Taste Of Blood

Taste Of Blood
9


__ADS_3

...Happy Reading...


..........


........


.......


Seorang gadis berumur 6 tahun, baru saja menyelesaikan sketsa dari pemandangan yang digambarnya pada kanvas. Ia sedang berada di daerah pedesaan saat ini.


Kedua orang tua yang berada di samping gadis itu, menatapnya dengan senyuman hangat. Tapi mengapa wajah kedua orang tua dari gadis itu tidak terlihat dengan jelas?.


Gambar wajah kedua orang paruh baya yang diyakini adalah orang tua gadis itu tampak kabur. Wajah keduanya hanya terlihat samar - samar saja.


Cukup samar bahkan dengan menyipitkan kedua mata, tidak membantu untuk memperjelas gambaran wajah itu sama sekali.


Pemandangan di daerah pedesaan ini juga terasa sangat asing. Rumah - rumah yang berdiri di sekitar sini memang terlihat megah dan bergaya klasik, hingga ia merasa dirinya seperti berada dalam dunia fantasi.


Tapi tak ada satu pun potongan gambar yang ia lihat dari sini, yang berada dalam ingatannya.


Seolah - olah semua yang ia lihat, hanyalah khayalan dan telah hilang begitu saja bagaikan tertelan bumi.


Gadis itu kembali mencoba menyipitkan matanya untuk melihat wajah kedua orang tuanya, namun tampaknya wajah keduanya masih terlihat begitu samar.


Sesaat setelah itu, ia mendengar teriakan seseorang yang terdengar begitu lantang, dibarengi dengan todongan pistol yang mengarah tepat di hadapan semua orang.


Ibu nya di jadikan sandera dan ikut ditodongi pistol tepat di kepalanya. Pelaku penodongan yang menodongi senjata ke kepala sang ibu tertawa kecut.


"Apa kalian sudah puas bersenang - senang?, karena setelah ini, hanya akan ada air mata," ujar pria yang menodongkan senjata itu dengan penuh penekanan.


Gadis yang masih polos itu hanya menatap ke sekelilingnya. Ia tak mengerti dengan situasi ataupun apa yang sedang terjadi di keramaian itu.


Ia mengerjabkan matanya lucu, menatap satu persatu wajah semua orang yang berada di dekatnya, yang tampaknya sudah memasang wajah kaku dengan rahang yang mengeras, menahan emosi.


Mengapa semua orang saling menodongkan senjata mereka?


Mengapa mereka mengambil ibu? Dan menodonginya dengan senjata itu?


Mengapa ayah menarikku dan menyuruhku untuk dibawa pergi pada orang lain?


Dan mengapa aku tak bisa mengingat apapun setelah kejadian ini?


Apa yang sebenarnya sedang terjadi?


Kenapa aku terjebak disini?


Beribu pertanyaan memenuhi pikirannya yang sudah tidak fokus. Matanya mengarah kesana kemari, seolah sedang mencari penjelasan.

__ADS_1


Sesaat kemudian, terdengar suara tembakan yang mulai menghujani mansion dan menggelegarkan seantero pedesaan.


Dor...


"Huft, huft" keringat dingin mengalir dari pelipis dan dahi perempuan itu, ada sedikit air mata yang mengalir keluar dari pelupuk matanya.


Perasaannya terasa berkecamuk, ia seperti sedang memutar kaset rusak yang membuat kepalanya jadi sakit.


Kini ia telah tersadar sepenuhnya, air mata itu, keringat itu dan bahkan ingatan yang dialaminya itu terasa sangat nyata.


Seolah ia yang mengalaminya sendiri!


Kepalanya juga ikut berdenyut, ketika ia mencoba untuk memikirkan mimpinya kembali. Semua terasa seolah itu adalah lembaran luka yang tak boleh untuk ia buka kembali.


Perempuan itu meneguk segelas air putih yang berada di atas nakas di samping tempat tidurnya, seraya mengatur agar nafasnya yang memburu menjadi lebih teratur dan tenang.


Ia bermimpi, mimpi yang terasa begitu nyata. Seolah - olah itu adalah ingatan dari masa lalu yang telah dilupakannya.


Air mata itu tak berhenti mengalir dari pelupuk matanya, bahkan perasaannya menjadi tidak karuan. Rasanya ia ingin menangis sekencang mungkin.


Namun seolah tersadar akan kenyataan, perempuan itu duduk dan menyenderkan badannya pada bantal.


Sesaat kemudian, terdengar suara pintu yang diketuk dengan pelan. Tanpa ia sadari ternyata ini sudah pagi.


"Joe, apa kau sudah bangun? Ibu dan ayah ingin membicarakan sesuatu denganmu!"


Sebuah suara berujar dari balik pintu, suara yang begitu familiar dan tak lain adalah suara milik Anna, ibu dari Jocelyn.


...****************...


Setelah selesai sarapan, Jocelyn dan keluarganya berkumpul di ruang keluarga. Sepertinya ada hal penting yang ingin dibicarakan di hadapan semua anggota keluarga.


Anna menyuguhkan teh kepada seluruh anggota keluarga, sebelum akhirnya ia ikut duduk dan mengikuti perbincangan serius yang akan segera dilakukan.


Thomas sebagai kepala keluarga, memulai percakapan dengan menanyakan tujuan Jocelyn yang sebenarnya hingga memilih untuk pergi ke manhattan dibandingkan tempat lainnya.


Namun Jocelyn tidak bisa mengatakan alasan utamanya begitu saja, dan satu - satunya cara untuk selamat dari pertanyaan ini adalah dengan mengatakan bahwa ia menyukai manhattan.


Kedua orang tuanya hanya terdiam dan tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Mereka tampak bingung, namun disisi lain mereka juga mengerti.


Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagi Emily, ia terlihat sangat senang dan bahkan akan berusaha untuk membantunya mencari tempat tinggal selama Jocelyn tinggal disana.


Semua terasa seolah ini adalah harapan Emily sejak lama. Namun biar bagaimanapun, Jocelyn harus fokus pada tujuannya dan memilih untuk mengabaikan prasangka buruknya pada Emily.


"Aku tahu ini terdengar sangat mendesak, tapi rasanya seperti manhattan adalah tempat seharusnya aku berada bu,"


Jocelyn mengutarakan pemikiran yang dimilikinya. Namun ini malah mengundang raut wajah khawatir kedua orang tuanya. Termasuk ayahnya, Thomas.

__ADS_1


"Ayah mengerti keinginanmu. Tapi bukannya lebih mudah, jika kau tinggal di tempat yang sudah kau kenali dibandingkan dengan memulainya di tempat yang baru?"


Thomas mencoba membuat Jocelyn memikirkan kembali keinginan yang tadi diutarakannya, setelah mendengar kejujuran Jocelyn.


"Kau tau kan bagaimana susahnya beradaptasi di tempat baru. Apa kau tidak mau untuk memikirkan masalah ini kembali?"


Anna ikut mengomentari keputusan Jocelyn dan berharap akan ada perubahan mengenai keputusannya. Namun tampaknya itu tak berhasil mempengaruhi keputusan yang Jocelyn miliki.


"Aku bisa mengerti kekhawatiran kalian. Tapi aku yakin, aku bisa menjaga diriku sendiri. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentangku ibu, ayah."


Jocelyn tersenyum dengan wajah yang tenang, sebelum kembali melanjutkan ucapannya.


"Dan juga, aku sudah berjanji akan sering menghubungi kalian. Jadi semuanya pasti akan berjalan dengan baik,"


"Aku hanya butuh kalian percaya padaku. Itu saja,"


Jocelyn mencoba meyakinkan kedua orang tuanya dengan keputusan yang telah diambilnya itu. Matanya menyiratkan betapa seriusnya ia dalam keputusan yang telah ia ambil.


Ia juga menjelaskan beberapa alasan yang tak dapat dibantah dengan argumen apapun. Seakan kepergiannya ke manhattan merupakan tuntunan dari garis takdir yang telah digariskan untuknya.


Dan pada akhirnya, kedua orang tuanya tak bisa mengalahkan dan merubah keputusan putri bungsu mereka lalu mengizinkan Jocelyn pergi.


"Girl, kau itu sangat berharga bagi kami. Jadi jangan membuat kami khawatir disana,"


Ibunya mengutarakan perasaannya dengan sendu hingga ujung matanya terlihat sedikit mengeluarkan air.


"Kau bisa pulang kapanpun kau mau. Pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu,"


Ayahnya memberi tahu Jocelyn dengan perasaan bangga dan membuat ia ikut tersenyum haru.


Sedang kakaknya, hanya menatapnya jengah karena semua orang disini terlihat sangat mendramai keputusan yang Jocelyn ambil.


"Aku tak akan berkata apa - apa. Hanya berharap kau tak akan mati dengan cepat. " ujarnya santai.


"Emily.." ayah dan ibunya sontak berteriak kepadanya.


"What?, bukankah aku mengatakan hal yang benar. Lagipula dia juga akan tau suatu saat nanti,"


Emily mengatakan hal tersebut dengan perasaan marah, matanya tampak memerah menahan amarah dan rasa kecewanya karena baru saja mendapatkan bentakan.


"Tentang apa?" Tanya Jocelyn yang merasa jika permasalahan yang sedang dibicarakan berhubungan dengannya.


Emily bangkit dan menepuk pundak Jocelyn, ia membisikkan sesuatu.


"I dunno, maybe you're an adopted daughter or something or you may wanna see them in hell?"


"Yah. Intinya, nikmati saja hidupmu senyaman mungkin untuk sekarang"

__ADS_1


Emily mengucapkan kata itu dan berlalu pergi. Meninggalkan ribuan tanda tanya di benak Jocelyn.


'Apa aku tertinggal sesuatu?' Batinnya.


__ADS_2