Takdir Masalalu Yang Belum Usai

Takdir Masalalu Yang Belum Usai
bab 5


__ADS_3

Perjalanan kembali terasa lebih sebentar. Mungkin karena candaan mereka sepenjang jalan. Junghwan dan Chanwoo benar-benar mirip secara sifat.


"Nuna jauh-jauh datang dari Gwangju untuk apa?" Tanya Junghwan.


"Hanya ingin mengelilingi negeri ini" Jawab Jisoo santai sambil tersenyum.


"Klise." Kata Junghwan sambil mengangkat bahu.


"Aku tahu. Tapi memang begitu menyenangkan." Jawab Jisoo.


"Ya ya ya aku tahu itu. Ah Hyung, bisakah aku meminjam kudamu hari ini? Ada sesuatu yang harus aku lakukan di pasar."


"Apa? Bermain dengan Jihoon dan Jeongwoo? Hari ini kau tidak boleh keluar."


"Yahhh. Kenapa??!"


"Jangan bilang kau melupakan sesuatu". Kata Chanwoo yang membuat Junghwan bingung sesaat.


Chanwoo dan Junghwan bertengkar kecil dan itu membuat Jisoo geli sendiri melihatnya. Ia tersenyum melihat kedua saudara tersebut.


________


Sementara itu matahari akan terbenam. Jisoo dan Jiwon telah siap dengan kudanya masing-masing dan bersiap meninggalkan tempat itu. Sedikit berat bagi Jisoo. Bukan karena ia ingin menetap, tapi semuanya terlalu baik dimata Jisoo. Belum pernah seumur hidupnya ia bebas seperti hari-hari yang ia lalui di panti milik keluarga Song akhir-akhir ini. Sangat bebas dan hangat. Semuanya peduli padanya. Sebelumnya Kim Jisoo hanya hidup dengan terbelenggu peraturan-peraturan kerajaan. Ia bagai hewan peliharaan yang hanya menurut saja. Ia tidak punya suara. Alasannya karena ia perempuan. Konyol!


"Bawa ini. Ada beberapa anggur dan roti yang bisa kalian bawa sebagai bekal." Tae Hee membawakan mereka sebuah bungkusan.


"Kenapa repot-repot?" Kata Jisoo.


"Anggap saja sebagai rasa terima kasihku karena kalian sudah mampir."


"Seharusnya kami yang berterima kasih. Terima kasih." Kata Jisoo sambil memeluk Tae Hee.


"Berhati-hatilah." Tae Hee melepaskan pelukan mereka.


"YA! NUNA, HYUNG. ADA PASUKAN BERKUDA DI PINTU MASUK DESA!. Chanwoo datang dengan tiba-tiba sambil berteriak.


"APA?!" Seru Jisoo dan Jiwon bersamaan.


"Bagaimana ini?" Chanwoo semakin panik.

__ADS_1


"Pasukan berkuda? Memangnya kenapa? Mungkin mereka mau berkunjung." Sahut Tae Hee tidak mengerti mengapa Chanwoo berteriak.


"Haish Eomma tidak mengerti." Kata Chanwoo.


"Bagaimana Eomma tahu kalau kau tidak memberi tahu?" Ibu Chanwoo, Tae Hee, kebingungan.


"Tanyakan langsung padanya. Jangan tanya padaku." Kata Chanwoo menunjuk pada Jisoo.


"Ada apa sebenarnya, nak?"


"Ceritanya panjang. Tidak ada waktu untuk menjelaskan." Jisoo memperjelas dengan mimik wajah sedikit panik.


"Kita tidak bisa pergi hari ini. Terlalu berbahaya! Kiya bisa tertangkap dan mereka akan menyeret kita kembali. Tahu begini aku tetap tinggal di Kerajaan saja." Kata Jiwon. Perlahan ia menyesali mengapa ia mau ikut dengan Jisoo kalau akhirnya pasti akan runyam seperti ini.


"Ke-kerajaan? Siapa kalian sebenarnya?!" Tae Hee bernyata, sedikit menyentak.


Jisoo ragu untuk menjelaskan. Ia tidak ingin penyamarannya semakin terungkap.


"Nanti saja menjelaskannya. Kalian ikut aku. Kalian berdua tidak boleh terlihat." Chanwoo menarik tangan Jisoo dan Jiwon untuk membawanya ke tempat yang lebih aman untuk bersembunyi.


Tidak jauh. Hanya di dalam sebuah lumbung penyimpanan hasil panen. Cukup aman untuk bersembunyi. Tapi belum cukup menjamin mereka untuk tidak ketahuan. Semoga saja tidak.


"Kalian tetaplah disini. Aku akan menangani semuanya. Kalian tenang saja." Kata Chanwoo sebelum meninggalkan lumbung.


"Paman pasti hanya terpaksa. Kahu tahu itu." Kata Jisoo menenangkan Jiwon. Padahal ia sendiri panik.


"Ya! Apa yang kalian lakukan disini?" Kata seseorang. Itu Yunhyeong. Suaranya cukup kencang dan bisa terdengar hingga keluar lumbung. Tanpa berpikir panjang, Jiwon langsung menarik tangan Yunhyeong dan membekap mulut lelaki itu dengan tangannya.


"Kalau kau mencoba membuka mulutmu, kau akan membunuh kita semua." Kata Jiwon pelan di telinga Yunhyeong.


Yunhyeong mencoba berontak, namun sialnya Jisoo membantu memegangi tangannya agar tidak berontak.


Tenaga perempuan ini kuat sekali. Sial. Batin Yunhyeong.


Di gerbang seluruh penghuni panti tengah sibuk menghadang para pasukan berkuda. Seorang pemimpin pasukan itu turun dari kudanya dan menghampiri mereka.


"Salam." Sapanya.


"Siapa kalian dan ada perlu apa kalian kemari?" Tanya Kyu Hyung.

__ADS_1


"Kami datang dari Gwangju untuk mencari dua orang tahanan yang kabur dari istana kami." Jelas pimpinan pasukan tersebut.


"Seperti apa rupa orang itu, Tuan?"


"Seorang pria dan wanita berusia kira-kira 27 tahun. Mereka juga menunggang kuda warna hitam dan coklat. Mungkin itu saja. Apa Tuan melihat mereka di sekitar sini?"


"Mereka memang menginap disini semalam." Kata Kyu Hyung. Raut muka Chanwoo seketika lemas setelah Appa-nya memberitahu yang sebenarnya.


"Dimanakah mereka sekarang tuan? Kami harus membawa mereka kembali agar tidak meresahkan."


"Mereka sudah pergi siang tadi. Ke arah barat. Jika kalian ingin mengejar, sebaiknya cepatlah. Sebelum mereka jauh menghilang." Kyu Hyung berbohong. Syukurlah. Chanwoo bernapas lega.


Pimpinan pasukan tampak ragu oleh jawaban Kyu Hyung. Ia mendekati Kyu Hyung dan menatapnya tajam.


"Bisakah kami berkeliling sebentar? Kami hanya ingin memastikan kau dan keluargamu aman.


"Mohon maaf Tuan Pimpinan Pasukan, tapi kalian tidak diizinkan untuk masuk lebih jauh lagi." Tae Hee mencoba menghalangi.


"Memangnya ada masalah apa dengan rumah kalian?" Pimpinan Pasukan mulai curiga.


"Kotoran kuda." Chanwoo menyahut tiba-tiba.


"Kotoran kuda?"


"I-iya kotoran kuda. Kami belum membersihkannya. Jadi sebaiknya kalian jangan masuk ke belakang."


"Kau yakin?"


"Tentu. Kami sedang membuat kompos untuk dijual. Tapi kalau kalian memaksa, tak apa aku akan mengantar dengan senang hati. Aku juga akan mengajarkanmu membuat kompos dari kotoran kuda." Chanwoo benar-benar berpikir keras untuk itu.


Wajah dari pimpinan berubah jijik dan ia segera berpamitan untuk kembali mengejar targetnya, walaupun sebenarnya mereka berdua masih ada di dalam sana. Sandiwara ‘kotoran kuda’ tadi berhasil menyelamatkan Jisoo dan Jiwon. Man of The Match!


Yunhyeong masih bagaikan sandera sampai Chanwoo datang. Kondisi sudah aman sehingga sudah saatnya mereka untuk keluar.


"Pimpinan itu agak menyebalkan!" Kata Chanwoo kesal. "Untung saja aku berhasil menghalanginya masuk."


"Dia adalah Pimpinan Yang." Sahut Jiwon. "Percayalah orang itu jauh lebih menyebalkan dari yang kau tahu."


"Sekarang kalian harus menjelaskan semuanya. Jangan terus bersembunyi dibalik identitas palsu." Chanwoo menyuruh mereka untuk menjelaskan pada semua penghuni panti agar tidak terjadi salah paham setelah ada pasukan. berkuda tadi.

__ADS_1


"Tunggu. Identitas palsu?" Yunhyeong penasaran.


"Baiklah. Aku dan Jiwon akan menjelaskan semuanya. Mari kita menemui yang lain." Ajak Jisoo.


__ADS_2