Takdir Masalalu Yang Belum Usai

Takdir Masalalu Yang Belum Usai
bab 3


__ADS_3

Jisoo susah berbaring namun tidak dapat memejamkan matanya. Sedangkan di ruangan sebelah, Jiwon sudah terlelap dengan sangat nyenyak. Meskipun Jisoo sangat membenci menjadi Putri Mahkota, namun dia tetaplah seorang anak. Ia memikirkan bagaimana keadaan Abeojinya saat ini. Dia pasti mencari keberadaan anaknya–meskipun dia tahu Abeojinya tetap akan menghukum Jisoo jika ia berhasil menemukannya.


Tok.. Tok.. Tok.. “Nuna, ini Chanwoo. Aku kemari membawakan selimut untukmu.”


"Ah baiklah, Chanwoo-ssi. Terimakasih." Katanya setelah menerima selimut yang cukup tebal itu.


"Eommoni menyuhku untuk memberi kalian selimut ini karena diluar sudah mulai dingin. Milik Jiwon hyung sudah kuberikan jadi jangan khawatir."


"Terima kasih."


"Sama-sama. Maaf mengganggu malam-malam begini."


"Tak masalah. Selamat malam." Jisoo menutup pintunya. Namun seketika terbesit dipikirannya untuk sesuatu yang agak beresiko.


Ia membuka puntu kamarnya dan mencari Chanwoo yang belum jauh meninggalkan kamarnya.


"Song Chanwoo-ssi!" Panggilnya dan yang punya nama menoleh. Ia kembali menghampiri Jisoo.


"Ada apa Nuna? Kau butuh sesuatu?" Tanya Chanwoo.


"Aku butuh bantuanmu. Boleh?" Kata Jisoo serius.


"Tentu saja. Apa itu Nuna?"

__ADS_1


"Bisakah kau merahasiakan keberadaan kami?"


"Bisa saja. Tapi untuk apa?" Chanwoo penasaran dan sedikit curiga dengan Jisoo.


"Apa aku bisa percaya padamu?"


"Tentu saja. Aku tidak akan mengatakan pada siapapun. Janji." Chanwoo meyakinkan Jisoo sambil menaikkan jari kelingkingnya.


"Kalau begitu masuklah sebentar. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu."


Jadi, bagaimana Nuna?" Tanya Chanwoo setelah masuk dalam kamar Jisoo.


"Aku mohon kau tidak membocorkan kepada siapapun mengenai hal ini." Jisoo harus memastikan jika Chanwoo benar-benar bias menjaga rahasianya.


"Sebenarnya aku kabur dari rumahku di Gwangju. Jika ada pasukan berkuda yang mencariku, katakan saja pada mereka kalau kau tidak pernah melihat kami berdua."


"Baiklah." Chanwoo mengangguk setuju. Tapi tiba-tiba ia penasaran siapa Jisoo dan Jiwon sebenarnya.


"Tapi tunggu dulu. Pasukan berkuda? Di negeri ini yang bisa membeli kuda hanya para bangsawan. Tunggu. Tidak mungkin kau mencuri!?" Suara Chanwoo sedikit meninggi. Ia mencurigai Jisoo.


"Sstt! Jangan keras-keras. Aku tidak mencuri, bodoh! Apakah tampangku seperti seorang penjahat?!" Jisoo cemberut.


"Kang Jisoo-ssi, jelaskan padaku sebenarnya kau ini siapa?" Tanya Chanwoo yang sudah sangat kebingungan.

__ADS_1


"Aku adalah seorang Putri Mahkota. Setidaknya sampai detik ini." Jelasnya tanpa kebanggaan.


"Wah Daebak! Jinjja daebak.." Chanwoo terkagum sambil menutup mulutnya.


"Menurutmu itu luar biasa?" Sahut Jisoo datar.


"Tentu saja. Seorang Puteri Raja datang ke desa kami. Suatu kehormatan bagi kami Yang Mulia!" Kata Chanwoo sambil membungkuk yang langsung dicegah oleh Jisoo.


"Tidak perlu seperti itu. Sebentar lagi gelarku akan kulepas. Aku tidak ingin menjadi bagian dari kerajaan lagi."


"Kenapa? Bukankah itu sesuatu yang membanggakan? Menjadi putri raja adalah luar biasa."


"Tidak ada yang lebih baik selain menjadi biasa-biasa saja. Jangan panggil aku apapun selain namaku. Margaku sebenarnya adalah Kim. Tapi tetap panggil aku Kang Jisoo setidaknya selama aku disini. Tolong rahasiakan ini semua termasuk pada Abeojimu."


"Siap, Yang Mulia Putri Jisoo."


"Haish. Jangan keras-keras. Kau akan membangunkan semua orang. Cepat kembali ke kamarmu! Aku tidak ingin kau terlibat dalam masalah."


"Baiklah. Selamat malam Nuna."


"Selamat malam."


Jisoo sudah kembali berbaring dengan menggunakan selimut pemberian Chanwoo. Hangat. Mungkin itulah yang membuat mata Jisoo semakin memberat saat ini. Ia berusaha melawan namun tidak berhasil. Pada akhirnya ia harus mengalah pada rasa lelah dan kantuknya yang terbantahkan, Jisoo pun masuk ke dalam alam mimpinya.

__ADS_1


__ADS_2