
Sudah menjelang siang. Jisoo sedang menemani 'anaknya' di teras sambil melihat Jiwon dan yang lainnya bermain sepak bola. Junkyu tidak mau melepaskan genggamannya dari Jisoo, hal itu membuatnya gemas. Senyumnya tidak luntur sejak tadi.
"Jisoo-ya, anak itu bisa menempati kamar di depanmu. Aku akan bicarakan pada Eommoni." Kata Jiwon.
Junkyu menatap Jiwon ketakutan kemudian menatap Jisoo sambil menggelengkan kepala.
"Tidak perlu, Jiwon-a. Dia bisa tidur di kamarku." Balas Jisoo penuh pengertian.
Jiwon hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Ia tahu Jisoo menyukai anak kecil tapi tetap saja Junkyu orang asing. Asal usul anak itu juga masih sangat kabur dan belum jelas.
"Junkyu-ya, kenalkan dia paman Jiwon. Dia sepupu Eomma." Jelasnya pada Junkyu.
"Eo-eomma?" Gumam Jiwon.
"Tidak apa-apa. Dia tidak jahat. Berikan salam padanya." Perintah Jisoo. Junkyu pun berdiri perlahan, membungkukkan badannya sembilan puluh derajat dan memperkenalkan diri.
"Halo paman, namaku Kim Junkyu."
"Iya Junkyu-ya. Aigoo.. Kau manis sekali. Apa kau ingin bermain?" Tanya Jiwon ramah.
"Jika kau ingin bermain, tak apa. Paman Jiwon akan menemanimu. Eomma akan menunggu disini." Jisoo mencoba meyakinkan Junkyu agar ia ikut bermain. Dia tahu betul jika Junkyu ingin bermain tapi malu-malu untuk mencoba.
Junkyu mengangguk setuju dan digandeng oleh paman barunya untuk ikut ke lapangan. Jisoo tidak berpindah. Ia tetap disana dan melihat Junkyu bermain bersama paman-pamannya. Ia senang melihatnya.
"Dia tampak manis sekali." Kata seseorang tiba-tiba. Itu Kyuhyung Abeoji.
"Aku heran dengan ibunya yang sangat tega membuang anak semanis itu." Lanjutnya.
"Memang terkadang dunia begitu kejam. Seharusnya aku lebih bersyukur karena masih diinginkan oleh keluargaku." Balas Jisoo terdengar miris.
"Jangan menyalahkan diri sendiri. Keputusanmu adalah yang terbaik. Tidak ada yang berhak menghalangi jalanmu untuk menggapai yang kau inginkan." Kata Kyu Hyung mengambil tempat duduk di samping Jisoo.
"Yunhyeong bercerita bahwa Junkyu memanggil kalian berdua Eomma dan Appa. Sepertinya anak itu benar-benar tidak pernah ingin kehilangan orang tua."
"Dia begitu polos, sehingga aku tidak tega menolak panggilan itu. Aku tidak ingin masa kecilnya rusak hanya karena dia tidak mendapat kasih sayang." Jisoo memperjelas. Dia merasa seperti seorang ibu kandung Junkyu yang sebenarnya.
__ADS_1
"Lakukan sesuatu untuk menghilangkan traumanya terhadap orang. Aku yakin dia seperti ini karena didikan orang tua kandungnya. Beri pengertian bahwa setidaknya agar dia nyaman berada disini."
"Baik, Abeoji. Aku akan berusaha."
"Sekarang bantulah Yunhyeong. Dia sedang membersihkan kandang kuda sendirian."
"Baik, Abeoji." Kata Jisoo.
"Eomma! Aku senang bermain." Teriak Junkyu yang kini sudah menghampiri Jisoo.
"Anak pintar.. Bermainlah lagi bersama paman-pamanmu. Eomma akan membantu Appa di belakang."
"Aku mengerti, Eomma." Balasnya sebelum kembali ke lapangan.
Jisoo tersenyum melihat anaknya bersemangat sebelum akhirnya pergi menuju 'Appa' dari Junkyu.
_______
Terdengar jelas suara seorang yang sedang menyapu, tepat dari arah kandang kuda. Jisoo melihat pria itu dengan telaten membersihkan kotoran-kotoran disana.
"Junkyu sedang apa?" Tanyanya tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Sedang bermain dengan yang lainnya."
"Ambilkan jerami di lumbung belakang. Sedikit demi sedikit saja agar tidak terlalu berat."
Jisoo berkerja sesuai dengan yang diperintahkan Yunhyeong. Dia pergi ke lumbung, mengambil sekiranya satu pelukan jerami dan membawanya ke kandang. Ia mengulanginya tiga kali dan sekarang tubuhnya merasakan gatal. Ia menggaruk leher dan tangannya dan sekarang kulitnya terlihat memerah.
"Haish! Mengapa gatal sekali?" Jisoo bergumam sambil terus menggaruk bagian tubuhnya yang gatal. Jisoo tidak menyadari kalau Yunhyeong memperhatikannya sambil menahan tawa. Lucu saja melihat Jisoo seperti anak kecil yang gatal-gatal setelah pergi bermain di ladang.
Entah karena mulai kasihan atau bagaimana, Yunhyeong menghampiri Jisoo dan memberinya seember air bersih untuk membersihkan badannya.
"Ini. Bersihkan badanmu. Debu-debu pada jerami itu pasti membuatmu gatal."
Jisoo mengambil air dalam ember itu dan membilas tangan dan lehernya. Sembari menyelam minum air, ia juga mencuci wajahnya karena seingatnya, dia belum mandi sejak tadi pagi.
__ADS_1
"Uwahh segar! Terima kasih." Ujar Jisoo berbinar.
"Sudah selesai. Kau bisa kembali. Terima kasih Jisoo-ya."
"Benarkah? Apakah tidak ada lagi pekerjaan yang lain? Sungguh aku ingin membantu." Jisoo memohon.
"Mungkin kau bisa memandikan Junkyu. Aku akan mencari pakaian lamaku yang bisa dikenakan anak itu."
"Baiklah." Balas Jisoo sumringah. Baginya, jika itu berhubungan dengan Junkyu, dia akan begitu bersemangat. Yunhyeong yang menyaksikan bagaimana bahagianya Jisoo hanya bisa tertawa dengan begitu lepas. Tawa yang hampir tidak pernah dia keluarkan seumur hidupnya.
"Junkyu-ya, ayo mandi. Aigoo.. Lihatlah badanmu, kotor sekali!" Panggil Jisoo. Junkyu menghampirinya.
"Junkyu tidak mau mandi, Eomma. Junkyu masih ingin bermain." Katanya.
"Nanti setelah mandi, kau bisa bermain lagi dengan paman-pamanmu. Ayo!" Ajaknya sekali lagi. Dan kali ini bocah itu mengangguk.
Jisoo meletakkan peralatan mandi dan melepaskan pakaian Junkyu. Disana ia terpaku melihat luka yang memenuhi tubuh anak itu. Ada begitu banyak bekas seperti luka bakar ringan, bekas sayatan, bahkan bekas cambukan.
Astaga, apa yang mereka lakukan kepadamu nak.. Batin Jisoo.
Dia ingin menangis tapi tidak mungkin. Tidak dihadapan anak ini. Bocah ini masih belum mengerti apa-apa. Jisoo coba mengalihkan perhatiannya dengan segera memandikan bocah yang dia anggap putranya itu agar ia bisa cepat menutupi badan yang penuh dengan bekas luka.
"Eomma tidak pernah memandikanku. Dia selalu marah-marah jika aku memintanya untuk memandikanku, jadi Appa yang memandikanku." Junkyu bercerita.
"Sekarang Eomma-mu sudah tidak ada disini lagi. Hanya ada Eomma, Appa, Haraboji dan Halmoni, serta paman-paman yang menyayangimu. Jika kau membutuhkan apapun, katakan saja." Jelas Jisoo pada anak angkatnya. Junkyu tersenyum mengangguk dan melanjutkan bermain airnya.
Yunhyeong tiba-tiba masuk dengan membawa satu set pakaian yang akan dikenakan Junkyu. Reaksi yang sama diperlihatkan Yunhyeong saat ia melihat tubuh Junkyu. Hanya saja sebelum angkat bicara, Jisoo memberinya kode untuk tidak mengatakan apapun di depan Junkyu. Yunhyeong mengerti dan menghampiri Junkyu dengan tersenyum.
"Segar?"
"Iya, Appa!"
"Ya sudah sekarang ganti bajumu agar kau tidak kedinginan. Appa akan membantumu."
Yunhyeong bertindak sangat telaten. Ia seperti seorang ayah yang sudah memiliki dua orang anak. Begitu sabar dan perhatian. Bukan terlihat seperti pria berumur dua puluh tujuh tahun pada umumnya.
__ADS_1