
Oper padaku!" "Jaga pertahanan!" "Tendang! Yak. Gooolll" Suara-suara itu membangunkan Jisoo dari tidurnya. Ia mengusap matanya perlahan, meregangkan tubuhnya dan sedang mengumpulkan keinginan untuk keluar menghirup udara segar.
Beberapa orang sedang bermain sepak bola di sana. Jisoo yang melihat dari jendela kamarnya langsung keluar melihat. Pemandangan yang hampir tidak pernah ia dapat selama hidupnya. Ia duduk di teras depan kamarnya dan memandangi betapa bahagianya mereka. Bahkan ketika ia masih kecil tidak ada seorangpun teman yang ia miliki. Hanya Jiwon selaku sepupunya saja yang menjadi teman bermainnya.
"Sudah bangun?" Tanya seorang wanita yang terlihat belum terlalu tua. Cantik. Sangat cantik. Ia memberikan senyuman yang sangat indah pada Jisoo. "Maaf aku kemarin tidak sempat menyambutmu. Apa Chanwoo sudah mengantar selimut untukmu?"
"Sudah. Terima kasih banyak." Balas Jisoo.
"Ini. Minumlah selagi hangat." Wanita yang sudah pasti ibu dari Chanwoo itu menyerahkan segelas minuman hangat pada Jisoo. Diterima, tapi Jisoo ragu untuk meminumnya. "Ini teh bunga Krisan. Baik untuk kesehatanmu." Jisoo pun tersenyum dan menyeruput tehnya.
"Terimakasih." Kata Jisoo sesudah menenggak tehnya.
"Kudengar kau dari Gwangju?" Tanya ibu Chanwoo. Jisoo mengangguk.
"Kemana tujuanmu?"
"Entahlah. Aku hanya ingin mengelilingi negeri saja." Jawab Jisoo.
"Namaku Lee Tae Hee. Aku istri dari pemilik panti asuhan ini. Kau?" Wanita itu memperkenalkan diri pada Jisoo.
"Kang Jisoo. Terima kasih karena mau memberiku tumpangan untuk tinggal semalam"
"Kapanpun itu. Kapan kau akan berangkat lagi?"
"Mungkin petang ini. Aku tidak ingin merepotkan kalian lebih lama."
"Jangan berkata begitu. Kami senang, karena untuk pertama kalinya dalam dua tahun ada orang yang mengunjungi kami."
"Chanwoo sepertinya tidak berbohong. Mungkin mereka benar-benar dari keluarga kerajaan. Ibunya sangat cantik." Batin Jisoo.
"Soo-ya, kemarilah." Panggil Jiwon.
"Tidak perlu! Lagi pula aku tidak bisa bermain sepak bola." Balas Jisoo.
"Ya! Aku tidak mengajakmu bermain sepak bola. Mereka punya arena panahan. Mau bergabung dengan mereka?" Kata Jiwon menunjuk Chanwoo dan dua orang lainnya. Seketika Jisoo sangat bersemangat. Memanah adalah hobinya sejak masih kecil. "Kalau begitu tunggu apa lagi? Kesanalah sendiri. Aku belum selesai bermain bola." Jiwon kembali fokus bermain.
"Aku kesana." Kata Jisoo pada Jiwon.
"Aku pergi dulu." Pamit Jisoo.
Sebuah area panahan di halaman belakang, membuat seorang Kim Jisoo sedikit kagum. Meskipun tak seluas milik kerajaan, tapi ia cukup senang.
"Wah! Sepertinya aku akan sangat betah berada disini." Katanya sebelum berlari mengambil panah dan beberapa anak panah.
Sayup-sayup terdengar suara di belakang. Dua orang laik-laki–sepantarannya, sedang membicarakan Jisoo. Mungkin agak aneh bagi mereka, karena Jisoo adalah perempuan yang sangat bersemangat dalam hal panahan seperti anak kecil diberi mainan baru.
"Kau yakin kan dia perempuan?"
"Dari tubunhnya, dia perempuan. Tapi mengapa dia memanah?"
Jisoo memilih tak menghiraukan mereka. Ia fokus pada target. Jisoo membidik target tersebut dan anak panah yang ia lesatkan berhasil tepat sasaran hingga merobek kain rami yang menjadi dasar sasaran itu.
"YA! NUNA. ITU TADI LUAR BIASA!" Seru Chanwoo.
"Mau mencoba?" Tanya Jisoo yang mengagetkan dua pria itu.
"L-lain kali saja." Balas mereka.
"Uahh. Jinjja, kau memang yang terbaik, Nuna!"
"Chanwoo-ya? Kau mengenalnya?"
"Dia dan sepupunya datang kemarin malam. Tapi aku tidak pernah mengira dia akan sehebat ini, wah! Daebak."
"Namaku Kang Jisoo. Aku dari Gwangju. Senang bertemu denganmu."
__ADS_1
"Aku Kim Hanbin."
"Aku Kim Donghyuk."
Kedua laki-laki itu memperkenalkan diri.
"Sudah cukup berkenalannya. Yunhyeong Hyung, Jinhwan Hyung dan Junhoe Hyung kemana?" Tanya Chanwoo.
"Junhoe sedang pergi ke kebun. Jinhwan Hyung sedang menimba air dan Yunhyeong Hyung ada di kandang kuda. Tapi aku melihat ada dua kuda yang bukan milik kita. Apakah itu milikmu, Nuna cantik?" Tanya Hanbin.
"Iya. Itu milikku dan sepupuku."
"Sepupumu? Si gigi kelinci?" Tanya Donghyuk. Jisoo mengangguk.
"Bagaimana kau bisa kemari? Bukankah Gwangju sangat jauh dari sini?"
"Aku hanya istirahat sebentar disini. Petang ini kami akan melanjutkan perjalanan."
"Kenapa cepat sekali? Disini saja, Nuna."
"Benar! Semenjak Chaeyoung memutuskan untuk menetap di China, tidak ada lagi perempuan disini kecuali Song Eommoni." Hanbin menyetujui.
"Jika aku terus berada disini, kalian tidak akan aman." Kata Jisoo, ia menoleh ke arah Chanwoo yang memang tahu sesuatu tentangnya.
"Mengapa tidak aman? Apakah kau penjahat yang sedang kabur dari tangkapan pengawal kerajaan?"
"Ya Hyung! Apakah tampangnya seperti penjahat? Cepat bersihkan halaman depan. Aku sudah selesai memotong rumput."
"Haish. Iya." "Baiklah Nuna cantik, aku harus membantunya mengurus halaman depan jika kau ingin menjenguk kudamu, kandang kuda ada di selatan."
"Terima kasih, Chanwoo-ssi." Jisoo berterima kasih pada Chanwoo yang telah menyelamatkannya dari pertanyaan Hanbin yang sedikit mencurigainya.
"Tidak masalah. Mau ke ke kandang kuda?” Jisoo pun mengangguk.
Suasana disitu membuat Jisoo sangat ingin berlama-lama
Tapi disisi lain ia tidak ingin membahayakan nyawa banyak orang. Terlalu beresiko untuk mereka. Ia tidak ingin mengorbankan nyawa-nyawa yang tidak bersalah. Jika dia harus mati, dia akan memilih mati sendirian saja tanpa perlu mengajak banyak orang untuk mencicipi kematian.
"Nah.. Kita sudah sampai. Kuda kalian ada di kandang nomor lima dan enam." Tunjuk Chanwoo memberi tahu Jisoo–kuda milik Jisoo dan milik Jiwon.
"Kalian punya berapa kuda?" Tanya Jisoo.
"Sejauh ini tiga kuda. Milik Abeoji, milikku, milik Yunhyeong Hyung."
"Kau suka berkuda?"
"Tidak terlalu. Hanya ketika ingin."
Ada seseorang disana, asik memandikan seekor kuda berwarna hitam. Rupanya mirip Chanwoo, hanya saja tampak lebih dingin.
"Hyung!" Panggil Chanwoo pada pria itu.
Pria itu menoleh sebentar kemudian melanjutkan memandikan kuda.
"Hyung, dia yang kemarin malam datang kemari. Nuna, dia Song Yunhyeong, Hyungku."
Jisoo memberi senyum dan membungkuk. Yunhyeong membalasnya kemudian melanjutkan memandikan kudanya.
"Hyung, apa dua kuda itu sudah kau beri makan?"
"Hmmm" Jawab Yunhyeong singkat.
"Haish, Ya! Kenapa menjadi dingin adalah pilihan? Setidaknya beri senyuman."
"Jangan banyak bicara. Cepat susul Junghwan. Dia pergi memetik anggur."
__ADS_1
"Ah iya. Nuna, mau ikut ke kebun anggur? Tidak jauh, hanya sepuluh menit berjalan kaki." Ajak Chanwoo.
"Tentu."
Pemandangan seluruhnya menjadi hutan. Hanya ada jalan setapak sempit yang bisa dilewati. Mereka berjalan perlahan sambil menikmati bunyi dedaunan yang diterpa angin.
"Junghwan siapa?" Jisoo membuka suara.
"Adik kandungku."
"Kukira kau hanya dua bersaudara."
"Tiga. Tapi dia tidak pernah merasakan bagaimana tinggal di kerajaan. Ibuku sedang mengandungnya ketika memutuskan keluar dari kerajaan."
"Memang menjadi bagian dari kerajaan tidaklah mudah. Itu adalah sebuah keputusan yang berani ketika keluargamu memutuskan keluar dari kerajaan." Jisoo terus terang.
"Kau juga. Bahkan kau kabur. Aku baru menemui seorang putri yang sangat pemberani." Puji Chanwoo pada Jisoo.
"Aku tidak seperti yang kau kira. Aku tidak sekuat itu."
"Mana ada manusia yang sempurna? Kekurangan manusia masih bisa dimaklumi selagi tidak terlalu menganggu." Jelas Chanwoo.
"Tidak untuk kerajaan." Kata Jisoo miris.
"Hmm.. Aku tahu. Ketika aku masih menjadi bagian dari keluarga kerajaan, semua keinginanku memang terpenuhi. Tapi sebagai gantinya aku harus menuruti semua perintah raja. Berlatih memanah, berkuda, membaca, dan aku bahkan hampir tidak punya waktu untuk bermain meski dengan Hyungku." Jelas Chanwoo panjang lebar. Jisoo setuju dengan apa yang dikatakan Chanwoo. Chanwoo sangat mirip ibunya. Ramah dan tahu bagaimana cara mencairkan suasana.
"Nah kita sudah sampai."
Terbentang sebuah kebun anggur yang sangat luas dan rindang. Tanaman itu merambat dengan apik di kawat yang terpasang dan sekaligus menjadi atap.
Kebun yang luas itu juga memiliki puluhan pekerja. Sebagian berusia dewasa akhir dan sebagian berusia paruh baya. Hanya ada satu orang disana yang mencolok. Muda dan ceria. Tipikal Chanwoo. Bukan seperti Yunhyeong yang dingin. Dia adalah Song Junghwan.
"Junghwan-a, waktunya kembali." Panggil Chanwoo pada adiknya itu.
"Sebentar lagi, hyung. Hanya butuh beberapa petikkan lagi agar genap tiga kilo." Balas Junghwan.
"Haish! Memangnya apa saja yang dilakukan anak itu sejak pukul enam pagi?" Chanwoo mengomel. "Ya sudah Nuna, kita hampiri saja dia."
Mereka berlari kecil sambil menikmati pemandangan indah buah anggur yang sudah masak. Terlihat cantik dan segar.
"Apa saja yang kau lakukan dari pukul enam tadi? Kenapa lama sekali?" Tanya Chanwoo mendekati Junghwan.
"Aku harus mengantar beberapa buah jeruk dulu ke kepala desa. Hmm ngomong-ngomong siapa dia?" Tanya Junghwan.
"Ah iya kau belum bertemu. Dia Kang Jisoo. Datang dari Gwangju kemarin malam bersama sepupunya."
"Wah, jauh sekali. Aku Song Junghwan. Senang bertemu denganmu." Kata Junghwan mengenalkan dirinya.
"Senang bertemu denganmu juga, Song Junghwan-ssi."
"Jangan begitu. Panggil Junghwan saja. Kau tampak jauh lebih tua dariku."
"Dia seumuran Hyung." Sahut Chanwoo.
"Wah, sungguh? Kau tampak lebih muda darinya. Hyungku tampak lima tahun lebih tua karena tidak pernah tersenyum. Menyebalkan." Junghwan sedikit tertawa.
"Ya sudah ayo cepat." Kata Chanwoo.
"Abeonim! Milikku sudah penuh. Aku akan letakkan disini. Aku harus kembali." Junghwan berteriak.
"Baik, junghwan-a, katakan pada eomma-mu terimakasih untuk kimchi-nya." Kata pekerja di kebun.
"Ne, Abeonim. Selamat tinggal." Junghwan pamit pada Bapak pekerja di kebun. "Kajja!" Kata Junghwan yang sedang membawa bungkusan.
________
__ADS_1