Tanah Terakhir

Tanah Terakhir
Batu bintang Madail


__ADS_3

Sudah 2 tahun aku meninggalkan impianku untuk menjadi sejarawan nasional walapun aku sempat mencobanya selama satu tahun pada umurku yang ke 15. Aku meninggalkannya karena bayarannya terlalu kecil, sangat kecil dibandingkan pekerjaanku sekarang. Kini orang-orang memanggilku Zanial sang penggali, mereka memanggilku penggali karena kini aku adalah pemburu harta karun dan peninggalan kuno yang bernilai tinggi. Semua temuan yang pernah didapat kujual langsung di pasar gelap. Sangat mudah menjualnya di pasar gelap dibandingkan menjualnya kepada pemerintah, untuk menjualnya pada pemerintah butuh birokrasi yang sangat rumit dan hasilnya sedikit bila dibanding hasil penjualan di pasar gelap. Dengan bayaran yang kurang itu aku hanya dijanjikan namaku akan berada dalam sejarah oleh pemerintah sebagai pahlawan nasional, sebuah penghargaan adalah hal yang sangat tidak berguna bagiku, hal yang paling berguna di dunia ini adalah uang.


" Dug dug dug. "


Seseorang menggedor pintu rumahku. Lalu aku membuka pintu rumah.


Tamu : " Selamat malam, kamu Zanial? Perkenalkan namaku Fernelix. Aku ingin berbicara denganmu. "


Dia terlihat seperti pria paruh baya, tepat berdiri di depan pintu sambil memegang tongkat yang mewah berlapis emas. Aku sedikit terkejut karena dibelakang orang itu banyak yang mengikutinya seperti pengawal. Apakah mereka gangster?


Zanial : " Kalau mau bicara langsung saja di sini, aku sibuk. "


Aku tidak membiarkan mereka melewati pintu masuk rumahku. Tiba-tiba dia menatapku tajam sambil tersenyum, jujur itu cukup menakutkan tapi aku berusaha untuk terlihat tidak terintimidasi. Akhirnya dia berbicara.


Fernelix : " Kamu terlihat lebih muda dari yang aku bayangkan. Rumor mengatakan di usiamu yang sangat muda kamu adalah salah satu peneliti nasional terbaik di negeri ini terutama di bidang sejarah manusia. Aku ingin membicarakan sejarah bersamamu tentang Madail dan Hadawi. "


Zanial : " Aku sudah cukup banyak membicarakan hal itu, jadi maaf aku tidak tertarik, selamat malam. "

__ADS_1


Lalu aku segera menutup pintu. Tapi tiba-tiba dia menahan pintu ku menggunakan sepatunya. Lalu dia mengatakan sesuatu.


Fernelix : " Hai anak muda, tidak sopan menutup pintu di depan orang tua. Aku hanya ingin bilang aku bisa mencari tau dimana batu bintang Madail dikubur. "


Aku terkejut mendengar hal itu, aku heran bagaimana gangster seperti mereka bisa mengetahui sesuatu yang tidak semua orang tau, bahkan para peneliti pun tidak ada yang tau bahwa batu bintang itu benar-benar ada, selama ini masih dianggap mitos. Kecuali aku, hanya aku yang tau karena aku pernah menemukan sebilah kayu tulis kuno yang kudapatkan saat berburu di reruntuhan istana Hadawi 1 tahun yang lalu, dan masih kusimpan sampai sekarang dan aku belum berniat untuk menjualnya karena batu bintang Madail itu masih belum berhasil kutemukan. Apakah mungkin mereka memiliki bilahan kayu yang lain? Kemudian aku bergegas kembali membuka pintu.


Zanial : " Oh ya? Aku rasa itu tidak mungkin, semua peneliti pun masih percaya batu bintang itu hanya mitos, kita tidak bisa mendapatkan satu petunjuk apapun tentang kepastian keberadaan batu itu. "


Lalu tiba-tiba dia mengambil sarung tangan dari balik jas hitam nya lalu bergegas menggunakannya, setelah itu dia membuka koper yang dibawa pengawalnya dan mengambil sesuatu dengan sangat hati-hati lalu menunjukannya kepadaku. Tidak kusangka itu memang bagian yang hilang dari salah satu bilah kayu yang terbagi.


Fernelix : " Aku tidak perduli jika para peneliti menganggapnya mitos. Tapi apakah kamu menganggap ini mitos? "


Kemudian Fernelix kembali menatapku tajam sambil tersenyum. Lalu dia mengatakan sesuatu.


Fernelix : " Kalau mau berbicara langsung saja di sini, aku sibuk. "


Aku hanya tersenyum kesal dan terdiam.

__ADS_1


Zanial : " Baiklah, apa maumu orang tua? "


Fernelix : " Datanglah ke alamat ini, jangan lupa bawa bilah kayu milikmu. "


Lalu dia memberikan sebuah kartu nama dan bergegas pergi bersama kelompoknya. Namun aku terkejut, darimana dia tau kalau aku punya bagian bilah kayu itu, sungguh mencurigakan.


Suara mobil menyala, mobil dari rombongan gangster tersebut. Aku segera bergegas menyalakan mobil pengangkut jerami agar tidak mencurigakan, aku berniat membuntuti nya sebenarnya darimana mereka datang. Akhirnya mobil mereka jalan, akupun mengikutinya.


Aku sudah mengikutinya hingga perbatasan perkampungan, dan menuju pusat kota. Aku berbaur dan menjaga jarak sejauh beberapa mobil agar pengintaian ku tidak ketahuan. Dari pusat kota, mereka mengambil jalan raya antar kota, mungkin ini akan menjadi perjalanan yang jauh.


Tapi ternyata tidak, hanya beberapa kilo dari jalan antar kota mereka masuk ke sebuah gudang tua yang tidak beroprasi. Aku menghentikan mobil sekitar 200 meter dari tempat itu dan mulai mencari tau apa yang ada di dalam gudang itu. Akhirnya aku menemukan sudut gelap yang bagus dari sebuah jendela untuk mengintip bahkan mungkin sedikit mendengar pembicaraan mereka.


Mereka berkumpul seperti sedang menunggu sesuatu, lalu muncullah seorang wanita cantik bergaun hitam sekitar 30 tahunan, berjalan dengan didampingi dua orang yang aneh. Lalu terdengar Fernelix menyapanya dengan keras. "Salam Ketua Gadias, semoga ratu Balsas memberkati kita semua. "


Jadi dia bernama Gadias? Lalu mereka menyeru ratu Balsas, siapa ratu Balsas? Kenapa mereka menyebut Balsas seperti Dewa. Aku tidak bernah mendengar nama itu di sejarah atau mitologi manusia manapun.


Setelah itu mereka saling berhadapan dan berbincang pelan, aku nyaris tidak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan, hanya terdengar samar-samar seperti membicarakan tentang persiapan. Apa yang sebenarnya mereka siapkan?

__ADS_1


Aku hanya bisa memperhatikan dari jauh, sungguh suasana yang aneh, seperti ada yang tidak beres, terutama dua pengawal wanita yang bernama Gadias itu, mereka berdua menggunakan jubah panjang dan topeng putih polos dengan kaca hitam pada bagian mata. Setelah 15 menit mereka berbincang akhirnya rombongan gangster tersebut pergi. Namun ketua Gadias itu masih berdiri sambil menunggu mereka menutup pintu.


Ketika pintu tertutup, tiba-tiba dia tersenyum. Dan betapa terkejutnya aku karena dia tersenyum sambil menolehkan mukanya ke arahku seolah dia tau aku sedang bersembunyi di sudut yang gelap ini. Serentak aku jongkok bersembunyi, jantungku berdebar kencang, aku tak tau apa yang bisa mereka lakukan kepadaku, tapi aku mencoba memberanikan diri mengintip lagi. Dan mereka bertiga sudah tidak ada, apakah mereka menghilang? Kemana perginya mereka, cepat sekali. Padahal aku tidak mendengar sedikitpun suara langkah kaki, dan tidak ada suara pintu terbuka atau tertutup. Apa aku hanya berhayal?


__ADS_2