Taste Of Blood

Taste Of Blood
6


__ADS_3

...Happy Reading...


.........


........


.......


Proposal pengajuan dan skripsi yang telah diajukan oleh Jocelyn sudah diterima dan sedang diproses oleh pihak kampus.


Ketentuan dan pengumumannya akan diumumkan dalam seminggu lagi. Yang berarti, ini saat yang tepat bagi Jocelyn untuk mencari lowongan pekerjaan di manhattan.


Jocelyn menarik kursor pada laptopnya dan membuka satu-persatu iklan lowongan pekerjaan yang tertera pada website tersebut.


Ia menemukan beberapa lowongan pekerjaan yang lumayan cocok dengan jurusan perkuliahannya, dan beberapa dari lowongan itu juga berasal dari perusahaan ternama.


Dua diantaranya yang paling menarik minat dan perhatian Jocelyn adalah lowongan kerja untuk posisi sekretaris yang diiklankan oleh perusahaan IT dan safety guards company.


Keduanya memiliki penawaran yang menarik, dan tentu saja menerima fresh graduate dengan memberikan gaji tinggi sehingga menambahkan keraguan pada diri Jocelyn untuk memilih.


Hingga akhirnya setelah menghabiskan waktu lama untuk berpikir, ia memutuskan untuk memilih salah satu diantara kedua perusahaan tersebut.


Setelahnya, ia mengunjungi situs website resmi milik perusahaan dan mulai membaca pengumumannya secara seksama dan mendalami apa yang dibacanya.


Setelah membaca sedikit pemberitahuan pada website tersebut, Jocelyn menyadari bahwa terjadi perpanjangan waktu untuk proses apply formulir pekerjaan tersebut.


Mengetahui hal tersebut, ia merasa sedikit lega karena setidaknya Jocelyn memiliki sedikit lebih banyak waktu luang untuk beradaptasi di manhattan nantinya.


Setelah memeriksa beberapa ketentuan yang tertera pada website tersebut, ia menyalin situs website dan menyimpannya di dokumen.


...****************...


Sore ini langit terlihat cukup mendung, seorang pria dengan tubuh jangkung sedang menyesap rokoknya pelan seraya menatap ke arah luar dari jendela besar miliknya.


Pemandangan kota di sore hari yang sudah mulai meremang, terlihat menjadi sedikit lebih terang dengan mulai hidupnya lampu jalan seolah sedang menemani para pengguna jalan.


Tak lama setelah itupun, hujan turun dengan deras. Cukup deras hingga membuat pandangan mata menjadi buram terkena rintikan air yang terus jatuh membasahi bumi.

__ADS_1


Pria itu tersenyum simpul, hari ini perasaannya sedikit kecewa. Ia benar-benar tak mengharapkan hal ini terjadi. Akan tetapi semuanya sudah terlambat.


Kekasihnya terbunuh tepat di depan matanya. Siang tadi, segerombolan pria mendatangi apartemen miliknya dan membunuhnya.


Ia menatap puntung rokok di tangannya  lama dan kemudian membuangnya ke lantai lalu tersenyum sinis.


Perasaannya berkecamuk, meskipun ia tak benar - benar mencintai wanita itu tapi tetap saja wanita yang terbunuh itu adalah berstatus sebagai kekasihnya.


Lantas bajingan mana yang berani berbuat lancang dengan menyentuh miliknya yang seharusnya tidak boleh disentuh.


Ia benar-benar tak bisa menerima semua ini dan berjanji akan menemukan dalang dibalik kekacauan yang sudah terjadi.


Sesaat setelah itu, terdengar suara pintu yang diketuk dengan pelan. Setelah diberi izin, seorang pria berseragam hitam masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Sebaiknya kau membawakan ku berita yang penting" ujar pria itu dingin dan tak ingin dibantah.


"Kami sudah menangkap 3 anggota dari komplotan orang yang sudah membunuh nona Sherryl boss" ujar pria yang tak lain adalah salah seorang dari bawahannya.


Pria itu mengangguki ucapan bawahannya seolah menandakan kepuasan akan berita yang ia terima. Namun itu semua tak berlangsung lama.


"Tapi ada masalah boss" sambung bodyguard tersebut membuat pria itu mengernyitkan dahinya.


Wajah pria itu memerah menahan marah. Ingin sekali ia melemparkan vas bunga yang berada di atas mejanya ke arah bawahannya itu, tapi ia menahannya.


Ia tidak bisa melepaskan emosinya begitu saja pada bawahannya, jadi sekarang hanya tinggal satu pilihan yang tersisa.


Ia akan melampiaskan seluruh amarahnya dan menjadikan orang-orang yang disekapnya itu sebagai samsak tinju untuk meredakan amarahnya.


...****************...


Lorong yang lembab dengan bau anyir dari darah yang merebak memenuhi indera penciuman. Cukup sepi hingga bisa terdengar suara derap langkah kaki yang menapak.


Tepat di ujung lorong terdapat sebuah pintu yang cukup berkarat, bahkan pintu itu tampak seperti bisa roboh kapan saja.


Pria itu memegang handle pintu dan membukanya, didapati dua orang pria lainnya yang sedang terduduk lemas diatas kursi dengan wajah yang sudah tak bisa dikenali lagi.


Darah yang mengucur dari pelipis kiri mereka dengan luka di bagian bibir dan pipi yang membengkak menandakan bawahannya melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.

__ADS_1


Dengan satu aba-aba darinya, kedua orang itu disirami air dingin untuk mengembalikan kesadaran mereka yang sudah mulai menghilang karena rasa sakit yang hampir tidak bisa ditolerir lagi oleh tubuh.


Pria itu menatap wajah mereka satu persatu dengan smirk khas yang terpasang di bibirnya, kemudian mengangkat dagu salah satunya dengan pistol yang ia genggam.


Ia memegangi wajah pria dikanannya dengan cukup kuat hingga membuat pria itu merintih kesakitan.


"Arrrggghh" rintihan pria itu terdengar sangat memilukan, berusaha menepis tangan pria lain yang memegangnya kasar.


"Apa ini sakit? Lalu bagaimana dengan ini?" Tanya pria itu seraya mematahkan jari pria tersebut tanpa aba - aba.


"Aarrgghh" air mata mengalir dari pelupuk matanya, ia benar-benar merasa kesakitan.


"Apa yang kau inginkan berengsek!" pria yang berada di sebelah kirinya mulai ikut berontak setelah melihat rekannya diperlakukan dengan kasar.


"Aku?, tidak ada. Kurasa aku hanya ingin sedikit bersenang-senang" ujar pria itu seraya menembaki asal kaki pria yang berada di sebelah kirinya.


"Hentikan, tolong hentikan. Kami akan memberitahumu apapun yang ingin kau  ketahui. Apapun itu, jadi kumohon hentikan ini!"


Pria di kanannya itu berujar dengan penuh kesungguhan, karena rasanya mereka sudah tidak sanggup lagi dengan penyiksaan ini.


"Memberitahuku?, memangnya kau tau apa yang ingin aku ketahui? Aku rasa tidak!" Pria itu kembali menembakkan pelurunya ke kaki kiri pria di kanannya.


Menit demi menit berlalu, suara tembakan menggema dengan baik di dalam ruangan basement yang gelap nan hampa itu.


Kedua pria yang diikatnya juga sudah sangat bersimbah darah namun masih memiliki sedikit kesadaran.


"Apa sebegitu susahnya untuk mati?" Tanya pria itu acuh kepada kedua orang yang sedang sekarat di hadapannya.


"Apa kau ingin membunuh kami?, apa kau tidak ingin mengetahui siapa dalang dibalik semua ini?" Pria itu menantang pria di depannya dengan kalimat yang mulai terbata - bata.


"Hmmm, menarik" Sahut pria itu dingin.


"Jika kau melepaskan kami, kami akan memberitahumu semua yang kami ketahui termasuk, dalang dibalik semua ini!"


Kedua pria itu pada akhirnya mencoba menawarkan sesuatu untuk mencoba setidaknya menyelamatkan nyawa mereka dari hadapan manusia berhati iblis itu.


Pria itu terkekeh dan dengan tatapan dinginnya yang mampu menghipnotis itu, dia kembali tersenyum sinis.

__ADS_1


"Why would i? " Tanya pria itu dingin.


Dorr... suara tembakan yang melengking pun ikut terdengar diikuti dengan suara ledakan yang membakar habis basement.


__ADS_2