
Jocelyn mencoba membuka matanya secara perlahan, kepalanya masih terasa sakit. Sepertinya semalam ia membiarkan kepalanya membentur lantai.
Dengan kepala yang masih terasa pusing ia memandang ke sekeliling kamar, dan menyadari bahwa ini bukanlah kamar miliknya.
Ruangan mewah itu tampak memiliki ornamen berwarna emas dengan pemandangan yang begitu indah di balik kaca jendelanya.
Ia melihat ke arah meja yang berada tepat di sisi tempat tidur dan menemukan sebuah notes di atasnya. Jocelyn menelan saliva nya sendiri.
"Honestly, aku tak tau harus mengatakan apa, tapi kali ini kau kumaafkan, namun aku rasa tidak akan seperti ini lagi di lain waktu"
"Jadi berhati-hatilah untuk kedepannya, agar tidak terlibat denganku lagi dan jangan bilang aku tidak memperingatimu jika terjadi hal yang tidak kau inginkan"
"Lagipula aku sudah berbaik hati memperingatimu. Miss"
Jocelyn melempar post it notes yang dipegangnya itu jauh-jauh. Jocelyn merasa takut, tidak lebih tepatnya ia merasa kesal.
Ia merasa seperti orang bodoh karena sudah sangat ketakutan semalam, padahal pria itu bahkan tidak melakukan apapun.
"Kau pikir aku takut? lagipula siapa juga yang ingin terlibat denganmu. Dasar psiko" ujarnya kesal.
Tak lama kemudian, ia akhirnya menyadari bahwa dirinya berada di sebuah hotel. Gadis itu buru-buru mengecek pakaiannya dan bernafas lega begitu menyadari tak ada yang aneh.
Ia memakai kembali sepatunya dan bergegas pergi meninggalkan hotel tersebut tanpa menyadari ada seseorang yang terus memerhatikan dirinya selama ini.
"Bos, perempuan itu sudah pergi meninggalkan hotel. Apa perlu kuikuti?"
Tanya seorang pria yang memakai masker pada pemanggil yang berada di seberang telepon dengan manut.
"Tidak perlu, biarkan saja" ujar seseorang di seberang telepon dengan nada datar.
Setelah telepon ditutup, pria disampingnya yang sedari tadi mendengarkan panggilan telepon itu menanyakan alasan atasannya bersikap demikian.
"Yah, kurasa karena dia, agak menarik?" Jawabnya seolah tak ingin memberitahu lebih lanjut.
...****************...
__ADS_1
Jocelyn masuk ke kamarnya dengan wajah yang ditekuk, ia merasa kesal dan sedikit bersedih karena seluruh orang rumah baru saja memberinya kuliah pagi ketika ia baru saja sampai di rumah tadi.
Sebenarnya semua ini juga termasuk kesalahannya karena tidak hati-hati, tapi bagaimanapun juga, menguliahinya dengan pengalaman hidup dan berbagai jenis hal lainnya benar-benar membosankan.
Jocelyn masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya namun dia mencium bau aneh pada tubuhnya.
Tidak ini bukan bau aneh, ini adalah bau parfum yang tidak dikenalinya. Jocelyn mencoba untuk mengingat-ingat wajah pria itu tapi tak bisa sama sekali.
Ingatannya seolah terputus begitu ia menyadari ada seseorang yang berdiri di belakangnya dan merupakan penyebab semua hal ini terjadi.
"Apa pria itu mengangkatku dan meninggalkanku di hotel agar aku tidak pingsan di jalanan?"
"Atau pria itu sudah menyentuhku?" tanyanya panik.
Raut wajahnya khawatir. Ia benar-benar tak ingin hal buruk itu terjadi. Dan dengan segera ia mengecek seluruh tubuhnya.
Jocelyn mencoba membaui seluruh lehernya untuk memeriksa apakah parfum pria itu juga tertinggal di sisi yang lain.
Hingga pada akhirnya, ia dapat bernafas lega ketika tidak menemukan bau serupa di sisi lain lehernya.
Setelah menenangkan pikirannya, ia mulai membasuh tubuhnya dengan air dan menikmati mandi air panasnya itu.
Paman sebagai orang paling tua di dalam perjamuan itu pun memberikan sedikit kata-kata sebelum akhirnya semua menikmati makan siang.
Setelah makan siang, Jocelyn menghabiskan waktunya dengan duduk di sofa yang berada di teras hingga akhirnya ia dihampiri oleh Emily
"kudengar kau semalam tidak pulang?" tanya Emily pada Jocelyn
"Ya, seperti itulah kira-kira. Kenapa kau bertanya?" sahut Jocelyn sedikit panik.
"Tidak, aku hanya penasaran. Kukira kau punya pacar karna aku bisa mencium bau parfum pacarmu dari kaos yang kau pakai kemarin" Emily mengatakan hal itu seraya pergi dari teras
"oh iya joe, aku juga sudah mengambil flashdisknya. Terima kasih" Ujar Emily yang diacungi jempol oleh Jocelyn
"Pacar apanya, aku bahkan tak mengenali wajahnya" ujar Jocelyn ketus seraya melanjutkan bacaan yang tadi ditinggalnya sebentar.
__ADS_1
...****************...
Jam di dinding rumah menunjukkan pukul 19.45 PM. Waktu untuk makan malam sudah terlewati, ini adalah saat yang tepat untuk bersantai.
Jocelyn mengambil beberapa jenis buah dan memotongnya menjadi beberapa bagian. Ia juga mengambil snack yang dibelinya tadi sore di supermarket.
Jocelyn memosisikan tubuhnya dengan santai dan mengambil remote untuk menghidupkan televisi yang kini berada tepat di depannya.
"It's time for Netflix and chill" ujar Jocelyn senang
Setengah jam sudah berselang semenjak ia menonton series yang kini tengah tayang di layar kaca itu.
Para anggota keluarga lainnya sedang berada di kamarnya masing-masing.
Dan tepat di ruang tamu inilah Jocelyn menghabiskan malamnya seorang diri seraya menonton untuk membuatnya merasa tidak bosan lagi.
Namun tak lama berselang, ia mendengar suara ketukan pintu yang diketuk dengan agak kencang.
Sebenarnya, Jocelyn merasa agak takut namun ia mencoba untuk memberanikan dirinya sendiri untuk mengintip ke arah pintu.
Di lubang yang berukuran kurang dari 5 cm itu, Jocelyn memeriksa keadaan sekitar depan pintu. Dan saking ketakutannya, ia bahkan lupa bahwa condo ini memiliki monitor.
Jika ia menekan tombol yang berada di dinding di sebelah pintu, ia bahkan bisa melihat sekitar pintu dengan jelas. Namun Jocelyn benar-benar lupa.
Ketukan di pintu kian menguat setelah Jocelyn tidak mengintip melalui lubang pintu itu lagi.
Ia benar-benar ketakutan, bahkan terlalu takut untuk bisa bersuara lagi. Marco yang baru saja keluar dari kamarnya memerhatikan Jocelyn yang memaku di depan pintu.
"Are you okay?" Tanya Marco pada Jocelyn yang tampak memucat.
"I heard the door getting knocked" ujar Jocelyn terbata-bata.
"Then?" Marco mengernyitkan dahinya heran.
"But nobody's there, who could it be?" Jocelyn menelan saliva nya sendiri. Ia sangat ketakutan sekarang.
__ADS_1
"I hear you" sebuah suara menyahut dari balik pintu.
Oh no, pikiran Jocelyn sudah semakin tak karuan lagi, kali ini ia benar-benar yakin bahwa dirinya melihat hantu.