Taste Of Blood

Taste Of Blood
11


__ADS_3

...Happy Reading...


.........


........


.......


Jocelyn baru saja selesai dengan shift nya hari ini. Meskipun ini adalah hari pertamanya bekerja, ia memiliki jam kerja yang lumayan padat untuk hari pertamanya.


Karena tiba - tiba saja cafe tempatnya bekerja menjadi kebanjiran pengunjung, banyak yang ingin mencoba kopi buatannya.


Padahal, ia baru bekerja setengah hari, tapi kenikmatan kopi buatannya sudah menyebar sampai ke kota tetangga.


Membuatnya berpikir, bahwa ia merupakan kunci keberuntungan untuk cafe tempatnya bekerja. Benar - benar lucky charm dari cafe ini, narsisnya.


Ia membereskan tas yang berisi barang bawaannya. Seragam kaosnya juga sudah ia ganti dengan baju yang dipakainya saat ia berangkat kesini tadi.


Kaos abu - abu dan hoodie hitam dengan celana jeans. Pakaian sehari harinya.


Jam telah menunjukkan pukul 8 malam, sebenarnya jam kerja dari Jocelyn hanyalah sekitar 4 jam. Dimulai dari jam 2 hingga jam 6 sore.


Namun karena ini adalah hari pertamanya bekerja, ia secara khusus ingin membuktikan sedikit keloyalannya dengan bekerja secara penuh.


Setelah memberi tahu pegawai lainnya bahwa ia akan pulang terlebih dahulu, Jocelyn akhirnya pergi, meninggalkan cafe tempatnya bekerja dengan perasaan senang.


First day in work, really goes well, batin Jocelyn.


Ia berjalan dengan langkah yang santai sembari mendengarkan musik dari ponsel miliknya. Lagu tersebut kian mengalun menemani pendengarannya di malam yang gelap.


Hingga perutnya membunyikan alarm sebagai signal, bahwa tubuhnya membutuhkan asupan kalori sekarang. Sepertinya ia lupa jika ia belum makan malam.


Jocelyn berjalan seraya melihat satu per satu toko dan restoran yang berada di pinggir jalan itu. Memerhatikan setiap jalanan, mencoba menemukan tempat yang dicarinya.


Ada banyak sekali tempat yang bisa ia kunjungi, namun untuk sekarang ia harus menghemat pengeluarannya agar ia bisa bertahan hidup dengan layak. Tanpa perlu meminta tambahan uang pada kedua orang tuanya.


Jocelyn menghampiri sebuah convenience store dan membeli beberapa bahan makanan yang bisa digunakannya untuk memasak di rumah nantinya.


Jocelyn memilih barang belanjaan, berupa daging, roti dan bahkan sayuran serta buah sebagai bahan untuk membuat dessert dan main course untuk ia santap nanti.


Setelah selesai membayar belanjaan miliknya, ia keluar dari toko tersebut dan langsung bergegas pulang tanpa ingin berhenti di tempat lain. Perutnya sudah tidak tahan minta diisi.


Namun sungguh tak disangka, entah dinamakan kesialan ataukah keberuntungan, suatu hal datang menyapa.


Di ujung perempatan jalan ada seorang pria yang sudah terkulai lemas dengan luka tusuk di bagian perutnya dan darah yang masih mengalir keluar.

__ADS_1


Jocelyn menajamkan penglihatannya, mencoba memastikan apa yang ia lihat salah.


Namun sayangnya, ia tidak menemukan property syuting di sekitarnya, menandakan ini adalah kejadian nyata.


Pria itu tampak sangat tenang meskipun luka yang ia miliki tidak berhenti mengeluarkan darah. Bahkan, ia tampak seperti tidak ada niatan untuk meminta tolong.


Hanya ponsel yang digenggam di tanganĀ  kanan, yang baru saja ia masukkan kembali ke dalam saku celana miliknya.


Jocelyn kembali memerhatikan keadaan sekitar dan tak menemukan seorangpun. Di satu sisi, ia juga panik. Takut dikira pelaku dari kejadian yang menimpa pria itu.


Yah, malam ini memang terlihat agak sepi dari pada malam yang biasanya, sehingga membuat Jocelyn tambah merasa tak nyaman.


Angin malam yang berhembus juga cukup untuk membuat bulu kuduk milik Jocelyn meremang sepenuhnya. Ia merasa seperti sedang bermain di dalam film horor.


Menjadi korban yang pertama kali mati, tentu saja!


Jocelyn mencoba untuk mengabaikan pria itu dengan terus melangkah. Namun naluri kemanusiaannya tak bisa hanya tinggal diam begitu saja.


Baru saja beberapa langkah ia melewati tubuh pria itu, kini Jocelyn sudah memutar kembali badannya dan menghampiri pria itu.


Ia benar-benar tak bisa membiarkan pria ini mati tanpa setidaknya mencoba untuk menyelamatkan pria malang itu.


Bahkan, jika nantinya pria ini tidak bisa bertahan dan selamat. Ia akan memikirkan urusan itu belakangan.


Namun ia tak tahu, konsekuensi dari perbuatannya akan merubah seluruh hidupnya. Menjadi ancaman untuk seluruh ketenangan yang ia miliki.


"Sir?, are you okay?"


Pria itu menatap Jocelyn dengan tatapan dinginnya dan memerhatikannya dengan seksama.


Pandangannya yang dalam, membuat Jocelyn hampir ikut larut di dalamnya, namun ia mencoba untuk fokus. Pria ini hanya butuh bantuan darinya saat ini.


Ia menatap lurus ke dalam bola mata wanita itu, kemudian tersenyum simpul.


"Young lady, sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk berbuat baik, bagaimana jika aku hanya berpura-pura dan sebenarnya berniat melukaimu,"


Pria itu berujar dengan tatapan mata yang tak lepas dari Jocelyn, tak lupa juga ekspresi wajah datar yang menghiasi wajah pucatnya.


Ouch!


Jocelyn tersenyum kikuk setelah menekan luka bekas tusukan pada tubuh pria itu dengan sedikit keras, dan sekarang tangannya ikut berlumuran darah milik pria itu.


"Sepertinya luka tusukan ini nyata. Apa ada nomor yang bisa kuhubungi?. Setidaknya luka ini butuh jahitan. Mari kuantarkan ke rumah sakit!"


Tawar Jocelyn sembari mencoba memapah pria itu hingga bisa berdiri dan membuat pria itu mengernyitkan dahinya heran.

__ADS_1


"Apa kau sungguh tidak takut?. Biar bagaimanapun, aku ini orang asing. Kau tidak seharusnya seperti ini pada orang yang tidak kau kenali"


Pria itu kembali mengoceh namun sepertinya Jocelyn tak punya waktu untuk mendengarkan. Ia lebih fokus dengan apa yang tengah ia coba lakukan.


"Aku akan menelfon 911, jadi kau bisa mendapatkan perawatan secepatnya. Lukamu terlihat parah,"


Final Jocelyn tanpa melihat ke arah wajah pria yang kini menampilkan mimik kebingungan.


"Aku tidak merasa ini parah, aku bahkan pernah mengalami yang lebih buruk dari ini," ujar pria itu tidak setuju dengan pernyataan Jocelyn yang menganggap lukanya parah.


Jocelyn memutar matanya malas, ia menatap jengah ke arah sang pria lalu membuka suara.


"Aku tidak peduli dengan luka yang kau alami sebelumnya, baik itu lebih parah ataupun tidak, atau bahkan jika kau hampir mati sekalipun,"


"Yang penting bagiku, sekarang lukamu terlihat parah dan kau butuh perawatan secepatnya," omel Jocelyn tak peduli.


Ia mengeluarkan ponselnya dan menekan serentetan angka namun panggilan itu segera terputus saat pria itu menarik ponselnya menjauh.


"Tolong bawa aku kemana saja asalkan tempat itu bukan rumah sakit. Aku tidak bisa berada di rumah sakit sekarang, kau hanya perlu menyediakan alatnya saja dan aku bisa menjahitnya sendiri,"


Jocelyn sedikit terkejut dengan perbuatan pria itu dan tubuhnya menjadi kaku. Ia bingung dengan apa yang harus dilakukannya di situasi seperti ini.


Bagaimana ini?


Ia tak bisa ke rumah sakit? apa jangan-jangan ia seorang buronan? penjahat? pembunuh berantai?


Astaga, Apa yang harus kulakukan?


Aku tak mungkin membawanya ke rumahku kan?


Oh, Ayolah. Berfikirlah Joe


Pikirannya membuntu, tak ada yang bisa ia jadikan ide untuk sekarang. Satu-satunya solusi yang ia punya hanyalah membawanya ke rumahnya.


Namun hal ini sangat beresiko, terlebih lagi pria ini adalah orang asing yang tidak ia ketahui identitasnya.


"Sepertinya kau berpikir cukup lama, kurasa aku akan mati sebentar lagi,"


Ucapan pria itu seolah memutus seluruh akal sehat Jocelyn dan membuatnya tak bisa berpikir dengan jernih.


Ia melihat luka di perut pria itu yang masih mengeluarkan darah lalu berpaling ke arah wajahnya yang sudah mulai memucat karena kekurangan darah.


Ia menelan salivanya sendiri. Tak tahu apakah ini keputusan yang benar atau hanya sekedar asumsi kemanusiaannya saja.


Namun pada akhirnya kalimat itu juga ia keluarkan, meskipun sebenarnya ia sangat tak yakin dengan semua ini

__ADS_1


"Kalau begitu...."


Ayo ke rumahku!


__ADS_2