Tanah Terakhir

Tanah Terakhir
Rencana yang penuh kejutan


__ADS_3

" Huf.... Huh.... Huh.... " Nafasku tersengal-sengal, aku berlari sekuat tenaga menuruni bukit ini.


" BLUDAAAR!!!! " Ini ledakan ke tiga kalinya, gawat ini pertanda bukit ini akan runtuh sepenuhnya.


" Aku tak boleh mati!!! HAAAA!!! " Aku hampir sampai di bawah.


" BHIUUUUUFFFGGGGRRR!!! " Suara gemuruh keras terdengar dibelakangku, bukit ini benar-benar sudah hancur lebur.


Utunglah aku sudah sampai. Aku lemas terkulai dan langsung terbaring.


Fernelix : " Lumayan, untuk ukuran pemuda seumurmu, kamu tidak terlalu buruk. "


Zanial : " Sialan kau orang tua, jika bukan karena satu juta dolar, aku tidak sudi melakukan hal ini untukmu! "


Aku langsung bangun memeriksa segala bagian tubuhku memastikan semuanya baik-baik saja.


Zanial : " Sekarang mana sisa bayaran ku, lima ratus dimuka dan sekarang lima ratus setelah pekerjaan selesai. "


Fernelix : " Baiklah, tapi pertama, berikan dulu hasil kerjamu. "


Kuberikan bilahan kayu ketiga kepadanya. Bilahan kayu yang sangat menyiksaku hari ini. Keterlaluan, benar-benar perut bukit yang melelahkan. Di bawah bukit yang sudah hancur itu terdapat kuil raksasa kuno suku Zaumaz, dimana didalamnya terdapat bilahan kayu ketiga, petunjuk menuju batu bintang Madail. Sangat banyak halangan dan rintangan didalamnya, bahkan aku hampir tak bisa membaca tulisan kuno petunjuk jalan karena dindingnya sudah rapuh, aku hampir mati.


Zanail : " Sekarang, mana uangku? "


Fernelix : " Uangmu ada, tapi masih belum bisa kuberikan. "


Zanail : " Hai jangan keterlaluan, tadi kau sudah berkata baiklah. "


Fernelix : " Apa aku salah, bukankah kamu tidak memintanya, bukankah hanya bertanya dimana uangmu? aku sudah menjawabnya kan. Jawabanku uangmu ada, tapi belum bisa kuberikan. "


Zanail : " Dasar orang tua licik. Kapan aku akan mendapatkan uangku? Bila tidak kau berikan, aku akan pergi dengan membawa 500ribu yang sudah kau berikan kemarin dan bilah kayu milikku tidak akan menjadi milikmu. "


Fernelix : " Hahaha, apa kau mengancamku, silahkan saja bawa, bilahan kayu milik mu itu tidak berharga bila hanya sepotong. Dan aku sudah mencatat semua informasi yang ada di bilah kayu mu. "


Zanail : " Sial, baiklah cepat katakan apalagi yang harus kulakukan? "


Fernelix : " Naaah, akhirnya itu dia, pertanyaan yang sangat tepat, hahahaha. Aku ingin kamu membaca ketiga bilah kayu ini setelah digabungkan. Ini adalah petunjuk terakhir. Tapi kita tidak bisa melakukannya di sini, kita harus menyatukan ketiga potongan itu di istana Hadawi. "


Zanial : " Istana Hadawi? Aku pernah ke sana, sudah tidak apa-apa lagi. "


Fernelix : " Apa kamu yakin? "


Dia tersenyum mengejek, sambil menunjukan sesuatu padaku. Dia menggenggam bilahan kayu yang baru kudapatkan, lalu dia menekan semacam tuas kecil di bagian sisinya, tiba-tina "cklek" terdengar suara seperti kuncian yang terbuka, dia menarik bagian dalam kayu itu seperti menarik kertas, sambil menatap kepadaku dia tersenyum dan mengeluarkan benda berkilau, terlihat seperti daun yang berwarna emas. Apakah itu? Ya Tuhan, aku terkejut ternyata itu adalah daun yang hilang dalam lukisan besar pohon Haladal yang ada di aula istana Hadawi. Tak kusangka benda itu ada didalamnya.

__ADS_1


Akhirnya kami berangkat hari ini juga, dari pulau Kalimantan menuju hutan pulau Honshu di Jepang tempat dimana istana Hadawi tersembunyi.


Keesokan harinya setelah semuanya siap, kami semua pergi menuju kaki gunung Fuji. Disana terdapat pintu masuk rahasia istana Hadawi. Akhirnya tim kami sampai. Fernelix membuka tuas yang ada di balik sungai, bongkahan batu membelah beraturan dan pintu istana pun terlihat. Kita semua masuk kedalam, pintu masuk pertama langsung menuju aula istana yang sangat luas, lebih besar dari pada lapangan sepak bola, di tengah aula terdapat altar besar, entah apa fungsinya, yang saya tau tidak pernah ada ritual pengorbanan dalam sejarah Madail dan Hadawi. Di ujung aula terdapat lukisan besar berjudul pohon Haladal dan pada lukisan itu terdapat daun emas yang hilang. Fernelix mengeluarkan daun emas itu dan memasangkannya di lukisan.


Tiba-tiba lukisan itu menyala, lalu lukisan itu bergetar dan mulai tenggelam perlahan masuk ke dalam tanah. Ternyata di balik lukisan itu ada pintu. Terlihat seperti gerbang megah dengan dua gagang emas ditengahnya, apakah di sana ada harta karun? Kemudian aku dan Fernelix membuka pintu itu secara bersamaan. Ketika terbuka, kita langsung dihadapkan kepada sebuah jalan lebar berupa anak tangga berputar yang menurun. Kunyalakan lampu dan kucoba untuk melihat dasar tangga tersebut, terlihat sangat dalam bahkan cahaya pun tidak bisa mencapai dasarnya.


Tidak kusangka, selama penjelajahan di istana ini aku hanya berfokus kepada bagian tingkat atas istana yang sangat tinggi. Tapi ternyata terdapat ruang lain yang lebih dalam tepat di aula istana.


Tim kami menuruni anak tangga itu, akhirnya setelah setengah jam kami menemukan satu pintu di ujung tangga ini. Lalu kami membukanya lagi, setelah terbuka, ternyata, hanya ruangan kotak kosong yang tidak terlalu besar. Kunyalakan obor yang ada di ruangan itu, ketika obor kunyalakan semuanya terlihat jelas dan ternyata di tengah ruangan itu terdapat meja yang ditengahnya terdapat ukiran lingkaran yang sangat simetris. Aku yakin pasti meja itu yang kita butuhkan sekarang.


Fernelix : " Mari kita lakukan. "


Dia mengeluarkan ketiga bilah kayu itu dan menyatukannya dalam ukiran yang ada di meja.


Tiba-tiba.


"Gdgdgggrrr, GDUGDUGDUGDGDGDG!!!!"


Tempat itu bergoyang keras seperti guncangan gempa bumi. Aku panik.


Zanial : " Ayo cepat semuanya keluar!!! "


Tapi tak ada seorangpun yang keluar, mereka terlihat tenang, lalu goncangan itu berhenti dalam satu menit.


Fernelix : " Lihat seluruh dinding ruangan ini, apa kau pernah memperhatikannya? Ini terbuat dari bahan yang tidak ada di bumi. Seratus kali lebih kuat dari grafena. "


Fernelix : " Salam ketua. Bagaimana kondisi disana? "


Fernelix : " Baiklah aku akan segera melakukannya. "


Apakah dia bicara pada orang yang berada di gudang pada waktu itu? Siapa sebenarnya dia?


Fernelix : " Baiklah sekarang giliranmu Zanial. "


Dia memutar semacam tuas yang berada di tengah lingkaran kayu itu, lalu dia menarik tuas nya ke atas. Sebuah benda keluar, apa itu? Kenapa benda seperti itu ada disini? Bukankah seharusnya itu adalah barang kuno? Benda itu berbentuk kotak tipis nyaris seperti kaca namun dalam kaca itu terdapat tulisan-kuno yang berada dalam tampilan layar. Iya tidak salah lagi itu kan smartphone, bahkan Fernelix pun menyentuh dan mengoperasikannya sama seperti saat sedang mengoperasikan smartphone.


Fernelix : " Sekarang tugasmu, baca tulisan ini. "


Zanial : " Tulisan apa itu, aku sepertinya belum pernah mengenalnya sekalipun, aku berani bertaruh bahkan peneliti di dunia pun belum pernah ada yang mengenal tulisan ini, bagaimana caraku membacanya. "


Fernelix : " Sudah sini, cepat mendekat. Karena hanya kamu yang bisa membacanya, bagi kami ini adalah simbol-simbol yang belum pernah seorang pun mempelajarinya di bumi. "


Lalu aku segera mendekat, dan tiba-tiba, ada apa ini? Kenapa tulisan ini sangat jelas padahal aku belum pernah melihatnya sama sekali. Lalu aku membacakannya dengan lantang.

__ADS_1


Zanial : " Lompat lah di salah satu dari kedua titik bumi yang tidak tersentuh matahari, maka perjalananmu akan segera dimulai. "


Lalu Fernelix mengulangi perkataan itu kepada ketua melalui telepon satelitnya. Setelah itu dia mengatakan sesuatu.


Fernelix : " Baiklah kita mulai dari kutub utara. "


Tiba-tiba tulisan dalam benda kotak itu berubah.


Zanial : " Apa yang terjadi, kenapa tulisannya berubah?"


Fernelix : " Apa? Berubah itu tidak mungkin, sang ketua sudah memastikan bahwa petunjuk ini tidak akan berubah. Lalu apa yang tulisan itu katakan. "


Orang tua itu terlihat sangat kebingungan, seolah-olah itu bukan bagian dari rencananya, aku pun segera membacakannya. Tapi tunggu dulu, ada yang aneh tulisan itu seperti mencoba berkomunikasi kepadaku. Disitu tertulis " Halo Zanial, pesan ini hanya untukmu, ingatlah kekuatan sejati bukanlah kemenangan dari segala perang, tapi kekuatan sejati adalah kemenangan tanpa harus berperang. "


Apa ini? Sepertinya tidak asing.


Zanial : " Hahaha, ternyata aku salah liat. "


Aku memilih untuk berbohong, aku tidak mau orang lain tau tentang pesan rahasia tadi.


Fernelix : " Dasar kau bocah! "


Kita semua kembali ke aula. Kami membuka pintu, dan kami terkejut melihat garis cahaya yang sangat terang di tengah altar.


Fernelix : "Kejutan apa ini? Ini diluar rencana. "


Akhirnya Fernelix kembali menelepon sang ketua. Fernelix terlihat kaget, seperti baru saja mendengar teriakan. Apa sih yang mereka bicarakan? Lalu dia mengeraskan suara teleponnya.


Ketua : " Ini perintah langsung dariku!!! Bunuh apa pun yang keluar dari cahaya itu, siapa pun yang berhasil membunuh nyawa dari cahaya itu, akan kuberi imbalan lima ratus ribu. "


Tiba-tiba cahaya tersebut makin terang, aku hampir tidak bisa melihat apa yang terjadi. Lalu seketika cahaya itu hilang disertai dengan dentuman keras.


"BIUMMMMFF!!!! "


Apa yang terjadi, kenapa ada orang di altar itu, tunggu dulu, itu hanya seorang anak kecil mungkin 16 tahun, dia seperti baru saja jatuh dari ketinggian dan mencoba menahannya dengan kedua tangan dan satu lutut. Lalu dia mengatakan sesuatu.


Orang asing : " Dimana aku? Apakah aku di bumi? "


Zanial : " Siapa kamu? "


Orang asing : " Namaku Edhial. "


Fernelix : " Kalian dengar perintah ketua, bunuh dia. " Awalnya mereka ragu dan saling menatap satu sama lain karena dia hanya anak kecil. Tapi akhirnya semua anggota tim mengarah kan senjata kepadanya.

__ADS_1


" DARRRDARRRDORRRDOOORRR!!!!!"


Suara bising tembakan berbunyi, peluru berterbangan ke arahnya. Aku bersembunyi di balik pilar karena tak sanggup melihatnya.


__ADS_2