
...HAPPY READING...
.......
.......
.......
Pria itu memasuki mobilnya seraya mengelap kedua tangannya yang bersimbah darah dengan menggunakan sapu tangan miliknya.
Emosinya yang sebelumnya menggebu - gebu, kini telah mereda. Tepatnya setelah ia menghabisi kedua orang yang kini telah menjadi abu itu.
Sekretaris sekaligus tangan kanannya, menatap bossnya dengan pandangan heran dan menghela nafasnya pelan.
Ia tidak tahu harus mengatakan apa kepada bossnya di saat seperti ini.
"Apa kau sudah mengetahui siapa dalangnya?, apa karena itu kau langsung membunuh mereka?"
Tanya sekretarisnya yang tak paham dengan segala tingkah laku milik tuan yang ia layani itu.
"Yah, lagipula siapa lagi yang akan melakukan tindakan bodoh ini selain keluarga Lewis"
Pria itu berujar dengan mimik wajah santai sambil tetap membersihkan darah di tangannya yang nampak sudah mulai mengering.
"Bagaimana jika semua itu hanyalah kesimpulanmu saja Shawn?, kau seharusnya membiarkan mereka memberitahumu. Apapun itu"
Sekretaris itu mencoba memberi masukan kepada tuannya, namun pria yang mendengar hanya mengangguk - anggukan kepalanya malas.
Robert adalah orang yang sudah menjadi sekretaris sekaligus tangan kanan Shawn sejak lama. Mereka sudah saling kenal sejak Shawn berumur 12 tahun.
Dan semenjak itulah, keduanya tidak dapat dipisahkan. Karena robert akan bersedia melakukan apapun untuk Shawn.
Baginya, Shawn sudah seperti adiknya sendiri. Seseorang yang akan ia jaga dengan segenap kekuatan yang ia punya.
"Yah, bagaimana pun itu, mereka sangat menyebalkan dan aku tidak tahan melihatnya" ujar Shawn kemudian seolah tidak mau disalahkan.
Suasana di dalam mobil kemudian kembali menjadi hening, tak ada lagi sepatah kata pun yang terucap.
Robert juga sudah tak ingin melanjutkan pembicaraan tentang itu dan menambah runyam semua masalah yang telah ada.
__ADS_1
Setelah semua yang terjadi, mereka pun kembali ke mansion milik keluarga Adams.
...****************...
Hujan masih belum berhenti, seolah ikut memahami bagaimana kesedihan yang dirasakan oleh Shawn.
Ia menatap butiran air yang mengalir membasahi jendela kamarnya dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. Manik matanya menatap kosong ke arah luar.
Sebenarnya ia tak ingin mengungkit masalah yang telah lalu. Namun ini, mengingatkannya pada kasus pembunuhan yang telah terjadi 3 tahun yang lalu.
Saat pertama kali Shawn jatuh cinta dan merasa dunianya yang gelap telah berubah menjadi lebih berwarna karena kehadiran orang itu.
Tak ada lagi abu-abu yang menghiasi setiap lembaran cerita, tak ada lagi darah yang bersimbah di tangannya dan tak ada lagi yang mengkhianatinya.
Tapi sayangnya, perempuan yang dicintainya adalah mata-mata milik musuh. Setelah akhirnya menemukan kelemahan Shawn, ia berkhianat.
Mengkhianati semua janji yang sudah mereka ucapkan, merusak semua kepercayaan yang sudah ia bangun dengan susah payah dan bahkan menggugurkan buah hati mereka.
Ah, jika mengingat hal itu, ingin rasanya ia membunuh perempuan itu dengan tangannya sendiri, tapi takdir berkata lain. Perempuan itu sudah terlebih dahulu dihilangkan.
Ibarat benalu yang akan merugikan inangnya, mungkin setidaknya seperti itulah pandangan yang mereka berikan kepada wanita itu.
Dengan perasaan agak kesal akhirnya Shawn membalaskan dendamnya. Sebenarnya apa yang ia lakukan ini, bukan semata-mata karena Shawnn sangat mencintai Sherryl.
Ia hanya ingin menyelesaikan dendam Sherryl dan membunuh orang-orang yang mengusik kehidupannya. Baik di masa lalu maupun sekarang.
Lagipula, orang yang membunuh Sherryl juga orang yang sama dengan pelaku yang membunuh mantan kekasihnya dulu.
Mengingat hal itu kembali, ia jadi sedikit teringat bahwa, ia dengan mantan kekasihnya saling mencintai satu sama lain sebelumnya.
Dan penghianatan yang dilakukan mantan kekasihnya juga sangatlah aneh, karena mereka begitu saling mencintai sebelum hal itu terjadi.
Setidaknya, begitulah yang dipercayai oleh Shawn selama 4 tahun ini dan rasanya akan bertahan terus seperti itu untuk selamanya.
Mentari pagi ini, bersinar dengan sangat indah dan cukup menyilaukan mata, terutama bagi seorang pria yang telah menghabiskan 2 botol vodka selama semalam suntuk.
Pagi ini ia bangun dengan kepala yang terasa pusing, setelah sekian lama dia tidak mabuk dan hari ini ia kembali pada kebiasaan lamanya.
Shawn tak pernah lagi menghabiskan 2 botol vodka dalam sekali minum, dan mengomsumsi alkohol dalam jumlah banyak juga sudah bukan kebiasaannya lagi.
__ADS_1
Tapi setelah kejadian itu, ia jadi kembali pada kebiasaannya yang dulu.
Sudahlah, nasi telah menjadi bubur. Yang lalu biarlah berlalu. Tak ada baiknya mengingat hal yang menyakitkan.
Setelah pandangan dan sakit kepalanya mulai sedikit membaik, Shawn keluar dari kamarnya dan memanggil pelayannya untuk menyuruhnya membuat sup pengar, untuk sedikit menghilangkan mabuknya.
Setelah sup itu dihidangkan, ia memakannya dengan lahap dan merasa bahwa rasa pusingnya mulai sedikit mengurang.
Setelah kesadarannya mulai membaik, Shawn akhirnya kembali ke kamarnya dan membersihkan tubuhnya. Ia berencana untuk berangkat ke kantor sebentar lagi.
Setibanya di kantor, Shawn langsung menuju ke ruangannya dan menandatangani beberapa laporan yang sudah terletak rapi di atas mejanya dan membutuhkan persetujuannya.
Begitu selesai dengan urusannya, ia segera menghubungi asistennya untuk membawakan jas yang dikirim oleh ibunya kepadanya beberapa saat yang lalu.
Jas normani itu, dikirimkan oleh ibunya kepadanya karena Shawn tak pernah membalas pesan ataupun menghubungi ibunya. Kalaupun ada, itu hanyalah berisi pesan singkat atau panggilan penting.
Shawn bahkan enggan mengunjungi ibunya yang kini tinggal dan menetap di italy. Bukan tidak ingin mengunjungi, hanya saja Shawn agak malas untuk meladeni segala tingkah ibunya yang ia anggap agak berlebihan.
Ibu Shawn sudah berpisah dengan ayahnya dari semenjak ia kecil, dan pada dasarnya ia memiliki saudara walaupun bukan saudara kandung.
Dia adalah saudara tirinya, anak dari ibunya dengan pria yang dinikahinya kini. Setelah bercerai dengan ayahnya, ibunya menikahi seorang dokter.
Kehidupannya yang dahulu sangat terkait erat dengan mafia, kini sudah beralih ke kehidupan normal warga biasa tanpa perseteruan yang melibatkan senjata.
Entahlah. Semakin dipikirkan, semakin rumit kehidupan yang dijalani Shawn. Ada banyak rahasia dan misteri yang menunggu untuk diketahui.
Setelah ia menerima jas yang dikirimkan oleh ibunya, ia bergegas menelfonnya dan memberitahunya bahwa hadiahnya sudah ia terima.
Setelah ia memberitahunya, ibunya pun bernafas lega dan merasa senang. karena putranya untuk sekian lama akhirnya bersedia untuk menghubunginya.
Ia bahagia dan itu sudah cukup.
Setelah berbincang sebentar, akhirnya Shawn menutup panggilannya dan kembali fokus pada pekerjaannya yang kini tampak sudah menumpuk kembali.
Namun sesuatu yang tidak enak terdengar. Sebuah pesan masuk ke ponselnya dan berisi ajakan untuk menemui si pengirim.
Shawn mengepalkan tangannya kuat hingga seluruh urat di leher dan pergelangan tangannya mencuat ke permukaan.
Shawn tersenyum kecut. Ia sudah tau pesan ini berasal dari siapa.
__ADS_1
"Jason Lewis" Sang musuh bebuyutannya.