
...Happy Reading...
.........
........
.......
Pagi yang cerah, mentari pun bersinar dengan terang. Jocelyn beserta keluarganya baru saja selesai sarapan. Kini ia pun membantu ibunya untuk membereskan meja makan.
Jocelyn memasukkan piring beserta peralatan makan yang sudah kotor lainnya ke dalam wastafel.
Makanan sisa ia sisihkan dan ia pilah antara yang bisa di simpan dan harus di masukkan ke dalam keranjang sampah.
Setelah memisahkan makanan sisa, Jocelyn memasukkan semua peralatan makan yang kotor di wastafel ke dalam dishwasher untuk dicuci.
Tangannya bergerak menekan tombol, lalu ia lanjut membereskan dapur dan begitu selesai, ia langsung menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk di sofa.
Ia menyapa dan duduk di samping ibunya yang tampak sedang fokus menikmati waktu santai bersama dengan ayahnya.
Jocelyn mengambil nafas dalam sebelum akhirnya mengutarakan apa yang terbesit di dalam benaknya dengan perasaan yang begitu gugup.
"Bu, ibu tau kan sebentar lagi aku akan wisuda" ujar Jocelyn membuka percakapan dengan kalimat yang gugup dan perasaan yang tak karuan.
"Ada apa sayang?, apa kamu mau sesuatu setelah upacara kelulusanmu?" Tanya ibunya senang, karena jarang sekali Jocelyn akan meminta sesuatu.
Terutama dengan nada gugup dan kalimat yang terbata - bata. Pastilah hal yang diminta Jocelyn adalah hal yang besar, begitulah pikir ibunya.
"Kamu bisa minta apapun. Tidak usah ragu-ragu begitu" sambung ayahnya mengiyakan.
Jocelyn menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, tiba - tiba saja ia merasa bingung dengan apa yang harus ia katakan. Padahal keduanya sudah setuju untuk mendengarkan.
"Aku ingin pindah dan tinggal di manhattan" pinta Jocelyn ragu, setelah akhirnya memikirkan apa yang ingin ia katakan dengan seksama.
Kedua orang tuanya tertegun mendengar permintaan yang keluar dari bibir putri bungsu mereka, tak tahu harus memberi respon yang bagaimana.
"Maksudku, ibu. Aku sudah dewasa dan pastinya umurku juga sudah bisa memasuki usia bekerja. Jadi, karena itu bolehkan kalau aku memilih untuk pergi ke manhattan?"
"Disana aku pasti akan menemukan pekerjaan yang bagus dan.." ucapan Jocelyn tak berlanjut kala ibunya dengan cepat memotong ucapannya yang bahkan jauh dari kata selesai.
"Bukannya ibu tidak mengizinkanmu, hanya saja " perkataan ibu Jocelyn juga terhenti kala sang ayah dari putri bungsu itu menyela ucapannya.
"Baiklah kalo kau ingin tinggal disana, tapi berjanjilah kau akan sering berkunjung!"
__ADS_1
Pada akhirnya, ayahnya meng-iyakan permintaan dari putri bungsunya itu. Namun sepertinya ibu Jocelyn tidak senang dengan keputusan ayahnya yang bahkan tak dibicarakan dengannya.
Anna menatap Thomas tak percaya. Ia benar - benar tak menyangka Thomas akan membuat keputusan tanpa bertanya akan pendapatnya terlebih dahulu.
Anna memicingkan matanya mengisyaratkan Thomas untuk mendiskusikan hal ini terlebih dahulu, namun sepertinya Thomas tak begitu memedulikan tatapannya.
Thomas hanya menatap Anna sebentar seraya mengerutkan dahinya yang menandakan bahwa ia tak merasa ada hal lain yang perlu untuk dibicarakan kembali.
"Apa kau serius sekarang?" Tanya Anna yang pada akhirnya menyuarakan ketidaksetujuannya pada permasalahan ini.
"Apa yang perlu di khawatirkan?, lagipula Joe juga sudah dewasa. Ia berhak menentukan pilihannya sendiri bukan?"
Thomas mencoba membujuk Anna untuk percaya dengan keputusan yang ia ambil. Ia juga memberikan senyum penuh arti, agar Anna dapat melihat seberapa percaya dirinya akan keputusan itu.
"You've got to be kidding me!" cicit Anna tersenyum remeh.
Thomas mengerutkan dahinya tak mengerti, ia tidak merasa keputusan yang ia ambil salah sama sekali. Malah ia rasa, keputusan inilah yang sebenarnya diinginkan oleh Jocelyn.
"Apa kau sungguh tidak tau seberapa berbahayanya manhattan?. Apa kau mulai lupa dengan apa yang sudah terjadi pada Marco" peringat Anna pada Thomas.
"Apa kau juga ingin putrimu menjadi salah satu korbannya? Hah?"
Anna mencoba untuk memberi tahu Thomas kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi saat Jocelyn tak berada dalam pandangan mereka.
"Ini tidak seperti dia akan diburu oleh pembunuh atau siapapun itu!"
"Lagipula, dia bukan satu - satunya musuh yang kita punya" Thomas mencoba kembali menjelaskan, namun tampaknya Anna juga akan bersikeras dengan keputusannya.
"Kalau kau tau bukan hanya dia musuh yang kita punya. Berarti kau juga sadarkan, keputusan besar apa yang telah kau buat"
Anna kembali mencoba untuk membuka pikiran Thomas yang malah tampak sedang kacau baginya. Thomas sama sekali tak mau mendengarnya.
"Kau baru saja mengantar anakmu sendiri ke kandang harimau. Apa kau akan setega itu, Thomas!"
Anna membesarkan suaranya, berharap Thomas akan sadar bahwa keputusan yang diambilnya itu salah. Sangat Salah.
Namun tampaknya, Thomas juga benar - benar sudah tak bisa dibantah lagi. Keputusannya sudah bulat dan ia sudah memantapkan hatinya dengan keputusannya itu.
"Kurasa kau perlu istirahat. Kita akan bahas ini kembali besok" Thomas mengatakan hal itu kepada istri dan anaknya seraya berlalu meninggalkan keduanya.
Anna tersenyum kecut. Ia tau betul bagaimana sifat suaminya itu. Keputusan yang diambilnya juga pasti telah dipikirkan matang - matang.
Tapi tetap saja, Anna tak bisa menerimanya, karena dengan alasan apapun itu, manhattan bukanlah tempat untuk keluarga Richards.
__ADS_1
Ada sesuatu yang menjadi penyebab kenapa keluarga Richards tinggal di brooklyn, tapi sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan rahasia keluarga terutama pada Jocelyn.
Jocelyn menatap ibunya yang sedari tadi terdiam larut dalam pikirannya sendiri.
Ia merasa tak enak hati, karena telah menyebabkan orang tuanya bertengkar hanya karena masalahnya yang notabenenya adalah masalah sepele.
Orang tuanya juga bukanlah tipe yang akan mempermasalahkan hal sepele menjadi permasalahan besar. Sehingga sangat jarang orang tuanya akan bertengkar kecuali untuk hal - hal yang besar.
Dan seperti saat ini pula, Jocelyn yakin bahwa ada suatu hal yang masih disembunyikan mereka darinya. Namun ia tak bisa menanyakan hal itu untuk sekarang.
Jocelyn memegang tangan ibunya yang duduk tepat di sebelahnya. Anna yang kaget menjadi agak tersentak dan menatap putrinya sendu.
Ia tersenyum.
"Tidak usah dipikirkan, ibu akan bicara dengan ayah setelah ini. Ibu rasa ayah pasti kecapean karena telah bekerja seharian"
Anna berujar untuk menenangkan putrinya namun Jocelyn menggeleng. Ia merasa bersalah.
"Tidak. Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah membuat ayah dan ibu berselisih paham. Aku benar - benar minta maaf"
Ujar Jocelyn menyesal.
Anna hanya tersenyum dan mengelus kepala Jocelyn lembut.
"Tak usah begitu, lagipula ini juga bukan salahmu"
"Tapi bu, aku benar - benar ingin pindah dan tinggal di manhattan. Apa ibu benar - benar tidak bisa memikirkannya kembali?"
Ucapan yang terlontar dari mulut putri bungsunya itu seketika menghentikan senyuman yang tadinya tersungging di bibirnya.
Anna tak suka dengan percakapan ini, terutama ketika membahas tentang manhattan. Anna membencinya.
"Sekarang sudah larut. Kita bisa membicarakan masalah ini besok. Ibu juga sudah lelah"
Jocelyn yang menyadari perubahan dari raut wajah ibunya pun terdiam. Sesuatu terasa janggal disini.
"Apa ibu menutupi sesuatu dariku?" Tanya Jocelyn pada akhirnya karena tak tahan dengan segala keingintahuannya yang terus meronta.
Meskipun sebenarnya Anna agak terkejut dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Jocelyn, ia berhasil menutupi keterkejutannya.
"Itu tidak benar sweety. Jadi tolong jangan berpikir yang macam - macam. Ibu akan kembali ke kamar duluan. Selamat malam"
Anna mengecup kepala putrinya lalu berlalu pergi ke kamarnya dan meninggalkan Jocelyn dengan segala tanda tanya di dalam benaknya.
__ADS_1
Sesuatu terasa janggal dan aku harus menemukan jawabannya secepat mungkin. Karena itu, bisa menjadi salah satu petunjuk akan apa yang telah terjadi selama ini.