Tanah Terakhir

Tanah Terakhir
Perjalanan Madail dan Hadawi


__ADS_3

Aku adalah Madail, kami tinggal di kota Wehadel yang merupakan salah satu kota di Kerajaan Haladal. Aku mempunyai seorang istri, perempuan yang tercantik yang pernah aku temui, dia bernama Hadawi, kami sudah satu tahun menikah dan hidup bahagia di tanah Abala ini. Kami mempunyai teman, dia adalah Balsas seorang wanita yang baik hati. Kami bertiga berteman sejak kecil.


Hari ini genap satu tahun pernikahan kita tepatnya pada tahun 101.000 Gizala. Karena sekarang bertepatan dengan libur kami selama satu minggu, Balsas ingin mengajak kami ke suatu tempat yang istimewa.


Balsas : " Ayo cepat kemari kita hampir sampai. "


Madail : " Sebenarnya kemana kamu akan ajak kita, Hadawi sudah terlihat lelah berjalan kaki, bisakah kita beristirahat sebentar. "


Hadawi : "Aku tidak apa-apa lagi pula bukankah sudah dekat Balsas?


Balsas : " Ya tinggal beberapa langkah lagi. "


Akhirnya kita sampai disebuah stasiun pesawat cahaya di perbatasan kota Wehadel dan Ibukota Haladal. Tidak heran kita harus berjalan karena untuk menuju stasiun ini harus melalui lingkungan terlarang yang dimana di dalamnya tidak boleh ada kendaraan atau mesin-mesin bertenaga.


Madail : " Pantas saja, ternyata kamu mau ajak kami naik pesawat cahaya. Padahal kalau kereta boleh lewat sini pasti lebih cepat sampainya. "


Balsas : " Iya maaf, kita harus turun dan berjalan lebih dari satu kilometer, karena tempat ini adalah tempat yang terjaga. "


Hadawi : " Iya benar, saya pernah pelajari bahwa sumber tenaga pesawat cahaya tidak boleh tercampur dengan radiasi tenaga dari mesin lain. "


Madail : " Ayo kita naik, sekarang kemana tujuan kita Balsas? Tapi kenapa tempat ini sepi sekali tidak ada pengunjung? "

__ADS_1


Balsas : " Karna saat ini tidak ada satupun yang punya kepentingan menuju tujuan pesawat ini. Pesawat ini akan menuju akar pohon Haladal. "


Saya dan istri terkejut ketika Balsas mengatakan itu, karena selama ribuan tahun Gizala, tidak ada yang pergi ke pohon Haladal selain untuk perawatan kebersihan saja. Semua balasi disini sudah tau bahwa pohon Haladal tidak boleh diganggu apalagi dirusak bahkan aku tidak pernah berfikir akan ada balasi yang sengaja merusak atau mengganggunya, hal itu sungguh tidak mungkin terjadi di sini.


Madail : " Untuk apa kita ke pohon Haladal? Bukankah hanya penjaga kebersihan saja yang punya keperluan di sini, itupun mereka tidak datang setiap waktu. "


Balsas : " Tenang saja, kita hanya akan melihat seisi kerajaan dari puncak pohon Haladal, kita akan menikmati pemandangan itu. "


Hadawi : " Kamu serius, pohon itu kan pohon raksasa tertinggi di alam semesta, sampai kapan kita akan memanjat dan mencapai puncaknya? "


Balsas : " Sekarang sudah ada mesin transportasi dari akar menuju puncak, mesin itu adalah pesawat verikal. Ayo kita naik kita menuju akar Haladal. "


Akhirnya kami menaiki pesawat cahaya tersebut. Karena kota Wehadel adalah kota yang terdekat dengan pohon Haladal, kami hanya memerlukan waktu satu hari untuk menempuhnya. Di perjalanan kami makan tidur menggunakan fasilitas lengkap yang ada di dalam pesawat, kami berbicara bercanda mengisi kegiatan selama di perjalanan, dan tiba tiba kami masuk pada pembicaraan pada saat kelulusan sekolah.


Madail : " Sudah lama sekali, tapi kamu masih ingat saja. "


Hadawi : " Mana mungkin aku lupa, kenangan indah seperti itu tidak boleh terlupakan. Aku juga masih ingat setelah itu kamu dipilh menjadi pemimpin pemuda masa depan, semua lulusan angkatan kita harus tunduk dan mau diarahkan oleh kepemimpinan kamu, supaya masa depan kerajaan Haladal bisa terus aman tentram dan damai. "


Balsas : " Iya kamu memang hebat Madail. Kamu mampu mengatur semuanya memimpin segalanya, semua balasi pun kamu susun tugas dan kegiatannya, terbukti hingga kini tempat ini masih menjadi tempat terindah bagi balasi. "


Hadawi : " Tapi saya heran, kok cuma kamu Balsas yang tidak mematuhi Madail, kamu ini balasi teraneh yang pernah aku tau, tiap hari kamu cuma main makan jalan-jalan. Kamu tidak mengerjakan tugas yang diberikan Madail, dan pada akhirnya tugasmu dikerjakan oleh balasi yang lain"

__ADS_1


Balsas : " Inilah keinginanku, aku hanya ingin membahagiakan diri sendiri. Sebenarnya aku mampu melakukan apapun, bahkan tugas Madail yang semudah itu saja aku pasti bisa lebih baik lagi mengerjakannya. Ditambah lagi ayahku wali kota Wehadel, harusnya aku yang terpilih untuk memimpin pemuda masa depan dengan latar belakang yang lebih pantas dari keluarga pemimpin. Tidak seperti kamu Madail, latar belakang kamu cuma keluarga penambang tanah bangunan. "


Madail : " Iya terserah kamu saja, yang penting kamu senang, tapi kapan kita sampai, sudah seharian kita naik pesawat ini "


Balsas : " Itu dia akarnya sudah terlihat, kita berhenti di sini. "


Madail : " Bukankah batang pohonnya masih sangat jauh? Kamu serius kita sudah mencapai akarnya? "


Balsas : " Iya ini akarnya, ayo kita turun "


Akhirnya kita semua turun dan langsung menuju pesawat vertikal yang sudah tersedia di tempat itu. Pesawat yang tersedia sangat banyak mungkin sampai ratusan berbaris mengelilingi akar Haladal, kami menaiki salah satunya. Perjalanan tidak memerlukan waktu yang sangat lama dan hanya memerlukannya waktu 6 jam.


Balsas : " Ayo sini lihat ke luar jendela. Kita sudah bisa melihat sebagian kerajaan Haladal di ketinggian ini. "


Hadawi : " Wah tinggi sekali. Padahal tampilan navigasi baru menunjukan kita ada di ketinggian 1000 kilometer. "


Balsas : " Iya tinggal beberapa ribu kilometer lagi kita akan sampai. Di puncak akan ada penginapan luas yang diperuntukan untuk petugas kebersihan, kita bisa menginap disana untuk beberapa hari. "


Madail : " Kamu sepertinya tau banyak, bagaimana situasi sekarang di puncak Haladal? "


Balsas : " Aku ada disana ketika tugas pertamaku muncul sebagai pemuda masa depan, dan aku tidak mengerjakan tugas itu, hahaha. "

__ADS_1


Hadawi : " Akhirnya kita sampai, ayo kita turun. "


Ketika kami turun, betapa terkejutnya aku melihat sangat banyak balasi yang berkumpul disini, dan aku heran kenapa semua balasi yang berkumpul di sini bermata hitam.


__ADS_2