Takdir Masalalu Yang Belum Usai

Takdir Masalalu Yang Belum Usai
bab 2


__ADS_3

Mereka pergi kearah barat. Entah kemana tujuannya. Sebisa mungkin sangat jauh dan jika bisa ke luar negeri. Tapi itu mustahil karena Jisoo tidak memiliki apapun saat ini. Hanya beberapa koin emas yang cukup untuk makannya selama satu minggu saja.


Sudah kurang lebih dua jam perjalanan. Mereka berdua memutuskan untuk istirahat di tengah hutan, menyalakan api untuk menghangatkan diri. Sebenarnya sudah hampir musim dingin tapi mereka tidak peduli.


“Aku membawa beberapa buah dari kamarku. Kau mau?” Tawar Jiwon.


“Kau punya apel?”


“Tentu. Ini, ambillah.”


Tidak ada suara apapun kecuali serangga malam dan angin yang berhembus. Jisoo dan Jiwon memutuskan untuk tidur bersandar pada batang pohon yang sangat rindang. Ketika fajar naik, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan panjang mereka menuju negeri antah berantah.


Jiwon masih sibuk memberi makan kudanya. Jisoo sedang menulis sebuah kata di tanah menggunakan sebuah ranting pohon. “Kebahagiaan” begitulah bunyinya. Sesuatu yang sudah ia inginkan sejak lama. Selama hidup ia tidak pernah merasa sangat bahagia dalam hidupnya. Semuanya diatur, tidak ada kebebasan. Ia muak. Untung saja ia memiliki sepupu yang mampu mengerti perasaannya. Jiwon adalah anak dari adik ayahnya—dari istri kedua kakeknya. Mereka sangat baik dan Jisoo merasa keluarga Jiwon jauh lebih mengerti kondisi Jisoo dibanding ayahnya yang hanya mementingkan kekuasaan. Sesekali jika Jisoo merindukan ibunya, ia pergi menemui Ibu Jiwon. Ibu Jiwon memperlakukan Jisoo seperti anaknya sediri. Karena Jiwon juga anak tunggal, ia hampir setiap hari bermain dengan Jisoo ketika mereka masih kecil.


"Soo-ya, ayo kita berangkat." Ajak Jiwon.


Jisoo menunggang kudanya dan mengikuti Jiwon dari belakang. Memang matahari saat ini sudah mulai tinggi. Mereka tidak mau membuang waktu karena mereka yakin Raja sudah mengerahkan orang untuk mencari keberadaan mereka. Mereka terus bergerak menyusuri hutan tanpa henti.


Setelah beberapa hari, sebuah desa yang terlihat cukup nyaman menarik perhatian Jisoo dan Jiwon. Mereka memutuskan untuk beristirahat disana sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan lagi. Mereka singgah ke sebuah tempat makan yang sangat sederhana. Tidak bisa dipungkiri bahwa mereka berdua sangat lapar setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang dan hanya berbekal buah yang mereka makan selama kurang lebih tiga hari ini.


"Huah! Jinjja, ini sangat lezat!" Kata Jiwon dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


Tentu saja Jisoo makan dengan lahap juga namun tetap anggun. Jati diri seorang Putri Mahkota memang tidak bisa dipungkiri lagi seberapa keras ia menyangkalnya.


"Bukankah lebih baik kuta menginap disini malam ini? Mungkin ada penginapan yang bisa kita sewa."


"Ide bagus, Jiwon-a. Tapi dimana itu?"


"Sebentar." Kata Jiwon mencari pemilik kedai.


"Permisi Halmoni, dimanakah aku bisa menemukan penginapan disini?"

__ADS_1


"Tidak ada penginapan disini, nak. Tapi kau bisa datang ke panti asuhan milik keluarga Song. Mereka biasanya memberi tumpangan untuk tinggal sementara bagi pengelana seperti kalian." Jawab pemilik kedai.


"Ah, begitu ya. Bisa tunjukkan dimana tempatnya?"


"Berjalanlah lurus, kemudian sampai di ujung jalan beloklah ke kanan. Ada sebuah komplek rumah yang cukup besar dan ada papan bertuliskan Panti Asuhan. Kau bisa menemui Song Kyu Hyung. Dia adalah pemilik panti asuhan tersebut." Jelas si pemilik kedai.


"Ah, aku mengerti halmoni. Terima kasih banyak."


"Sama-sama."


"Kajja! Aku harus mandi. Tubuhku sudah sangat lengket karena tidak mandi selama berhari-hari." Kata Jiwon.


"Aku akan membayar dulu."


Setelah itu mereka pergi menuju tempat yang dikatakan oleh pemilik kedai tadi. Hari sudah mulai gelap dan memang ini adalah saat yang tepat untuk beristirahat. Ketika mereka berhasil menemukannya, mereka membuka pintu dan memasukkan kudanya. Halaman yang luas dan bunga matahari yang tumbuh indah disana menyambut mereka. Seseorang yang lebih muda dari mereka datang menghampiri.


"Ada yang bisa kubantu?"


"Ah, benar sekali. Ikat kudamu di pohon itu. Setelah itu ikut aku menemui Abeoji." Balasnya ramah.


Mereka masuk kesebuah ruangan yang penuh dengan buku. Tidak semua orang mampu membaca kecuali mereka keturunan bangsawan atau cendikiawan.


"Ada yang bisa saya bantu?" Kata seorang pria yang terlihat tak terlalu tua.


"Kami sedang membutuhkan tumpangan untuk istirahat. Hanya untuk malam ini saja." Jawab Jisoo.


"Darimana asal kalian?"


"Kami berasal dari Gwangju."


"Wah! Jauh sekali. Baiklah kalau begitu. Ada dua kamar kosong yang bisa kalian pakai. Anakku yang akan mengantar kalian." Kata pria itu.

__ADS_1


"Terimakasih banyak." Balas Jisoo antusias.


"Kalau boleh tahu, siapa nama kalian?"


"Kang Jisoo dan Kang Jiwon." Jawab Jisoo, dibalas tatapan tajam dari Jiwon.


"Kalian bersaudara?"


"Iya. Kami adalah sepupu."


"Baiklah kalau begitu. Namaku Song Kyu Hyung. Kau bisa memanggilku Abeoji seperti anak-anak disini. Jangan sungkan untuk meminta apapun pada kami jika kalian sangat membutuhkannya."


"Baik, Abeoji."


"Chanwoo-ya, tolong antar mereka ke kamarnya."


"Baik, Abeoji. Mari ikut saya."


Hanya sebuah ruangan sepetak yang tidak terlalu besar, tapi sangat nyaman dan hangat. Semuanya terbuat dari kayu dan bersih. Sepertinya mereka tidak akan rela meninggalkan tempat ini.


"Selamat istirahat. Oh iya namaku Song Chanwoo. Kalian bisa memanggilku Chanwoo saja dan aku cikup yakin kalian semua lebih tua dariku karena kalian terlihat sepantaran dengan kakakku."


"Kau punya kakak?" Tanya Jisoo.


"Iya. Seorang kakak kandung. Dia sedang ada di kamarnya sekarang. Dia seorang kutu buku."


"Maaf jika lancang, tapi apakah kalian keluarga bangsawan? Maksudku hanya orang dari kerajaan atau cendikiawan saja yang bisa membaca."


"Kami memang keluarga kerajaan. Tapi Abeoji dan Eommoni memutuskan untuk keluar dari silsilah keluarga dan mengasuh beberapa anak yang diterlantarkan oleh orang tuanya."


"Ah begitu ya. Maaf jika aku lancang bertanya."

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Ya sudah aku akan kembali ke kamarku. Sampai jumpa besok, Hyung, Nuna!" Chanwoo berpamitan pada Jiwon dan Jisoo dan kemudian meninggalkan kamar setelah mereka mengganguk.


__ADS_2