Taste Of Blood

Taste Of Blood
10


__ADS_3

...Happy Reading...


.........


........


.......


Setelah perdebatan panjang antara Jocelyn dan keluarganya, pada akhirnya ia berhasil meluluhkan kedua orang tuanya dan ia diizinkan ke manhattan.


Tentu saja Jocelyn terus mengutarakan alasan logis dan dapat dimengerti, hingga akhirnya mau tidak mau mereka pun menyetujui ide Jocelyn.


Awalnya mereka tidak menyetujuinya, namun melihat kegigihan Jocelyn, mereka akhirnya merelakan ia untuk pindah dan tinggal di manhattan.


Tentu saja dibarengi persyaratan jika gadis itu, akan sering menghubungi kedua orang tuanya dan jika ada waktu, ia tidak akan lupa untuk pulang dan berkunjung ke kediaman orang tuanya.


Dan sekarang, disinilah ia berada. Di sebuah apartement berukuran sedang yang memiliki perabotan lengkap.


Dua kamar tidur, dilengkapi ruang santai dan juga dapur, tak lupa kamar mandi yang terletak di dalam kamar utama dan di dekat dapur.


Terdapat juga walk-in closet serta sedikit space untuk berkebun di balkon kamarnya.


Meskipun apartement ini tidak besar, tapi bagi Jocelyn ini sudah cukup untuk menopang hidupnya dan menjadi tempat berteduh untuknya selama ia tinggal di manhattan.


Langkah selanjutnya, ialah mencari pekerjaan. Sebenarnya,ada banyak pekerjaan paruh waktu yang ingin ia lamar mengingat ia masih belum diwisudakan.


Tujuannya bekerja part time juga hanya untuk mengisi kekosongan waktunya selama ia di manhattan dan sebelum ia akhirnya di wisudakan oleh pihak kampus.


Jocelyn mengambil dan melihat beberapa brosur yang telah dibawanya dari jalan, dan menemukan sebuah iklan lowongan pekerjaan yang menarik minatnya.


Ia sudah lama memimpikan untuk melakukan hal ini dengan tangannya sendiri, dan tidak menyangka jika akhirnya ia disuguhkan kesempatan yang telah ditunggunya itu.


Jocelyn merasa senang dengan kesempatan yang mungkin tak akan datang dua kali itu. Ini terasa seperti kesempatan yang diberikan Tuhan untuk menguji keberuntungannya dengan melamar di tempat tersebut.


Jocelyn membaca iklan mengenai lowongan pekerjaan itu dengan seksama, tak melewatkan setiap rincian dari tulisan tersebut.


Ia membaca persyaratannya satu persatu dengan fokus dan lamat. Tak lama kemudian ia tersenyum.


Well, aku memenuhi semua persyaratannya. Jadi kurasa aku tak perlu membuang waktuku dan langsung bergegas kesana saja - batin Jocelyn senang.


Ia mendatangi tempat dikeluarkannya lowongan pekerjaan itu. Cafe yang terletak di daerah west village itu terletak tak jauh dari tempat tinggalnya di Murray Hill. Hanya membutuhkan waktu 11 menit.


Cafe dengan desain klasik itu sangat menarik perhatian pengujung, nuansa dan struktur bangunannya juga meniru gaya bangunan pada jaman feodal dulu.


Mungkin bisa dikatakan, cafe ini adalah cafe mewah yang mampu membuat siapapun berlama - lama untuk menghabiskan waktu di sana.


Bangunan tiga lantai itu juga memiliki baked bakery shop di lantai dua dan spa di lantai atasnya.


Dengan langkah yang mantap ia menemui pelayan di cafe itu dan memintanya untuk mempertemukannya dengan sang manajer cafe.


Terlihat pelayan cafe tersebut tersenyum menyambut kedatangannya, dan memintanya untuk menunggu sebentar selagi ia memanggilkan atasannya.


Benar - benar cafe dengan service yang memuaskan pelanggan. Ia tidak sabar ingin menunjukkan seberapa hebatnya ia dalam meracik kopi.


Benar, Jocelyn sudah menyukai menjadi barista semenjak ia masih bersekolah di high school. Ia bahkan pernah bekerja paruh waktu di beberapa cafe dengan menjadi barista.


Meskipun ini bukanlah pekerjaan impiannya, tapi menjadi barista sangat menyenangkan dan ia sudah menyukai hal itu sebagai hobbynya.


Meracik kopi, membuat jenis varian kopi yang baru juga memberikan desain yang lain daripada yang lain, itu semua adalah hobby dan bahkan sudah menjadi salah satu keahliannya.


Bahkan tak jarang ia menjadi satu - satunya berista perempuan di tempat kerja part time nya dulu.

__ADS_1


Karena kebanyakan para barista adalah laki - laki, Jocelyn terkadang menjadi satu satunya barista perempuan dan tentu saja diperlakukan dengan sangat baik.


Setelah menunggu tak lama, sang manajer datang dan langsung berbincang dengannya sebentar.


Setelah melihat tekad yang dimiliki oleh Jocelyn, ia langsung mewawancarainya dan menanyakan beberapa pertanyaan umum. Juga menyuruhnya untuk sedikit mempraktekkan pengalamannya.


Pertanyaan umum yang ditanyakan kepada Jocelyn tentu saja dapat dijawabnya dengan mudah, pertanyaannya seperti,


Mengapa ia menyukai menjadi barista?.


Mengapa ia memilih tempat ini diantara cafe lainnya yang juga membuka lowongan pekerjaan.?


Apa yang menurut Jocelyn membedakan cafe ini dengan cafe yang lainnya, hingga ia memilih disini?


Dan bahkan menanyakan gaji sebesar apa yang jocelyn inginkan!


Interview itu memakan waktu setidaknya sekitar 30 menit, dan Jocelyn berhasil menjawabnya dengan penuh percaya diri hingga membuat sang manajer tersenyum puas.


"Apa kau siap jika harus bekerja sekarang juga?" Sang manajer bertanya dengan raut wajah berbinar.


"Tentu saja" tanggap Jocelyn senang.


Sang manajer tersenyum dan menjabat tangan Jocelyn erat.


"Kalau begitu selamat bergabung, Jamie akan memberimu seragam dan mengajarkanmu tentang cafe kita"


Begitulah akhirnya Jocelyn bergabung menjadi salah satu pegawai di cafe tersebut dan memulai harinya yang padat di manhattan.


...****************...


Seorang pria yang menggunakan coat berwarna coklat tua sedang duduk menikmati suasana cafe seraya menyesap cappucino miliknya dengan damai.


Pandangan matanya yang tajam ia arahkan ke sekeliling cafe, menikmati suasana cafe yang tampak tenang dengan obrolan yang tidak pernah berhenti.


Namun ini sudah sekitar 20 menit, dan orang yang ditunggunya tersebut masih belum memperlihatkan batang hidungnya sama sekali.


Perasaan yang tadinya santai kini berubah menjadi jengkel, ia menjadi kesal dengan keacuhan orang yang ditunggunya itu.


Kemudian ia menekan serentetan angka pada ponselnya, mencoba menghubunginya hingga akhirnya panggilan tersebut terhubung ke seberang sana.


Pada saat suara di seberang telepon terdengar, ia menghembuskan nafasnya kesal.


[ OTP ]


Shawn


"Halo?"


^^^Jason^^^


^^^"Apa kau mau membuatku menunggu lebih lama lagi?"^^^


^^^"Cepat kemari atau aku akan mempersulitmu lagi dan lagi! Hingga aku puas dan kau akhirnya merasa tidak berdaya."^^^


Shawn


"Kau pikir jika kau mengancamku, aku akan datang menemuimu?. Tidak usah berharap terlalu tinggi"


"Waktuku tidak sesenggang itu untuk datang dan menemuimu,"


"Lagipula, aku juga akan membalasmu atas apa yang telah kau lakukan."

__ADS_1


^^^Jason^^^


^^^"Oh come on! Lagipula ia hanyalah satu dari sekian wanita yang pernah bersamamu."^^^


^^^"Jangan membuatnya terdengar begitu penting. Aku bertaruh kau bahkan akan memiliki kekasih baru tak lama lagi."^^^


S**hawn**


"Tampaknya kau beneran ingin menguji kesabaranku ya? Tak masalah, lagipula aku juga sudah melampiaskan amarahku. Jadi jangan khawatir,"


^^^Jason^^^


^^^"Apa maksudmu?"^^^


Shawn


"Nothing!, kau bisa pulang sekarang dan menyiapkan pemakaman untuk pacarmu itu."


"Jangan khawatir, bawahanku memperlakukannya dengan sangat baik"


"Mereka juga bilang, jika pacarmu itu sangat hebat"


^^^Jason^^^


^^^"Kau....."^^^


Shawn


"Apa kau marah?, jangan terlalu dipikirkan. Lagipula ia juga hanya satu dari sekian banyak wanita yang menemanimu kan?"


"Ah, dan satu hal lagi. Aku tidak berniat memulai semua ini. Jika ada yang harus disalahkan,salahkan saja dirimu sendiri karena sudah memancing amarahku."


[ END CALL ]


Panggilan berakhir. Orang ini adalah Jason. Jason Lewis adalah orang yang menduduki peringkat kedua setelah Shawn Adams.


Ia juga tidak begitu berbeda dengan shawn, dan harus diakui bahwa mereka adalah musuh bebuyutan dan mungkin tak akan ada orang yang mampu untuk merubah keputusan itu.


Keduanya unggul dengan caranya sendiri, tak jarang keduanya juga terkadang bersekutu untuk menghadapi musuh yang sama.


Namun rasa permusuhan diantara keduanya lebih besar, hubungan keduanya tidak baik. Dan itu semua bermula dari kedua orang tua mereka.


Jason memiliki manik mata abu - abu dengan rambut yang berwarna hitam. Mungkin kulitnya memang tidaklah seputih shawn, tapi keduanya adalah Hottie.


Jason mengepalkan tangannya menahan amarah, ia tidak bisa melampiaskannya begitu saja karena kini sedang berada di tempat umum.


Ia masih bisa berpikir jernih!


Ia akan berurusan dengan kepolisian setempat jika sampai membuat keributan yang tidak perlu, dan tentu saja sangat melelahkan untuk menjalani tindak hukum seperti itu.


Membuang - buang waktu, begitu pikirnya.


Dengan amarah yang masih memuncak Jason akhirnya pergi meninggalkan kafe yang tadi ia datangi.


Namun sebelum itu, Jason melihat seorang perempuan dengan rambut brown ikal yang sedang melayani pelanggan.


Setelah memperhatikannya dengan baik. Jason akhirnya pergi meninggalkan cafe itu dan kembali ke mansionnya dan masih dengan amarah yang tampak mendominasi.


Ia ingin segera melihat jasad kekasihnya dan melampiaskan amarahnya pada siapapun.


Ya. Siapapun. Siapapun yang berada di basement akan menjadi samsak tinjunya untuk meredakan amarahnya yang kian meluap dan sudah tak terbendung ini.

__ADS_1


Sebelum menaiki mobilnya, matanya juga tampak tak sengaja bersitatap dengan perempuan itu, hanya sebentar sampai wanita itu mengalihkan pandangannya.


Mungkin hanya perasaanku saja, batin jason acuh.


__ADS_2