Tanah Terakhir

Tanah Terakhir
Bumi tanah pertama manusia


__ADS_3

Mataku terasa berat sesekali tertutup, namun tiba-tiba ada sebutir kapur mengenai jidatku.


Zanial : " Hei siapa yang lempar kapur?! "


Venetus : " Saya, terus kamu mau apa. "


Zanial : " Maaf Pak Ven saya gak bermaksud membentak. "


Teman-teman disekitarku hanya tertawa menyaksikan kejadian itu.


Venetus : " Saya tidak perlu permintaan maaf dari kamu saya cuma perlu kamu untuk konsentrasi. Jawab pertanyaan saya, siapa laki-laki dan perempuan pertama di bumi? "


Zanial : " Menurut sejarah, manusia pertama di bumi adalah Madail dan Hadawi. "


Venetus : " Hmm, menurut sejarah. Kenapa jawabanmu diawali dengan kalimat tersebut? Apa kamu tidak setuju dengan sejarah? "


Zanial : " Saya bukan tidak setuju, tapi hanya otak saya sudah terisi penuh sehingga ketika ada kontradiksi saya hanya bisa menjawab dengan cara seperti itu. "

__ADS_1


Venetus : "Apa yang kamu fikirkan? "


Zanial : " Jika manusia pertama hanya mereka berdua, maka seharusnya kita tidak akan ada di sini dengan kondisi yang sehat dan sempurna, bagaimana cara mereka berkembang biak jika bukan dengan cara perkawinan silang dan sedarah, sedangkan kita semua sudah tau dan membuktikan bahwa anak dari perkawinan sedarah akan mengalami kelainan DNA karena kurangnya variasi DNA yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit genetik yang langka. Namun bukankah sejarah sudah mengatakan bahwa anak-anak dari Madail dan Hadawi saling menikah satu-sama lain. "


Venetus : " Pendapatmu tidak salah, yang harus kamu ketahui adalah bagaimana cara sejarah menyampaikan sesuatu yang sudah lama terjadi jauh di masa lampau. Jika kamu amati kembali, apakah sejarah pernah memastikan dengan bukti yang pasti dan mampu seutuhnya menyatakan bahwa anak dari Madail dan Hadawi adalah anak kandungnya sendiri? Tentu tidak, sejarah hanya terjadi karena adanya catatan dan saksi mata yang kemudian disimpan dalam sebuah media dimana media tersebut terbatas seiring kamujuan teknologi pada masa tersebut. Dalam kasus ini sejarawan kita hanya mendapat informasi dari gulungan kertas yang berada di dalam reruntuhan bangunan kuno. "


Zanial : " Benarkah? Apa artinya anak mereka bukanlah anak kandung? Apa artinya keturunan manusia saat ini bukan dari pernikahan sedarah dari anak-anak mereka? Lalu mereka anak kandung siapa? Bukankah sudah ada bukti yang cukup bahwa Madail dan Hadawi adalah manusia pertama? "


Venetus : "Ok mari kita katakan saja bahwa bukti yang menyatakan mereka manusia pertama di bumi memang cukup kuat, tapi apakah sejarah pernah mengatakan bahwa manusia kedua dan ketiga dan seterusnya adalah anak-anak dari Madail dan Hadawi? "


Aku langsung tercengan ketika pak Ven mengatakan hal yang benar-benar mengejutkan, namun masuk akal. Aku semakin tertarik untuk mempelajari sejarah manusia dan menggali sedalam-dalamnya tentang kebenaran manusia.


Sudah hampir setengah jam tapi dia tak kunjung keluar, aku heran apa yang sedang dia lakukan. Akhirnya aku memutuskan masuk ke dalam walaupun sempat ragu dan merasa tidak sopan. Perlahan melangkah kutelusuri setiap bilik. Tapi tidak ada siapapun.


Aku terkejut kemana perginya pak Ven padahal untuk masuk ke sini hanya ada satu jalan. Apa dia pergi lewat ventilasi jendela? Ah tidak mungkin ventilasi di sini masih rapih tertutup tanpa ada kerusakan atau goresan sedikit pun. Sial pasti aku lengah ketika menunggu di depan pintu. Akhirnya aku menyerah mengejarnya, kubasuh muka di depan cermin.


Lalu tak sengaja kulihat sebuah buku tergeletak di lantai, buku itu berjudul Sejarah dan Kebenaran. Kubuka halaman depan dan disitu ada tulisan Venetus Daimal, ternyata ini milik pak Ven. Lalu kubuka sekilas nampak seperti buku sejarah biasa lalu kulihat pada halama belakang terdapat tulisan tangan yang mengatakan, " Kekuatan sejati bukanlah kemenangan dari segala perang, tapi kekuatan sejati adalah kemenangan tanpa harus berperang " Kata-kata yang kurang masuk akal bagiku, tapi aku tak ambil pusing, kubawa buku itu untuk kuserahkan besok pada pak Ven.

__ADS_1


Sesampainya dirumah aku langsung duduk dan membuka buku yang tadi aku temukan. Kucoba baca buku itu dari halaman awal. Didalamnya banyak sekali coretan dan tulisan tangan. Coretan tangan di sini sangat membuka pemikiran yang sebelumnya tak pernah terfikirkan, seperti yang dia katakan di kelas bahwa sejarah tidak pernah mengatakan manusia ke dua ketiga dan seterusnya adalah anak-anak dari Madail dan Hadawi. Pada salah satu tulisan tangan ada satu tertulis hal yang tidak aku mengerti "Madail dan Hadawi adalah manusia pertama di bumi, tapi mereka bukan balasi pertama di alam semesta" . Balasi? Apa itu maksudnya? Istilah ini tidak pernah saya jumpai di buku manapun.


Keesokan harinya ketika masuk kelas pak Ven aku langsung menghampirinya sambil menyerahkan buku tersebut.


Zanial : " Pak, ini bukunya kemarin ketinggalan di toilet."


Dia terkejut sambil melihat buku yang kuserahkan.


Venetus : " Loh kok ada di sini, mungkin kemarin jatuh ya, padahal sudah disimpan baik-baik, terimakasih ya Zan. "


Zanial : " Iya pak sama-sama, tapi saya mau tanya di buku bapak ada tulisan tangan yang menyebutkan istilah balasi, itu apa artinya pak? "


Pak Ven terlihat salah tingkah dan kebingungan untuk menjawab pertanyaanku ini.


Venetus : " Oh mungkin itu cuma salah tulis aja. Saya memang kadang suka salah tulis, hehehe. "


Aku sedikit heran dengan respon yang dia beri, apakah dia berkata jujur?

__ADS_1


Akhirnya aku kembali duduk di bangku untuk memulai pelajaran sejarah.


__ADS_2