Takdir Masalalu Yang Belum Usai

Takdir Masalalu Yang Belum Usai
bab 7


__ADS_3

Kebiasaan lama seorang Kim Jisoo–menatap langit-langit hingga bosan sambil memikirkan sesuatu yang acak. Kali ini ia memikirkan ayahnya. Jujur saja ia sedikit merindukannya, namun ia tidak bisa terus-menerus membiarkan dirinya dikekang oleh sang ayah. Ia ingin hidup layaknya anak muda pada umumnya. Ia berharap ada suatu alat yang bisa menghubungkan dirinya dengan sang ayah dari jarak jauh. Tentu saja itu mustahil baginya.


Sudah lewat tengah malam tapi tetap saja Jisoo tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar-putar tentang banyak hal. Biasanya jika, tidak bisa tidur, ia akan pergi ke kamar ayahnya dan memintanya untuk memeluk tubuh Jisoo hingga terlelap. Atau ketika ibunya masih hidup, ia akan meminta ibunya untuk menyanyikan sesuatu untuknya hingga ia bisa tertidur. Kali ini siapa yang ia mintai pertolongan untuk itu? Jiwon? Yang ada Jisoo hanya akan mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari sepupunya itu.


Brak!


Terdengar suara yang membuat Jisoo tersentak. Apa itu pencuri? Jisoo yang siaga langsung mencari sesuatu yang bisa membantunya sebagai alat perlindungan. Ia mengintip dari celah jendela kamarnya kemudian keluar untuk mencari pencuri itu. Jisoo sudah membawa kayu di pundaknya dan bersiap untuk memukul siapapun yang berani memasuki area panti asuhan ini. Ia melihat sebuah bayangan dan mengikutinya perlahan. Jisoo melihat bayangan itu, tapi anehnya bayangan tersebut berjalan santai layaknya orang biasa, tidak mengendap-ngendap seperti pencuri. Ia mendekati pria itu dan bersiap untuk memukul kepalanya dari belakang, namun pria itu menoleh dan mengagetkan Jisoo balik. Jisoo lega karena orang itu salah satu penghuni panti.


"Ya! Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" Tanya Jisoo sambil memegangi dadanya karena jantungnya berdebar kencang.


"Kau yang sedang apa malam-malam begini? Untuk apa kayu itu?" Bukannya menjawab, Yunhyeong malah bertanya balik.


"Kukira kau pencuri."


"Tidak ada pencuri di desa ini. Kembalilah ke kamarmu. Bukankah kau harus pergi mencari teritip besok pagi?"


"Bukankah kau yang akan menemaniku besok? Sebaiknya kau juga kembali ke kamarmu.. Apa kau tidak kedinginan?" Tanya Jisoo yang kini sedikit memeluk tubuhnya.


"Bukan urusanmu." Ia berlalu meninggalkan Jisoo.


"Ya! Song Yunhyeong." Seru Jisoo


"Kenapa lagi?"


"Kau mau kemana?"


"Kenapa ingin tahu sekali, hah?"

__ADS_1


"Aku tidak bisa tidur. Bolehkan aku ikut denganmu?" Kata Jisoo akhirnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa tengah malam begini. Dia bukan tipe orang yang suka berdiam diri.


"Tidak boleh." Elak Yunhyeong.


"Ayolah.."


"Tidak."


"Kumohon..." Pinta Jisoo sambil memasang wajah memelas.


Yunhyeong yang sebenarnya agak kesal akhirnya luluh dan membiarkan perempuan itu mengikutinya.


"Terserah. Tapi jangan mengacau atau melapor pada Eommoni dan Abeoji."


"Janji." Kata Jisoo sambil menodongkan jari kelingkingnya yang tentu saja tidak ditanggapi oleh Yunhyeong.


"Kenapa kita tidak naik kuda saja?" Kata Jisoo yang terengah-engah.


"Kau ingin membangunkan seisi panti?" Kata Yunhyeong sarkas.


"Jika kau bilang sejak awal kau akan ke tempat seperti ini, aku akan memilih tinggal di kamar saja." Jisoo sedikit menyesal.


"Siapa yang memaksa tadi? Mengapa sekarang menyalahkanku? Kau diam atau kembali ke panti sendirian?"


"Haish! Menyebalkan." Katanya lirih.


"Aku dengar, Kim Jisoo." Balas Yunhyeong. Mau tidak mau, Jisoo harus terus berjalan karena tidak mungkin dia kembali ke panti sendirian.

__ADS_1


Yunhyeong sudah sampai di puncak dan duduk. Jisoo yang baru sampai diam sejenak dan dengan serakah menghirup udara yang sudah ia buang sejak pertama kali menaiki perbukitan itu.


"Apa yang menjadikanmu rela untuk lelah seperti ini? Menaiki bukit saat tengah malam dan tidak ada apapun disana." Protes Jisoo.


"Duduklah dan tetap tenang. Kau akan tahu jawabannya setelah merasakannya sendiri." Kata Yunhyeong sambil terus menatap langit malam.


Jisoo duduk sesuai dengan perintah Yunhyeong dan mengikuti apa yang pria dingin itu lakukan. Ia tahu jawabannya ketika baru sedetik duduk disana. Bintang-bintang yang bertebaran itu sungguh menyihir siapapun yang memandanginya. Ini adalah kali pertama baginya bisa memandangi indahnya malam.


"Hampir setiap malam aku kemari hanya untuk melihat mereka." Kata Yunhyeong sambil menunjuk bintang-bintang di langit malam. "Ketika kecil, aku tidak bisa keluar dari istana. Kemanapun aku pergi, akan selalu ada lima orang pengawal yang mengikutiku. Saat malam hari, raja melarang kami semua untuk keluar dari istana karena alasan keselamatan. Beruntung ibu memberontak dan memutuskan keluar dari istana. Aku yakin kau juga merasakan hal yang sama."


"Hmm.. Bedanya, Sang Raja adalah ayahku dan aku adalah penerus utama kerajaan itu. Dan.. Beruntung sekali kedua orang tuamu masih utuh. Eommoni-ku sudah meninggal, Yunhyeong-a."


"Eommoni dan Abeoji terancam tidak bisa menikah karena perbedaan status." Jawab Yunhyeong.


"Maksudmu?"


"Ayahku adalah rakyat biasa, sedangkan ibuku adalah penerus kerajaan. Seharusnya anak ibuku adalah calon putra mahkota, namun karena ibu melanggar peraturan kerajaan, hak itu dicabut dan berpindah pada anak dari selir raja." Jelas Yunhyeong panjang lebar.


"Aku tidak tahu jika kehidupanmu sepelik itu."


"Beruntung kami sudah bebas dari sana. Aku juga senang bisa tinggal bersama anak-anak panti. Selama aku masih di kerajaan, aku sama sekali tidak punya teman."


Mereka menikmati malam itu dalam diam dan tanpa disadari, Jisoo kini tengah tertidur di pundak Yunhyeong. Ia memandanginya sebentar dan tersenyum. Ia membaringkan Jisoo di pahanya dan menyelimutinya dengan jubahnya karena dia tahu Jisoo kedinginan.


Jisoo adalah perempuan pertama yang dekat dengannya selain ibunya. Lebih tepatnya perempuan yang memaksanya untuk dekat. Dia memiliki sifat yang lebih seperti laki-laki daripada seorang Putri Kerajaan tapi entah mengapa aura anggun itu tidak bisa lepas darinya.


"Kau terlihat kuat, Kim Jisoo. Tapi aku sangat tahu kau adalah orang yang harus diberi perlindungan." Ucapnya sambil membenarkan rambut Jisoo yang jatuh ke wajah cantiknya. "Aku sedikit menyukaimu, tapi aku belum bisa mencintaimu. Setidaknya untuk saat ini." Katanya sebelum benar-benar menyandarkan tubuhnya pada batang pohon dan tertidur.

__ADS_1


________


__ADS_2