Tanah Terakhir

Tanah Terakhir
Awal dan akhir


__ADS_3

Apakah kamu tau seberapa luas alam semesta ini? Selain aku tidak ada satu pun yang mengetahuinya. Tapi bila kamu mempelajari tentang isi dunia, kamu akan tau bahwa segala sesuatu mempunyai awal dan akhir. Jadi bila kamu mengenal bumi sebagai tempat pertama yang kamu tau, kenapa tidak bila suatu saat nanti ada tempat terakhir yang akan kamu temukan, dimana setelah ini tidak ada lagi tempat yang lain.


Dan di sini lah mereka tinggal di tanah Abala, di tempat terakhir yang ada di alam semesta. Mereka bernama bangsa Balasi yang tinggal di kerajaan Haladal yang berada di bagian Kutub Utara tanah Abala. Tanah Abala adalah selimut alam semesta yang berbentuk daratan. Daratan yang maha luas yang menutupi seluruh alam semesta. Bayangkan lah ketika manusia berjalan di atas permukaan bola Bumi, bangsa Balasi berjalan di balik permukaan bola yang menutupi alam semesta termasuk bumi.


Legenda mengatakan Bangsa Balasi adalah awal dari kehidupan alam semesta. Dan sampai sekarang bangsa ini masih hidup rukun dan damai di kerajaan Haladal di tanah Abala. Juga dalam cerita rakyat Balasi mengatakan, awal mula kehidupan menyebar adalah ketika sepasang Balasi melanggar aturan yang sudah ditetapkan Sangat Satu. Sepasang balasi ini bernama Madail dan Hadawi, mereka memakan buah pohon Haladal, pohon ini adalah 1 diantara 2 pohon raksasa yang ada di alam semesta yang berfungsi sebagai penghubung poros alam semesta. Dalam kitab suci dikatakan pohon Haladal berada di Kutub Utara Abala, sedangkan pohon Haladil berada di Kutub Selatan Abala.


Sepasang Balasi ini terlempar seketika setelah menelan buahnya. Mereka terlempar menuju pusat alam semesta yang kini dinamai Bumi. Mereka terlempar secara terpaksa karena buah pohon Haladal mengandung kekuatan yang sangat besar yang tidak bisa dikendalikan oleh jiwa dan raga yang masih hidup di tanah Abala. Karena tidak terkendali dan karena mereka tidak ingin mati, akhirnya mau tidak mau mereka melompat mencari tempat dimana mereka bisa mengendalikan kekuatan buah pohon tersebut yaitu di Bumi.

__ADS_1


Tapi karena ini legenda, bangsa Balasi hanya menganggap ini sebagai dongeng belaka dan tidak ada yang percaya bahwa cerita itu adalah nyata.


Tapi, beberapa ilmuan Balasi mulai bersuara dengan berdasar pada ilmu pengetahuan dan mengatakan bahwa cerita itu adalah benar. Diantara ilmuan Balasi tersebut adalah Methas dan anaknya. Dengan bermodalkan teleportscop Methas berhasil melihat pusat alam semesta, yaitu Bumi, walaupun hanya beberapa saat.


Pada mulanya bangsa Balasi adalah bangsa yang sudah sangat maju teknologinya, namun selalu mengikuti aturan Sang Satu sehingga tidak ada satu pun yang berani menyentuh ataupun meneliti pohon Haladal, karena mereka yakin pada aturan bahwa keberadaan pohon Haladal yang terganggu bisa menyebabkan keruntuhan alam semesta atau bisa dikatakan sebagai kiamat. Hingga saat ini mereka percaya itu, tapi pada akhirnya ada beberapa Balasi yang mulai berani mempelajarinya.


Methas adalah salah satu ilmuan yang mempelajari pohon Haladal. Dia menemukan jejak sepasang Balasi yang dahulu pernah ada di pohon itu. Diapun menemukan ranting yang buahnya dipetik, dan dari bekas petikan buah tersebut terpancar jejak lompatan tenaga yang mengarah ke langit. Dari sinilah dia berasumsi bahwa Madail dan Hadawi terlempar menuju pusat alam semesta.

__ADS_1


Banyak bangsa balasi yang menentang teori ini karena dianggap sebagai pelanggaran peraturan yang sudah diberikan Sang Satu. Bahkan Raja Makalat yang merupakan pemimpin kerajaan Haladal menyarankan agar penelitiannya tidak dilanjutkan. Raja Makalat menganggap hal itu bisa mengganggu kedamaian yang sudah berlangsung selama ratusan juta tahun. Raja Makalat khawatir, kosa kata yang sudah hilang itu bisa saja muncul lagi sekarang, yaitu kosa kata "perang".


Raja Makalat berusaha untuk melangsungkan perdamaian bagi semua kota di kerajaan Haladal. Kerajaan Haladal adalah tempat yang maha luas dimana pohon Haladal berdiri, yang disekelilingnya terdapat 100 kota bagian yang sama luasnya. Terlalu luas sehingga belum pernah ada Balasi manapun yang bisa melintasi kerajaan dari ujung ke ujung dalam waktu kurang dari satu tahun, walupun melintasi menggunakan pesawat cahaya sekalipun. Meskipun begitu kerajaan Haladal hanya sepersejuta dari tanah Abala. Sisanya masih perlu dijelajahi dan perlu dipelajari.


Bagaimana dengan pohon Haladil yang berada di Kutub Selatan? Apakah disana ada kerajaan juga? selain aku, tidak ada satupun yang tau ataupun pernah kesana. Bahkan bangsa Balasi sekalipun tidak tau apa yang ada di sana. Jangankan menuju Kutub Selatan tanah Abala, kerjaan Haladal pun masih sepersejuta dari tanah Abala sehingga bangsa balasi harus masih banyak menjelajahi tempat-tempat yang belum terjama.


Jadi, sekarang kalian sudah paham siapakah bangsa Balasi itu.

__ADS_1


Tapi, apakah kalian sudah bisa menebak siapakah aku?


Yang jelas aku bukanlah Sang Satu.


__ADS_2