
Methas : " Jangan mendekat, siapa kamu, apa yang kamu mau dari buah Haladal ini? "
Ayahku mencoba mengulur waktu dan berharap ada pasukan raja yang menolong, tapi kulihat di sekeliling, semuanya tengah kesulitan dalam pertarungan tak ada satupun yang bisa menghampiri kami, bahkan raja Makalat menghadapi setidaknya 10 balasi mata hitam.
Dia berhenti berlari dan tersenyum, tapi entah kenapa senyumannya itu terlihat mengerikan, aku baru tau ternyata senyuman bisa digunakan untuk hal yang tidak terduga. Lalu dia melihat sekeliling dan mulai berbicara, dia terlihat meremehkan kami, mungkin karena dia tau bahwa kita hanyalah balasi biasa yang tidak bisa bertarung.
Balasi hitam : " Kalau tidak ingin mati, cepatlah menyingkir. "
Edhial : " Kami tidak akan membiarkanmu menyentuh buah Haladal, sedikit saja kesalahan, maka buah ini bisa menyebabkan kehancuran. "
Balasi hitam : " Tenang saja, buah ini tidak akan menghancurkan apapun jika kamu tau cara mengendalikannya. "
Methas : " Apa? Mahluk kejam sepertimu mau mengendalikan ini? Jangan main-main. Tidak ada yang bisa mengendalikan buah Haladal, jangan coba-coba menipu kami. "
Balasi hitam : " Aku tidak pernah bilang aku bisa mengendalikan buah ini. Akan kubawa buah ini pada Sang ratu. "
Edhial : " Sang ratu? Siapa dia? "
Kami tersudut, hanya bisa mundur perlahan. Tiba tiba kami menyentuh salah satu ranting Haladal. Oh tidak dia sangat dekat dengan buah ini.
Balasi hitam : " Kalian memang banyak bicara, bukan salahku bila kalian mati, HIAAAA! "
Dia mengangkat senjatanya dan mencoba untuk menyakiti kami. Tiba-tiba.
"STEAANKKK!!!! "
Senjatanya dihadang oleh sesuatu.
Raja Makalat : " Cepat pergi dari sini!! "
__ADS_1
Kami menjauh dan raja pun bertarung dengan balasi hitam itu di dekat tangkai buah Haladal.
Namun hal yang tak terduga terjadi. Pertarungan mereka menghantam salah satu tangkai Haladal.
Dan satu buah dari pohon Haladal itu terpetik dari ketinggian. Raja Makalat terlihat panik lalu berteriak.
Raja Makalat : " Cepat tangkap buah itu, buah itu bisa meledak bila terkena benturan!!!" Balasi hitam tadi memanfaatkan kelengahan raja Makalat, lalu dia menendangnya dengan sangat keras hingga terpental jauh.
Aku mencoba berlari melompat menerjang dan mengulurkan tangan hingga tersungkur untuk meraih buah Haladal itu namun terlambat, buah itu jatuh dan terbentur tepat di depan tanganku yang terbuka.
Balasi hitam : " Serahkan buah itu kepadaku sebelum terlambat. "
Edhial : " Tidak!! "
Untunglah sebagian pasukan raja datang menghadang balasi hitam itu dari buah yang baru saja terjatuh.
Aku segera meraih buah itu dan berlari menjauh, dan tiba-tiba saja, oh tidak buah itu mulai mengeluarkan cahaya putih yang sangat terang, aku pun menutup mata karena tak sanggup untuk melihatnya. Lalu raja Makalat berteriak.
Aku tak tau harus berbuat apa, semua yang ada di sini menutupi mata dan hampir buta tidak bisa melihat apa-apa. Tubuhku bergetar, aku merasakan sesuatu yang tak pernah ku rasakan sebelumnya, yaitu ketakutan, jantungku terasa panas seperti tak sanggup untuk melewati apa yang akan terjadi kedepan. Aku takut buah ini meledak, aku takut mati. Aku berteriak menangis.
Edhial : " Sang Satu tolong aku!! Ayah apa yang harus aku lakukan. "
Methas : " Aku di sini nak, cepat lempar buahnya padaku, biar aku yang memakannya. "
Edhial : " Tidak ayah, akan kuberikan pada yang lain saja, kamu tidak boleh memakannya. "
Kupegang buah Haladal ini sambil menutup mata dan bersiap melemparnya.
Edhial : " Tapi bagaimana ini, harus kemana ku lempar buah ini, aku tidak bisa melihat. "
__ADS_1
Methas : " Aku tidak tau, aku pun tidak bisa melihat apa-apa. "
Bila aku salah melempar maka yang lain akan sulit mencarinya dan tamatlah sudah jika tidak ada yang bisa memakannya. Dan cahaya buah itu bertambah terang lagi aku nyaris buta, buah ini akan meledak. Badanku tambah bergetar kebingungan. Aku sangat gelisah dan ketakutan, apakah aku harus memakannya?
Tiba-tiba sebuah suara muncul, tapi suara itu tidak terdengar di telinga seperti langsung berbisik di dalam hati.
Suara : " Tidak apa-apa jika kamu tidak memakannya, kamu dan bangsamu yang mati akan terbebas dari dosa dan kamu akan menuju tempat yang terbaik dan terindah di sepanjang hidupmu untuk selamanya. Dan tidak apa-apa jika kamu memakannya, kami akan berjuang bersamamu seumur hidupmu untuk memperbaiki dunia ini sebelum kamu menuju tempat yang terbaik dan terindah itu. "
Edhial : " Tapi jika ayahku dan para balasi di kerajaan ini mati serta pohon Haladal hancur, siapa yang akan bertanggung jawab dan memperbaikinya? "
Suara : " Jika kamu mati, kamu hanya perlu tenang dan tidak perlu memikirkan lagi dunia kehidupan. "
Aku merasa tidak sanggup, lalu aku merasakannya lagi, sesuatu yang baru dihatiku, seperti kemarahan, kesedihan, emosi yang tidak terkendali. Aku tidak mau ayahku mati, aku tidak mau bangsa balasi hancur, aku tidak mau rumahku kerajaan Haladal ini luluh lantak. Dan aku ketakutan dan tidak mau mati. Akhirnya aku mengambil resiko membuat keputusan dengan suasana hati yang tidak pernah kulalui sebelumnya. Aku memutuskan untuk memakan buah itu dengan harapan aku akan bisa mengendalikan kekuatannya di tempat lain. Itu artinya aku harus pergi dan harus berpisah dengan ayahku untuk waktu yang tidak ku ketahui.
Edhial : " Ayah maaf, aku pergi untuk sementara, aku akan berusaha untuk kembali. "
Methas : " Edhial jangan! "
Aku memakan buah itu. Kutelan habis semuanya.
Tiba-tiba badanku terasa panas, namun aku merasa segar dan merasa lebih sehat dari sebelumnya, badanku terasa penuh energi yang siap kulepaskan. Tubuhku terasa terlalu kuat untuk bergerak, bahkan aku tidak berani menyentuh apapun karena takut merusaknya. Kemudian penglihatanku menjadi terlalu tajam sampai-sampai ketika menghadap langit aku merasa bisa melihat pohon Haladil yang ada di ujung alam semesta sana. Otakku terasa sangat jernih dan sangat segar. Aku merasa menjadi balasi yang terpintar di dunia, segala hal yang dulu masih jadi pertanyaan seketika aku tau semua jawabannya, aku jadi tau semuanya, tidak ada yang tidak aku ketahui, dan dari sinilah aku mengerti, ternyata kekuatan buah Haladal akan bertolak belakang dengan induknya bila kekuatannya itu berpindah pada wadah yang lain. Dan bila terlalu lama dibiarkan maka wadah ini atau tubuhku akan meledak dan mati. Sekarang juga aku harus pergi melompat setinggi-tingginya.
Edhial : " Ayah sampai jumpa lagi. "
Methas : " Edhiaaaaal kembalilaaaah!! "
"Jbuumm!!!! "
Akhirnya aku melesat cepat dengan kecepatan yang tidak bisa terbayangkan. Hanya teriakan ayahku yang terakhir bisa kudengar kemudian menghilang diiringi dentuman keras dari tempatku berpijak.
__ADS_1
Ini terlalu cepat aku masih belum bisa mengendalikan kecepatannya, bintang-bintang dihadapanku bertebaran seperti pasir yang menerpa wajahku, planet-planet berhamburan seperti air yang menerjang tubuhku, bahkan batu-batu angkasa sudah seperti butiran debu yang meniup ke seluruh badanku. Tapi anehnya tidak ada satu pun yang tersentuh, aku hanya tiba-tiba menjadi tau bagaimana cara melewati semua yang ada di depan mata.