Tanah Terakhir

Tanah Terakhir
Mata hitam dari kutub selatan


__ADS_3

Pada zaman dahulu, tepatnya pada tahun 100.999 gizala, hiduplah seorang perempuan muda yang cantik pintar pemberani dan sangat ambisius. Dia bernama Balsas Zazia, dia adalah lulusan pelajar terbaik ke tiga di pusat pendidikan kerajaan. Ayahnya adalah Gelesis Zazia yang merupakan wali kota Wehadel, kota yang terdekat dengan ibukota Haladal. Balsas ditugaskan sebagai pemimpin petugas kebersihan di puncak pohon Haladal. Kepemimpinannya di puncak pohon Haladal ini sangat baik, tidak ada satu pun area di puncak ini yang tidak terawat. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri betapa baiknya dia dalam memimpin anggota lain yang bertugas untuk menjaga kebersihan. Dia pun sangat dihormati disini, bukan karena dia anak dari pejabat kerajaan, tetapi karena semua keputusannya sangatlah tepat dan tidak pernah menyebabkan masalah sedikit pun. Semuanya berjalan sangat lancar pada tahun itu.


Sampai sebuah peristiwa dimulai, ketika raja Makalat mengangkat balasi lain menjadi pemimpin pemuda kerajaan Haladal, dia bernama Madail Nevutes, dimana dia bukanlah dari golongan pejabat tinggi. Pemimpin pemuda kerajaan bertugas dan bertanggung jawab untuk memimpin pekerjaan para pemuda di semua daerah dan di semua kota yang ada di kerajaan Haladal, termasuk di puncak pohon Haladal, artinya sekarang Balsas berada di bawah kepemimpinan Madail. Balsas terlihat sangat tertekan karena kejadian itu, kenapa raja tidak memilih dirinya sebagai pemimpin, malah dia memilih balasi lain yang berlatar belakang dari keluarga penambang tanah. Akhirnya dia kecewa, pekerjaan yang dulunya sangat dia tekuni sekarang mulai terlihat tidak bersemangat. Ditambah lagi sekarang Balsas berada di bawah kepemimpinan Madail yang sebenarnya adalah sahabatnya sendiri.


Pada hari pertama Madail memimpin, Balsas tidak mengerjakan satupun perintah dari Madail, pada hari itu dia hanya bermain berjalan tanpa arah dan hanya bersenang-senang. Keadaan di puncak pohon Haladal pun mulai tidak kondusif. Akhirnya semua perintah dari Madail dikerjakan oleh wakil peminpin. Tapi tak satu pun yang mengeluh, mereka hanya memandang itu sebagai hal yang aneh saja, karena tidak ada satu pun bangsa balasi yang tidak menuruti perintah. Semuanya patuh pada peraturan, semuanya saling membantu dalam memenuhi tanggung jawab, karena mereka tau, hal ini lah yang membuat kerajaan Haladal bertahan dalam kedamaian yang bisa berlangsung selama beribu tahun lamanya.


Semenjak itu, Balsas tidak pernah terlihat bekerja lagi atau memimpin di puncak pohon Haladal. Aku selalu mengawasinya, dan dia hanya terlihat bersantai setiap hari di puncak pohon ini, mencari pemandangan indah, bertamasya membawa makanan lezat, hanya itulah yang dia lakukan setiap hari sendirian, dan itu terlihat sangat menyenangkan baginya.


Pada suatu hari, ketika dia sedang berjalan santai, dia bertemu dengan sesosok yang menyerupai balasi tapi memiliki mata hitam. Yang ditemui Balsas sebenarnya bukanlah bangsa Balasi, dia seorang anak laki-laki muda bernama Semelos, seorang dari bangsa Nastan yang berasal dari puncak pohon Haladil yang berada di Kutub Selatan tanah Abala.


Tunggu dulu, apakah kalian terkejut? Sekarang kalian tau bahwa di Kutub Selatan tanah Abala ada juga kehidupan yang serupa dengan kehidupan yang ada di Kutub Utara. Aku mengetahui semuanya karena di kerajaan Haladal ini hanya diriku saja yang pernah pergi ke Kutub Selatan, belum pernah ada satupun bangsa balasi yang ke sana. Apa kalian ingin tau seperti apa keadaan disana? Atau bagaimana Semelos bisa berada di sini? Tentu aku akan membongkar nya, tapi mungkin nanti, yang terpenting sekarang adalah Balsas. Inilah awal bencana yang pernah terjadi di kerajaan Haladal ini, ketika Balsas bertemu dengan Semelos yang sedang duduk memandangi langit dari salah satu batang pohon Haladal yang tertinggi.


Balsas : "Hei, siapa kamu? Apa yang kamu lakukan disitu? "


Semelos berbalik mencari sumber suara Balsas. Setelah menemukan Balsas, dia tersenyum ke arahnya.


Semelos : "Aku Semelos, kamu siapa? "


Betapa terkejutnya Balsas saat itu melihat sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya, terutama ketika dia memandangi matanya yang sangat hitam, mata yang berbeda dengan orang-orang disekitarnya.

__ADS_1


Balsas : "A a aku Balsas. "


Semelos melompat menuruni batang pohon itu dan mulai menghampiri Balsas.


Semelos : "Kenapa? Apa kau gugup? Tidak perlu takut, aku hanya salah satu mahluk alam semesta, sama sepertimu. "


Balas : "Dari mana asalmu, kenapa kamu tidak seperti orang-orang dari bangsa kami, kamu terlihat sangat berbeda dan sangat menyeramkan. "


Semelos : "Hahaha, mungkin aku tidak seseram itu, aku hanya mahluk alam semesta yang berasal dari puncak pohon Haladil, yang berada di Kutub Selatan tanah Abala. "


Balas : "Apa? Pohon Haladil? Ternyata apa yang di tulis kitab suci memang benar. Aku tak mengira bisa bertemu dengan orang yang tinggal di sana. "


Balas : "Hahaha, sepertinya ini menarik, bisakah kamu membawaku ke sana? Ke Pohon Haladil? Bukankan itu sangat jauh sekali? Bagai mana caranya kamu bisa sampai di sini? "


Semelos : "Kamu penasaran ya? Rahasia dong! "


Balsas : "Lantas apa yang kamu lakukan di sini? "


Semelos : "Itu juga rahasia, gimana kalo kita berteman saja? Bila kita berteman, aku akan menjawab semua pertanyaanmu selama itu bukan rahasia. "

__ADS_1


Akhirnya mereka berteman. Setiap hari Balsas mengunjungi tempat yang sama untuk menemuinya, mereka bermain bercanda dan berbicara satu sama lain. Hal ini bahkan membuat Balsas lebih gembira lagi dalam menjalani hari-harinya yang sangat santai.


Padahal aku tau, Semelos mempunyai tujuan tersendiri di Kutub Utara ini. Tujuan yang akan menyebabkan kehancuran bagi alam semesta ini.


Pada suatu hari, Balsas bercerita kepada Semelos tentang kekesalannya pada raja karena tidak memilihnya menjadi pemimpin.


Semelos : "Aku turut prihatin atas kemalangan yang menimpamu Balsas, bagaimana bisa raja tidak memilihmu menjadi pemimpin. Tapi harusnya kamu tak perlu kecewa. Harusnya kamu bangkit dan melakukan sesuatu untuk membuktikan dirimu layak menjadi pemimpin. "


Balsas : "Bagaimana caranya? Apa yang harus aku lakukan? "


Semelos : "Pemikiranku sangat sederhana, bila kamu tidak bisa memimpin kerajaan Haladal, kenapa kamu tidak mencoba untuk menjadi pemimpin di alam semesta. "


Balsas : "Demi Sang Satu. Apakah bisa seperti itu? Hahaha aku sangat senang mendengarnya. "


Semelos : "Bagaimana menurutmu, kamu dan aku memimpin alam semesta ini? Tapi pertama, aku akan mengajarkanmu tentang hukum rimba. "


Kata-kata manis Semelos membuat Balsas menjadi sangat dekat dengan dirinya, dan memperkuat antusiasnya untuk melakukan pembuktian tentang dirinya sendiri.


Hari terus berganti, kedekatan mereka berdua tidak terbantahkan lagi. Lama kelamaan akhirnya mereka saling jatuh cinta. Cinta yang akan membawa kehancuran bagi alam semesta.

__ADS_1


__ADS_2