. Maka bacanya adalah Song."
"Song." Sahut Junkyu.
"Pintar. Kemudian disebelahnya ada Jiuet ditambah dengan u dan diakhiri dengan nieun. Bacanya adalah Jun.
"Jun."
"Pandainya! Sekarang yang terakhir. Ada gieok dan ditambahkan dengan yu. Bacanya adalah Kyu."
"Kyu."
"Nah sekarang coba baca dari awal."
"S-song Jun Kyu. Itu namaku."
"Pandainya anak eomma." Jisoo memuji Junkyu dengan bangga.
Tak lama kemudian, Junkyu menguap. Ia merasakan kantuk dan lelah, ia ingin tidur.
"Eomma Junkyu mengantuk." Kata Junkyu pelan.
"Eoh? Ya sudah sekarang Eomma antar ke kamar ya."
__ADS_1
"Tapi Junkyu mau tidur ditemani Eomma."
"Iya nanti Eomma temani Junkyu sampai tertidur. Ayo!" Jisoo membawa Junkyu ke kamar.