
Keesokan harinya Riana sudah lupa dengan kegelisahan nya semalam. Dengan cepat ia berlari ke kamar mandi
“cuci muka sama gosok gigi sajalah, nggak usah mandi yang penting pakai parfum, hahaha” Pikirnya dalam hati.
Seperti yang dipikirkannya barusan sesampainya di kamar mandi Riana benar-benar hanya cuci muka dan gosok gigi, lalu bergegas kembali ke kamar berganti pakaian dengan seragam kerja lanjut memakai pelembab muka dan bedak tipis-tipis tidak lupa sedikit polesan lip gloss rasa strawberry.
Di liriknya jam weker yang ada di atas lemari kecilnya.
”Masih ada 10 menit, bisa beli sarapan dulu” gumamnya sendiri
Riana berangkat kerja dengan berjalan kaki, di sepanjang jalan yang dia lewati penuh dengan pedagang makanan, mulai dari bubur sampai makanan tradisional pun lengkap tinggal pilih. Riana berhenti di depan salah satu pedagang langganannya dan membeli satu buah agar-agar santan dan risoles isi kentang dan wortel. Risoles di sini memang berbeda jika biasanya isian risoles dipotong kecil-kecil, kalau risoles kesukaannya ini diisi dengan wortel dan kentang yang sudah dilumatkan hingga halus mirip seperti isian gabin, dipadu dengan bumbu yang sangat cocok di lidahnya, jika di hari normal saat masuk sif pagi Riana bisa membeli dan menghabiskan 3 buah risoles dalam satu kali makan tapi untuk kali ini karna jam sudah mepet dengan terpaksa ia hanya membeli satu buah saja.
Sesampainya di pabrik ternyata atasan sudah mulai menyampaikan brifing pagi, dengan kecewa ia ikut berbaris sambil sesekali mencuri gigitan. Saat ia bekerja mbak larmi si tukang gosip menghampiri nya.
“ Na, tu si anak baru dari kemarin merhatiin kamu terus kyaknya naksir deh” katanya
Riana menengok kearah yang ditunjuk mbak Larmi , pandangan mata mereka bertemu, anak baru itu memberikan senyum terbaiknya, Riana pun akhirnya membalas senyuman itu dan mengangguk, setelah itu ia memutus tatapan mata mereka dan beralih menatap mbak Larmi”
__ADS_1
“Ah masak mbak? Kayaknya nggak deh” balasnya cuek
“eh malah nggak percaya ini anak, liat aja besok pasti deketin kamu” katanya Menggebu-gebu
“ya dilihat aja besok mbak” balas Riana dengan santainya
Tanpa menanggapi apa yang Riana katakan mbak Larmi pergi meninggalkannya dengan dongkol terlihat sekali kekesalan di wajah Mbak Larmi. Sebenarnya Riana bukannya tidak tau, ia juga merasa beberapa minggu ini aja yang terus memperhatikan nya dan Mbak Larmi adalah orang ke sekian yang mengatakan jika si Anak baru terus memperhatikan nya.
Anak baru itu bernama Rian sebenarnya tidak buruk, Riana pun sedikit tertarik padanya, kulitnya putih,tinggi dengan hidung mancung serta sosoknya yang pendiam menambah nilai plus nya tapi penampilan nya yang seperti pria Korea dengan poni khasnya membuat Riana sedikit geli.
Waktu ke waktu silih berganti kini Rian dan Riana semakin dekat selain saling bertukar pesan melalui HP mereka juga kerap kali keluar bersama hanya sekedar untuk makan dan mengobrol. Akhir-akhir ini pun ia juga disibukkan dengan pekerjaan yang menuntutnya untuk lembur 3 kali dalam seminggu, membuat agendanya berantakan, makan dan tidurpun tak beraturan. Seringkali Riana merasa kelelahan jari-jari tangannya sering kram namun tidak begitu ia perhatikan.
“Pak kalo beli es cream nya aja pake cup besar, tapi nggak pake rujak boleh?” Pinta Riana
“Boleh neng” kata bapak penjual Rujak dengan antusias beberapa saat kemudian menyerahkan 1 gelas cup penuh es cream
“Berapa pak? “
__ADS_1
“ 5 ribu aja neng” balas si bapak penjual.
Riana menyerahkan selembar uang kertas 20 ribuan. Saat bapak penjual sedang mencarikan nya kembalian tiba-tiba terdengar seseorang memanggilnya. Suaranya tidak asing namun berhasil membuat Riana bergetar. Ia pun menoleh perlahan berharap hanya salah dengar saja, namun yang diharapkannya nampaknya tidak terwujud.
“Nona Riana” Panggilnya lagi sambil melambaikan tangan
Ya orang itu adalah Sam, salah satu dari daftar nama yang tidak ingin lagi ia temui. Sejenak Riana tertegun dan sibuk dengan pikiran nya sendiri “untuk apa Sam kemari lagi, pasti ada hal yang buruk” pikirnya. Nafasnya memburu Riana tidak mau lagi berurusan dengan orang-orang menyebalkan itu, dilihatnya Sam semakin mendekat ia memutuskan untuk berlari sekencang-kencangnya agar terhindar dari Sam.
“Neng kembaliannya” teriak pedagang rujak
“Buat bapak aja” balasku setengah teriak
Melihat Riana berlari kabur, Sam pun ikut mengejar sekuat tenaga. Namun dipertengahan jalan ia kehilangan jejak Riana, ditengok nya ke kanan dan kekiri tetap tidak menemukan batang hidungnya.
“Si*l” umpat Sam kesal ia merutuki kebodohan nya karna saat ini ia pergi sendiri bahkan lupa tidak membawa anak buah sama sekali.
Disisi Lain Riana yang berada di atas pohon sesekali mengintip ke bawah dengan cemas, Riana sedari kecil sangat hobi memanjat pohon, saat ia berlari tadi ia merasa kebingungan dan tidak menemukan tempat persembunyian yang cocok tanpa diduga ia melihat sebuah pohon talok (orang disini biasa menyebutnya dengan ceri Jawa) yang cukup rindang tanpa membuang waktu dengan lincah nya ia memanjat pohon dan bersembunyi diantara dedaunan yang cukup lebat.
__ADS_1
“Hei, ngapain disitu? “panggil seseorang dari bawah yang berhasil membuat jantung Riana seakan mau copot karna saking terkejut nya.
Setelah melihat siapa yang memanggilnya muka Riana seketika memerah matanya pun menatapnya tajam.