
Aku terus melaju melintasi lautan galaksi tanpa batas. Sangat lama waktu yang diperlukan untuk mencapai pusat alam semesta, sempat terpikirkan di bagian bumi mana aku akan mendarat. Sepertinya di manapun tidak masalah.
Dari kejauhan akhirnya terlihat setitik biru berbentuk bola, ya benar, itu bumi tidak salah lagi. Aku berhenti mengurangi kecepatan lalu mendarat di sebuah bintang yang terdekat dengan bumi, sepertinya aku ingat, mereka menyebut bintang ini dengan nama matahari. Ternyata panas sekali disini, tapi kekuatanku ini cukup untuk membuatku tegak berdiri di daratan yang panas ini. Ku pandangi bumi dari sini dan bersiap untuk mendarat di bagian mana pun di bumi. Namun tiba-tiba aku melihat cahaya garis putih yang terpancar dari salah satu bagian bumi. Aku penasaran dengan cahaya itu dan segera menghampirinya. Ku dekati perlahan garis cahaya itu, tapi tak disangka.
Edhial : " Ada apa ini, kenapa badanku terasa lemah? Tidak mungkin, cahaya apa sebenarnya ini, kenapa cahaya ini seperti menarik seluruh tenaga dari tubuh ku. "
Aku tidak bisa berbuat apa apa, dan tiba-tiba aku terjatuh mengikuti cahaya putih tersebut. Lalu terjun bebas menuju sebuah pegunungan yang diselimuti salju.
"JGRAGG!!!!!"
Suara benturan keras terdengar seiring tubuhku yang mendarat menembus pegunungan ini dan berakhir di sebuah ruang dan terjatuh tepat di atas sebuah meja batu. Aku hanya bisa berusaha untuk menahan benturan dengan menggunakan kaki dan kedua tanganku. Cahaya putih itu belum juga hilang aku masih tidak bisa melihat apapun selain meja batu ini. Lalu cahaya itu menghilang perlahan. Akhirnya aku mulai bisa melihat apa yang ada disekitar ku.
Namun betapa terkejutnya, di sekeliling ku sudah ada beberapa manusia yang terlihat tegang menatap tajam ke arahku. Ada apa dengan mereka. Beberapa diantara mereka berkomunikasi dengan bahasa yang belum pernah kudengar sebelumnya, tapi anehnya aku bisa paham apa yang mereka katakan dan aku pun merasa bisa mengikuti bahasa yang mereka gunakan.
Edhial : " Dimana aku, apakah aku ada di bumi? "
Orang asing : " Siapa kamu? "
Edhial : " Namaku Edhial. "
Tiba-mereka menunjuk diriku dengan sebuah alat berbentuk panjang yang bentuknya asing bagiku, benda apa itu.
"DARDARDORDARDOR!!!! "
Semua benda itu melepaskan sesuatu seperti butiran logam disertai suara bising dan nyala api. Benda itu sangat cepat dan mengenai seluruh bagian tubuhku.
Aku terpental jauh ke belakang dan merintih kesakitan. Butiran logam itu sangat terasa panas menyentuh dan menempel di kulitku, segera ku singkirkan logam-logam itu.
__ADS_1
Edhial : " Hei!!! Apa yang kalian lakukan. Ini sangat menyakitkan, tolong hentikan. "
Aku tidak mengerti, kenapa kekuatanku seperti melemah, padahal barusan saja aku sanggup berpijak di daratan matahari yang begitu panasnya.
Terdengar langkah kaki mereka berlari menuju tempat ku terjatuh. Dengan sigap aku langsung berdiri dan mereka mengarahkan benda itu lagi kepadaku. Itu sangat menyakitkan dan aku tidak mau merasakan itu lagi.
"DARDORDARDARDAR!!! "
Oh tidak, mereka melakukannya lagi. Seketika aku langsung mengarahkan telapak tangan kiri ku ke depan, dan mencoba untuk menahan semua butiran logam itu. Tiba-tiba selembar cahaya biru keluar dari telapak tangan kiri ku ini dan membentuk bidang seperti perisai, juga di tangan kananku muncul sebuah cahaya merah panjang yang terpancar dari genggaman tanganku, untunglah kekuatanku tidak sepenuhnya hilang. Semua butiran logam itu tertahan dan terpental ketika mengenai perisai cahaya biru ini.
Para manusia itu langsung terdiam dengan tatapan yang tajam. Apa sebenarnya yang mereka pikirkan, aku tak menyangka ternyata seperti ini lah manusia, benar-benar bangsa yang suka berperang.
Tiba-tiba tubuhku terasa lebih lemas lagi, mungkin energi dalam tubuhku akan habis bila terus digunakan, aku harus segera mengakhirinya sebelum tenaga ku benar-benar habis. Dengan cepat aku berlari mendatangi para manusia itu satu persatu, dan ku hancurkan semua benda panjang itu dengan cahaya merah dari tangan kananku ini. Tapi apa yang terjadi? Kenapa mereka semua terjatuh? Semua manusia yang mempunyai benda panjang itu terjatuh, mereka seperti tersengat cahaya merah tangan kananku yang mengalir melalui benda panjang itu.
Hanya tinggal dua manusia lagi yang masih berdiri, mereka berdua tidak memegang benda panjang yang menyakitkan itu.
Orang asing : "Sebaiknya kita lari, kita tidak tau sedang berhadapan dengan siapa. "
Edhial : "Jangan takut, aku tidak berniat menyakiti siapa pun. "
Akhirnya dia keluar dari balik pilar secara perlahan.
Orang asing : "Kamu ini apa? Kenapa anak kecil seperti kamu tiba-tiba muncul di tengah cahaya tadi? "
Edhial : " Anak kecil? Jangan sembarangan bicara, umurku sekarang 52 tahun gizala. "
Orang asing : " Tapi tampang mu seperti seumuran denganku, umurku saja masih 17 tahun, mana mungkin kamu 52 tahun? Lalu apa maksudmu tahun gizala? Dari mana sebenarnya asal mu? "
__ADS_1
Edhial : " Di tempat asal ku orang akan saling menyapa dan berkenalan satu sama lain sebelum berbicara panjang lebar, manusia memang aneh. "
Orang asing : " Namaku Zanial, sekarang jawab semua pertanyaan ku! "
Edhial : " Gizala adalah bintang yang terdekat dengan batas alam semesta yang merupakan tempatku berasal, tapi bintang gizala mempunyai perputaran yang sejajar dengan bintang yang terjauh dengan batas alam semesta, yaitu matahari. "
Zanial : " Kamu ngomong apa sih, aku gak ngerti. "
Edhial : " Aku berasal dari Kerajaan Haladal, dimana pohon Haladal berdiri. Apakah ini bumi? Kita ada dimana sekarang? "
Zanial : " Pohon Haladal? Pohon yang ada seperti di lukisan itu? Hei kamu jangan berkhayal, pohon Haladal itu hanyalah ungkapan yang diciptakan oleh Hadawi untuk menyebut istana ini sebagai rumah. "
Edhial : " Apa kamu bilang? Hadawi? Berapa banyak yang kamu ketahui tentang dia? Berarti tidak salah lagi, ini memang Bumi. "
Zanial : " Kamu memang orang aneh, mata kamu aja putih semua, udah kaya zombi. "
Edhial : " Apa kamu bilang? Yang aneh itu kamu dan orang orang tadi yang menyerang ku, matanya kalian semua hitam putih, mata macam apa itu? "
Zanial : " Ah sudah lah aku ga peduli, aku pergi dulu, orang tua sialan itu belum membayar ku, aku akan mengejarnya. "
Dia berlari ke arah orang tua tadi yang pergi. Aku kebingungan, apa yang harus aku lakukan sekarang, akhirnya aku mengikuti berlari dibelakangnya. Pada awalnya dia mengacuhkan ku, tapi beberapa lama kemudian dia berbalik.
Zanial : " Ngapain kamu ngikutin? "
Edhial : " Aku tidak punya tempat tujuan. "
Zanial : " Kenapa kamu gak pulang ke tempatmu. "
__ADS_1
Edhial : " Aku belum tau caranya pulang. "
Akhirnya dia kembali berlari mencari orang tua tadi dan hanya mengacuhkan ku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya mengikuti Zanial kemanapun dia pergi.