Tanah Terakhir

Tanah Terakhir
Rahasia para raja


__ADS_3

Perang berakhir di pagi hari. Aku terduduk lemas di puncak pohon ini sambil melihat ke langit. Dalam kondisi ku yang sangat lelah, aku termenung. Bintang gizala mulai terbit melintasi garis tengah tanah Abala. Dimana garis ini tepat ditengah melintasi kutub utara, ke kutub barat, ke kutub selatan ke kutub timur dan seterusnya membentuk lingkaran. Beruntunglah semua yang berada di empat kutub tersebut termasuk Pohon Haladal dan Haladil, karena bisa merasakan kehangatan bintang gizala. Tapi bagaimana dengan kedua kutub lainnya, kutub naumal dan kutub lanahra. Dari ke enam kutub di tanah Abala, hanya dua kutub itu yang tidak dilintasi bintang gizala. Tak bisa kubayangkan akan sedingin Apa disana. Apa kah mereka yang tinggal di sana bisa hidup tanpa bintang gizala? Apa mungkin mereka masih bisa merasakan bintang gizala walaupun hanya sedikit. Demi Sang Satu kenapa aku memikirkan itu semua, bahkan aku pun tidak tau apakah di sana ada kehidupan atau tidak.


Akhirnya aku tersadar dan berusaha bangkit dan berdiri. Aku tidak menyangka peristiwa langka ini akan terjadi di masa kepemimpinan ku, hari ini banyak sekali pasukan balasi Haladal yang mati. Untunglah tidak ada korban di stasiun pesawat vertikal yang terkena ledakan dahsyat itu, semua peneliti dan petugas kebersihan sudah menuruni pohon ini ketika itu terjadi, kecuali anak dan ayah itu. Dia, remaja malang itu Edhial, aku sangat menyesal dia harus berkorban memakan buah Haladal yang hampir meledak. Tapi aku cukup terkejut dengan remaja itu, dia tidak mati dan bisa pergi menjauh untuk menyeimbangkan kekuatan buah ini, entah apa yang membuat jiwa pohon Haladal merestui remaja itu untuk memiliki kekuatannya. Padahal dalam buku Khatarmal, tertulis bahwa siapapun yang memakan buah Haladal, dia akan meledak dan musnah, kekuatannya yang sangat besar akan teredam jika hanya wadah barunnya mengalami kematian seperti itu. Kecuali jika jiwa pohon Haladal memberikan restu berupa bisikan kepada wadah yang baru tersebut, maka wadah tersebut bisa memiliki kekuatannya.


Bahkan dalam buku Khatarmal juga dikatakan tidak pernah ada balasi yang bisa memiliki kekuatan itu, diceritakan selama penjagaan yang sudah berlangsung selama ratusan zaman gizala, buah Haladal lebih rentan terpetik dari pada daunnya yang sangat kuat dan kokoh. Sehingga ada beberapa kali terjadi ketika buah pohon Haladal tidak sengaja jatuh dari tangkainya. Ketika itu terjadi, maka para penjaga yang terdekat dengan buah itu harus langsung memakannya, lalu dia musnah dengan mengeluarkan ledakan kecil yang tidak berbahaya, dan juga itulah tujuan dari penjagaan yang sudah kita lakukan selama ratusan zaman, yaitu untuk mencegah kehancuran dari buah yang tidak sengaja jatuh.


Semua itu adalah sebagian rahasia yang hanya boleh diketahui para raja, yang tertulis di Khatarmal, yang artinya buku sejarah raja. Buku ini adalah catatan dari raja-raja sebelumnya yang tidak boleh diketahui oleh rakyatnya. Termasuk kejadian ini, aku akan mencatatnya agar bisa menjadi pelajaran untuk raja Haladal di masa depan. Dan aku harus merahasiakan semua kejadian perang ini dari rakyat, karena perang adalah hal asing bagi mereka yang sudah hidup ratusan zaman. Ratusan zaman yang sudah disertai keamanan dan indahnya kedamaian, tempat ini adalah surga bagi mereka, walaupun pohon Haladal adalah hal yang harus kami waspadai.


Perang sudah berakhir, tak terasa bintang gizala sudah kembali ke posisi awal ketika buah Haladal mulai tumbuh. Semua buah pohon ini kembali menyusut dan hilang. Tidak ada sisa dari pasukan mata hitam, mereka adalah bangsa Nastan, keberadaannya pun masih dirahasiakan dan tidak boleh ada satu pun yang tau tentang mereka kecuali para raja Haladal. Ada beberapa bangsa Nastan yang tertangkap, tapi mereka langsung mengakhiri nyawanya sendiri. Entah apa yang merasuki pikiran mereka sehingga mereka begitu keji dan dengan sangat mudah untuk mengakhiri dirinya sendiri.


Akhirnya aku kembali ke tempat peristirahatan. Aku memerintahkan semua pasukan ku yang tersisa untuk menguburkan semua korban yang gugur termasuk korban dari bangsa Nastan, aku memerintahkan untuk menguburnya di perbatasan kota Wehadel dan kota Asana. Kota Asana berada di arah timur dari kota Wehadel. Memerlukan waktu sekitar 20 hari gizala untuk mencapai perbatasannya. Di sana terdapat pusat pemakaman yang sangat luas, semua balasi yang meninggal di kota Wehadel dan Asana harus dikuburkan di pusat pemakaman itu. Tapi ini sangat mengerikan, dalam satu hari kita harus menguburkan ratusan mayat.


Sekarang aku baru mengerti, kenapa semua raja Haladal yang pernah memimpin harus melewati uji coba rahasia di tempat asing selama 5 tahun sebelum mereka dinobatkan menjadi raja.


Ternyata ini alasannya, raja Haladal harus siap dengan segala kondisi yang sama sekali tidak pernah terjadi di kerajaan ini.


Di sana lah kami di uji, di tempat yang sangat jauh berbeda dengan tanah Abala. Dimana aku dan para raja sebelumnya ditempatkan di tengah medan pertempuran, pertempuran antara bangsa manusia. Ya, bangsa manusia, kami dintinggalkan sendiri di tempat itu, yang mereka sebut dengan Bumi. Kami dimasukan ke dalam golongan bangsa manusia yang dijajah. Hanya satu tugas kami saat uji coba dilakukan, yaitu bertahan dari para penjajah tanpa harus membunuh siapapun. Dengan segala kekuatan aku bertahan membela diri dengan bekal pengetahuan yang kupelajari sebelumnya di tanah Abala ini. Sungguh aku hampir tak sanggup bila harus mengingat kembali apa yang terjadi di sana.

__ADS_1


Bumi dan manusia adalah pengetahuan yang seharusnya dirahasiakan dari rakyat kerajaan Haladal, tapi para peneliti sudah mulai menemukannya, terutama Methas, dengan kegigihannya yang kuat dia bisa mengetahui di atas sana ada kehidupan yang bernama manusia dan bumi yang merupakan titik pusat dari alam semesta. Aku sebagai raja hanya bisa membiarkannya untuk mencari tau sendiri, tak akan kubantu sedikit pun meskipun aku sebagai raja lebih banyak tau darinya tentang manusia dan bumi. Bahkan para raja mengetahui bagaimana caranya menuju tempat itu, itulah caranya, seperti yang terjadi pada remaja itu, hanya saja remaja itu beruntung karena jiwa pohon Haladal merestui nya. Sebelumnya tidak ada siapapun yang mendapatkan restu dari jiwa Haladal selain para raja.


Aku berada di kamar tidur, mencoba untuk beristirahat sejenak. Tiba-tiba pengawal mengetuk pintu, kuizinkan dia masuk lalu dia mengatakan sesuatu.


Pengawal : " Maaf tuan raja, Methas ada di aula kerajaan dia berharap bisa bertemu dengan anda. "


Raja Makalat : " Baiklah, aku segera ke sana. "


Methas, aku sangat prihatin atas anaknya. Akupun tak bisa lepas dari penyesalanku yang seharusnya bisa melindungi mereka sebagai raja.


Raja Makalat : " Wahai saudaraku, apa yang bisa kulakukan untukmu. "


Raja Makalat : " Tidak banyak yang bisa kukatakan. Walaupun aku tau, aku tetap tidak diperkenankan menyebarkan pengetahuan terlarang dari pohon Haladal. "


Methas : " Tapi bagaimana caraku menemukan dia. Tolong lakukan sesuatu tuan Raja. "


Raja Malakat : " Baiklah, walaupun pengetahuan buah Haladal adalah terlarang untuk disebarkan, tapi mencari tau sendiri bukanlah hal yang terlarang. Kau boleh cari tau sendiri dengan syarat seperti biasa, tidak melakukan kerusakan pada pohon Haladal. "

__ADS_1


Methas : " Kenapa harus serumit ini raja, jika nanti dalam pencarian aku bisa mengetahuinya, kenapa tidak sekarang saja engkau yang memberi tauku. "


Raja Makalat : " Itu karena hanya jiwa pohon Hadalal yang berhak mengizinkan seseorang untuk pengetahuan tentangnya. Seberapa kuat pun kamu berusaha, tetapi jika dia tidak mengizinkan, maka kamu tidak akan mendapatkan pengetahuan apapun. Aku sebagai raja dengan setulus hati, sangat menyesali apa yang terjadi pada anakmu, tapi hanya sebatas ini kemampuanku, tolong maafkan aku. "


Dengan penuh keyakinan dan rasa tanggung jawab yang tinggi, aku memohon maaf kepadanya. Aku berlutut.


Methas : " Tuan raja! Tidak, jangan kau lakukan itu, engkau adalah orang yang paling berjasa dalam perdamaian di tanah Abala ini, engkau adalah pahlawan. "


Dia membantuku berdiri, dan aku hanya bisa mengikutinya.


Raja Makalat : "Aku sangat menyesal tapi aku tidak bisa berbuat banyak. Tapi mungkin ini akan sangat membantu. "


Aku memberikan simbol cahaya pada lengannya, sebagai tanda kini dia mempunyai perizinan tertinggi untuk menggunakan semua fasilitas di pusat ilmu.


Methas : " Tuan raja, bukankah ini, hanya orang yang sudah kau pilih saja yang mempunyai tanda ini. "


Raja Makalat : " Manfaatkanlah sebaik mungkin Methas, hanya ini yang bisa kulakukan. "

__ADS_1


Akhirnya dia segera bergegas pergi, seolah dia langsung menemukan rencana yang akan dia lakukan di pusat ilmu dengan perizinan tertinggi yang baru kuberikan.


__ADS_2