
Sudah dua tahun gizala kami melakukan pencarian di sini, tapi semenjak penemuan bola data itu, kami belum menemukan apa-apa lagi. Hanya puing-puing atau sisa-sisa jejak kecil yang minim informasi. Penemuan bola data itu adalah suatu keberuntungan yang sangat besar dan merubah semua buku sejarah yang ada di tanah Abala ini. Raja Makalat pun memberikan penghargaan kepada kami karena berkontribusi menemukan bukti sejarah yang sangat kuat.
Karena kini telah ditemukan bukti yang sangat kuat, akhirnya raja Makalat mengizinkan rakyatnya mengetahui sejarah itu dengan syarat semua sejarah yang disampaikan harus disertai acuan penting agar sejarah yang buruk tidak terulang lagi.
Seperti biasa, aku menelusuri bagian pohon Haladal yang belum pernah dijelajahi. Puncak pohon ini sangat luas menyerupai daratan di tempat tinggi, permukaan yang menanjak dan menurun cukup mempersulit kami untuk melakukan penelitian, ditambah banyaknya anak ranting yang menghalangi penglihatan, daunnya yang rimbun kadang menghalangi ruang gerak. Namun hebatnya di pohon ini tidak ada satupun daunnya yang berguguran, seolah olah rantingnya memegang erat semua daun yang tumbuh di pohon itu, sekeras apapun tertiup angin atau tersentuh bahkan bila sengaja ditarik, daun pohon ini tidak pernah berjatuhan.
Hanya pohon-pohon kecil yang daunnya berjatuhan yaitu pohon yang tumbuh di dalam batang pohon Haladal ini. Selain pohon kecil ada juga jamur, lumut, dan tumbuhan lainnya, bahkan hewan-hewan berdampingan hidup dengan pohon ini, tapi tidak ada satupun hewan buas, atau tumbuhan yang bersifat merusak batang yang ditumbuhinya. Sering aku berfikir, betapa hebatnya Sang Satu pencipta pohon ini. Penelitian pun berlanjut, aku dan ayahku selalu bergerak berdampingan agar bisa membantu satu-sama lain ketika salah satu dari kami ada dalam kesulitan.
Tiba-tiba terdengar suara gemuruh mesin pesawat vertikal dalam jumlah yang banyak. Mereka beterbangan mengelilingi pohon Haladal.
Edhial : " Ayah, apa yang sedang terjadi, kenapa banyak sekali pesawat vertikal yang datang. "
Methas : " Lihat kearah sana, ada satu pesawat vertikal yang berbeda dengan yang lain dan ukurannya lebih besar, sepertinya itu adalah pesawat vertikal kerajaan karena ada simbol raja Makalat di badan pesawat itu. Apa mungkin ini akan terjadi? "
Edhial : " Ayah sebaiknya kita turun, aku merasa ini bukan pertanda yang baik. "
Methas : " Iya aku setuju, mari kita turun, kita akan kembali setelah urusan raja selesai. "
Lalu terdengar pengeras suara berbunyi dari semua pesawat vertikal itu.
" Ditujukan untuk para peneliti dan seluruh petugas kebersihan, dimohon segera turun sekarang juga, kepada para peneliti dan petugas kebersihan, dimohon segera turun sekarang juga. "
Para peneliti pun bergegas menuju pesawat vertikal masing-masing. Terlihat dari kejauhan sudah banyak pesawat yang terbang menuruni pohon ini. Aku dan ayahku segera berjalan, tapi sepertinya memerlukan sekitar dua jam untuk mencapai stasiun, perlu waktu yang lebih lama bagi kami untuk menuju pesawat vertikal, karena posisi kami berada di tempat yang paling jauh bila dibandingkan para peneliti lain yang lebih dekat dengan stasiun pesawat vertikal.
__ADS_1
Setelah satu jam, kami tidak menyangka, seketika kami terdiam, kami dikejutkan dengan fenomena yang sangat langka yang hanya terjadi sekali dalam satu juta tahun bintang gizala. Dari tangkai Haladal bermunculan sesuatu berbentuk bulat kecil seukuran jari, putih dan bercahaya. Tidak salah lagi ini pasti buah Haladal.
Edhial : " Ayah, benda apa itu yang bercahanya, banyak sekali muncul dari ranting Haladal. Demi Sang Satu, pasti ini buah pohon Haladal"
Methas : " Ya tidak salah lagi, ini adalah buah pohon Haladal. Ternyata hari ini adalah hari penjagaan, pantas saja raja Makalat dan pasukannya banyak berkeliling di sini. Yang kudengar pohon ini hanya berbuah selama satu hari, ternyata itu dimulai saat bintang gizala berada di posisi terdekat dengan puncak Haladal. lihatlah ke atas. "
Edhial : " Iya benar, posisi bintang gizala berada di titik terdekat. "
Methas : " Bila dilihat pengaruh bintang gizala terhadap buah ini, sepertinya buah ini akan membesar sampai sekepal tangan pada saat malam, dan akan mengecil kembali ketika bintang gizala berada di posisi yang sama saat buah ini mulai tumbuh, dan setelah itu hilang menyusut kembali ke dalam pohon ini. Itu artinya kita hanya bisa melihat pohon ini berbuah dalam 24 jam atau satu hari bintang gizala. "
Kami melanjutkan perjalanan dan berusaha untuk tidak menyentuh buah itu. Stasiun pesawat vertikal sudah terlihat, tinggal beberapa ratus meter lagi.
" BDUAAARRR, BLUDUAAR, BRUUAAARR!!!! "
Tiga ledakan dahsyat berbentuk cahaya hitam muncul tiba-tiba di sekitar stasiun kami terpental ke belakang, salah satu ledakan menghantam bangunan stasiun dan merusak semua yang ada di dalamnya hingga rata. Entah siapa yang ada di dalam sana pastinya mereka tidak akan selamat. Untungnya tidak ada buah Haladal di sekitar tempat ledakan itu, tunggu, apakah ledakan itu disengaja? Yang kulihat tidak ada satupun buah Haladal dalam radius 500 meter dari pusat ledakan. Ini aneh.
Raja Makalat : " Pasukan!!! Angkat perisai, kelilingi mereka dengan dinding cahaya!!! "
Sebagian besar pesawat pasukan raja membentuk sebuah barisan yang mengeluarkan cahaya, dan sebagian lagi mendarat melakukan penjagaan di belakang perisai.
Entah kenapa raja memerintahkan untuk mengepung 3 titik ledakan tadi menggunakan perisai cahaya yang berupa dinding berbentuk setengah bola yang sangat luas. Aku terus memperhatikan apa yang sebenarnya tengah terjadi, ternyata diantara asap ledakan yang masih tebal, muncul sesuatu. Apa itu? Ternyata mereka mereka masih bangsa kami, dari mana datangnya kelompok mereka itu. Tapi, kenapa mata mereka hitam, apakah ini seperti yang diceritakan bola data itu? Gawat, ternyata aku dan ayahku masih berada di dalam dinding perisai. Aku berdiri dan langsung membangunkan ayahku yang baru terjatuh.
Methas : " Apa yang terjadi, suara apan tadi? "
__ADS_1
Edhial : " Ada sekelompok balasi bermata hitam muncul di tengah ledakan itu. "
Tiba tiba raja dan sebagian pasukannya memasuki perisai dinding ini dan membentuk barisan lingkaran mengelilingi mereka.
Raja Makalat : " Pasukan!!! Siaga!!! "
Kemudian raja berbicara pada mereka dari kejauhan.
Raja Makalat : " Kembalilah ke tempat asalmu, kembalilah kepohon Haladil. Dan tanah Alaba akan tetap damai. "
Apa? pohon Haladil? Apa aku tidak salah dengar, itu artinya mereka...
Pasukan mata hitam : " Seraaaanng!!! "
Tiba tiba sekelompok balasi mata hitam yang berjumlah ratusan itu menyerbu menyebar ke setiap sudut lingkaran. Ternyata mereka membawa semacam tongkat panjang yang terlihat tajam. Begitu pula dengan pasukan balasi dari raja Malakat, mereka mengeluarkan lempengan logam panjang yang sangat tajam. Aku tak menyangka di kerajaan ini ada benda seperti itu. Apakah benar ini akan terjadi? Tidak mungkin, ini artinya mereka akan berperang.
Raja Makalat : " Siaga!!! Berdiri dan lindungi buah Haladal. "
Mungkinkah para balasi mata hitam itu menginginkan buah pohon ini? Sungguh sangat berbahaya, aku harap pasukan kerajaan bisa mengatasi mereka. Aku segera mengajak ayahku untuk berlindung, aku menemukan bagian pesawat yang terpental dan kami bersembunyi di dalamnya.
Pemandangan yang sangat mengerikan, aku tidak menyangka bisa melihat langsung hal seperti ini di tanah Abala. Aku dan ayahku hanya diam bersembunyi dengan menggenggam apapun yang bisa kami gunakan untuk melindungi diri. Mereka bertarung satu sama lain dan saling menyakiti. Kedua pasukan itu sangatlah kuat, tidak ada satupun diantara mereka yang jatuh dalam waktu singkat, setidaknya setelah satu jam. Setelah sekitar satu jam kami melihat beberapa yang jatuh dan sebagiannya terlihat sudah tidak bisa bergerak sama sekali. Namun sebagian besar masih tegak berdiri bertarung mempertahankan dinding perisai.
Tapi tidak disangka pertarungan mereka sangatlah sengit dan kini hampir menyentuh dinding perisai. Lalu terdengar suara dentuman sangat keras dari arah belakang tempat kami bersembunyi. Oh tidak perisainya hancur.
__ADS_1
Raja Makalat : " Semuanya bertahan!!! Jangan biarkan satupun dari mereka menyentuh buah Haladal!!! "
Kami melihat satu balasi mata hitam mencoba berlari menuju buah Haladal yang terdekat. Gawat, tak ada satupun pasukan kerajaan di sekitar kami yang masih berdiri. Tanpa berfikir panjang aku dan ayahku mencoba menghalanginya. Kuraih dua logam panjang tajam yang terjatuh, dan kuberikan satu pada ayahku.