Takdir Masalalu Yang Belum Usai

Takdir Masalalu Yang Belum Usai
bab 11


__ADS_3

Junkyu sudah berbaring di kamar Jisoo. Ia memejamkan matanya sambil mendengarkan suara merdu Eomma-nya. Lagu pengantar tidur itu membuat mata Junkyu semakin berat dan akhirnya benar-benar tertidur.


Jisoo sedikit mengingat kenangan di memorinya saat ia masih kecil. Dulu, ibunya juga sering bernyanyi pada waktu dia memulai tidurnya. Ia ingat betul jika ibunya tidak menyanyi saat ia ingin tidur, Jisoo akan menangis dengan kencang dan mencari ibunya.


Junkyu sudah tertidur pulas. Jisoo memandangi wajah polos anak itu dan mengelus pelan rambutnya.


"Kasihan sekali kau, Nak. Mengapa ibumu tega membuang anak setampan dan sepandai dirimu? Eomma berjanji akan menjagamu dan merawatmu seperti anak Eomma sendiri. Eomma ingin kau tumbuh menjadi anak yang semakin pintar, baik hati, dan bijaksana." Katanya dengan penuh kasih sayang.


Tanpa disadari, Jisoo juga ikut tertidur bersama anaknya. Hingga ia sadar ketika bangun, langit sudah mulai gelap. Ia juga kaget melihat Yunhyeong yang sedang duduk membelakangi pintu kamar Jisoo.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Jisoo.


"Kau terlambat makan malam. Eommoni menyisakan makanan untukmu dan Junkyu."


"Astaga. Maafkan aku. Aku tidur terlalu pulas!"


"Tak apa. Aku tahu kau lelah. Sekarang makanlah. Bangunkan Junkyu juga." Perintah Yunhyeong.


Jisoo membangunkan Junkyu dengan sangat lembut. Ia memukul-mukul sangat pelan ke pipi tembam anak itu. Perlahan tapi pasti, Junkyu terbangun dan Jisoo sudah mendudukkan Junkyu di depan meja makan lipat.


"Biar Appa yang suapi Junkyu, ya? Biarkan Eommamu makan malam." Kata Yunhyeong. Junkyu mengangguk menyetujui.


Sedikit demi sedikit makanan di mangkuk itu habis. Junkyu menyantap habis makanannya tanpa sisa.


"Wah! Sudah habis. Sekarang minumlah yang banyak. Kalau kau masih mengantuk, tidurlah lagi, Junkyu. Lagi pula sekarang sudah malam." Ujar Yunhyeong sambil membereskan peralatan makan dan juga meja.


"Appa!"


"Kenapa, Nak?"


"Malam ini aku ingin tidur dengan Appa." Kata Junkyu dengan polosnya.


"Tentu saja boleh, Junkyu. Nanti akan Appa siapkan tempat tidurmu, ya?"


"Tidak Appa, bukan begitu. Maksud Junkyu, Appa tidur disini bersama Eomma dan Junkyu."


Yunhyeong dan Jisoo saling bertatapan. Ia tak percaya dengan penuturan Junkyu yang agak frontal itu. Ia ingin menolak tapi Jisoo memberi isyarat untuk baik-baik saja. Mau tidak mau, Yunhyeong mengangguk setuju untuk Junkyu.


Yunhyeong bergegas menuju dapur untuk meletakkan piring-piring dan gelas-gelas kosong itu kemudian bergegas kembali menuju kamar Jisoo. Tanpa ia duga ternyata tempat untuknya sudah disiapkan. Tepat berada di sebelah kanan Junkyu.


"Appa, Eomma, selamat malam! Aku menyayangi kalian." Kata Junkyu sebelum melanjutkan tidurnya yang sempat terjeda.


Begitu dirasa Junkyu sudah pulas, Yunhyeong dan Jisoo berusaha untuk memejamkan mata namun mereka tidak mengantuk.

__ADS_1


"Kau belum tidur?" Tanya Yunhyeong.


"Belum. Sepertinya aku tidak bisa tidur lagi."


"Bagaimana dia bisa tidur dengan sangat pulas? Bukankah dia tadi sudah tidur juga?"


"Dia baru berusia tiga hampir empat tahun. Kinerja tubuhnya masih sangat baik. Kita ini sudah tua. Kinerja tubuh juga semakin rapuh." Balas Jisoo lugas.


"Kita belum terlalu tua untuk merasakan kebebasan, Jisoo. Terkadang ada perlunya kita terus berpikir tentang kebebasan agar kita lebih memahami apa arti kehidupan yang sebenarnya."


"Kau benar. Disaat ayahku berpikir akan menikahkanku, aku hanya masih terus berpikir bagaimana agar aku bisa menjalani apapun sesuai dengan yang aku mau."


"Pangeran dari mana yang akan beliau nikahkan denganmu?"


"Dari sebuah kerajaan di Gyeonggi-do."


Seketika Yunhyeong membeku mendengar penuturan dari Jisoo.


______


Pernyataan Jisoo mengenai asal pangeran yang akan dijodohkan dengannya sangat menghantam keras pikiran Yunhyeong. Dia tidak menyangka bahwa kerajaan di tempat Jisoo harus terlibat dalam permainan Kerajaan Gyeonggi.


Kata Jisoo itu adalah sebuah kerajaan di Gyeonggi. Mungkin kalimat yang lebih tepatnya adalah sebuah kerajaan 'dari' Gyeonggi. Kerajaan itu sekarang tak lagi makmur, disana telah diisi oleh orang-orang serakah yang ingin menguasai daratan ini.


"Apa kau tahu siapa nama pangeran yang akan dijodohkan denganmu?" Tanya Yunhyeong yang sekarang sudah mendudukkan badannya.


"Entahlah. Aku belum sempat bertemu dengannya. Aku sudah kabur lebih dulu sebelum bertemu." Jawab Jisoo yang juga ikut duduk.


"Tidak lagi. Mulai sekarang kau tidak boleh kabur." Kata Yunhyeong dengan nada marah. Jisoo bingung dengan sikap Yunhyeong.


"A-ada apa? Apa ada yang salah?"


"Kau harus pulang Jisoo-ya." Kata Yunhyeong penuh penekanan, yang tentu mengejutkan Jisoo.


"Apa?! A-apa maksudmu menyuruhku pulang?? Kau mengusirku?" Jisoo tidak percaya dengan penuturan Yunhyeong.


Karena suara Jisoo terlalu keras, Junkyu agak terusik dari tidurnya. Ia bergerak tak nyaman namun Jisoo dengan sigap menenangkannya kembali.


Yunhyeong merasa ia harus menjelaskan sesuatu pada Jisoo. Entahlah, dia tiba-tiba sangat bertanggung jawab atas keselamatan kerajaan Jisoo. Ia menyeret Jisoo keluar. Agak kasar memang, tapi itu dilakukan agar Jisoo mau mendengarkan penjelasannya.


"Aw sakit! Lepaskan tanganku!" Jisoo berontak.


"Jika kau tidak tenang, tanganmu akan bertambah sakit." Balas Yunhyeong yang masih menarik tangan Jisoo dan membawanya ke lapangan. Dia harus berbicara empat mata dengan Jisoo agar menghindari kesalahpahaman dari penghuni panti lainnya.

__ADS_1


"Hei! Apa yang kau lakukan? Kau benar-benar akan mengusirku?!" Kata Jisoo dengan nada meninggi.


"Jika kau ingin kerajaanmu selamat, maka pulanglah." Yunhyeong menyentak. "Peringatkan Raja–Abeojimu untuk tidak berhubungan dengan Kerajaan Gyeonggi."


"Apa maksudmu? Tahu apa kau?" Jisoo benar-benar tidak mengerti.


Yunhyeong membuang napas panjang. Ia bingung bagaimana menjelaskan kepada Jisoo.


"Lakukan saja apa kataku."


"Kau pikir kau si–"


"KERAJAAN ITU ADALAH KERAJAAN TEMPATKU BERASAL!" Kali ini Yunhyeong sangat marah. Jisoo langsung terdiam. Ia tak berani mengucap sepatah katapun.


"Raja dari Kerajaan Gyeonggi adalah Raja Jisung dan Putra Mahkotanya adalah Junmyeon. Mereka bukan orang baik! Mereka berencana akan menghancurkan kerajaanmu secara perlahan." Perjelas Yunhyeong. Jisoo terkejut dengan penjelasan Yunhyeong. Ia tidak menyangka ternyata Yunhyeong memiliki hubungan dengan kerajaan itu.


"Sebenarnya keluargaku tidak mengundurkan diri dari kerajaan, tapi mereka yang mengusir kami. Pemegang tahta yang sebenarnya adalah ibuku, Putri Mahkota Lee Tae Hee–yang seharusnya menjadi Ibu Ratu. Sedangkan Jisung hanya seorang anak dari selir raja." Lanjut Yunhyeong. Jisoo semakin terkejut mendengar kelanjutan kisahnya.


"J-jadi, kau dan keluargamu adalah penguasa sebenarnya?"


"Ya. Paman Jisung, ah tidak! Aku bahkan tidak sudi memanggilnya paman. Bedebah itu meracuni Raja–kakekku, dan dia menuduh ayahku yang meracuninya. Jisung dan antek-anteknya mengusir kami karena mereka tahu bahwa aku adalah kandidat kuat untuk meneruskan Kerajaan Gyeonggi. Mereka membuat seolah-olah kami adalah kami adalah tersangka dan membuang kami." Jisoo tidak tahu harus bertindak bagaimana. Ia tidak tahu bahwa ternyata persoalan ini jauh lebih rumit dibanding dengan yang ia bayangkan.


"Dengan Junmyeon menikahimu, bedebah itu bisa dengan gampangnya mendapat akses ke kerajaanmu dan menghancurkannya secara perlahan."


"Lalu aku harus bagaimana? Aku bingung dan takut." Kata Jisoo yang bingung dengan kondisinya saat ini.


Yunhyeong memegang kedua pundak Jisoo dan menatap matanya lekat. Ia bisa melihat ketakutan Jisoo yang amat sangat. Bukan ketakutan akan sesuatu tapi kekhawatiran yang besar terhadap orang yang ia sayangi.


"Dengar, kau harus pulang setidaknya untuk memperingatkan Abeoji-mu. Kau bisa kembali lagi kesini jika kau sudah menyelesaikan semuanya. Pulanglah bersama Jiwon." Pinta Yunhyeong lembut pada Jisoo, yang kini sudah berlinang air mata.


"Aku akan membantumu dengan memberi peringatan pada kerajaan Gyeonggi. Aku tidak akan membiarkan mereka merebut kerajaanmu, rumahmu." Lanjutnya.


Jisoo masih ragu tapi dia tidak punya pilihan. Sungguh, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika nanti semuanya benar-benar terjadi. Sudah cukup ia kehilangan sosok ibu, tidak lagi dengan ayahnya.


"Berangkatlah besok. Biarkan Junkyu disini bersama yang lainnya. Masih ada Eommoni yang bisa mengurusnya." Kata Yunhyeong.


"Malam ini!" Kata Jisoo tiba-tiba saat Yunhyeong hendak pergi menemui ayahnya. "Aku akan berangkat malam ini. Semakin cepat semakin baik."


"Tapi ka–"


"Tidak masalah. Jiwon bisa diandalkan." Jisoo meyakinkan sambil mengusap wajahnya.


Tak ada yang bisa Yunhyeong lakukan kecuali mengangguk. Ia tahu bahwa Jisoo mirip ibunya. Berani dan berjiwa bebas.

__ADS_1


__ADS_2