
Kulihat seorang pria tampan dengan muka memerah, terlentang diantara box packing dengan isi yang sudah berhamburan kemana- mana, sungguh pemandangan yang sangat menggelikan.
Aku sangat terkejut sampai- sampai Tidak tahu harus melakukan apa, semua terjadi begitu cepat.
“Mari tuan”kata seorang pria dengan muka pucat yang mungkin saja bawahan dari pria Yang terjatuh sambil membantunya berdiri.
“Siapa yang membuat benda sialan ini menghalangi jalan”Katanya sambil menendang sapuku dengan penuh amarah
“Ma'af pak, saya tidak sengaja” Jawabku gemetar karna ketakutan
“ 20.15 datang ke ruangan ku” katanya dengan kilatan kemarahan yang sama sekali tidak mengurangi ketampanan nya.
“Baik Pak”lirihku
__ADS_1
Tanpa memperdulikan jawabanku pria itu berlalu beserta rombongan nya.
Ku tegakkan kepalaku ternyata hampir semua mata masih tertuju padaku dengan berbagai ekspresi, termasuk Mak Aya yang sudah terlihat suram aku yakin sebentar lagi akan menyemburku seperti yang sudah sudah, dengan cepat aku kembali ke line dan ikut brifing sebelum pulang.
“ Riana awas saja sampe kamu mempermalukan line di depan Pak Farish” Mak Aya memperingatkanku dengan penuh penekanan.
“iya Mak” jawabku menunduk, karena entah mengapa perasaan ku sekarang tiba-tiba tidak enak
“Aku kan juga nggak sengaja mbak, sapunya aja yang jatuh sendiri” sangkalku
“Sudah-sudah, Na kamu nggak usah ikut brifing sana cepetan absen dan pergi ke ruang Pak Farish, jangan sampe Pak Farish nunggu nanti makin salah, aku nggak mau ya sampe namaku ikutan jelek gara-gara kamu” tegas Mak Aya tapi terlihat penuh kekawatiran.
Aku menuruti kata Mak Aya pergi ke mesin absensi tpi tanganku gemetaran. Setelah 2 kali gagal akhirnya berhasil juga. Aku keluar dari gedung produksi menuju kantor gedung utama.
__ADS_1
Lampu jalan yang remang- remang menambah kegelisahan ku, entah mengapa padahal kesalahan yang ku perbuatan bukan kesalahan yang fatal tpi aku merasa ketakutan dan sangat cemas hingga terdengar “duuut.....duuutt” kebiasaan ku saat panik muncul perutku benar-benar mulas sekarang rasanya ingin kentut tanpa berhenti, benar-benar memalukan jika terdengar orang lain untung saja yang lain belum pulang.
Dari jauh Aku melihat bawahan Pak Farish yang tadi sudah pulang. Semakin dekat di gedung utama perasaan ku semakin tidak enak. Sampai di pos security gedung pak satpam menanyakan kepentingan ku, setelah mengisi buku tamu aku dipersilahkan untuk naik ke lantai 5.
Ya karna masih baru gedung ini hanya mempunyai 5 lantai, yang hanya bisa dilewati dengan tangga belum ada fasilitas lift atau sejenisnya.
Aku berjalan di sepanjang tangga dengan waspada disepanjang jalan yang ku lewati tidak ada 1 orang pun yang lewat “ mungkin para staf tidak lembur” pikirku dalam hati.
Sampai di lantai 5 ,aku mengambil nafas panjang dan mengeluarkan nya perlahan setelah merasa agak tenang.Aku mendekat ke arah pintu
Brakk...prang.. Srek... Prang
suara dentuman benda jatuh mengagetkan ku aku yang awalnya hendak mengetuk pintu mlah reflek langsung membuka pintu.
__ADS_1