
Methas : "Edhial! Ayo cepat ayah tidak bisa menunggu lama."
Edhial : "Baik ayah aku sudah selesai."
Kami pergi ke kota menuju pusat ilmu. Pusat ilmu adalah tempat dimana semua beraktifitas. Kami bangsa Balasi sudah terbiasa melakukan rutinitas ini. Setiap bintang Gizala melintas di garis waktu terang selama 12 jam kami memulai aktifitas ini, dan ketika bintang Gizala mengecil menuju ujung garis gelap kami mulai berhenti dan beristirahat selama 12 jam.
Tidak semua Balasi menuju pusat ilmu , beberapa menuju pusat keamanan, ada juga yang menuju pusat perdagangan, pusat makanan, dan masih banyak lagi pusat yang bangsa kami kunjungi setiap pagi ketika memulai beraktifitas. Di luar area pusat adalah alam bebas yang tidak terganggu oleh aktifitas, semuanya bersih indah damai. Kami sudah hidup seperti ini dari awal Balasi pertama lahir di sini.
Edhial : "Apa yang akan kita lakukan hari ini ayah?"
Methas : "Kita akan memperbaiki teleportscop yang pernah ayah buat. Percobaan terakhir hanya mampu bertahan selama 3 jam setelah itu entah kenapa mesin ini tidak bisa berfungsi lagi."
Edhial : "Ketika mesin ini berfungsi aku ingin melihatnya bersamamu."
Methas : "Hmm ntah kapan ini akan berfungsi, mungkin waktu itu hanya beruntung, mungkin juga ada hal lain dari luar sana yang menyebabkan ini bisa berfungsi. Jangankan untuk mu, semua orang pun akan kutunjukan agar mereka semua percaya jika aku pernah melihat dunia di atas sana."
__ADS_1
Edhial : "Apa yang ayah lihat ketika itu?"
Methas : "Mereka menamai diri mereka sebagai bangsa manusia, sekilas mereka mempunyai bentuk tubuh yang sama dengan bangsa Balasi. Semuanya sama bahkan penggunaan batasan waktu pun terlihat sama persis, tapi yang jelas berbeda adalah tempat yang mereka diami, mereka berdiri di atas sebuah planet yang juga merupakan pusat dari alam semesta, mereka menamainya planet Bumi hanya saja mereka salah paham dan masih menganggap planet mereka bukanlah pusat alam semesta."
Edhial : "Mengapa mereka punya kesamaan dalam pembatasan waktu? Apakah mereka juga menggunakan bintang gizala seperti halnya kita? Tapi bukankah bintang gizala terlalu jauh untuk mereka?"
Methas : "Ya tepat sekali bintang Gizala terlalu jauh untuk mereka, mereka menggunakan satu bintang untuk pembatasan waktu yang mereka sebut dengan matahari. Bintang tersebut adalah bintang yang paling dekat dengan pusat dunia. Sedangkan bintang Gizala adalah bintang yang paling jauh dari mereka tapi paling dekat dengan tempat kita ini yang ada di batas alam semesta ini. Namun antara Matahari dan bintang Gizala mereka mempunyai kecepatan rotasi yang sama dan sejajar. Mungkin kedua bintang tersebut mempunyai hubungan yang erat kaitannya karena hubungan mereka adalah terjauh dan terdekat."
Edhial : "Apakah mereka tau alam semesta mempunyai batas berupa daratan yang juga merupakan tempat tinggal kita? Apakah mereka tau tempat kita ini disebut Tanah Abala?"
Edhial : "Bukankan percobaan terakhir hanya mampu selama 3 jam, tapi sepertinya ayah tau banyak tentang mereka?"
Methas : "Itu karena alat ini adalah teleportscop, dia bisa dikendalikan di titik yang kita inginkan, entah kenapa pada saat itu alat ini bisa bertaut pada materi yang ada di sana, dan setelah 3 jam materi itu hilang, mungkin materi ini yang diperlukan untuk menghidupkan mesin ini lagi, itu karena mesin ini memerlukan 2 arah interaksi. Sekarang tinggal mencari materi yang ada di sana yang mampu menangkap sinyal alat ini lebih lama."
Edhial : "Kenapa kita tidak cari saja materi yang ada di sini lalu kita kirim ke sana?"
__ADS_1
Methas : "Mengirimnya? Iya itu bisa saja, tapi jarak mereka terlalu sangat jauh dan belum pernah ada yang mencobanya."
Edhial : "Sepertinya akan menyenangkan bila kita bisa ke sana."
Methas : "Menyenangkan? Jangan harap kamu bisa bahagia disana. Disana banyak terjadi kekacauan, saling menyakiti sesama, sering merusak tempat tinggal mereka sendiri, bahkan mencemari apa yang mereka butuhkan. Pemikiran mereka cenderung pada pemikiran yang menguntungkan diri sendiri. Seperti itulah mereka. Bahkan mereka memiliki istilah "perang" yang bahkan pada awalnya ayah sendiri tidak mengerti apa artinya. Dan setelah melihatnya beberapa saat, baru ayah mengerti bahwa perang adalah aktifitas saling menyakiti bahkan menghilangkan individu dengan tujuan yang bermacam macam."
Edhial : "Waah ternyata ada dunia yang seperti itu. Disini disepanjang sejarah kita tidak pernah mengenal apa itu perang, apakah ayah tau kenapa mereka seperti itu?"
Methas : "Itu masih belum jelas, karena saat itu waktunya hanya sebentar. Tapi yang sekilas terlihat adalah mereka mempunyai banyak kelompok yang berbeda-beda dalam menjalani kehidupan mereka, dan tiap-tiap kelompok mempunyai petunjuknya masing-masing, sehingga setiap petunjuk yang berbeda itu menghasilkan berbagai macam kekuatan. Perbedaan itulah yang menyebabkan mereka seperti itu. "
Edhial : "Aneh sekali mereka, padahal kita semua disini sudah mengerti bahwa kekuatan sejati yang terkuat itu hanya satu, dan kekuatan itu berasal dari Sang Satu."
Methas : "Ya kamu memang benar, Sang Satu memang adalah sumber kekuatan yang sebenarnya, sedangkan mereka hanya melihat sebuah kekuatan dari penampilan saja, atau bahkan mereka mempunyai alasan yang tak lazim dalam memilih sebuah kekuatan, misalnya karena kekuatan turun temurun, atau karena lebih nyaman digunakan, atau karena terlihat lebih kuat, bahkan ada yang memilih hanya karena untuk mencari lawan jenis. Itu semua alasan yang tak masuk akal bagi kita disini. Dan mereka belum sadar bahwa berbagai macam kekuatan yang mereka pegang sebenarnya masih berasal dari Sang Satu."
Edhial : "Sekarang apa yang akan kita lakukan setelah mesin ini bisa bekerja dengan baik? "
__ADS_1
Methas : "Kita akan mempelajari semua tentang bangsa Manusia.. "